*** SELAMAT DATANG *** Ini adalah blog pribadi yang dikelola secara independen oleh Netter desa Mintobasuki kec. Gabus kab. Pati. Blog Mintobasuki Gabus Pati bukanlah blog resmi pemerintahan desa Mintobasuki. Blog ini tidak ada hubungan dalam bentuk apa pun dengan organisasi, kelompok dan kepentingan tertentu di desa Mintobasuki. Artikel-artikel yang disajikan adalah tulisan lepas yang berisi uneg-uneg, ide, pemikiran, opini pribadi penulis dan pernik-pernik terkait desa Mintobasuki.

Area Persawahan di sebelah timur Desa Mintobasuki

Lahan pertanian yang cukup luas membentang di bagian timur desa. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi, jagung, kacang-kacangan dan beraneka ragam sayuran.

Kali Tambak untuk sarana irigasi pertanian

Sungai kecil yang membujur di sebelah timur desa yang berhulu di Sungai Silugonggo memiliki arti penting sebagai sarana irigasi.

Pesona desa Mintobasuki

Nuansa alam desa yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang indah menjadikan desa Mintobasuki kian anggun dan menyimpan pesona tersendiri.

Sektor pertanian yang perlu dikembangkan

Mintobasuki memiliki lahan pertanian sekitar 90 Hektar terdiri atas lahan basah dan kering. Oleh karenanya perlu ada upaya yang matang untuk mengembangkan sektor ini. Selain itu, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Mintobasuki sampai saat ini.

Sarana peribadahan yang cukup memadai

Desa Mintobasuki memiliki 5 Musholla dan 1 Masjid Agung Al-Amin yang saat ini dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana penunjang yang cukup memadai ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan warga dalam beribadah.

Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas warga

Sektor pertanian tetap menjadi mata pencaharian dan primadona bagi masyarakat desa Mintobasuki, meski dengan seiring bertambahnya waktu, profesi dan mata pencaharian warga kian heterogen.

Sektor Perikanan di Mintobasuki

Sungai Silugonggo yang bermuara ke laut utara ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Mintobasuki. Hasil tangkapan ikannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga yang berprofesi sebagai nelayan.

Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2017

Banjir Mintobasuki 2017

Hujan deras beberapa hari terakhir mengakibatkan sungai Silugonggo tidak mampu menampung debit air sehingga meluap menggenangi areal dikanan kirinya. Desa Mintobasuki, terutama yang berada di sekitar DAS mengalami dampak yang cukup parah. Dua kawasan yang sudah menjadi langganan banjir yaitu Dukuh Kulonan (RW 2) dan Dukuh Loran (RW 01)sudah mulai terendam sejak hari Sabtu (4/2/2017) lalu. Banjir hampir merata menggenangi dua lokasi ini. Tidak hanya persawahan yang terkena dampaknya, namun juga ruas jalan dan perumahan penduduk juga terkena imbasnya.

Banjir mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi para petani. Tanaman padi yang harusnya sudah bisa dipanen bulan ini akhirnya terendam banjir. Namun sebagian warga tani sudah mulai panen sejak semingguan lalu sehingga tidak terlalu menderita kerugian. Sebagian warga juga sudah ada yang mulai membuat bedengan untuk penyemaian padi, namun akhirnya rusak karena banjir.

Banjir juga mengganggu transportasi warga yang akan keluar rumah. Di beberapa ruas jalan, ketinggian air mencapai lebih 60cm, misalnya di RT 01/02. Akibatnya transportasi pun terganggu. Kendaraan seperti motor atau mobil tidak bisa melewati daerah sini. Untuk mobilitas, warga lebih memilih jalan kaki atau menggunakan perahu. Sedangkan kendaraan biasanya dititipkan ke rumah warga yang cukup aman dari jangkauan banjir.

Banjir juga berdampak bagi kesehatan warga. Air banjir yang keruh mengakibatkan gangguan gatal-gatal terutama di kaki. Sebagian warga juga memanfaatkan air banjir untuk kebutuhan MCK padahal kalau ditilik dari segi kesehatan kurang layak karena banyaknya unsur-unsur pengotor yang turut terlarut dan terbawa banjir.

Berikut foto-foto daerah yang terimbas banjir di desa Mintobasuki.















