*** SELAMAT DATANG *** Ini adalah blog pribadi yang dikelola secara independen oleh Netter desa Mintobasuki kec. Gabus kab. Pati. Blog Mintobasuki Gabus Pati bukanlah blog resmi pemerintahan desa Mintobasuki. Blog ini tidak ada hubungan dalam bentuk apa pun dengan organisasi, kelompok dan kepentingan tertentu di desa Mintobasuki. Artikel-artikel yang disajikan adalah tulisan lepas yang berisi uneg-uneg, ide, pemikiran, opini pribadi penulis dan pernik-pernik terkait desa Mintobasuki.

Area Persawahan di sebelah timur Desa Mintobasuki

Lahan pertanian yang cukup luas membentang di bagian timur desa. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi, jagung, kacang-kacangan dan beraneka ragam sayuran.

Kali Tambak untuk sarana irigasi pertanian

Sungai kecil yang membujur di sebelah timur desa yang berhulu di Sungai Silugonggo memiliki arti penting sebagai sarana irigasi.

Pesona desa Mintobasuki

Nuansa alam desa yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang indah menjadikan desa Mintobasuki kian anggun dan menyimpan pesona tersendiri.

Sektor pertanian yang perlu dikembangkan

Mintobasuki memiliki lahan pertanian sekitar 90 Hektar terdiri atas lahan basah dan kering. Oleh karenanya perlu ada upaya yang matang untuk mengembangkan sektor ini. Selain itu, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Mintobasuki sampai saat ini.

Sarana peribadahan yang cukup memadai

Desa Mintobasuki memiliki 5 Musholla dan 1 Masjid Agung Al-Amin yang saat ini dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana penunjang yang cukup memadai ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan warga dalam beribadah.

Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas warga

Sektor pertanian tetap menjadi mata pencaharian dan primadona bagi masyarakat desa Mintobasuki, meski dengan seiring bertambahnya waktu, profesi dan mata pencaharian warga kian heterogen.

Sektor Perikanan di Mintobasuki

Sungai Silugonggo yang bermuara ke laut utara ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Mintobasuki. Hasil tangkapan ikannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga yang berprofesi sebagai nelayan.

Senin, 11 Mei 2015

Mintobasuki Menolak Paham ISIS, Syiah, Liberal dan Komunis


wpid-2015510060052.jpgSaat ini di balai desa Mintobasuki terpampang spanduk bertuliskan “PANCASILA, UUD 1945 & NKRI HARGA MATI SELURUH WARGA MASYARAKAT DESA MINTOBASUKI MENYATAKAN MENOLAK PAHAM ISIS”. Spanduk ini merupakan bukti kepedulian dan kewaspadaan warga Mintobasuki terhadap munculnya berbagai paham dan sekte yang berpotensi mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Akan tetapi, mungkin banyak pula warga Mintobasuki yang tidak kenal apa itu ISIS -yang sekarang sudah berubah jadi IS. ISIS (The Islamic State of Iraq and Syiria) atau Negara Islam Iraq dan Syiria adalah sebuah faksi bersenjata pecahan dari Al-Qaeda yang muncul pertama kali di Iraq dalam menghadapi penjajah Amerika di negara tersebut. ISIS pertama kali diproklamirkan bulan April 2014 dengan Abu Bakar AlBaghdady sebagai pemimpinnya. Faksi ini mengklaim bahwa ISIS lah negara Islam yang sah di Iraq dan Syiria dan mewajibkan setiap kelompok jihad yang ada di wilayah tersebut untuk bersatu dan mendukung ISIS dengan berbaiat kepada Abu Bakar AlBaghdady. Namun kelompok-kelompok jihad yang ada justru melakukan penolakan terhadap seruan tersebut.
Pada tanggal 29 Juni 2014 juru bicara ISIS mengumumkan bahwa ISIS telah berganti nama menjadi IS (Islamic State) atau negara Islam dengan Abu Bakar AlBaghdady sebagai khalifahnya. Dengan demikian seluruh kaum muslimin yang ada haruslah berbaiat (bersumpah setia untuk mendukungnya) kepada khalifah mereka dan meninggalkan ketaatan dan baiat kepada  kepala negara mereka masing-masing. Maklumat ini tentulah menimbulkan gesekan-gesekan dengan faksi jihad yang ada di wilayah Iraq dan Syiria karena mereka menganggap pembetukan negara Islam saat ini belumlah tepat mengingat kondisi perang yang masih berkecamuk dan tidak cukup konsolidasi antar faksi jihad yang ada. Penolakan ini menimbulkan konflik yang kian melebar.

ISIS mengkafirkan siapa pun yang tidak mau berbaiat kepada kelompok mereka dan berjihad bersamanya. Mereka membunuh kaum muslimin termasuk warga sipil yang tidak berdosa karena dianggap menentang khalifah dan murtad. Menurut mereka, membunuh kaum muslimin yang telah mereka anggap murtad dan kafir adalah lebih utama sebelum membunuh kaum kafir selainnya. Sehingga kita dapati mereka sangat keras permusuhannya terhadap kaum muslimin di luar jamaahnya. Bahkan wanita dan anak-anak tidak luput dari aksi biadab yang mereka lakukan.
Seringkali aksi-aksi kejam mereka dalam mengeksekusi dan membunuh kaum muslimin mereka rekam dan diunggah di Youtube untuk menimbulkan rasa takut dan teror di tengah-tengah kaum muslimin. Kekejaman dan kebrutalan mereka sangatlah dirasakan kaum muslimin di sana. Perilaku mereka sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka inilah yang cocok disebut kaum Khawarij yang banyak disebutkan oleh Rasululloh -shallallohu ‘alaihi wa sallam- dalam hadits-haditsnya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan kaum musyrikin dan kafirin.

Bagaimana di Indonesia? Indonesia adalah lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya berbagai aliran yang ada, bahkan paham model ISIS pun ada juga simpatisannya. Paham ISIS/IS memang berbahaya dan perlu ada kontrol yang ketat untuk mengawasi pergerakan mereka. Namun kita tidak perlu khawatir karena jumlah mereka tidaklah banyak dan terus dipantau oleh pihak intel negara sehingga gerak-gerik mereka selalu terpantau.

Sebenarnya ada paham yang lebih berbahaya yang sedang berkembang di negara kita yaitu Syiah. Syiah merupakan sebuah sekte sesat yang mengaku pecinta Ahlul Bait Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- namun jika ditelisik lebih jauh mereka bukanlah pecinta Ahlul bait Nabi tapi pengikut Ahlul bait kekaisarana Persia. Mereka mengkafirkan seluruh shahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Tujuan mereka adalah untuk menimbulkan keragua-raguan umat Islam terhadap agama mereka. Jika para shahabat yang merupakan para pembawa panji Islam dikafirkan maka apa pun yang mereka bawa adalah produk kekafiran yang harus ditinggalkan. Artinya al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi juga perlu diragukan karena yang menyampaikan adalah orang yang telah mereka kafirkan. Dan mereka -Syiah- memang telah mempunyai kitab suci tersendiri yang berbeda dengan Al-Qur’an.
Dan Syiah juga menganggap orang Islam di luar jamaahnya adalah kafir Nawashib yang halal dibunuh dan dialirkan darahnya. Doktrin ini telah tertulis dibuku-buku karya Imam-Imam mereka. Dan mereka telah mempraktekkan ajaran ini di negara-negara mayoritas Syiah seperti di Iran, SYiria, Iraq, Lebanon dan terakhir di Yaman. Mereka menghancurkan masjid-masjid kaum muslimin dan membunuhi mereka dengan cara-cara yang sangat biadab. Namun secara umum, syiah yang ada di dunia ini mendapat sokongan dari negara Iran yang merupakan negara Syiah di dunia.

