*** SELAMAT DATANG *** Ini adalah blog pribadi yang dikelola secara independen oleh Netter desa Mintobasuki kec. Gabus kab. Pati. Blog Mintobasuki Gabus Pati bukanlah blog resmi pemerintahan desa Mintobasuki. Blog ini tidak ada hubungan dalam bentuk apa pun dengan organisasi, kelompok dan kepentingan tertentu di desa Mintobasuki. Artikel-artikel yang disajikan adalah tulisan lepas yang berisi uneg-uneg, ide, pemikiran, opini pribadi penulis dan pernik-pernik terkait desa Mintobasuki.

Area Persawahan di sebelah timur Desa Mintobasuki

Lahan pertanian yang cukup luas membentang di bagian timur desa. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi, jagung, kacang-kacangan dan beraneka ragam sayuran.

Kali Tambak untuk sarana irigasi pertanian

Sungai kecil yang membujur di sebelah timur desa yang berhulu di Sungai Silugonggo memiliki arti penting sebagai sarana irigasi.

Pesona desa Mintobasuki

Nuansa alam desa yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang indah menjadikan desa Mintobasuki kian anggun dan menyimpan pesona tersendiri.

Sektor pertanian yang perlu dikembangkan

Mintobasuki memiliki lahan pertanian sekitar 90 Hektar terdiri atas lahan basah dan kering. Oleh karenanya perlu ada upaya yang matang untuk mengembangkan sektor ini. Selain itu, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Mintobasuki sampai saat ini.

Sarana peribadahan yang cukup memadai

Desa Mintobasuki memiliki 5 Musholla dan 1 Masjid Agung Al-Amin yang saat ini dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana penunjang yang cukup memadai ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan warga dalam beribadah.

Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas warga

Sektor pertanian tetap menjadi mata pencaharian dan primadona bagi masyarakat desa Mintobasuki, meski dengan seiring bertambahnya waktu, profesi dan mata pencaharian warga kian heterogen.

Sektor Perikanan di Mintobasuki

Sungai Silugonggo yang bermuara ke laut utara ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Mintobasuki. Hasil tangkapan ikannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga yang berprofesi sebagai nelayan.

Selasa, 14 April 2015

Pemuda Mintobasuki, Bagaimana Kabarmu…?


Masa muda merupakan masa keemasan bagi perjalanan hidup seseorang. Masa dimana cita-cita dan harapan-harapan tinggi digantungkan. Masa yang penuh semangat, gairah dan energi dalam menjalani kehidupan. Sekaligus masa-masa terbaik untuk mengembangkan segala potensi diri. Ini adalah nikmat Alloh yang layak disyukuri dan digunakan untuk melakukan aktifitas-aktifitas positif yang membawa manfaat di dunia maupun di akhirat kelak. Masa muda tidak akan datang dua kali. Kita akan benar-benar menyesalnya ketika masa tua datang sedangkan masa muda habis disia-siakan. Tidak akan bisa merasakan realita ini kecuali bagi mereka yang saat ini sudah memasuki masa uzur. Namun apa hendak dikata, masa muda tidak akan datang dua kali.

Sebagaimana nikmat-nikmat yang lain, maka nikmat masa muda juga akan dimintakan pertanggunggjawaban oleh Alloh -ta’ala- kelak di hari kiamat, kemanakah engkau habiskan masa mudamu? Masa muda merupakan sesuatu yang spesial yang Alloh  karuniakan untuk hamba-hamba-Nya oleh karenanya Alloh-pun secara khusus menanyakan kemana masa muda kita habiskan. Ini bukan berarti masa tua tidak diperhitungkan oleh Alloh. Pengkhususan penghisab-an masa muda karena istimewanya.

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ  عِنْدِ  رَبِّهِ  حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَ عَنْ  مَالِهِ  مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ مَا ذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
“Kedua kaki anak Adam tidak akan beranjak pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima perkara; tentang umur pada apa ia habiskan, kepemudaannya pada apa ia hancurkan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan apa yang telah ia kerjakan pada apa yang telah ia ketahui. [HR at-Turmudziy: 2416, Abu Ya’la, ath-Thabraniy, Ibnu ‘Adiy dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan ].

Dalam sebuah hadits shahih yang lain disebutkan tentang tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Alloh -ta’ala- di tengah panasnya padang Mahsyar di hari kiamat di saat tidak ada naungan lain selain naungan dari Alloh -azza wa jalla-, dan satu di antara tujuh tersebut adalah seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Alloh.
Nah, jika engkau merasa sebagai pemuda sejati, apakah engkau punya kriteria berikut ini? Inilah beberapa kriteria pemuda sejati yang layak menyandang predikat sebagai ‘agent of change’ sebenarnya:

1. Syuja’ah (Pemberani)
Ini adalah karakter seorang pemuda sejati. Sifat pemberani, tidak takut mengambil resiko dan siap menghadapi tantangan. Baginya adalah aib jika dalam hatinya ada sikap pengecut dan bernyali ciut. Teladan yang pas untuk menjelaskan karakter ini dari kehidupan kemerlapan tokoh-tokoh Islam banyak bertebaran di buku-buku sirah (sejarah) Islam.

Satu di antaranya adalah Nabi Alloh Ibrahim -alaihissalam- yang dengan keberaniannya dalam menegakkan kalimat tauhid, bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Alloh, maka beliau -alaihissalam- menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya dengan menyisakan satu patung saja yang paling besar. Beliau tahu bahwa konsekwensi dari perbuatannya adalah hukuman mati. Dan benar saja, tatkala raja mengetahui bahwa beliaulah yang telah menghancurkan berhala-berhala sesembahannya hukuman mati pun dijatuhkan. Akan tetapi Alloh menyelamatkan beliau ‘alaihissalam- dari hukum bakar yang beliau terima.

Contoh lain dari sifat pemberani ini adalah kisah keberaniannya Muhammad Al-Fatih rahimahulloh dalam mengobrak abrik pasukan Romawi Timur di  Bizantium yang merupakan pasukan terbaik di dunia yang ada saat itu yang telah berkuasa selama 11 abad lamanya. Dengan strategi dan keberaniannya, akhirnya Alloh -ta’ala- menganugerahi kemenangan kepada kaum muslimin. Kala itu usia Muhammad Al-Fatih barulah menginjak 19 atau 20 tahun. Sebuah usia yang tergolong belia untuk melakukan hal yang spektakuler seperti itu.