Sabtu, 08 Oktober 2016

Musim Hujan Datang Awal

Beberapa minggu belakangan ini sudah sering turun hujan. Bahkan terkadang hampir seharian, dari pagi sampai petang. Musim hujan tahun ini datang lebih awal, beda dengan musim hujan tahun kemarin yang agak mundur menurut perhitungan.

Bisa dikatakan tahun ini musim kemarau berlangsung singkat. Dibeberapa daerah lain justru mengalami musim kemarau basah, kemarau dengan intensitas hujan yang masih sering. Bahkan di beberapa daerah mengalami banjir, seperti Jakarta.

Ini adalah moment yang tepat bagi para petani untuk menggarap lahan mereka. Di Dukuh Kulonan misalnya hampir satu tahun ini area persawahan tidak pernah absen dari ditanami padi. Ini merupakan berkah tersendiri, terlebih saat ini harga padi yang cukup bagus dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Namun ada hal lain yang perlu diwaspadai dengan datangnya musim penghujan kali ini. Banjir menjadi bencana yang tetap menghantui warga. Demikian pula perlu adanya kewaspadaan terhadap nyamuk demam berdarah yang biasa menyerang di musim-musim penghujan seperti saat ini.


Kamis, 07 April 2016

Petaniku Sayang, Petaniku Malang

Pertanian merupakan sektor terpenting bagi penyediaan kebutuhan pangan masyarakat. Bisa dibayangkan jika sektor ini bermasalah tentu akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan manusia berupa kelangkaan pangan yang akan mengancam kesejahteraan hidup. Kebutuhan pengan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang tidak mungkin ditunda. Namun sayangnya sektor ini seolah menjadi 'anak tiri' dalam setiap kebijakan pemerintah. Banyak kebijakan untuk peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani namun sampai sekarang masih bisa dibilang jauh panggang dari pada api.

Diantara tujuan kebijakan pemerintah di sektor pertanian adalah untuk meningkatkan pendapatan petani yang akan berimbas pada kesejahteraan petani secara khusus dan masyarakat secara umum. Untuk mencapai tujuan ini pemerintah telah menyusun serangkain program pendukungnya untuk diaplikasikan di lapangan. Mulai dari mengatur kebijakan harga, kebijakan perdagangan, kebijakan subsidi, kebijakan struktural, kebijakan pengaturan, kebijakan fasilitas, dan kebijakan intervensi.

Namun pada prakteknya banyak permasalahan yang timbul dilapangan terkait pelaksanaannya. Misalnya kebijakan subsidi untuk jenis pupuk tertentu yang memang dibutuhkan petani dengan tujuan menekan biaya produksi. Subsidi memang diberikan namun harga pupuk masih bisa dibilang relatif cukup tinggi, selain itu setiap tiba musim tanam hampir bisa dipastikan terjadi kelangkaan pupuk. Entah karena kapasitas produksi dan bahan baku yang yang kurang mencukupi atau karena faktor distribusi yang terhambat.

Kebijakan struktural misalnya dalam penyediaan tenaga penyuluh pertanian juga dirasa kurang memadai untuk bisa memberikan pendampingan bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas mereka. Demikian pula perbaikan sarana pertanian dan penyedian tehnologi pertanian juga belum bisa banyak diharapkan dengan bukti masih banyaknya masyarakat kita yang masih menggunakan cara bertani konvensional dengan sistem tadah hujan, demikian pula belum banyak yang tahu dan menerapkan teknik-teknik bertani yang lebih modern. 

Disamping itu banyaknya permasalahan yang dihadapi petani lainnya semisal kian meningkatnya varietas hama sedangkan dan di sisi lain melambungnya harga obat-obatan pertanian yang nyaris tak terjangkau turut menjadi simalakama. Dan masih segudang permasalahan-permasalahan lain. Perlu adanya keseriusan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut jika tidak ingin kesejahteraan petani kian terpuruk.

 Pertanian merupakan sektor yang menjadi tumpuan hidup bagi jutaan warga, jadi kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pekerjanya semestinya juga perlu mendapat perhatian dan tdak bisa dipandang sebelah mata.