Di Indonesia mereka bermain dengan sangat cantik. Dengan bertopengkan ajaran pecinta ahlul bait mereka menanamkan pengaruhnya di tengah-tengah kaum muslimin. Mereka membuat yayasan-yayasan, tempat-tempat pendidikan, tempat-tempat kesehatan dll. Mereka memiliki ajaran Taqiyyah yaitu menyembunyikan kesesatan Syiah mereka ketika bergaul dengan kaum muslimin sehingga banyak kaum muslimin yang terpedaya dan masuk ke lingkaran mereka tanpa sadar. Di saat mereka masih minoritas mereka menampakkan sikap santun dan baik akan tetapi ketika jumlah mereka mayoritas tak segan-segan untuk melakukan kudeta dan memberontak pemerintah yang sah.
Berdasarkan informasi dari salah seorang petinggi mereka yang telah bertaubat, Syiah telah merencanakan kudeta di Indonesia sekitar tahun 2020 mendatang -semoga Alloh memporak-porandakan makar mereka terhadap negeri kita ini-. Dan kabar ini bukanlah isapan jempol semata. Banyak tokoh-tokoh syiah yang telah dipersiapkan duduk di lembaga-lembaga penting negara, baik sipil maupun militer. Bahkan, ada sekitar 6.000 imigran gelap asal Afghanistan yang beragama Syiah yang telah dikirim ke Indonesia dan menyebar di beberapa kota. Mereka semuanya laki-laki dan berusia produktif. Bahkan, menurut data pengkaji Syiah di Indonesia telah terjadi sekitar 21 kali konflik antara umat Islam dan Syiah yang di antaranya telah menelan korban jiwa, sebagaimana di Sampang Madura. Terakhir kalinya adalah di Pondok Adz-Dzikra asuhan Ust Muhammad Arifin Ilham. Mereka memukuli penjaga masjid dan merusakkan pondok. Syiah inilah sebenarnya ancaman nyata bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Di samping Syiah, ada juga paham Komunis yang setelah lengsernya Orde Baru mereka mulai menampakkan jati dirinya. Saat ini Komunisme bukan lagi dianggap bahaya laten yang mengancam kedaulatan NKRI. Bahkan, bahkan ada selebritis yang terang-tarangan mengenakan baju lambang ‘Palu Arit’ dan di ekspose di media masa tanpa merasa takut dan khawatir sebagaimana masa orde baru dulu. Sepak terjang mereka di pemerintahan pun kian terasa. Salah satu contohnya adalah penghapusan kolom agama di KTP yang ditengarai adanya ulah tangan komunis di belakngnya.
Tentang kekejaman paham komunis dengan partai PKI-nya tentu masih segar dalam ingatan kita. Bagaimana mereka menekan kehidupan beragama di negara kita saat itu. Mereka membunuh dan mengubur hidup-hidup para Kyai di Jawa Timur di tahun 1948 dan 1965. Puncaknya adalah kudeta mereka di tahun 1965 dengan gerakan G30S/PKI dengan penyiksaan dan pembunuhan para Jendral yang loyal dengan negara kesatuan Republik Indonesia dengan cara-cara yang bengis dan kejam di luar batas perikemanusiaan.

Dan masih ada satu lagi yang merupakan paham berbahaya, yaitu paham liberal. Mereka mengotak-atik agama Islam sekehendak mereka sendiri. Mereka menganggap bahwa ajaran Islam saat ini tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman dan perlu direvisi. Gerakan mereka didukung oleh orang-orang yang ditokohkan. Mereka belajar filsafat Islam di negara-nagara kafir dengan membawa pemikiran-pemikiran yang merusak kemudian diimpor ke negara kita dan diajarkan di universitas-universitas berlabel Islam. Maka jangan heran jika ada mahasiswa yang setelah lulus kuliah di universitas Islam justru murtad dan tidak bertuhan.

Kaum liberalis banyak mendirikan sekolah-sekolah dan universitas-universitas untuk kaderisasi. Mereka juga banyak mencetak buku-buku dalam rangka menyebarkan paham leberal mereka. Pergerakan mereka sangatlah masif dengan didukung tokoh-tokoh mereka yang dianggap intelektual di kalangan orang awam. Bahkan tak sedikit tokoh mereka yang dijuluki cendekiawan muslim tapi pada kenyataannya mereka mau meruntuhkan bangunan agama Islam.

Mungkin kita masih ingat Universitas Islam Negeri (dulu IAIN) Syarif Hidayatulloh Bandung yang mereka melakukan penghujatan terhadap ajaran Islam diantaranya mereka mengatakan dalam caci makinya bahwa kampus mereka “Bebas Tuhan” (atau tuhan itu tidak ada)dan “Anjing-hu Akbar”. Silhakan search di youtube dengan kata kunci “Ada penghujatan islam di kampus IAIN Bandung”. Atau sekitar setahun yang lalu kita dibuat miris dengan spanduk yang bertuliskan “Tuhan Membusuk” yang dibawa oleh mahasiswa UIN dalam Ospeknya. Ini adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan.

Justru ironisnya, paham liberal inilah yang mereka anggap sebagai kemajuan berfikir dalam memahami Islam. Mereka menganggap mengkaji Islam dengan cara merujuk pada pemahaman ulama-ulama terdahulu adalah sebuah kemunduran dan kejumud-an dalam berfikir. Padahal, cara berfikir mereka yang demikian liberal ini justru yang akan meruntuhkan pondasi Islam dari akar-akarnya.

Demikianlah sedikit ulasan dari kami, bahwa ISIS hanyalah satu di antara sekian paham Radikal dan berbahaya yang sedang berkembang di negara kita yang berpotensi merongrong keutuhan NKRI. Di sana masih banyak paham-paham berbahaya lainnya yang sedang berkembang dan membahayakan Negeri kita yang juga harus kita waspadai. Semoga negara kita senantiasa dilindungi oleh Alloh -ta’ala- dari segala makar orang-orang jahat tersebut.
Amin ya Robbal ‘Alamin.

Rabu, 29 April 2015

Hari ini Pelantikan Kepala Desa Mintobasuki Terpilih


11151017_1017858574915692_3123457930531467124_nHari ini Kepala Desa Mintobasuki terpilih – Bapak Santoso – resmi di lantik. Pelantikan ini bersamaan dengan pelantikan 51 Kades terpilih dari 4 kecamatan, yaitu Kayen, Gabus, Tambakromo dan  Sukolilo. Upacara pelantikan yang dilaksanakan di kantor Kecamatan Kayen pagi tadi berjalan dengan tertib dan lancar. Pemerintahan Kabupaten Pati memang telah menjadwalkan pelantikan secara serentak pada tanggal 28 dan 29 April di seluruh Kabupaten Pati. Pelantikan dilakukan di 4 tempat terpisah sesuai kedekatan wilayah masing-masing kecamatan. Tanggal 28 April kemarin dilakukan pelantikan di pendopo Kemiri dan Kantor kecamatan Tayu. Sedangkan hari ini 29 April dilakukan pelantikan di Kantor Kecamatan Kayen dan Jakenan. Total seluruh kepala desa terpilih yang dilantik sebanyak 219 orang. Pelantikan dilakukan langsung oleh Bapak Bupati Pati, Haryanto, SH, MM dan wakilnya  H Budiyono.



Pelantikan kali ini juga dihadiri oleh Camat masing-masing wilayah, Wakapolres Pati, Kapolsek masing-masing kecamatan , Danramil, SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Pati, BPD, PLT dan ketua panitia Pilkades. Acara dimulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Susunan acaranya dimulai dengan pembukaan , dilanjutkan pengambilan sumpah jabatan Kades terpilih, kemudian pendandatangan dan penyerahan SK , diteruskan sambutan Bupati Pati-Bp Haryanto , lalu istirahat , dan dilanjutkan pengucapan selamat oleh Bupati dan Wakil Bupati , serta penutupan.
Dengan demikian Bapak Santoso resmi menjabat Kepala Desa Mintobasuki untuk periode 6 tahun ke depan. Harapannya ke depan desa Mintobasuki akan menjadi lebih baik, lebih maju dan lebih berkembang, serta mampu meneruskan program pembangunan yang telah dicapai oleh Kepala Desa sebelumnya, Ibu Dwi K. Tentunya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan-tujuan pembangunan tersebut. Kerjasama dan saling membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing demi terwujudnya harapan yang lebih baik di masa-masa mendatang.