2. Dzaki (Cerdas)
Masa muda merupakan masa-masa perkembangan akal dan nalar seseorang. Ibarat pisau, setajam apa pun kalau tidak pernah diasah lama kelamaan akan menjadi tumpul dan berkarat. Demikian pula akal dan penalaran manusia, jika jarang difungsikan dan diasah dengan hal-hal yang bisa mempertajam pemikiran juga akan tumpul. Akal akan mandul dalam berkreasi dan miskin dalam berinisiatif. Seorang pemuda sejati adalah mereka yang aktif dan dinamis dalam mengikuti setiap perkembangan yang ada. Dengan kemampuan penalaran dan kecerdasan yang dimilikinya dia bisa melihat hakikat segala sesuatu yang disodorkan kehadapannya untuk kemudian memilah dan memilih mana yang maslahat untuk dirinya dan mana yang tidak. Dengan kecerdasannya tersebut ia mampu mewarnai masyarakat sekitarnya, tidak hanyut terbawa arus yang ada dan terwarnai dengan lingkungan yang akan membawanya kepada sesuatu yang membahayakannya.

Kisah paling menarik untuk melukiskan tentang kecemerlangan akal seorang pemuda adalah kisah Nabi Ibrahim tatkala berdebat dengan raja yang disembah-sembah rakyatnya kala itu. Tatkala Nabi Ibrahim telah berhasil menghancurkan patung-patung yang disembah kaumnya, dengan kecerdasannya beliau sisakan sebuah patung besar dan dikalungkan kapak padanya. Tatkala Ibrahim ditanya siapa yang telah menghancurkan patung-patung tersebut, beliau ‘alaihissalam- menjawab bahwa yang telah menghancurkan patung-patung tersebut adalah patung yang paling besar yang membawa kapak.

Raja tersebut menyangkal ucapan Nabi Ibrahim -alaihissalam- karena tidak mungkin patung bisa menghancurkan patung yang lain. Nabi Ibrahim pun menimpali, kenapa engkau sembah patung itu kalau berpindah tempat saja ia tidak bisa. Raja pun terdiam seribu bahasa tak mampu menjawab argumentasi Nabi Alloh Ibrahim -alaihissalam-.

Dalam kisah ini juga, tergambar kecerdasan Nabi Ibrahim -alaihissalam- yang kala itu masih menjadi seorang pemuda. Kala itu Ibrahim berkata kepada raja, bahwa hanya Alloh-lah yang menghidupkan dan mematikan. Raja pun menyahut, aku juga bisa menghidupkan dan mematikan. Raja dengan mendatangkan 2 orang, yang dibunuh adalah yang dimatikan dan yang dibiarkan hidup adalah yang ia hidupkan. Nabi Ibrahim tidak membantah ucapan konyol raja tersebut, akan tetapi berpindah kepada argumentasi lain. Beliau berkata, Alloh telah menerbitkan matahari dari arah timur, maka terbitkanlah -wahai raja- matahari dari arah barat. Raja pun terbungkam tanpa bisa berkata-kata apa pun.

Masih banyak bertaburan kisah-kisah yang menceritakan kecerdasan dan keberanian para pengawal-pengawal Islam dari dahulu sampai sekarang. Dengan ilmu dan kecerdasannya itu Islam menjadi bersinar cemerlang karena debu-debu yang mengotorinya ia bersihkan. Tirai yang menghalanginya ia singkap.

Beginilah semestinya karakter seorang pemuda yang digadang-gadang akan menjadi agent of change di Mintobasuki. Pemuda yang selalu aktif berfikir, mengembangkan nalar dan pemikirinnya untuk kemaslahatan bersama, bukan sekedar untuk kepentingan pribadi. Dia punya skill dan keahlian; dan dengan skill-nya tersebut ia mampu berkarya dengan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakatnya.
Seorang pemuda yang handal, tatkala dihadapkan kepada suatu permasalahan akalnya langsung bekerja cepat, mencermatinya, menganalisanya, dan menemukan jalan keluarnya. Kuat dalam berfikir. Cerdas dalam menganalisa. Dan cepat dalam mengambil keputusan.

3. Akhlaqul Karimah (Budi pekerti yang mulia)
Jangan pernah menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang buruk akhlak dan perangainya. Orang bilang, memiliki musuh orang bertaqwa itu lebih baik dari pada memiliki teman dekat tapi fasiq. Kenapa? Meskipun musuh kita, tapi kalau dia orang yang bertaqwa akan senantiasa berbuat adil dan tidak akan mendzolimi kita. Sebaliknya, berteman dengan orang fasiq resikonya kalau kita tidak diajak kepada kefasikkannya kemungkinan lain dia akan berbuat fasiq kepada kita. Dua-duanya merugikan kita.

Seorang remaja dan pemuda yang diharapkan kedepannya bisa menjadi ‘agent of change’ membawa perubahan di Mintobasuki hendaklah mereka yang senantiasa terdidik dengan akhlak yang mulia. Akhlak mulia memiliki pengertian yang luas, baik akhlak kepada Kholik (Alloh -ta’ala) maupun makhluk Alloh yang ada di alam ini. Jangan katakan seseorang itu berakhlak baik jika kepada Rabb-nya (Alloh ta’ala) saja dia berani mendurhakainya dengan kemaksiatan-kemaksiatan; laranganNya diterjang dan perintahNya ditinggalkan. Tidak perduli halal dan haram dan jauh dari Dien. Kalau Sang Pencipta langit dan bumi dan seluruh makhluk yang ada saja dia berani berbuat durhaka, apalagi durhaka terhadap makhluk. Tentu lebih bisa lagi.
Khosy-yah (rasa takut kepada Alloh) dan muroqobah (merasa selalu diawasi Alloh) yang ada pada diri seorang pemuda akan menjadikannya senantiasa hati-hati dalam menapaki jalan hidup ini. Karena dia yakin bahwa segala sesuatu yang ia kerjakan di atas muka bumi ini pada akhirnya nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh. Keyakinan semacam ini yang akan mendorong lahirnya akhlak-akhlaq mulia. Jujur, amanah, bertanggung jawab, menjaga lisan dari menyakiti hati orang, menjaga anggota badan dari menyakiti fisik orang lain, sabar, dan sebagainya. Pemuda semacam inilah yang pantas diletakkan amanah di pundaknya untuk menjadi mujaddid (pembaharu) di tengah masyarakat.