Jumat, 22 Januari 2016

Musim Panen di Awal Tahun 2016


1453363944295Alhamdulillah, meski musim hujan tahun ini belum bisa seperti yang diharapkan karena curah hujan yang masih kurang, akan tetapi sebagian warga tani yang telah bersusah payah menyemai benih padinya di tiga bulan yang lalu sekarang sudah bisa panen. Memang tidak panen serempak karena beberapa areal persawahan di desa kita baru bertanam padi beberapa minggu yang lalu. Sebabnya karena kurangnya pengairan dan curah hujan yang masih belum begitu tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya.
1453363693743-1Warga tani yang panen duluan adalah yang memiliki persawahan di kawasan RW 2 karena lokasinya yang dekat dengan sungai Silugonggo dan kemudian warga yang memiliki areal persawahan di RW 1 atau sawah etan omah sebelah utara. Sedangkan yang berada di Kidulan dan juga Koripan Sampi serta Karanganyar masih jauh dari masa panen.

Musim hujan tahun ini memang beda, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dengan curah hujan yang cukup. Hujan masih bisa dibilang jarang turun. Petani mengandalkan pengairan dengan mesin pompa yang tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar untuk beli bahan bakarnya. Bahkan masih untung jika ada air yang bisa disedot dan dialirkan ke sawah, terkadang air di sungai tambak yang menjadi harapan warga tani -khususnya Koripan Sampi- terkadang kering. Mereka hanya bisa mengandalkan air pasang dari sungai yang naik sampai ke sungai Tambak untuk pengairan lahan pertaniannya.

Beberapa hari lalu sempat terjadi percekcokan antara warga Mintobasuki dengan warga Gempolsari karena permasalahan air untuk pengairan ini. Air tambak dari hulu ditutup/diblokir oleh warga Gempolsari sehingga warga dukuh Koripan tidak kebagian air. namun syukurlah, beberapa hari yang lalu hujan deras sudah turun sehingga cukup mengairi areal persawahan warga Koripan Sampi.

1453363954609 1453363964417
Berikut cuplikan video warga Mintobasuki yang sedang memanen padi mereka.

Minggu, 20 September 2015

Pembuatan Parit Desa Banjarsari


wpid-2015913161130.jpgSejak tanggal 13 September yang lalu satu unit excavator PC200 melakukan pengerukan parit di desa Banjarsari, Gabus, Pati. Parit ini mengelilingi areal persawahan desa Banjarsari yang membentang sekitar 20 hektar yang berbatasan langsung dengan desa Mintobasuki disebelah Barat. Belasan mobil dump truck disiagakan untuk mengangkut tanah galian parit. Di bagian utara, parit tersebut bermuara di sungai Silugonggo.

Parit sedalam sekitar 1,5 – 2 meter dengan lebar sekitar 1,5-2 meter diharapkan mampu mengatasi permasalahan genangan air banjir di saat musim hujan dan menjadi tandon (persediaan) air bagi para petani di saat menjelang kemarau. Ini adalah sebuah langkah strategis dari pemerintahan desa Banjarsari untuk meningkatkan produktivitas pertanian mereka. Selama ini untuk mengairi lahan seluas 20 hektar ini dengan memanfaatkan sebuah mesin diesel yang menyedot air sungai Silugonggo yang dialirkan melalui sebuah pipa paralon. Sejauh ini hasilnya cukup efektif. Setahun mereka bisa panen padi antara 2 sampai 3 kali.
wpid-2015914102901.jpg wpid-2015913161130.jpg wpid-2015914162113.jpg wpid-2015913161659.jpg

Karena letaknya yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian warga Mintobasuki RT2/2 diharapkan dengan adanya parit ini nantinya juga bisa mendatangkan kemudahan bagi para warga tani untuk mendapatkan air untuk lahan mereka menjelang musim kemarau. Selama ini warga tani Mintobasuki untuk mendapatkan pengairan lahan harus mengalirkan air dari sungai sejauh hampir 500-an meter. Jika upaya yang ditempuh pemerintahan desa Banjarsari ini efektif tentunya juga akan membawa berkah bagi warga tani Mintobasuki yang lahan persawahannya berdekatan dengan parit tersebut.

Senin, 25 Mei 2015

Kemarau Tiba, Petani Mintobasuki Kekurangan Air untuk Irigasi Pertanian


wpid-2015524161418.jpg
Warga tani Koripan Sampi, Mintobasuki
sedang mengairi lahannya dengan menyedot air dari hilir
dan ditampung ke hulu, kemudian dialirkan ke lahan
pertaniannya.