Sudah saatnya kita saling merapatkan barisan dan melangkah bersama, menghangatkan kembali keakraban yang sempat membeku, merajut kembali kebersamaan yang sempat terkoyak, menyambung kembali hubungan yang sempat terputus, dan menghapuskan sisa-sisa duri yang masih melekat di hati tuk bersama-sama menuju Mintobasuki ASRI, Aman – Sejahtera – Ramah dan Islami. Aman desanya, Sejahtera penduduknya, Ramah warganya dan Islami masyarakatnya. (yos)

Rabu, 22 April 2015

Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 6 (Selesai)


Image0254
Bocah-bocah perantauan

Berbicara tentang perantauan adalah berbicara tentang perjuangan. Dan berbicara tentang perjuangan adalah berbicara tentang pengorbanan. Perjuangan untuk mengejar mimpi dan harapan di hari esok yang lebih baik. Untuk menggapai impian itu dia harus rela meninggalkan kampung halaman; tempat dimana ia dilahirkan; tempat dimana dia tumbuh; dan tempat dimana kenangan-kenangan indah itu pernah ia lalui. Dia harus tegar tatkala harus meninggalkan orang-orang yang  yang di cintainya; anak-anak yang menjadi penghibur hatinya; istri yang setia mendampinginya; orang tua yang selalu membimbingnya; dan para kerabat yang dikasihinya. Dia harus berani membunuh kerinduan tatkala kerinduan itu menyeruak hadir dalam jiwanya. Hanya mereka yang punya nyali besar yang berani menghadapi tantangan sebagai perantau. Karena perantauan adalah perjuangan tanpa kenal kata menyerah…

Berbicara tentang perantauan adalah berbicara tentang hidup di pengasingan. Hidup tanpa sanak saudara dan handai taulan. Hidup di suatu negeri yang penghuninya tak mengenal dirinya begitu pun dia tidak mengenal para penghuninya. Terkadang dia harus rela menjadi orang yang terpinggirkan dalam kancah pergaulan. Tak ada mata yang peduli padanya. Tak ada hati yang menaruh iba untuknya. Tak ada tangan yang terjulur menolongnya. Dan tak ada pundak tempat bersandar baginya. Ya…karena mereka adalah orang asing. Deritanya hanyalah dirasakan sendiri, perihnya hanya dipendam sendiri, dan keluh kesahnya hanya disimpan di hati. Hanya pada Allohlah tempatnya mengadu. Namun ia harus tetap kokoh dan kuat.


Berbicara tentang perantauan adalah berbicara tentang tempaan hidup, kerja keras dan perjuangan yang sarat dengan suka duka tuk menggapai asa. Jika kita mendengar kisah-kisah mereka tentulah ada berjuta inspirasi yang kita dapati. Inspirasi untuk tetap kokoh dan tegar dalam menghadapi berbagai terpaan dan hempasan badai cobaan. Ya, tiada kesuksesan dalam ranah apa pun tanpa diwarnai pengorbanan, kerja keras, kesungguhan, ketekunan, cucuran keringat bahkan uraian air mata. Ini bukanlah omong kosong para pembual. Juga bukan kata-kata retorika para orator. Tapi ini adalah kenyataan. Tidak ada istilah keajaiban untuk bisa meraih kesuksesan. Tak ada keberhasilan bagi mereka yang duduk berpangku tangan.

Berbicara tentang perantauan adalah berbicara tentang pengalaman-pengalaman baru yang tidak pernah ia dapatkan di tanah kelahirannya. Alam telah menjadi kampus kulih untuknya. Perjalanan panjang yang dilaluinya menjadi mata kuliah baginya. Dan semua itu akan menjadi mutiara-mutiara berharga di masa-masa yang akan di laluinya.

Perantau Mintobasuki di tanah seberang.
 Mereka tinggalkan kampung kelahirannya dan orang-orang yang ia cintai. Ia harus rela meninggalkan wajah-wajah yang penuh kesedihan dengan kepergiannya. Ia harus pura-pura tersenyum sambil berucap: “Jangan sedih, aku akan kembali”. Kawan, tahukah engkau apa yang ada di dada mereka tatkala mengucapkan kata-kata itu? Dada itu bergemuruh menahan sesaknya kesedihan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mengalaminya.
Kemudian dengan berat hati ia harus melangkah pergi dengan satu harapan bisa berjumpa dengan mereka suatu hari nanti. Ya, berjumpa dengan sesuatu yang berbeda dengan perpisahan hari ini. Berjumpa dengan membawa keceriaan untuk mereka. Pulang dengan membawa harapan indah yang diidamkan.

Kawan, perjalanan perantau adalah perjalanan yang penuh siksaan. Berhari-hari dia harus berguncang-guncang di atas kendaraan yang membuat badan serasa remuk redam. Terkadang harus menahan lapar dan dahaga. Terkadang harus bertemu dengan orang-orang yang buruk akhlak dan perangainya. Melintasi lautan menuju tanah seberang, menuju negeri yang akan memberikan harapan baru untuknya dan orang-orang yang ia cintai. Di sanalah ia menjadi orang asing dan terbuang. Ia tidak tahu akan bahagia ataukah celaka di sana. Yang ia punya hanya harapan…

Jauh-jauh dia meninggalkan tanah kelahirannya bukanlah untuk tinggal di tengah kota metropolitan yang terang benderang dengan lampu-lampu jalanan. Akan tetapi ini adalah hutan belantara yang gelap gulita dengaan diterangi lampu temaram. Jauh-jauh ia tinggalkan rumahnya yang nyaman dan berpindah di sebuah gubug tua berdinding papan dan beratap rumbia. Jauh-jauh ia tinggalkan kehangatan bersama keluarga menuju tempat yang dingin dan sepi seorang diri. Di sinilah dia harus memulai hidup baru demi mendapatkan sebongkah mutiara harapan yang ia impikan tatkala meninggalkan negerinya. Tidak ada waktu untuk berleha-leha dan bersantai-santai di sini. Yang ada hanyalah berlari tuk segera mewujudkan mimpi.

Ia torehkan harapan-harapannya dibatang-batang karet itu dan berharap ada keberuntungan yang akan mengalir untuknya. Mengalir memenuhi pundi-pundi mimpinya. Di situlah ia berteduh; di situ kadang ia terlelap dalam pelukan mimpi. Dan terkadang rasa lemah itu datang. Ketika kelemahan itu datang terbayanglah wajah-wajah orang yang ia cintai; seolah menguatkan hatinya. Wajah-wajah yang merindukannya dan wajah-wajah yang ia ridukan. Kelemahan hanya akan menjadikannya kian lama tinggal di tempat ini. Siapa orangnya yang rela berlama-lama di tempat ini, dia harus segera bangkit lagi tuk berlari mengejar mimpi.
Ketika tiba waktunya, ia pun akan meninggalkan tempat itu dan kembali ke kampung halamannya; kembali ke tengah-tengah orang yang dicintai dan mencintainya. Ia akan kembali dengan senyum sebagaimana dulu ia telah meninggalkan mereka dengan tangis dan kesedihan. Ia akan bercerita tentang hari-harinya di perantauan. Ia akan berkisah tentang siang-siangnya yang panjang dan malam-malamnya yang kelam.

Ya, dia telah melewati masa-masa pengasingan di perantauan. Ia telah melewati hari-hari berat penuh tempaan dan perjuangan. Dan kini ia harus kembali ke negeri kelahirannya dengan penuh suka cita. Bagi para perantau perjalanan menuju kampung halaman adalah perjalanan menuju ‘surga’. Telah hilang keletihan; telah sirna kesedihan dan telah pudar hari-hari penantian. Semuanya akan terbayar di hari ini; terbayar dengan perjumpaan dengan orang-orang yang ia cintai.
Jangan kau iri dengan keberhasilan mereka sebelum engkau tahu kesedihan dan kepedihan yang mereka rasakan. Karena mereka tidaklah membeli semua itu dengan harga murah. Ada perjuangan, ada pengorbanan, ada keringat dan dan ada air mata.