4. Tangguh dalam menghadapi rintangan
Sifat yang keempat yang merupakan indikator bahwa seorang pemuda itu layak dijadikan pembaharu adalah tangguh, ulet, militan, tahan banting dan pantang untuk berputus asa. Masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari, akan tetapi masalah adalah sesuatu yang harus dicarikan solusi. Masalah-masalah yang  mendera diri pemuda ibaratnya adalah pupuk pada tanaman yang akan menguatkan akarnya dan mengokohkan batangnya. Dengan adanya musibah, masalah, kesulitan dan rintangan yang dihadapi dalam meraih sebuah harapan, justru akan menjadikan pemuda lebih tangguh dan kuat dalam menapaki kehidupan. Jamu memang pahit, akan tetapi menyehatkan. Untuk bisa tumbuh, sebutir biji harus dikubur di dalam tanah. Pesawat tidak akan bisa terbang kecuali melawan arah angin.

Rintangan jika seorang pemuda mampu menghadapinya dengan sabar dan tabah akan menjadikan dirinya meraih kedewasaan dalam menapaki terjalnya jurang-jurang dunia. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa bersabar dan mengharap pertolongan Alloh -ta’ala- dalam menghadapi segala permasalahan yang menimpanya. Kesabaran dalam menghadapi permasalahan inilah yang akan menjadi penguat mental.

Seorang mujaddid mestilah memiliki karakter ini, tidak mudah lemah menghadapi musibah, tidak mudah goyah menghadapi masalah, dan tidak berputus asa dari pertolongan Alloh -ta’ala-. Bacalah kisah-kisah orang terdahulu yang pernah hidup dalam naungan Islam yang mereka dengan kesabaran dan ketangguhan tekadnya menjadikan permasalahan yang dihadapinya terasa kecil dan tak berarti sampai kemudian datang pertolongan Alloh.

Tentu kita ingat tentang ashabul kahfi , para pemuda yang rela menjalani hidup terusir dari kampung halamannya untuk menyelamatkan agamanya. Mereka rela hidup di dalam gua, sampai Alloh kemudian menidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang sebagai bukti keMaha Kuasaan Alloh yang berkehendak sesuai keinginanNya. Kisah hidup mereka yang penuh ketabahan dan keteguhan di atas keimanan telah  diabadikan Alloh dalam Al-Qur’an. Mereka bukanlah sekumpulan pemuda cengeng yang mudah mengeluhkan kesulitan hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang tangguh. Al-Qur’an menceritakan kisah mereka agar kita bisa mengambil ibrah (pelajaran) dan qudwah (teladan) dari perjalanan hidup mereka yang mulia. Kesabaran, ketabahan, dan keteguhan di atas iman akan menjadikan seseorang mendapatkan kemuliaan, di dunia dan diakhirat kelak.

Kawan…
Inilah diantara karakter-karakter pemuda yang layak menjadi ‘agent of change’ di mana pun ia berada. Harapannya, kita semua diberi taufiq oleh Alloh untuk menjadi pemuda yang tidak hanya maju dari sisi intelektualitasnya semata akan tetapi juga pemuda yang punya integritas untuk Diennya, Islam yang kita cintai ini. Amin…
Wassalamu ‘alaikum.

Sabtu, 11 April 2015

Ikhlas Dalam Setiap Amal


Orang awam sering mengartikan ikhlas dengan beramal tanpa mengharapkan pamrih dari orang lain. Artian ini tidaklah salah. Namun ada definisi yang lebih luas untuk menjelaskan ikhlas ini, yaitu beramal semata-mata mengharapkan keridhaan Alloh -ta’ala- dan membersihkannya dari tujuan-tujuan duniawi maupun pengharapan kepada manusia. Seseorang tatkala beramal dengan sesuatu yang disyariatkan hendaklah benar-benar diniatkan murni hanya untuk Alloh dan tidak mencampurinya dengan tujuan-tujuan lain. Ikhlas adalah salah satu syarat mutlak bagi diterimanya sebuah amal. Tanpa keihlasan amalan yang dikerjakan akan sia-sia tanpa mendapat ganjaran apa pun dari Alloh ta’ala bahkan bisa menjerumuskun pelakunya kepada dosa dan kemurkaanNya.
Terkait bercampurnya keikhlasan dengan tujuan-tujuan lain bisa diklasifikasikan menjadi tiga golongan:

Pertama: Seseorang beramal dengan suatu amalan untuk mendekatkan diri kepada Alloh akan tetapi tercampuri dengan harapan mendapat pujian dan sanjungan dari manusia. Amal yang demikian ini tertolak, bahkan pelakunya terjerumus pada syirik kecil, yaitu riya, sebab amalan yang semestinya ia tujukan hanya untuk mengharap keridhaan Alloh ta’ala ia tujukan juga untuk manusia. Riya’ , meski syirik kecil, akan tetapi besar dosanya.


Kedua: Seseorang yang beramal dengan amalan yang disyariatkan tapi niatnya hanya untuk mendapatkan dunia, semisal untuk memperoleh harta, jabatan, kedudukan, wanita dan sebagainya, meski dia tidak mengharap sanjungan dan pujian dari manusia. Amalan seperti ini pun tertolak dan tidak mendapat balasan apa pun di sisi Alloh -ta’ala-.

Ketiga: Seseorang beramal dengan niat mendekatkan diri kepada Alloh, akan tetapi dibarengi juga dengan niatan mendapatkan dunia. Semisal seseorang sholat selain mengharapkan pahala juga berniatagar sehat, puasa  selain untuk mendekatkan diri kepada Alloh juga agar langsing, bersuci selain niat ibadah juga diniatkan untuk menjaga kebersihan. Dalam permasalahan ini ulama menjelaskan, jika niat taqarrub (ibadahnya) lebih besar, maka dia mendapatkan luput baginya pahala yang sempurna. Akan tetapi jika niat keduniaannya yang lebih besar, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya tanpa mendapat pahala apa-apa. Bahkan perbuatannya ini bisa menjerumuskannya kepada perbuatan dosa.

عَنْ أمِيرِ المُؤْمِنِينَ أبي حَفْصِ ” عُمَرَ بْنِ الخَطَاب ” رَضيَ الله عَنْهُ قَال: سَمِعت رسُولَ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُول:
“إنَّمَا الأعْمَالُ بَالْنيَاتِ، وَإنَّمَا لِكل امرئ مَا نَوَى، فمَنْ كَانَتْ هِجْرَتهُ إلَى الله وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتهُ إلَى الله وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرتُهُ لِدُنيا يُصيبُهَا، أو امْرَأة يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُه إلَى مَا هَاجَرَ إليهِ “.