Musim kemarau seringkali menjadikan kali Tambak mengering. Padahal keberadaan kali Tambak ini sangat penting untuk pengairan lahan pertanian di sekitarnya. Panen padi yang diperkirakan bisa terlaksana akhir bulan ini nyaris gagal karena kurang air. Segala upaya telah diusahakan warga tani agar lahan mereka tetap bisa teraliri air.

Siang itu petani dari dukuh Koripan Sampi desa Mintobasuki bergotong royong memperbaiki aliran air di kali Tambak. Mereka membuat alur air di sepanjang dasar sungai yang mulai mengering selebar sekitar 40cm. Alur air ini diharapkan bisa teraliri air sungai Silugonggo jika terjadi pasang naik (Rob) sehingga bisa dimanfaatkan untuk irigasi. Sejak beberapa hari lalu saluran air yang ada di bendungan Etan Omah juga sudah diperbaiki. Sumbatan-sumbatannya dari runtuhan tanggul penahan air sudah dikeruk dan dinaikkan dari aliran air. Harapannya jika air sungai pasang bisa naik sampai ke hulu kali Tambak.

Berikut ini foto dam air di sawah Etan Omah yang kondisinya telah mengalami kerusakan di beberapa bagian.
wpid-2015524060920.jpg wpid-2015524060550.jpg
Usaha mereka tak sia-sia. Air pasang yang cukup tinggi dari sungai Silugonggo masuk sampai ke alur air yang mereka buat. Ada belasan mesin pompa air yang beroperasi sepanjang aliran kali Tambak. Meski air pasang hanya dalam hitungan jam, tapi cukup untuk menyirami tanaman padi mereka yang sudah mulai berisi. Namun masalahnya Rob ini hanya terjadi dua kali dalam sebulan dalam rentang waktu persiklusnya sekitar 4 hari. Dan dalam rentang waktu 4 hari ini pun selalu berubah-ubah waktunya dan berubah-ubah debit air yang mengalir.
wpid-2015523150201.jpg
Warga sedang mengairi lahannya
dengan menggunakan mesin pompa air
di kali Tambak.

 Bagi warga tani yang lahannya berada dekat dengan muara kali Tambak memang tidak terlalu risau dengan urusan air karena air sungai lumayan melimpah, beda dengan lahan yang berada di hulu yang harus menanti datangnya Rob (pasang naik). Terkadang air tidak bisa naik sampai ke hulu karena sudah habis disedot oleh mereka yang berada dekat muara sungai, terlebih jika pasang naiknya kecil. Permasalahan ini yang kadang menimbulkan gesekan dan percekcokan sesama petani. Petani yang berada di hulu kali Tambak kadang harus merugi karena hasil panen tidak sesuai yang diharapkan karena adanya permasalahan pengairan ini.

Perlu ada upaya untuk mengatasi krisis pengairan ini. Mengingat kasus ini adalah hal yang lazim terjadi setiap tahunnya. Jika tidak segera ditemukan pemecahannya petanilah yang sering menderita kerugian. Bagaimana tidak, panen yang sudah terlihat di depan mata harus gagal karena kurang air. Atau, seandainya air tersedia mereka juga perlu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena mereka menggunakan mesin pompa untuk irigasi tersebut yang berimbas pada tingginya biaya pemakaian BBM. Di daerah lain, krisis air lebih parah lagi. Untuk mengairi lahan pertaniannya mereka harus beli air tangki yang harganya berkisar Rp90.000 – Rp100.000. Jika ini terjadi sampai musim panen tiba, bisa diperhitungkan berapa biaya yang mesti di keluarkan. Bisa jadi mereka justru merugi.