Demikianlah sekelumit gambaran para perantau Mintobasuki yang ada di Pulau Sumatra, semoga bisa memberikan inspirasi kepada kita agar lebih termotifasi dalam menggapai asa dan harapan untuk hidup yang lebih baik.
Wassalam…

Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 5


Kebersamaan di Perantauan…
Image0533
Selepas menunaikan sholat Idul Adha mereka saling bercengkerama

Hari itu tanggal 10 Dzulhijjah 1432H atau bertepatan dengan tanggal 6 November 2011. Saat itu warga Mintobasuki berbondong-bondong menuju Masjid Al-Amin untuk menunaikan sholat Idul Adha dan dilanjutkan menyembelih hewan qurban.
Nun jauh di sana, di pulau seberang di tanah Sumatra beberapa warga Mintobasuki juga melakukan hal yang sama. Pagi itu mereka menuju Mushalla mereka yang sederhana; yang dindingnya dari papan-papan kayu dan beratapkan seng. Mushalla itu berdiri di tengah rawa yang diapit dua bukit kecil yang rimbun oleh pohon karet. Rawa itu sudah tidak lagi berupa rawa karena sudah diubah para pen-Dompeng menjadi dataran berpasir. Di sebelahnya ada sungai kecil yang airnya selalu mengalir. Tak pernah kering meski musim kemarau. Ikan-ikan kecil berenang-renang di airnya yang jernih tuk mencari makan. Gemercik airnya terdengar sampai di dalam Mushalla. Di belakang Mushalla itu ada sebuah kolam nila milik warga yang sudah tidak terurus.

Mushalla itu berdiri di akhir tahun 2010 yang lalu dengan dana dan tenaga dari warga sini. Meski sederhana namun Mushalla itu cukup berarti bagi warga yang akan melakukan aktivitas ibadah misalnya sholat Jum’at daan sholat Ied semacam ini. Dulu, sebelum mushalla ini berdiri warga yang akan sholat Jum’at atau sholat Id harus pergi ke Masjid Trans atau ke dusun Kotojayo. Terkadang harus jalan kaki menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dengan kondisi semacam ini banyak warga yang akhirnya tidak melakukan sholat Jum’at. Alhamdulillah, dengan adanya Mushalla sederhana ini aktivitas ibadah terfasilitasi.



Image0461
Bincang-bincang sehabis sholat Jumat


Pagi itu yang bertindak sebagai khotib sekaligus imam sholat adalah Purwanto (Abu Shofiyyah) asal Lampung menikah dengan warga Mintobasuki dan ber-KTP Mintobasuki. Mereka melaksanakan sholat Idul Adha di halaman Mushalla dengan beralaskan sak plastik. Meski sederhana namun aktivitas ibadah pagi itu berlangsung khidmat. Selesai melaksanakan sholat Id dilanjutkan dengan bincang-bincang sambil menikmati hidangan seadanya yang disediakan. Hari itu mereka tidak pergi ke kebun seperti hari-hari biasanya. Hari ini adalah hari raya kami. Kehangatan dan persaudaraan antar sesama warga perantauan begitu terasa.

Beginilah kebersamaan warga mintobasuki yang ada di perantauan. Rasa persaudaraan itu terpupuk karena adanya perasaan senasib sebagai anak-anak rantau yang jauh dari kampung halaman. Kebiasaan saling mengunjungi dan saling berbagi mewarnai pergaulan mereka sehari-hari. Saling tolong dan saling dukung sudah merupakan kewajiban di antara mereka. Jika di antara mereka ada yang sakit seolah semuanya merasa turut merasakan. Mereka berusaha membantu dengan apa pun yang mereka punya. Begitu pula jika ada di antara mereka yang lagi punya hajat dengan suka rela mereka berbondong-bondong untuk membantu. Bahkan mereka rela meninggalkan pekerjaannya di hari itu demi untuk membantunya. Semisal membuat bedeng baru untuk tempat tinggal, atau ada yang nikahan, atau pun kebutuhan lainnya. Demikian pula jika ada kesusahan yang dialami salah seorang di antara mereka; mereka berusaha mengunjunginya untuk menenangkan hatinya.

*********

Pasar menjadi tempat saling ketemu…
05
Suasana pasar Atas Muara Bungo yang menjadi tempat belanja kebutuhan pokok para pekerja karet.


Pasar Atas Muarabungo selain sebagai tempat berjual beli kebutuhan sehari-hari juga sebagai tempat saling bertemu dan berkumpul warga Mintobasuki yang ada di seantero Kab Muarabungo ini. Biasanya mereka berbelanja di hari Jum’at karena kebiasaan ‘rikinan’ (baca: terima gaji) juga di hari Jum’at. Bukan hanya warga Mintobasuki yang ada di Darat, Kulim atau Kayu Arao saja yang datang ke sini tapi juga dari tempat-tempat lain. Di sinilah tempat mereka saling tukar pikiran dan menanyakan keadaan antara satu dengan yang lainnya. Sunguh terasa kehangatan dan keakraban di sini. Biasanya mereka baru kembali ke rumah (baca: bedeng) sehabis ashar atau sebelumnya.
Dulu, sebelum motor bisa masuk ke hutan karet, pasar yang menjadi tujuan belanja adalah pasar Jum’at di dusun Danau. Dengan jalan kaki mereka ke sana menerobos semak-semak hutan karet mengambil jalan pintas. Berangkat sehabis subuh dan pulang menjelang maghrib dengan memikul barang-barang kebutuhan harian. Namun kini sudah tidak zamannya lagi, mereka bisa bawa motor ketika belanja. Lebih hemat waktu dan tenaga. Mereka pun bisa memilih ke Danau atau Muarabungo.

******
Tiga puluh tahun silam, di pedalaman hutan karet yang luasnya ribuan hektar ini hanya ada beberapa orang saja yang berani tinggal. Semuanya dari desa Mintobasuki. Merekalah generasi perintis di sini. Di bedeng yang sangat sederhana dari bilah-bilah papan dan atap welit. Bisa dibayangkan betapa beratnya hidup seorang diri di tengah hutan karet seperti itu. Trans Sungai Buluh belumlah dibuka oleh pemerintah. Saat itu kawasan tersebut masih berupa hutan dan semak belukar. Satu-satunya akses ke luar adalah ke dusun Kotojayo yang berjarak sekitar 7 Km dengan menerobos hutan. Jalan utama saat itu belum ada, yang ada hanya jalan setapak. Hanya lorong-lorong bersemak yang ada. Terkadang harus menghindari binatang buas seperti harimau atau pun ular-ular hutan yang berbisa. Benar-benar hanya orang yang bernyali besar yang berani tinggal di sini. Yaah, semuanya mereka jalani demi sebuah harapan untuk hidup yang lebih baik; untuk mereka dan demi keluarga mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, tempat itu kini lebih baik dari masa-masa itu. Hampir tiap bidang Kebun karet sudah ada bedeng-bedeng yang ditempati pekerja. Meski jarak antar bedeng saling berjauhan tapi kondisi ini jauh lebih baik dari pada 30 tahun yang lalu. Saat ini ada belasan warga yang tinggal di kawasan ini, dan banyak di ataranya adalah warga MintobasukiKec Gabus Kab Pati.