“Dari Amirul Mukminin Abu Hafshoh, Umar ibn Khothob -rodhiyallohu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya. Dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya menuju Alloh dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rasulnya. Dan barang siapa yang hijrahnya untuk urusan dunia yang ia usahakan, atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan” (HR Bukhari dan Muslim)

Para ulama dahulu sangatlah intent dalam memperhatikan berbolak-baliknya hati mereka karena keikhlasan adalah sesuatu yang berat. Bahkan, ada ulama yang mengatakan bahwa yang paling berat baginya adalah menata hati agar senantiasa istiqomah dalam keikhlasan. Syaitan sangatlah lihai dalam memperdaya hati anak-anak adam, dia selalu punya cara untuk menjerumuskan manusia agar terjebak kepada dosa dan maksiat termasuk meninggalkan keikhlasan. Ketika seseorang merasa sudah bisa ikhlas dan bersih dari riya, maka saat itu riya’ datang lagi dengan bentuk yang lain.
Marilah kita jaga hati agar senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada Alloh. Baik dalam ibadah – ibadah mahdhoh (yang telah ditentukan tata cara dan kaifiyatnya) seperti sholat, puasa, haji dsb; maupun yang ghairu mahdhoh (tidak dijelaskan tata caranya) seperti senyum, shodaqoh, mencari nafkah, berbuat baik kepada orang lain, dsb. Salah satu kiat agar ibadah kita bisa ikhlas adalah dengan menyembunyikannya dari pandangan manusia. Menyembunyikan amal ibadah memiliki keutamaan tersendiri di sisi Alloh ta’ala.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS Al-Baqarah: 271)


Seeorang yang ikhlas dalam beribadah akan nampak dalam tingkah lakunya. Baginya, dipuji maupun tidak, tidaklah berpengaruh terhadap amalnya. Tidak penting baginya apakah dirinya diperhitungkan di tengah-tengah manusia ataukah tidak,  karena itu bukanlah tujuannya. Tak menyedihkan hatinya orang-orang yang mengabaikannya. Tak merisaukan jiwanya orang-orang yang mencelanya. Dan tak peduli baginya tempat di hati-hati manusia. Keikhlasan akan mengantarkan pada keistiqomahan dalam beramal karena yang dituju di setiap amalnya adalah ridha Alloh semata.

Sebaliknya, seseorang yang dihatinya selalu diliputi riya dalam beramal akan menjadikan jiwanya tersiksa dan batinnya senantiasa diliputi kesedihan. Jiwanya tersiksa jika dia tidak mendapatkan tempat di hati-hati manusia. Hatinya sedih karena selalu berharap mendapatkan ridha dari manusia. Seandainya harapan-harapannya tak terpenuhi kesedihan dan kegalauan senantiasa melanda batinnya. Semangat jika mendapat sanjungan dan pujian, futur (lemah) jika tidak mendapatkan apa-apa dari manusia. Ini yang menjadikan amalnya tidak bisa langgeng dan konsisten.
Kita senantiasa berlindung kepada Alloh dari amal-amal yang tidak didasari keikhlasan, dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk bisa ikhlas mengharap ridha Alloh semata dalam setiap amalan kita.
Allohu a’lam.

Jumat, 10 April 2015

Seputar Masjid Agung Al-Amin Mintobasuki


wpid-20141226094226.jpg
Masjid Agung Al Amin Desa Mintobasuki

Alhamdulillah saat ini kita telah memiliki Masjid Agung Al-Amin yang berlokasi sebelah timur desa tepatnya di komplek SD Mintobasuki 02. Masjid yang diperkirakan menghabiskan dana sebesar 2 Miliar rupiah ini rencananya dibangun dengan 2 lantai. Lantai pertama telah selesai sehingga bisa difungsikan sebagai sarana kegiatan keagamaan.  Sedangkan lantai kedua dan pengatapannya sampai saat ini masih terhenti karena terkendala dana. Semua dana pembangunannya diperoleh dari iuran warga yang berkisar antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah per KK disesuaikan kemampuan warga. Dana ini tidak ditarik sekaligus akan tetapi diangsur selama 2 tahun sehingga diharapan tidak membebani masyarakat.
Bermula dari usulan sebagian warga untuk memperluas masjid jami’ Al-Amin yang berlokasi di RW 03 karena tiap hari jum’at ruangan masjid sudah tidak mampu menampung jama’ah kemudian berlanjut dengan rencana relokasi masjid ke lokasi yang lebih strategis. Pilihan pun jatuh di halaman barat SD Mintobasuki 02 yang saat itu masih berdiri perpustakaan sekolah. Sempat terjadi kontra dengan pihak sekolah, namun rencana relokasi masjid tetap bergulir. Sebagian warga pun berkeberatan dengan rencana tersebut karena masjid yang ada saat itu dinilai masih cukup layak untuk melakukan aktivitas keagamaan sehingga relokasi dinilai akan membebani warga. Menurut mereka, jika memang dinilai kurang layak cukup direnovasi saja untuk penghematan biaya. Namun pemerintahan desa Mintobasuki telah ‘ketok palu’ untuk melanjutkan relokasi tersebut.
Image0761
Masjid Al Amin lama yang telah dirubuhkan dan direlokasi