Harapannya ada perbaikan infrastruktur pertanian di desa Mintobasuki. Bagaimana pun juga sektor pertanian masih menjadi tumpuan harapan bagi sebagian besar warga Mintobasuki.  Dengan adanya perbaikan infrastruktur di sektor pertanian ini diharapkan bisa mengangkat taraf hidup warga tani Mintobasuki secara khusus dan warga tani di sekitar Mintobasuki secara umum. Masih banyak kendala-kendala yang butuh pemecahan yang serius yang perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Kamis, 14 Mei 2015

Masa Panen Kedua Telah Tiba


wpid-2015510062717.jpgSeperti biasa, ketika hari libur dan kebetulan di rumah bersama anak-anak, saya tak pernah melewatkan acara jalan-jalan pagi bersama mereka. Cukup naik motor berkeliling kampung. Melintasi persawahan yang mulai menguning. Melewati perkebunan tebu yang menghijau. Berkeliling dari Koripan, ke Karanganyar, Butoh, tembus ke Mintobasuki, lalu ke dukuh Lor-an (RW 01) lalu ke barat menuju dukuh Kulonan (RW 02), kadang mampir lihat sungai sebelum balik ke rumah. Liburan yang murah meriah tapi cukup membuat anak-anak puas. Sekalian memperkenalkan kepada mereka negeri kelahiran mereka, Negeri Mintobasuki, Gabus, Pati.
Di Dukuh Kulonan, terhampar persawahan dengan padi yang sudah mulai menguning, pertanda sebentar lagi siap panen. Para petani sibuk menghalau burung-burung emprit yang menyerbu dengan bergerombol ke bulir-bulir padi. Teriakan-teriakan nyaring saling bersahutan agar burung-burung lapar itu tidak menghampiri tanaman padi mereka. Serbuan burung emprit ini paling banyak di pagi hari dan di sore hari. Terkadang, para petani seharian tidak pulang demi menjaga tanaman mereka dari serbuan burung-burung tersebut. Capek…? Iya capek, akan tetapi akan segera terobati dengan panen padi yang sudah ada di depan mata.

wpid-2015510061922.jpg wpid-2015510061917.jpg
Ini adalah panen ke-2 disepanjang tahun 2015. Panen pertama adalah awal Maret lalu. Sempat di warnai kekhawatiran akan adanya banjir karena curah hujan yang cukup tinggi di awal April lalu. Namun ke khawatiran itu sudah hilang kini. Memang sempat terjadi banjir namun tidak terlalu berpengaruh dengan tanaman padi mereka. Beritanya di : Banjir Dadakan Melanda Mintobasuki.
Untuk RW 02 memang panen lebih awal karena musim tanamnya juga lebih awal dibanding dukuh lainnya, semisal Karanganyar yang baru ‘Mrapu’. Akhir Juni kemungkinan petani dukuh Koripan atau mungkin juga tengahan bisa memanen hasil padinya.

Saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Curah hujan sudah rendah. Untuk pengairan lahan pertanian, warga tani menggunakan mesin pompa air yang tentunya menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk pembelian BBM-nya. Inilah yang butuh kita carikan solusinya, yaitu bagaimana ongkos untuk pengairan bisa ditekan agar mendapatkan hasil yang maksimal. Perlu adanya kerjasama antar warga tani untuk mengatasi masalah ini, misalnya dengan mengupayakan mesin diesel yang berbahan bakar solar dengan kemampuan yang cukup besar namun dengan cost yang bisa ditekan sebagaimana di desa-desa lain yang ada di tepian sungai Silugonggo. Dengan manajemen yang baik kemungkinan untuk bertanam padi sepanjang tahun adalah hal yang mungkin, tidak hanya 2 kali namun bisa 3 atau 4 kali panen, dengan syarat kondisi ideal. Tanpa banjir, misalnya.

Perlu diketahui bahwa luas lahan pertanian di dukuh Kulonan (RW 02) adalah sekitar 6.6 Ha, membentang di utara dan selatan dukuh Kulonan. Luasan ini cukup potensial jika kita mampu menanganinya dengan baik. Kendala yang dihadapi adalah masalah pengairan dan irigasi. Di sepanjang tepi barat dan utara dukuh ini berbatasan dengan Sungai Silugonggo yang tidak pernah mengering sepanjang tahun, dengan demikian kebutuhan akan air seharusnya bisa teratasi.
Kita buat saja perhitungan kasar hasil yang akan dicapai dengan luasan 6.6 Ha ini. Jika perhektar lahan mampu menghasilkan 4 ton beras (bukan gabah) maka dengan luasan 6.6 bisa menghasilkan 26.4 ton beras. Angka ini adalah angka paling rendah berdasarkan sample yang saya ambil dari pengalaman panen bulan Maret lalu. Kalau harga beras dipasaran saat ini -anggap saja- Rp 8.000; maka didapatkan angka Rp 211.200.000. Tentu ini belum perhitungan nett (bersih) karena di sana masih ada biaya pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengobatan, pengairan dll. yang cukup besar.