Foto-foto keakraban warga di perantauan
Foto0252 Foto0240  Image0864Foto0244

Senin, 20 April 2015

Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 4



Kondisi Pekerja Sadap Karet yang Dilematis… Rumah besar yang menghadap jalan perkampungan itu pagi ini nampak ramai. Belasan orang terlihat duduk-duduk di teras dan bangku-bangku yang ada di situ sambil asik ngobrol dan merokok. Hampir seluruhnya warga Mintobasuki, pekerja dari kampung Darat, Kulim dan Kayu Arao. Satu persatu dipanggil si Bos untuk totalan hasil kerja selama sebulan ini. Terdengar saling tawar menawar harga. Beberapa kali si Bos suaranya meninggi menolak permintaan anak buah. Namun juga kadang terdengar tawa kelakar. Pagi itu ada wajah berseri, ada wajah muram dan ada pula yang tanpa ekspresi menerima ‘raport’ kerja mereka. Orang sini menyebutnya ‘rikinan’ atau mungkin kalau bahasa kita totalan. Biasanya sebulan sekali, di hari Jum’at atau Kamis sore bersamaan dengan pembukaan harga pasar lelang di dusun Kotojayo. Terkadang habis rikinan malah hasilnya masih hutang sama Bos karena uangnya sudah diambil duluan di depan. Ada yang seri, alias impas sama hutangnya. Ada pula yang punya lebihan untuk digunakan memenuhi kebutuhan mereka.
Demikianlah kondisi mereka saat ‘rikinan’.

Para pekerja sadap karet berada dalam kondisi yang dilematis; terlebih dalam sistem pembagian hasil. Secara umum skema bagi hasil antara pekerja dan bos adalah 2 : 1. Artinya kalau harga karet laku 3.000.000 rupiah maka yang 2.000.000 untuk pekerja dan yang 1.000.000 untuk Bos. Sekilas terlihat menggiurkan karena para pekerja hanya bermodalkan dengkul dan pisau sadap sedangkan si Juragan modalnya besar -kebun karet-. Namun yang jadi permasalahan adalah anak buah harus menjual getahnya ke Bos dengan harga dibawah standar, bahkan bisa 30% di bawah harga pasar yang berlaku, bahkan kadang bisa lebih. Misalnya saja harga lelang 15.000/kg Bos karet menetapkan harga anak buahnya berkisar antara 10.000 sampai 12.000 saja. Dari harga penjualan ini masih dikurangi berat kotor biasanya 5%-15% tergantung kandungan kadar air dan serpihan tatal yang terbawa, dikurangi juga dengan biaya operasional semisal beli ZPT / perangsang getah dan dikurangi juga ongkos transportasi dari kebun ke dusun. Dari hasil inilah baru dibagi tiga. Dua bagian untuk pekerja dan satu bagian untuk Bos. Di sini si Bos punya dua keuntungan, keuntungan mendapat 1 bagian dari bagi hasil dengan anak buahnya; dan keuntungan menjual getah dari anak buahnya di pasar lelang dengan harga yang lebih kompetitif. Kalau mau dihitung fair dengan menggunakan patokan harga karet di pasar lelang atau pabrik, bisa jadi bos dapat 2 bagian sedangkan anak buah dapat satu bagian. Ya, bisa saja di daerah lain sistem bagi hasilnya tidak seperti ini, tapi inilah yang berlaku di sini. Namun, apa pun sistemnya, biasanya anak buah hanya dijadikan sapi perah bagi para majikan-majikan itu.

Bos-bos karet di sini punya perkumpulan semacam asosiasi sendiri untuk menetapkan harga getah anak buahnya. Andai ada perbedaan antar Bos dalam menetapkan harga karet anak buah biasanya tidak terlalu mencolok. Tidak sampai lebih dari kisaran seribuan rupiah. Bagaimana pun juga anak buah hanya bisa pasrah dengan keputusan Bos. Mereka tak punya posisi tawar yang kuat. Andai tidak setuju dengan harga yang diberikan, anak buah cuma punya dua pilihan: masih mau kerja atau keluar. Mereka tak punya pilihan lain. Tentu ini sebuah pilihan yang sulit. Anak buah harus puas dengan hasil yang ia peroleh.
Berbeda halnya dengan warga Mintobasuki yang di sini punya kebun karet sendiri. Mereka bebas mau menjual hasil kebunnya kemana pun dia mau tanpa perlu terikat dengan siapa pun dengan harga yang lebih bersaing. Ada dua pasar lelang dengan jadwal hari yang berbeda, di dusun Kotojayo dan di Trans desa Sungai Buluh. Harga kedua tempat ini sama-sama bersaing sehingga penjual punya keleluasaan untuk memilih. Namun tidak banyak warga Mintobasuki yang punya kebun karet sendiri, rata-rata adalah buruh sadap.

Anjloknya harga karet dua tahun terakhir ini dan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok merupakan beban berat bagi para buruh sadap karet. Hasil yang diperoleh tak sebanding untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah lagi kondisi musim yang tidak mendukung dimana curah hujan masih cukup tinggi yang menghalangi mereka untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Tahun ini benar-benar menjadi tahun suram bagi mereka. Di pasar lelang harta getah berkisar antara 8.000 sampai 10.000 per kilogram dan itu pun kabarnya terus menurun. Bisa dibayangkan ‘dirikin’ berapa para buruh sadap itu sama Bos-nya, tentunya di bawah kisaran tersebut.  Jauh sekali dengan harga karet di tahun 2012 lalu yang masih di kisaran 16.000an per kilogram. Tak jelas apa penyebabnya namun kondisi ini telah melemahkan semangat para perantau untuk tetap bertahan dengan pekerjaannya yang sekarang.

Dampak lesunya harga karet menjadikan mereka banting stir untuk mencari sumber-sumber penghidupan lain. Sebagian mereka tejun menjadi penambang emas liar alias ‘nDompeng’, sebagian lagi pulang ke kampung halaman memulai usaha kecil-kecilan seadanya. Ada yang berjualan di kampung, bertani dan beternak. Apapun dilakukan asal ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun ada juga yang tetap gigih bertahan di sana terutama mereka yang memang memiliki kebun sendiri. Mereka tetap berharap kondisi tak menguntungkan ini cepat berlalu.

Kapankah kelesuan ini akan teratasi kita tidak tahu. Akan tetapi melihat kondisi politik dan ekonomi yang semprawut saat ini saya pribadi pesimis harga karet akan bisa normal seperti dua atau tiga tahun yang lalu. Penurunan harga karet ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh para petani karet di Indonesia akan tetapi juga di negara-negara lain seperti Malaysia dan Vietnam. Banyak warga Mintobasuki yang bekerja di perkebunan karet Malaysia mengeluhkan hal serupa. Kita tunggu saja hari-hari ke depan. Kita semua tetap berharap kondisi ini akan segera pulih.

Sahabat Netter yang saya cintai, inilah sekilas gambaran kondisi saudara-saudara kita yang ada di perantauan Muarabungo. Bisa jadi kondisi perantau di tempat-tempat lain memiliki cerita yang berbeda pula. Di tulisan mendatang -insya Alloh- saya akan memaparkan bagaiman kehidupan sosial dan kemasyarakatan di sana.
Bersambung…

Minggu, 19 April 2015

Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 3


Mari kita menyadap karet…
Image0915
Perkebunan karet yang masih berusia muda dan belum bisa disadap

Pagi yang sempurna…. Sang mentari mulai memancarkan kemilau sinarnya yang menghangatkan bumi. Langit biru cerah tanpa awan yang berarti. Kabut tipis yang menutupi lereng perkebunan karet berangsur-angsur memudar. Kicau burung-burung di atas rimbun pepohonan seolah bernyayi menyambut hari ini. Simpai-simpai berbulu coklat pirang bergelantungan di pepohonan mencari makan biji-bijian karet muda. Di kejauhan sana terdengar sayup-sayup suara Ungko bersahutan seperti ko-or paduan suara. Sesekali terdengar koar burung rangkok yang terbang di angkasa. Suara kepakkan sayapnya turut meramaikan simponi pagi ini.
Bedeng tua dari bilah papan itu sudah sepi ditinggal penghuninya sejak lepas subuh tadi. Mereka sudah sibuk berlari-lari kecil dari satu batang ke batang karet berikutnya. Menorehkan pisau sadapnya, menyayat kulit-kulit bergetah itu. Cairan putih pun mengucur ke sayak-sayak tempurung kelapa. Sebilah golok terselip di pinggangnya. Wadah obat nyamuk tak lupa terikat di punggungnya. Sepatu kebun dan tutup kepala menjadi pakaian dinas hariannya. Terkadang harus mengoleskan racun pestisida ke kaki untuk menghalangi ulah pacet-pacet penghisap darah. Tak jarang pacet-pacet itu naik sampai ke kepala untuk cari minum darah segar, terlebih jika habis hujan dan suasana hutan lembab seolah mereka ingin pesta pora darah manusia.