Awalnya warga berharap agar pembangunan masjid baru tidak perlu membongkar masjid lama karena masih bisa dimanfaatkan warga sekitar. Namun pemerintahan desa punya rencana lain, masjid yang lama tetap harus dibongkar. Hal inilah yang memicu kekecewaan dan mendorong warga jamaah masjid Al-Amin lama berinisiatif membangun mushalla sendiri sebab relokasi masjid baru jaraknya cukup jauh dari lingkungan mereka. Kerenggangan antar warga pun tidak bisa dihindari. Bahkan sebagian warga menunda iuran pembangunan masjid dengan alasan keuangan. Pendanaan pun sempat terhambat karena dana yang terkumpul belum mencukupi sedangkan eksekusi proyek terus berjalan. Hal ini menjadi persoalan yang pelik bagi tim penyelenggara proyek.Meski dengan tertatih-tatih akhirnya masjid agung Al-Amin pun berdiri. Segala usaha dan dana yang dicurahkan menampakkan hasil meski baru sekitar 50%.
Saat ini yang paling mungkin kita lakukan adalah meneruskan pembangunan proyek tersebut sampai selesai. Ini menjadi PR bersama warga Mintobasuki. Sudah bukan waktunya lagi untuk lempar tanggung jawab yang berdampak mandegnya proses-proses pembangunan yang akan merugikan kita sendiri. Segala ego pribadi sudah semestinya kita kubur dalam-dalam demi kemaslahatan bersama. Pemerintahan desa hendaklah mampu merangkul seluruh masyarakat sehingga tidak perlu ada yang merasa jadi ‘anak tiri’ di Mintobasuki. Kerenggangan antar warga beberapa tahun terakhir hendaklah direkatkan kembali dengan pendekatan-pendekatan persuasif.
Diharapkan dengan kepemimpinan kepala desa yang baru mampu mengakomodir seluruh aspirasi masyarakat  dalam setiap pengambilan keputusan yang berimplikasi pada kepentingan orang banyak. Pengambilan keputusan dengan mengutamakan suara terbanyak melalui voting terbukti tidak efektif untuk memecahkan berbagai persoalan yang ada karena metode tersebut hanya akan melahirkan kelompok minoritas yang merasa terabaikan. Seyogyanya segala permasalahan yang menyangkut kepentingan orang banyak dimusyawarahkan terlebih dahulu agar semua usulan dan keluhan bisa tertampung untuk dicarikan solusi.
20141005060238Tulisan ini sekaligus menjadi counter beberapa media online yang menurunkan berita sekitar pembangunan masjid di Mintobasuki yang dinilai kurang proporsional. Misal di tempo.co dan jatengtime.com. yang menurunkan berita bahwa pendirian masjid dipersulit yang mengesankan di Mintobasuki belum berdiri satu masjid pun, padahal kenyataan yang ada di Mintobasuki saat itu sudah ada 4 Mushalla dan 1 Masjid jami’. Adapun rencana yang ada adalah relokasi masjid yang kebetulan berada di lahan sekolah sehingga perlu ada perizinan yang matang dari pihak Dinas Pendidikan terkait.
Suasana Sholat Ied perdana di Masjid Al-Amin. Barisan Ibu-ibu.

Sebagai penutup, perlu kita garis bawahi bahwa yang terpenting adalah bukan semangat membangun masjid yang  perlu kita tumbuh kembangkan akan tetapi semangat memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan yang positif itulah yang mesti kita galakkan. Jangan sampai membangun masjid hanya dijadikan proyek berbangga-banggaan namun tujuan inti dari pembangunan tersebut tidak tercapai. Membangun masjid asal tersedia dana dan tenaga akan selesai di waktu yang ditentukan, akan tetapi memakmurkan masjid dengan mengajak masyarakat sholat jama’ah, ngaji dan belajar agama itu yang butuh waktu lama. Tidak cukup setahun atau dua tahun. Jangan sampai proyek yang telah kita kerjakan dengan susah payah, yang telah menyedot biaya dan tenaga tidak sedikit ini  hanya menjadi pajangan sia-sia tanpa kita fungsikan dengan semestinya.
Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid. Mari kita makmurkan dengan aktifitas diiniyah. Semoga masjid ini membawa keberkahan bagi warga Mintobasuki khususnya, dan seluruh kaum muslimin pada umumnya. Bersama kita jaga Ukhuwah di lingkungan kita.
Foto-foto interior Masjid Agung Al-Amin Mintobasuki.
2014906095654 2014906095707 2014906095728 2014906095737 2014906095750 2014906095809

Kamis, 09 April 2015

Den Baguse Ngarso “Mbangun Deso”

Sobat netter sekalian, masih ingat program acara “Mbangun Deso” yang disiarkan di TVRI di tahun 90-an? Monggo kita bernostalgia sejenak ke masa-masa itu. Masa-masa dimana televisi yang ada masih 2 warna, hitam sama putih. Buat menyalakan TV harus pakai aki yang mesti di cas-kan seminggu sekali. Itu pun hanya kalangan khos yang punya. Belum banyak orang di kampung kita yang punya ‘kotak ajaib’ itu. Saya pun kalau nonton di tetangga harus booking tempat dulu karena yang pengen lihat juga banyak, kayak nonton bioskop saja. Stasiun tv swasta belum pada lahir. Antena UHV belum dikenal. Listrik baru masuk tiang sama kabelnya, setrum-nya belum. Itu pun baru di daerah tengahan. Kulonan, Loran dan Koripan masih berada di masa ‘kegelapan’ yang tak tahu kapan terangnya lampu neon bisa dinikmati.

Kembali ke acara “mBangun Deso” yang pernah jadi favorit saya dan tentunya juga sobat sekalian. Acara yang dikemas sedemikian apik dalam format sinetron komedi pendek berdurasi 30 menit, tanpa iklan, yang mengangkat tema permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat desa sehari-hari. ALur ceritanya sederhana, tak berbelit-belit sehingga pemirsa dari segala usia pun bisa mencernanya. Pesan-pesan yang disampaikan pun mudah ditangkap. Tanpa ada unsur menggurui. Tokoh-tokoh yang diperankan pun kental sekali dengan karakter-karakter wong nDeso.

Den Baguse Ngarso (diperankan oleh Drs Susilo Nugraha) mewakili karakter wong ndeso yang mriyayeni (sok bangsawan), tingkahnya nyebahi (menyebalkan), cemlolo, keminter (sok pandai), ngayelke (menjengkelkan), semugeh (sok kaya), gumedhe (sombong), keras kepala, gila hormat, kalau bicara cemplekit (bikin orang sakit hati), ngeyelan, ceplas-ceplos seolah tanpa mikir. Namun disisi lain dia juga punya mental pengecut bernyali ciut. Semua karakter-karakter negatif itu dikemas sedemikian rupa sehingga hilang kesan angkernya malah yang ada kesan jenaka. Tak jarang aktingnya dengan karakter-karakter tersebut malah mengundang gelak tawa. Nah…Apakah dalam diri anda ada karakter Den Baguse Ngarso, si Priyayi Luhur kang dowo Ususe?
Pak Bina (diperankan oleh Heru Kesawamurti) memerankan karakter seorang yang bijaksana, berwibawa, berwawasan kekinian, logis dalam berfikir, menjadi panutan, menjadi hakim dalam permasalahan-permasalahan yang di hadapi orang-orang sekitarnya.