Dengan perbaikan sistem pertanian yang lebih baik kemungkinan hasil yang bisa dicapai juga lebih baik. Yah, semoga ada yang mikir ke sana.

Rabu, 04 Maret 2015

Warga Koripan Sampi Mintobasuki Memasuki Masa Panen


wpid-2015215060921.jpgMasa panen padi warga Koripan Sampi dan Karanganyar Mintobasuki sudah dekat, tinggal hitungan hari. Padi di sawah sudah menguning, membuat girang penanamnya. Tahun ini membawa berkah tersendiri bagi warga tani Mintobasuki karena tidak ada ‘hama banjir’ yang biasanya datang di akhir bulan Desember sampai akhir Januari.
Beberapa warga tani malah ada juga yang sudah  mempersiapkan lahan untuk persemaian bibit padi. Harapannya, seusai panen ini mereka bisa langsung melakukan penanaman yang kedua. Dengan demikian, masa tunggu antara masa panen dengan masa penanaman berikutnya tidaklah terlalu lama. Selain efisiensi waktu, langkah ini ditempuh agar tanaman padi mereka tetap cukup air sampai tiba musim panen berikutnya. Hal ini mengingat masa panen berikutnya diperkirakan mendekati musim kemarau sehingga sangat mungkin mereka akan menghadapi masalah pengairan jika tidak cepat-cepat memanfaatkan kesempatan yang ada. Oleh karenanya, langkah ‘curi start’ dan ‘jemput bola’ pun mereka lakukan.
wpid-2015307140720.jpg wpid-2015307130914.jpg
Kondisi ini tentunya berbeda dengan warga tani yang areal persawahan mereka dekat dengan aliran sungai Silugonggo karena meski curah hujan sudah rendah mereka masih bisa memanfaatkan aliran sungai Silugonggo untuk pengairan. Sungai Silugonggo yang airnya tidak pernah kering sepanjang tahun merupakan berkah yang besar bagi para petani di sekitarnya. Para warga tani yang berada di sekitar DAS Silugonggo sudah melakukan penanaman sejak beberapa minggu yang lalu. Hal ini karena meraka pun sudah memasuki masa panen sekitar satu bulan atau lebih dibandingkan warga tani Koripan Sampi.
Seperti halnya warga tani lainnya, warga tani di dusun ini pun mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan utamanya. Tidak jarang jika hujan tidak turun atau turun dengan intensitas yang kurang memadai para warga memanfaatkan air sungai tambak untuk pengairan. Biaya operasional pun tidak sedikit, cukup memberatkan  para warga karena untuk pengairan ini harus menggunakan pompa air yang cukup menghabiskan banyak biaya. Namun mereka tidak ada pilihan lain. Inilah langkah yang mesti ditempuh agar ketika masa panen tiba mereka bisa memetik hasilnya.
Harapannya, para pemimpin dan aparat desa Mintobsuki bisa memberikan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan pengairan pertanian ini karena bagaimana pun juga warga tani Mintobasuki sangat mengharapkan adanya sistem perbaikan untuk menunjang kemajuan usaha mereka. Lahan pertanian merupakan tumpuan harapan bagi sebagian besar warga untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Perbaikan infrastruktur pertanian akan sangat berdampak bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan mereka.
Sekian