Biasanya siang hari mereka istirahat sebentar untuk makan dan sholat, setelah cukup melepas penat mereka melanjutkan lagi pekerjaannya sampai habis ashar. Sehari bisa menyelesaikan 400-600 batang, tergantung keahlian masing-masing pekerja. Selain itu kondisi umur pohon karet juga berpengaruh terhadap kecepatan penyadapan. Sadapan kulit pohon karet muda lebih mudah dari pada karet tua sebab kulit karet muda masih virgin belum ada bekas kulit pulihan, beda dengan karet tua yang sudah berupa kulit pulihan yang kadang tidak sempurna sehingga timbul benjolan sana sini. Sayatan mengikuti kontur yang tidak rata ini yang memperlama pekerjaan.
Image0269
Bedeng dari papan kayu yang menjadi tempat tinggal para pekerja

Terkadang yang menjadi masalah adalah ketika hujan turun sedangkan getah encer di sayak belum membeku. Akibatnya getah bercampur air hujan menjadi rusak dan banyak terbuang. Beruntung kalau masih tersisa, terkadang hujan yang lebat menghabiskan seluruh getah cair di sayak dan hanya menyisakan lapisan-lapisan tipis latex. Di sini hujan turun sepanjang tahun, bahkan kemarau pun masih sering turun hujan. Tapi pekerja sini tidak kekurangan akal, mereka percepat proses pembekuan getah dengan menyemprotkan pupuk TSP yang dilarutkan ke air. Memang langkah ini tidak efisien karena dua kali kerja, tetapi sebagai antisipasi jika hujan turun atau antisipasi ulah babi-babi hutan kelaparan yang sering mengobrak-abrik sayak wadah getah tentu sangat efektif. Di malam hari biasanya babi-babi hutan secara berkoloni mencari makan cacing-cacing tanah dengan mendongkel-dongkelkan moncongnya. Celakanya jika si babi-babi itu menyerbu perkebunan karet, alamat banyak sayak yang kebalik kena gusur moncongnya yang seperti bulldoser itu. Tumpah semua hasil sadapan sehari karena belum membeku. Secara alami getah akan membeku sempurna setelah sekitar 24 jam. Namun juga tergantung varietas karet, ada yang cepat beku ada pula yang lambat.

Hasil getah sadapan tidak langsung diambil hari itu juga. Getah-getah beku baru dikumpulkan satu atau dua minggu sekali tergantung kebutuhan. Namun ada juga di daerah tertentu seperti Lubuk Linggau getah dikumpulkan harian karena banyak kasus pencurian di sana. Tentu hal itu sangat melelahkan. Syukurlah kasus pencurian getah di sini tidaklah seperti di Linggau. Bukannya tidak ada kasus seperti itu, tetap ada tapi tidak separah di sana.

Jika tiba waktunya ‘mbangkit’ getah-getah beku yang bercampur dengan getah encer hasil sadapan hari itu dikumpulkan dalam sebuah wadah bak kayu untuk direkatkan dengan ditambah asam cuka untuk mempercepat pembekuan getah encer sehingga berbentuk kepingan balok. Biasanya satu keping beratnya kurang lebih 100 kg, tergantung si pembuatnya mau dibuat berepa kiloan. Kepingan getah ini yang siap dijual ke pasar lelang atau toke (bos karet). Terkadang si pembeli yang datang langsung ke kebon atau kadang juga si penjual yang harus membawanya ke pasar lelang atau pembeli lainnya. Getah di jual kiloan. Terkadang ada juga penjual yang memperberat timbangan dengan mencampurkan tatal-tatal bekas sadapan kulit karet. Bahkan yang lebih ekstrim lagi dengan memperbanyak air sewaktu mbangkit lalu dijual sebagai getah basah. Cara ini bisa menambah bobot lebih dari 20an kilo dari bobot normal dengan sarat langsung dijual karena kalau harus nunggu sehari atau dua hari kadar airnya akan berkurang dan bobot getah menyusut. Tapi perhitungan harganya juga beda. Getah kering dan bersih dari tatal harganya lebih tinggi dari pada getah basah dan bertatal.
Bagi mereka yang punya kebon sendiri bebas mau jual hasilnya ke siapa dengan harga yang lebih bagus. Tentu beda halnya dengan buruh sadap karet yang mau tak mau harus ia jual ke juragannya. Tentu sudah bisa ditebak, harga jual tak mungkin bisa bersaing karena tidak punya posisi tawar kuat. In sya Alloh di tulisan berikutnya akan saya ceritakan lebih lanjut tentang bagaimana sistem bagi hasil antara pekerja dan juragan di sini.

Image0171
Proses pembuatan kepingan getah dengan mencampurkan antara getah encer dengan kering dalam sebuah bak kayu

Banyak atau sedikitnya hasil getah sadapan dipengaruhi beberapa faktor. Varietas karet alam yang hidup di hutan bercampur pohon-pohon liar biasanya hanya menghasilkan sedikit getah dibandingkan varietas karet unggul yang dikelola secara profesional. Namun varietas unggul biasanya umurnya lebih pendek jika dilakukan penyadapan intensif bila dibanding dengan karet alam yang bisa bertahan sampai lebih 30an tahun dengan intensitas penyadapan yang sama. Selain itu kondisi musim juga mempengaruhi. Musim kemarau biasanya hasilnya lebih sedikit dibanding sadapan dimana curah hujan cukup memadai. Musim gugur daun juga berpengaruh terhadap hasil sadapan dibanding musim semi. Keahlian dan skill pekerja, demikian pula intensitas pemberian ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) yang asal-asalan juga berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh.

Pada musim hujan dimana curah hujan cukup tinggi, para pekerja menghindari penyadapan intensif. Udara yang lembab di musim itu menjadikan jamur batang kerap menyerang bekas sadapan baru. Akibatnya kulit membusuk dan sulit untuk bisa pulih lagi, bahkan terkadang tidak bisa disadap lagi karena jamur menyerang sampai bagian kayu. Pada kasus yang sudah parah batang karet bisa membusuk dan akhirnya bisa mati.

Kerja di sini memang lebih banyak menggunakan otot dari pada otak, tapi dengan otot semata tanpa tahu teknik dan ilmunya juga tidak akan banyak hasil. Butuh pengalaman dan butuh terbiasa agar bisa beradaptasi dengan pekerjaan ini. Dua orang yang bekerja di lahan yang sama dengan intensitas penyadapan yang sama belum tentu hasilnya sama. Di sinilah pentingnya mempelajari ‘seni’ penyadapan yang benar tidak asal menggarukkan pisau ke kulit batang karet. Penyadapan terlalu dalam akan merusak kambium akibatnya kulit sulit untuk bisa pulih. Sedangkan penyadapan terlalu tipis getah tak mau keluar. Nah, butuh ilmu juga, kan?

Inilah sekelumit gambaran aktivitas harian saudara-saudara kita yang tinggal di perantauan bekerja sebagai buruh sadap karet. Usaha apa pun asal halal tentu akan menghasilkan keberkahan dalam kehidupan. Yang terpenting adalah tetap berikhtiar dengan cara-cara yang halal, bekerja dengan sungguh-sungguh, ulet, disiplin dan bertanggung jawab. Ada pun hasil, Alloh yang akan membagi dan menentukan untuk kita.
Image0477
Suasana pasar lelang getah dusun Kotojayo

Di tulisan mendatang in sya Alloh akan saya kupas bagaimana kondisi sosial masyarakat Mintobasuki yang ada di sini.

Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 2


Welcome to the Junggle, Man! Pertama-tama saya akan ajak anda untuk melihat kondisi lingkungan fisik di sini yang benar-benar beda dengan kondisi desa kita, Mintobasuki Asri.
Image0489
Salah satu ruas jalan masuk ke kampung Darat dari dusun Kotojayo

Orang dusun biasa menyebutnya kampung Darat. Letaknya sekitar 7 KM dari dusun Kotojayo ke arah utara masuk jalan kecil menembus hutan karet. Bisa ditempuh dengan naik motor sekitar 20-30 menit. Jalan selebar 3 meteran itu kian tak terawat. Beberapa titik mungkin kurang dari 2 meter karena lebatnya semak belukar di kanan kirinya yang tak pernah dibersihkan. Inilah jalan akses utama menuju hutan karet sekaligus penghubung menuju pemukiman transmigrasi desa Sungai Buluh, kec Rimbo Tengah. Jangan bayangkan jalanan beraspal, cuma tanah yang diratakan dan dipadatkan  dengan sirtu. Beberapa tanjakan tidak bisa dilewati motor jika hujan turun karena sangat licinnya. Kanan dan kiri jalan hanyalah batang-batang pohon karet yang terlihat. Tidak ada rumah penduduk di sini, hanya bedeng-bedeng kecil dari bilah-bilah papan yang ditempati para pekerja kebun karet. Itu pun jaraknya berjauhan, satu atau dua kilometer baru ketemu satu bedeng. Listrik? Jangan harap, itu hanya bisa dinikmati warga dusun. Bisa dibayangkan ketika malam tiba tempat ini benar-benar menjadi rimba yang sempurna.

Masih ada satu akses jalan lagi untuk menjangkau kampung Darat ini. Kalau tadi dari arah selatan, yang ini dari arah utara. Tepatnya dari pemukiman transmigrasi Sungai Buluh, Rimbo Tengah. Orang sini cukup menyebutnya Trans saja. Pemukiman ini banyak ditempati orang-orang jawa yang bertransmigrasi era Orde Baru. Kampung Darat bisa diakses dari Trans melalui jalan kecil sekitar 4 KM ke arah selatan dengan menembus hutan karet. Setelah melewati perkebunan Sawit, jalan masuk hanya berupa jalanan setapak melintasi perkebunan karet warga dan hanya bisa dilewati motor roda dua atau jalan kaki. Jika hujan turun, jalan ini penuh lumpur dan licin. Untuk menuju Kota Muarabungo warga juga lewat sini dengan jarak tempuh sekitar 45an menit lewat Trans. Dari Trans ini akses ke kota sudah lancar karena melewati jalan utama Muarabungo-Kuamang Kuning.
Image0454
Salah satu jalan tanjakan di kampung Darat yang telah di cor.

Sebelum tahun 2007an, kampung Darat nyaris tidak bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua. Jika akan ke pasar membeli barang-barang kebutuhan harian mereka harus berjalan kaki menembus hutan yang penuh semak belukar. Bahkan, menurut cerita mereka yang di sini, dulu kalau ke pasar berangkat pagi-pagi dan pulangnya bisa sampai maghrib karena jauhnya jarak tempuh. Dengan memikul bahan sembako mereka harus menerobos rimbunnya semak dan pekatnya hutan dengan jalan kaki. Jalanan yang naik turun dan kadang berlumpur menjadi hambatan tersendiri bagi mereka. Pasar yang terdekat saat itu pasar dusun Danau. Tepatnya sebelah timur dusun Kotojayo yang bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan kendaraan melewati jalan beraspal. Namun, jika ditempuh dari kampung Darat bisa sampai setengah hari karena aksesnya yang sulit.

Dengan kondisi fisik alam yang demian ekstrim tentu bisa kita bayangkan jika ada warga yang sakit dan secepatnya butuh perawatan medis. Dulu, untuk mengantar orang sakit haruslah dengan jalan kaki menuju dusun terdekat yang ada fasilitas pelayanan medis. Atau jika si sakit kondisinya benar-benar parah baru dipikul bersama-sama dengan bergantian untuk pergi ke dokter atau rumah sakit. Setelah motor bisa masuk wilayah sini penanganan si sakit pun lebih mudah, bisa langsung di antar ke dokter terdekat atau ke rumah sakit yang ada di kota Muarabungo.
Infrastruktur yang demikian parah ini menjadikan warga Kampung Darat yang mayoritasnya adalah warga Mintobasuki berinisiatif memperbaiki akses masuk yang ada. Sedikit demi sedikit jalan setapak diperbaiki. Sampai kemudian kendaraan roda dua bisa menjangkau bedeng-bedeng tempat tinggal mereka. Ini merupakan titik awal yang baik karena bisa memperlancar mobilitas warga. Akhirnya banyak warga yang kemudian membeli motor untuk menunjang aktifitas mereka sehari-hari, semisal pergi ke dusun, belanja ke pasar, berangkat kerja atau pun untuk saling mengunjungi sesama mereka.

Banyak hal yang berubah ketika sarana tranportasi bisa menjangkau daerah ini. Kalau dulu untuk ke pasar harus sebulan sekali, saat ini kapan pun mereka bisa pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan harian. Alternatif belanja pun tidak hanya di pasar Danau, yang nota benenya pasar mingguan, tapi mereka juga bisa pergi belanja ke pasar kota Muarabungo. Di sana kebutuhan sehari-hari lebih lengkap dan harganya pun bisa lebih bersaing. Bukan hanya kebutuhan konsumsi saja yang ada di pasar Bungo, tapi juga kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti pakaian, perlengkapan kerja, perabotan rumah tangga, bahkan gadget dan semisalnya. Di sini ada dua pasar yang terkenal, Pasar atas dan pasar bawah. Umumnya untuk membeli kebutuhan pokok dan sayuran Pasar Atas yang jadi alternatif pertama.

Kembali ke kampung Darat…Sebenarnya ada satu lokasi lagi yang menjadi tempat tinggal warga Mintobasuki di sini yaitu Kulim. Lokasinya terpisah jauh dari Darat sekitar 5 KM arah ke Timur. Kondisi lingkungan fisiknya pun sama dengan Darat. Kelebihannya adalah untuk menjangkau jalan besar Muarabungo-Kuamang Kuning lebih dekat, sekitar 1 Km saja dengan akses yang memadai. Dari Darat menuju ke Kulim harus melewati rawa-rawa yang cukup luas yang sekarang sudah berubah menjadi dataran dengan hamparan pasir putih dan semak belukar serta kolam-kolam air. Dari mana asal muasalnya pasir putih dan kolam-kolam ini?

Penambang emas liar ketika masuk wilayah ini mereka mengeruk tanah sampai kedalaman tertentu untuk mendapatkan butir-butir emas dengan menembakkan air berkekuatan besar melalui mesin-mesin diesel. Orang disini menyebut aktivitas penambangan emas liar ini dengan nDompeng. Entah mengapa disebut demikian, mungkin karena umumnya mesin diesel yang mereka gunakan adalah merk Don Feng produk dari China sehingga untuk mempermudah penyebutannya diganti Dompeng. Dan kemudian nama ini dipakai untuk aktivitas mereka. Hasil yang ditinggalkannya adalah kolam-kolam lebar dan pasir-pasir putih yang menghampar. Hampir semua rawa-rawa di sini telah dijamah tangan-tangan para pen-Dompeng. Bahkan ketika lahan ‘perawan’ sudah habis, lahan bekas dompengannya pun di keruk lagi, berharap masih ada sisa-sisa yang tertinggal. Satu tim biasanya terdiri antara 5 sampai 7 orang.