Kuriman (Sepnu Heriyanto) dengan tampang khas orang deso, rambut agak gondrong. Mewakili wong deso yang mudah emosi, gampang ngamukan, ngeyelan, dan bicaranya kadang atos (kasar).
Tokoh lainnya yaitu kang Sronto (Sudiharjo) yang memerankan karakter wong ndeso yang bisanya pasrah, nrimo ing pandum, nggak neko-neko, tidak mudah emosi, tak punya inisiatif. Diperlakukan apa pun manut, asal bisa hidup. Dan Yu Sronto (Muji Rahayu) memerankan aktivis desa yang kadang hilang kontrol.

Karakter masing-masing tokoh memang sudah diseting sedemikian rupa yang menggambarkan watak-watak khas orang desa. Tema yang dipilih pun mengangkat kondisi riil masyarakat desa. Setiap episode memiliki alur yang sama, yaitu adanya sebuah kasus tertentu, lalu timbul konflik, kemudian diselesaikan oleh para penyuluh. Meski alurnya sederhana, tapi ceritanya tetap enak diikuti karena permasalahan yang diangkat pun bervariasi.

Saat ini kita miskin acara-acara televisi yang bertema pendidikan dan penyuluhan semacam ini. Kita tidak katakan acara ‘mbangun deso’ ini ideal, tapi paling tidak ada unsur-unsur positif yang disajikan kepada pemirsa. Tayangan-tayangan yang ada saat ini lebih banyak unsur hiburan semata untuk memuaskan penontonnya. Bahkan tidak jarang tayangan-tayangan yang ada mengandung unsur yang bisa merusak moral masyarakat. Sebut saja sinetron-sinetron yang ada saat ini yang lebih banyak menampilkan perilaku negatif, alkohol, freesex, pacaran, perkelahian, kebencian, hedonisme, dll yang sangat berpotensi merusak tatanan nilai di masyarakat. Sayangnya, KPI kurang ada ada kepedulian untuk melakukan kontrol terhadap siaran-siaran yang berdampak buruk tersebut.
Demikan, selamat malam…

Memaknai “Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa”


Mari kita simak terlebih dahulu definisi partisipasi masyarakat dalam pembangunan oleh ahlinya agar tidak salah memaknai istilah ini:

Partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada dimasyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi (Isbandi Rukminto Adi.)
Dalam Wibisana (1989:41) partisipasi masyarakat sering diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan dan kebersamaan anggota masyarakat dalam suatu kegiatan tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung, sejak dari gagasan, perumusan kebijaksanaan hingga pelaksanan program. Partisipasi secara langsung berarti anggota masyarakat tersebut ikut memberikan bantuan tenaga dalam kegiatan yang dilaksanakan. Sedangkan partisipasi tidak langsung berupa keuangan, pemikiran dan material yang diperlukan. (Mulyono, Agus. 2008. Studi partisipasi masyarakat pada program desa mandiri pangan di desa Muntuk, Kabupaten Bantul . Tesis magister teknik pembangunan wilayah dan kota universitas diponegorp Semarang: tidak diterbitkan)


Dari dua definisi di atas paling tidak kita punya gambaran yang cukup untuk memahami makna ‘partisipasi masyarakat dalam pembangunan’ , wa bil khusus pembangunan di desa Mintobasuki Gabus Pati tercinta ini. Kenapa saya angkat bahasan ini? Saya rasa ini penting agar kita bisa memahami makna ‘partisipasi’ dalam artian luas dan komprehensif. Adanya pandangan sempit tentang makna ‘partisipasi’, bahwa partisipasi haruslah terjun langsung dalam menganalisa, mengambil keputusan, dan mengatasi masalah yang ada; ini yang perlu diluruskan.

Sebagaimana penjelasan di atas, partisipasi dalam sebuah misi pembangunan terbagi atas dua bagian, langsung dan tidak langsung. Partisipasi langsung dengan memberikan pemikiran dan tenaga terhadap permasalahan yang dihadapi. Ini adalah tugas para penyelenggara pemerintahan desa dan/atau individu atau tim berkompeten yang ditunjuk. Sedangkan partisipasi tidak langsung bisa diberikan dalam bentuk memberikan pemikiran, dukungan, keuangan dan material yang dibutuhkan, yang hal ini bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Partisipasi masyarakat pada hakikatnya adalah proses pemberdayaan masyarakat untuk diikutseratakan dalam proyek-proyek pembangunan. Hal ini mengingat karena masyarakat merupakan subyek sekaligus obyek dari pembangunan itu sendiri.  Tingkat partisipasi masyarakat dalam sebuah proyek pembangunan tentu berbeda-beda menyesuaikan tingkat kemampuan masing-masing individu, baik dari segi pemikiran, tenaga, maupun pendanaan. Oleh karenanya adalah sebuah kekeliruan jika kita menuntut seluruh individu dalam masyarakat untuk terjun langsung dalam proyek-proyek tersebut tanpa melihat kemampuan yang ada pada mereka. Adakalanya individu dalam masyarakat tersebut layak menjadi subyek (pelaku) dalam sebuah proses pembangunan namun di lain pihak ada pula individu yang selayaknya dijadikan objek dalam sebuah proses pembangunan. Dengan demikian, setiap individu bisa menjalankan perannya masing-masing sesuai kemampuan yang mereka miliki.  Salah menempatkan posisi menjadikan program yang direncanakan tidak bisa berjalan mulus.

Dengan demikian, kita tidak perlu sinis terhadap mereka yang saat ini belum bisa terjun langsung ambil bagian dalam menyelesaikan tahap-tahap pembangunan. Dukungan moril dan dana dari mereka sudah cukup membuktikan partisipasi dalam penyelenggaraan pembangunan. Setiap kita bekerja sebaik-baiknya sesuai profesinya. Memaksakan seseorang yang tidak berkompeten dalam bidangnya dalam proyek-proyek tertentu justru akan menjadi beban dan hambatan pembangunan itu sendiri.
Secara umum, partisipasi dalam pembangunan terbagi atas tiga hal; Pertama: Partisipasi dalam tahap perencanaan, yaitu partisipasi dalam memberikan usulan terhadap perencanaan sebuah proyek, pembentukan tim kerja, dan semisalnya. Kedua: Partisipasi dalam pelaksanaan, yaitu pelibatan seseorang dalam proyek pembangunan dengan tenaga maupun dana yang dimiliki. Ketiga: Partisipasi dalam pemanfaatan, yaitu partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan dan memelihara proyek-proyek pembangunan. Dengan demikian, setiap individu bisa berpartisipasi dalam sebuah proyek pembangunan sesuai dengan kompetensinya masing-masing, sehingga tidak perlu ada istilah superior dan inferior terkait keikutsertaan individu dalam pembangunan. Setiap individu dalam masyarakat hendaklah saling dukung satu sama lain dalam mewujudkan harapan dan cita-cita bersama.