Senin, 16 Februari 2015

Tiada Banjir, Berkah Bagi Warga Tani Mintobasuki

wpid-super_1400620289044.jpg

Banjir, seolah sudah menjadi jadwal rutin tahunan di desa Mintobasuki, dan juga desa-desa yang berada di sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) Silugonggo. Banjir di awal tahun 2014 yang lalu tercatat sebagai banjir terbesar yang pernah terjadi, menggenangi ribuan rumah penduduk, merusakkan infrastruktur, meluluhlantakkan areal pertanian, melumpuhkan aktifitas perekonomian dan berbagai kerugian materiil lainnya. Belum lagi kerugian karena gangguan kesehatan warga. Banjir tidak hanya melanda daerah yang berdekatan dengan DAS Silugonggo, tapi juga menggenangi areal yang letaknya jauh dari DAS. Tapi, alhamdulillah, sampai pertengahan Februari ini curah hujan masih normal -bahkan bisa dibilang rendah-  sehingga tidak berpotensi terjadi banjir sebagaimana tahun yang lalu. Debit air di sungai Silugonggo pun masih bisa dibilang aman meski terkadang hujan lebat mengguyur. Meski di beberapa titik DAS telah terjadi pendangkalan lagi karena banjir tahun yang lalu, namun tidak mengakibatkan dampak yang begitu berarti. Aliran air masih lancar menuju muara.



wpid-1424094734550-1.png
Warga RT 2/02 Jrakah Mintobasuki mengolah lahan 
untuk tanam padi yang kedua.

Kondisi yang cukup bersahabat ini merupakan anugerah tersendiri bagi warga desa Mintobasuki yang bermatapencaharian sebagai petani. Mereka bisa bercocok tanam sampai menuai hasilnya tanpa perlu khwatir dengan bayang-bayang banjir. Warga Jrakah Kulonan RW 2, misalnya, setelah panen yang pertama mereka kembali menggarap tanah garapannya untuk ditanami. Penyemaian benih dan penggemburan lahan sudah dimulai. Bahkan ada sebagian warga yang sudah tanam padi sejak beberapa hari yang lalu. Berbeda denga warga tani Koripan, saat ini mereka masih menunggu musim panen pertama tiba sekitar pertengahan sampai akhir Maret nanti. Mereka agak terlambat dibandingkan dengan warga RW 02 karena musim tanam mereka menunggu datangnya curah hujan yang cukup. Sedangkan warga RW 02 mereka sudah ‘curi start’ terlebih dahulu karena lokasi areal persawahan mereka yang dekat aliran sungai Silugonggo sehingga untuk musim tanam tidak terlalu tergantung dengan curah hujan, akan tetapi memanfaatkan air dari sungai untuk menggarap lahannya.

wpid-2015215060921.jpg
Warga Koripan Sampi Mintobasuki menunggu musim panen tiba

Harapannya, semoga tahun ini dan tahun-tahun mendatang tidak ada lagi banjir yang berarti sebagaimana tahun-tahun yang lalu agar roda perekonomian warga bisa berjalan normal dan kesejahteraan meningkat. Amin…


Selasa, 11 November 2014

Menanti Penghujan Tiba


wpid-20141102162715.jpgBeberapa hari ini mendung abu-abu bergelayutan di langit. Sebuah pertanda musim kemarau akan berganti penghujan. Gerimis kecil kadang turun menerpa bongkahan-bongkahan tanah kering memberikan harapan-harapan bagi penduduk bumi. Para petani pun bergegas menajamkan cangkul dan sabit-sabit mereka tuk menyambut datangnya musim penghujan yang ditunggu.
Di pagi buta mereka sudah berangkat ke sawah, meratakan hamparan persawahan dan memperbaiki pematang. Menggemburkan lahan dan mempersiapkan tanah yang akan ditanami padi.
Nampak anak-anak kecil bermain dan berlari-lari kecil. Sesekali senyum ceria dan tawa mereka terdengar. Seolah lepas, bebas, tanpa beban. Begitulah anak-anak petani…
image
image
Hmm… Sebuah kedamaian merasuk di jiwa tatkala kita berada di tengah hamparan persawahan yang membentang. Kicau-kicau burung di atas dahan. Anak-anak kecil yang bersendau gurau. Bersama senyum-senyum ramah para petani.
Hanya anda temukan di sini, di Desa Mintobasuki…

Kamis, 28 Agustus 2014

Melirik Sektor Pertanian yang Cukup Potensial


mintobasukiMintobasuki, yang berjarak sekitar 4.7 km dari jantung kota Pati dengan luas wilayah sekitar 148 hektar. Sekitar 97 hektar adalah areal persawahan (yang membentang di bagian timur desa dan sebagian di bagian barat desa) sedangkan sisanya 51 hektar adalah pemukiman. Jika kita lihat luasan lahan pertanian ini sektor pertanian perlu mendapat perhatian.