Perbaikan Jalan Masuk Darat
Foto0237 Foto0138
Warga menyadari bahwa semakin baik infrastruktur akan semakin mempermudah aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kegiatan ekonomi. Langkah yang ditempuh adalah dengan melakukan perbaikan jalan masuk yang ada dengan dilakukan pengecoran. Warga bergotong royong membangun pengecoran jalan di titik-titik yang dianggap rawan saat musim hujan, terlebih di lokasi-lokasi tanjakan. Tidak kurang dari dua belas titik lokasi berbahaya yang telah dilakukan pengerasan yang didanai secara suka rela oleh warga sekitar. Untuk mendapatkan bahan baku semen mereka membeli dari toko bangunan di Trans, sedangkan pasirnya cukup dari rawa-rawa bekas penambangan liar. Hasilnya memang cukup memuaskan. Berkendara saat musim hujan pun tak lagi menjadi masalah.
Perbaikan ini tidak sekaligus, tapi dilakukan secara bertahap sejak tahun 2010. Mereka biasa saling bermusyawarah untuk menentukan segala kebutuhan untuk perbaikan, lokasi mana yang akan di-cor, kebutuhan material dan tenaga kerja, bahkan sampai kebutuhan konsumsi nantinya. Namun karena kurangnya perawatan, setelah beberapa tahun berlalu beberapa titik telah mengalami kerusakan yang parah sehingga butuh perbaikan.

Demikianlah sekilas gambaran kondisi lingkungan fisik  yang ditempati warga Mintobasuki. Di tulisan mendatang insya Alloh akan kita telusuri aktifitas harian mereka…

Sabtu, 18 April 2015

Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 1

Image0941
Masjid Al Mubarak-Muarabungo-Jambi
Sahabat Netter yang saya cintai, semoga kesehatan dan keselamatan senantiasa tercurahkan untuk kita semua. Demikian pula semoga kesuksesan dan keberkahan dari setiap usaha yang kita ikhtiarkan senantiasa didekatkan kepada kita. Amiiiin…
Tulisan kita kali ini akan sedikit mengupas kondisi warga desa Mintobasuki, Gabus, Pati yang hidup di perantauan. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa banyak juga warga desa kita yang menggantungkan harapannya di negeri orang dengan beragam alasan. Sempitnya lapangan pekerjaan, kurangnya skill, dan harapan yang lebih baik di tanah rantau menjadi faktor-faktor yang memotivasi sedulur-sedulur kita untuk mengadu nasib di perantauan. Bak pepatah, anak panah tak akan mengenai sasaran jika tidak lepas dari busurnya. Sebagian mereka berhasil memperbaiki kondisi perekonomian keluarga setelah pulang dari rantau, meski ada juga yang tetap biasa-biasa saja.
Belum ada data statistik resmi berapa prosentase warga desa kita yang bekerja merantau ke daerah lain, akan tetapi perkiraan kasar adalah sekitar 36% dari total penduduk usia produktif. Data ini kami peroleh dari data Pilkades kemarin dimana jumlah DPT (daftar Pemilih Tetap) warga Mintobasuki adalah 1710 orang sedangkan yang telah menggunakan hak pilihnya sejumlah 1071 orang termasuk pemilih dengan suara tidak sah. Dengan demikian ada sejumlah 639 warga Mintobasuki yang tidak menggunakan hak pilihnya. Kita asumsikan saja bahwa angka ini adalah jumlah warga Mintobasuki yang berada di perantauan. Namun jumlah ini juga perlu ditinjau ulang karena pada Pilkades kemarin banyak juga warga diperantauan yang menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk ikut berpartisipasi dalam pencoblosan. Bisa jadi jumlah warga yang ada diperantauan melebihi prosentase tersebut.
Tulisan kali ini hanya akan menyoroti warga Mintobasuki yang merantau di pulau Sumatra sebagai buruh sadap karet. Sebenarnya banyak juga warga desa kita yang sukses merantau di kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang dan sebagainya, bahkan ada pula yang merantau ke luar negeri seperti di Malaysia dan Korea. Namun, karena penulis hanya punya pengalaman berinteraksi dengan warga perantauan Mintobasuki di pulau Sumatra maka ini dulu yang kita bahas. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran singkat pembaca untuk mengetahui bagaimana keseharian dan aktivitas mereka di sana.

Sekilas Kabupaten Muara Bungo – Jambi
Kenapa saya mengangkat Kabupaten Muarabungo? Ya, karena saya pernah tinggal di sini jadi sedikit banyak saya punya gambaran tentang daerah ini.
Muarabungo adalah salah satu kabupaten di Propinsi Jambi dari sebelas kabupaten yang ada dan merupakan pemekaran Kabupaten Bungo Tebo pada tanggal 12 Oktober 1999 silam. Saat ini Bungo dan Tebo menjadi dua kabupaten yang terpisah. Luas kabupaten ini sekitar 4.659 km2 dengan rata -rata kepadatan penduduk 65 jiwa/km2 berdasarkan hasil perhitungan tahun 2010. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Merangin. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kerinci dan Sumatra Barat. Sebelah utara berbatasan dengan Prop Sumatra Barat. Sebelah barat berbatasan dengan Kab Tebo.
Muarabungo kaya dengan hasil alamnya, baik dari sektor perkebunan maupun pertambangan. Perkebunan yang menjadi komoditas utamanya adalah kelapa sawit dan karet. Perkebunan kelapa sawit biasanya dikembangkan oleh mereka yang memiliki modal besar baik perorangan maupun badan usaha. Berbeda halnya dengan perkebunan karet yang bisa dikelola oleh masyarakat meski dengan modal kecil karena memang biaya perawatan dan operasionalnya yang minim. Namun sayangnya kebanyakan perkebunan karet di sini tidak dikelola secara profesional sehingga hasil yang diperoleh pun kurang maksimal. Sedangkan hasil tambangnya adalah batu bara dan emas yang hampir merata di seluruh wilayah.
Muarabungo juga memiliki bandar udara yang berlokasi di desa Sungai Buluh kec Rimbo Tengah. Bandara ini mulai diresmikan pada 12 Juni 2012 yang lalu. Proses pembangunan molor sekitar 3 tahun dari taget yang direncanakan, karena seharusnya sudah bisa beroperasi mulai tahun 2009 yang lalu. Dengan bandara baru ini diharapkan mampu menunjang aktivitas transportasi wilayah Muarabungo dan sekitarnya.
Mengunjungi Desa Kotojayo, Kec Pelepat
29022012878
Agroforest, tanaman karet yang bercampur dengan pepohonan hutan

Nah, sekarang kita sedikt masuk kampung Kotojayo. Di sinilah banyak warga Mintobasuki yang bekerja sebagai buruh sadap karet. Tidak banyak data yang bisa saya peroleh dari desa ini, hanya saja banyak warga Mintobasuki yang tinggal di sini sejak lama, bahkan sudah ada yang sampai selama 40an tahun lebih. Dari batang-batang pohon karet mereka menggantungkan penghidupan yang lebih baik. Usaha mereka tentunya tidak sia-sia, dengan keuletan dan kegigihan mereka berhasil memperbaiki taraf hidup yang lebih baik. Mereka bisa membeli tanah, membangun rumah dan bahkan punya perkebunan karet sendiri. Sebagian mereka memilih menetap menjadi warga sini, tapi banyak juga yang  lebih suka jadi perantau saja sehingga hasil jerih payahnya dikirim ke kampung halaman dan sekali waktu mereka menengok keluarga dan handaitaulannya di Jawa.

Perlu diketahui bahwa warga Mintobasuki yang merantau sebagai pekerja perkebunan bukan cuma di Kotojayo, Pelepat saja bahkan banyak juga ditempat-tempat lain. Mereka tersebar diberbagai Kabupaten di Jambi ini bahkan kabarnya yang terbanyak adalah di kabupaten Merangin dengan kota Bangkonya. Namun karena minimnya informasi di sana saya hanya akan ‘berkisah’ warga Mintobasuki yang ada di wilayah sini.
Nah, bagaimana aktivitas mereka di sana, insya Alloh akan hadir di tulisan selanjutnya.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)