Silahkan posisikan diri kita masing-masing dalam berpartisipasi membangun Mintobasuki.

Selasa, 07 April 2015

Cerdas Memaknai Arti “Pembangunan”


Definisi Pembangunan
Image0779Para pakar berbeda-beda dalam mendefinisikan arti pembangungunan. Namun secara umum mereka memaknai pembangunan sebagai perubahan ke arah yang lebih baik dengan upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana. Perubahan di sini meliputi berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan dan lain-lainnya. Sedangkan maksud sadar dan terencana adalah bahwa pembangunan itu bukanlah hasil dari sebuah kebetulan melainkan terwujud melalui mekanisme yang terkonsep dan terarah.

Titik berat pembangunan biasanya berorientasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Meski ada pula yang menambahkan perbaikan aspek nilai-nilai moral dan etika umat. Barometer kemajuan berbeda-beda untuk setiap daerah. Daerah yang terpencil dan terisolir -misalnya- ukuran kemajuannya bisa saja dinilai dari tersedianya akses jalan yang memadai untuk memperlancar distribusi hasil produksi, aliran listrik yang terjangkau untuk peningkatan produksi, dan perbaikan taraf hidup dengan tercukupinya kebutuhan primer. Berbeda halnya dengan daerah yang sudah mapan ukuran kemajuan bisa saja dinilai dari tercukupinya kebutuhan tersier.

Namun bila kita cermati ulasan para pakar dalam mendefinisikan arti pembangunan di sini hanya menyentuh aspek yang bersifat keduniawian tanpa memperhatikan aspek spiritual. Meski -sebagaimana di atas- ada juga yang memasukkan tata nilai dan moral sebagai barometernya. Sebagai makhluk dan hamba Alloh tentu kita tidak mendefinisikan pencapaian pembangunan hanya pada tataran duniawi saja akan tetapi juga -yang terpenting- pada tataran ukhrawi. Sebab, sebagai seorang muslim kita berkeyakinan bahwa kehidupan tidaklah berakhir di atas dunia ini saja akan tetapi berkelanjutan sampai di negeri akhirat. Kehidupan akhirat itulah yang lebih baik, lebih kekal dan lebih abadi. Dengan demikian, upaya untuk meraih ‘kesejahteraan’ ukhrawi sudah semestinya mendapatkan porsi lebih untuk diperhatikan.

Kembali ke topik pembangunan di atas, bahwa tujuan pembangunan adalah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan dalam arti luas. Setiap pembangunan dalam sebuah komunitas pada umumnya berorientasi ke sana. Ada pun sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan tersebut tentulah berbeda-beda dan sangat kondisional dengan waktu dan tempat. Ini penting kita pahami terlebih dahulu agar kita tidak terjebak memaknai pembangunan dari sudut pandang yang sempit dan parsial.

Mintobasuki Membangun
Selama dasawarsa terakhir kita melihat adanya geliat yang positif di Mintobasuki yang semuanya itu tidak lepas dari peran serta aktif masyarakat yang bersinergi dengan para penyelenggara pemerintahan desa. Infrastruktur desa yang memadai untuk meningkatkan produktivitas warga, tingkat perekonomian yang membaik, kesadaran keberagamaan yang mulai tumbuh, kehidupan sosial yang hangat, tingkat pendidikan warga yang kian meningkat, dll yang semuanya itu bisa menjadi indikator bagi sebuah pencapaian pembangunan desa.

Infrastruktur yang merupakan faktor penopang kemajuan pembangunan desa telah tersedia. Jalan-jalan desa yang hampir 80%-nya telah dikeraskan, baik dengan pengaspalan maupun cor semen sehingga mempermudah mobilisasi warga. Sarana pendidikan yang memadai dengan berdirinya gedung-gedung sekolah dan madrasah TPQ beserta tenaga pengajarnya. Fasilitas pemerintahan desa berupa gedung balai desa dan sarana penunjangnya. Ketersediannya bidan desa untuk memfasilitasi warga yang hamil dan melahirkan. Dibangunnya PAM Simas di RW 2 yang menyediakan supplai air untuk warga Mintobasuki. Dibangunnya masjid-masjid untuk memfasilitasi warga guna melakukan aktifitas keagamaan dan peribadahan. Terhitung ada 6 Musholla dan 1 masjid induk yang telah berdiri. Pembangunan tanggul air di tiga titik kali tambak untuk memfasilitasi petani mendapat pengairan lahan pertanian. Dan mungkin masih ada  infrastruktur lainnya yang lepas dari pengamatan kami. Semua sarana fisik tersebut diharapkan mampu mempercepat laju kemajuan pembangunan desa Mintobasuki.

Sebuah Catatan…
Permasalahan yang perlu dicermati bersama adalah bahwa pembangunan hendaklah berwawasan kependudukan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penduduk merupakan subyek sekaligus obyek pembangunan. Jadi, tidak bisa kita menitikberatkan pembangunan pada infrastruktur semata dengan mengesampingkan sisi peningkatan sumber daya manusia. Harus ada keseimbangan dalam hal ini. Inilah yang disebut pembangunan manusia seutuhnya. Sudah saatnya kita merubah pola pikir kita selama ini yang menitikberatkan pencapaian pembangunan pada aspek fisik materiil semata, namun yang lebih penting adalah pembangunan non fisik yang melekat pada diri manusia itu sendiri. Kita tidak katakan bahwa pembangunan fisik itu tidak penting, akan tetapi perlu adanya penyeimbangan dari aspek sumber daya manusianya.
Tentu kita sering mendengar istilah ‘masyarakat madani’, yang biasa digambarkan sebagai sebuah masyarakat ideal yang mapan di segala segi. Namun tahukah kita dari mana istilah kata madani ini diperoleh? Kata ini diambil dari kata Madinah, yaitu kota dimana Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- membangun peradaban baru di tengah masyarakat yang carut marut dalam suasana jahiliyyah. Peradaban baru itu bernama Islam, agama yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah merubah masyarakat yang serba terpuruk dan terbelakang menjadi masyarakat yang gilang gemilang. Kesejahteraan hampir merata. Hukum ditegakkan. Keadilan bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Yang kuat membantu yang lemah. Si kaya membantu si miskin. Kestabilan pemerintahan. Keamanan yang bisa dirasakan setiap orang. Kesyirikan dihancurkan, tauhid ditegakkan, kalimat-kalimat Alloh ditinggikan. Sungguh kota Madinah kala itu mengalami masa gilang gemilang dalam tataran peradaban manusia. Dengan apa mereka jaya? Apakah dengan pembangunan infrastruktur semata? Tentu saja tidak, karena mereka jaya dengan Al-Islam. Islam yang merupakan kunci kejayaan mereka. Mereka benar-benar berusaha membumikan Islam dalam jiwa-jiwa mereka. Kejayaan ini bisa kita baca dari buku-buku literatur Islam yang banyak terdapat di perpustakaan-perpustakaan kaum muslimin.