Masalah pertanian yang dihadapi warga
persawahan_terendam_banjir
Persawahan terendam banjir
Susahnya sumber air untuk pengairan pada musim kemarau dan banjir yang kerap melada saat musim hujan menjadi masalah tersendiri yang selalu dihadapi para petani. Belum lagi ketika banjir datang hampir bisa dipastikan mengalami gagal panen. Sistem bertani dengan tadah hujan menjadi alternatif bagi warga yang menjadikan padi sebagai komoditas utama.
Di sisi lain, banyak pula warga yang mensiasati iklim pertanian yang tidak mendukung ini dengan menanam tebu. Alasannya, perawatan mudah, lebih tahan banjir, dan relatif lebih tahan hidup di lahan yang kekurangan air. Akan tetapi harga tebu yang kadang anjlok juga kerap mejadi masalah tersendiri.
Kali Tambak Mintobasuki saat air meluap di musim hujan
Kali Tambak Mintobasuki saat air meluap di musim hujan
Menghadapi permasalahan pelik semacam ini perlu adanya upaya bersama untuk mencari solusi terbaik yang paling mungkin untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Upaya yang pernah ditempuh untuk mengurangi dampak kekeringan adalah dengan membuat tanggul air di kali Tambak yang membelah areal pertanian di tiga titik lokasi, yaitu di Koripan Sampi, Tengahan (timur balai desa) dan di ujung utara sungai yang bermuara ke sungai Silugonggo. Upaya lainnya adalah dengan membeli mesin diesel untuk menaikkan air ke areal persawahan. Akan tetapi kedua usaha ini juga belum membuahkan hasil yang signifikan. Akan tetapi, usaha warga ini juga patut diapresiasi sebagai batu loncatan untuk mencari solusi lain yang lebih tepat.
Masalah berikutnya adalah banjir yang melada di musim penghujan. Sebenarnya sudah ada upaya yang baik dari pemerintah pusat untuk menanggulangi banjir yang hampir tiap tahunnya melanda areal di sekitar DAS Silugonggo dengan memperlebar dan memperdalam sungai. Proyek ini berlangsung sekitar tahun 2011 s/d 2012 dengan mengerahkan puluhan alat berat, dari Tanjang sampai Juwana. Di tahun 2011 dan 2012 upaya ini menampakkan hasil yang cukup menggembirakan, hampir tidak ada luapan air sungai yang berarti layaknya tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, banjir besar di akhir 2013 seolah memupuskan harapan warga. Tercatat inilah banjir terbesar sepanjang sejarah. Puluhan desa terendam, ratusan hektar lahan pertanian gagal panen, kerusakan infrastruktur, timbulnya masalah kesehatan, hilangnya penghasilan warga, dan kerugian-kerugian lainnya.

Apa yang bisa kita lakukan?
Kali Tambak Mintobasuki
Kali Tambak Mintobasuki
Sektor pertanian perlu mendapatkan perhatian serius, mengingat sektor ini masih menjadi tumpuan mata pencaharian sebagian besar warga, khususnya petani padi.
Mengusahakan pengairan yang memadai dengan memanfaatkan kembali kali Tambak adalah sekian alternatif yang perlu dikaji ulang untuk dikembangkan. Sebagian warga menggunakan pompa air untuk mengairi lahan pertaniannya, meski efektif akan tetapi biaya yang dikeluarkan cukup besar. Perlu dukungan pemerintah dan kerjasama seluruh warga.
Mengupayakan cara bercocoktanam modern dengan mengurangi pemakaian pupuk-pupuk anorganik yang harganya kiat meroket dengan pupuk-pupuk jenis anorganik. Selain harganya yang cukup murah juga secara ilmiah memang bisa mengembalikan kesuburan tanah.
Mengupayakan penanggulangan hama yang tepat agar tepat sasaran, mencegah resistensi hama, menghemat ongkos pembelian insektisida. Upaya yang pernah ditempuh adalah dengan memanfaatkan burung jenis Tito Alba sebagai predator untuk mengendalikan hama tikus, akan tetapi upaya ini mengalami kemandegkan karena susahnya perawatan.
Meningkatkan wawasan warga tani melalui penyuluhan terpadu dan lain sebagainya adalah upaya konkrit yang perlu ditempuh. Perlu adanya sistem yang terpadu dan berkesinambungan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan warga tani.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)