Inilah yang perlu menjadi catatan dan renungan kita bersama agar kita tidak terjebak pada pemikiran yang dangkal bahwa keberhasilan pembangunan semata-mata diukur dari aspek fisik karena yang lebih sulit dari itu adalah pembangunan aspek non fisik yang ada pada diri manusianya. Manusia yang tidak terbina dan terdidik segi mental dan spiritualnya justru akan menjadi beban dan hambatan bagi pembangunan itu sendiri. Contoh ekstrimnya, jika kita punya dana 2 Milyar untuk membangun masjid, dalam waktu kurang dari 1 tahun masjid itu bisa berdiri. Namun, seumpama kita punya dana semisal itu untuk mengajak masyarakat memakmurkan masjid dengan menegakkan jamaah sholat dengan konsisten dan istiqomah dengan kesadaran pribadinya, apakah bisa terlaksana dalam waktu 1 tahun? Tentu tidak! Bahkan kita butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadarkan masyarakat tentang hakekat sholat dan kewajibannya. Membangun manusia tidaklah semudah membangun bangunan fisik. Jika kita tidak memulai membangun manusianya, justru manusia itulah nantinya yang akan jadi penghambat pembangunan.
Allohu a’lam.

Sekapur Sirih Dari Admin


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullohi wa barakatuh…

Sahabat Netter Mintobasuki yang saya cintai,
Terhitung sejak Februari 2010, Blog Mintobasuki Gabus Pati sudah menapaki tahun ke-5 eksis di dunia maya. Blog kecil ini awalnya saya rintis untuk menuliskan uneg-uneg saya tentang desa tercinta, terlebih saat saya jauh di negeri orang. Saya tidak punya banyak waktu untuk meng-update blog ini, sekedar memanfaatkan waktu luang di selal-sela kesibukan. Disamping itu, kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya selalu jauh dari desa Mintobasuki menjadikan kurangnya informasi untuk bahan tulisan di sini.

Blog ini murni inisiatif sendiri, saya kelola secara pribadi dengan bantuan beberapa teman netter Mintobasuki. Blog ini tidak ada kaitan apa pun dengan Pemerintahan desa Mintobasuki. Meski saat ini Mintobasuki telah memiliki Kepala Desa baru (Bp Santoso)tapi content blog tidaklah berpindah haluan dari sikap netralnya. Semua kami kelola secara independen tanpa intervensi dari pihak-pihak yang punya kepentingan-kepantingan tertentu di Mintobasuki.


Tulisan-tulisan yang terkait persoalan di desa Mintobasuki semaksimal mungkin kami sajikan secara objektif. Jika ada kritik, sanggahan maupun opini, semua itu tidak lepas dari fakta dan data akurat di lapangan yang kami dapatkan. Kami menyadari, informasi yang menyesatkan, tidak proporsional dan tidak profesional serta mengabaikan maslahat orang banyak sangatlah berbahaya dan rentan menimbulkan keresahan, bahkan konflik. Disini, yang menjadi prioritas bukan sekedar otentisitas berita, akan tetapi juga kajian dampak yang mungkin timbul jika informasi tersebut dikonsumsi publik. Pepatah Arab mengatakan “Likulli Maqoomin Maqool, wa likulli maqoolin maqoom” artinya setiap tempat ada pembicaraannya tersendiri, dan setiap pembicaraan ada tempatnya tersendiri. Tidak setiap berita yang kita dengar  mesti kita sampaikan. Atau orang Jawa mengatakan dalam menyampaikan sesuatu harus ’empan papan’, maksudnya harus tahu situasi dan kondisi. Bisa jadi berita yang valid, namun ketika kita sembarangan menyampaikan justru bisa menjadi bencana. Prinsip kehati-hatian ini pula yang menjadi pegangan kami.

Harapan ke depannya, blog ini bisa memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan desa Mintobasuki. Minimal bisa memberikan informasi-informasi positif bagi para warga Mintobasuki , baik yang berdomisili di dalam maupun di luar Mintobasuki. Kami juga membuka tangan lebar bagi siapa pun yang ingin berkontribusi dalam pengembangan blog ini. Akhir kata, kami haturkan terima kasih kepada setiap pembaca yang berkenan meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini.
Wassalamu ‘alaikum,
Admin

Sabtu, 04 April 2015

Banjir Dadakan Melanda Desa Mintobasuki


wpid-2015404154728.jpg(Sabtu, 4 April 2015) Hujan yang mengguyur sebagian kabupaten Pati selama beberapa hari terakhir ternyata berdampak serius. Beberapa desa di wilayah kecamatan Gabus dilanda banjir, terutama Mintobasuki, Gempolsari, Banjarsari dan Nanggungan. Bahkan banjir juga menggenangi jalan utama Pati-Gabus. Perdukuhan Mintobasuki yang terendam air diantaranya Dukuh Loran, Kulonan, sebagian tengahan dan Koripan.
Di pagi hari belum ada tanda-tanda banjir datang, namun sekitar pukul 10 an siang air mulai menggenangi ruas-ruas jalan. Meski tidak berdampak serius seperti banjir-banjir biasanya namun cukup mengganggu aktivitas warga. Sebagian warga tani menghawatirkan tanaman padi mereka yang baru saja ditanam sekitar seminggu yang lalu. Jika air tidak segera surut dalam waktu tiga hari kedepan hampir bisa dipastikan tanaman padi mereka akan mati dan harus menggantinya dengan yang baru.
Namun syukurlah, hujan tidak lagi turun seharian ini dan cuaca bisa dibilang cukup cerah sehingga mempercepat air surut. Di sore hari beberapa ruas jalan sudah mulai bebas banjir dan masyarakat sudah bisa beraktivitas normal. Namun ruas jalan utama menuju dukuh Kulonan masih terendam air selutut orang dewasa. Harapannya, banjir kali ini tidak berdampak serius bagi warga.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)