*** SELAMAT DATANG *** Ini adalah blog pribadi yang dikelola secara independen oleh Netter desa Mintobasuki kec. Gabus kab. Pati. Blog Mintobasuki Gabus Pati bukanlah blog resmi pemerintahan desa Mintobasuki. Blog ini tidak ada hubungan dalam bentuk apa pun dengan organisasi, kelompok dan kepentingan tertentu di desa Mintobasuki. Artikel-artikel yang disajikan adalah tulisan lepas yang berisi uneg-uneg, ide, pemikiran, opini pribadi penulis dan pernik-pernik terkait desa Mintobasuki.

Area Persawahan di sebelah timur Desa Mintobasuki

Lahan pertanian yang cukup luas membentang di bagian timur desa. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi, jagung, kacang-kacangan dan beraneka ragam sayuran.

Kali Tambak untuk sarana irigasi pertanian

Sungai kecil yang membujur di sebelah timur desa yang berhulu di Sungai Silugonggo memiliki arti penting sebagai sarana irigasi.

Pesona desa Mintobasuki

Nuansa alam desa yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang indah menjadikan desa Mintobasuki kian anggun dan menyimpan pesona tersendiri.

Sektor pertanian yang perlu dikembangkan

Mintobasuki memiliki lahan pertanian sekitar 90 Hektar terdiri atas lahan basah dan kering. Oleh karenanya perlu ada upaya yang matang untuk mengembangkan sektor ini. Selain itu, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Mintobasuki sampai saat ini.

Sarana peribadahan yang cukup memadai

Desa Mintobasuki memiliki 5 Musholla dan 1 Masjid Agung Al-Amin yang saat ini dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana penunjang yang cukup memadai ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan warga dalam beribadah.

Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas warga

Sektor pertanian tetap menjadi mata pencaharian dan primadona bagi masyarakat desa Mintobasuki, meski dengan seiring bertambahnya waktu, profesi dan mata pencaharian warga kian heterogen.

Sektor Perikanan di Mintobasuki

Sungai Silugonggo yang bermuara ke laut utara ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Mintobasuki. Hasil tangkapan ikannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga yang berprofesi sebagai nelayan.

Tampilkan postingan dengan label Admin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Admin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2023

DIKEPUNG BANJIR

Ahad, 1 Januari 2023


Ahad ini jemput anak-anak setelah liburan 2 pekan di kampung. Tapi qadarullah, hujan beberapa hari ini sepertinya tidak ada jedanya. Sejak tiba di kampung hari Kamis kemarin sampai sekarang hujan rasanya enggan berhenti. Kalau tidak hujan deras ya hujan rintik-rintik, membuat enggan para penghuni rumah untuk keluar. Mendung pekat pun masih bergelayutan di langit menandakan rinai hujan belum akan mereda.

Sementara banjir sudah mulai menggenangi beberapa ruas jalan sejak hari-hari kemarin. Jalan menuju karangnyar sudah tergenang selutut kemarin dan hari ini tentunya lebih dalam. Kemarin aku sama anak-anak pergi ke rumah Mbahnya di kulonan jalan kaki dari Koripan karena tidak mungkin ditempuh dengan kendaraan. Kedalaman air per kemarin untuk yang paling dalam sudah di atas paha. Sedangkan di dalam rumah sudah di atas lutut. Hari ini tentunya sudah naik lagi. Ruas jalan menuju jalan besar terendam semua, dari Tisari, Ngantru, apalagi Kulonan.

Lahan pertanian di saat-saat seperti ini sudah tidak bisa diharapkan lagi. Sebelumnya juga sudah banjir. Ketika bajir surut, sebagian tanaman padi rusak dan musnah, sedangkan yang masih bertahan tidak selamat dari serangan hama. Daun menguning. Entah apa sebabnya. Belum selesai teratasi masalah itu, datang banjir susulan saat ini. Sempurna sudah. Musnah semua. Petani harus banyak bersabar dan berdo’a. Aku cuma kasihan sama Bapak Ibuku, karena mereka juga petani dan tanaman padinya juga jadi santapan banjir. Padahal ketika memanen mereka berharap memanen. “Gak opo-opo, kancane akeh “(Nggak apa-apa, yang lain juga banyak) begitu ucapnya menghibur diri. Tapi kerugian tetap kerugian.

Hari ini, sekitar jam 12.30 siang kami berangkat lagi ke Solo dengan mobil carteran. Dari rumah langsung ambil jalan memutar ke Winong Kidul. Ini satu-satunya rute yang selamat dari banjir, info dari Om Muji yang tadi pagi berangkat ke Pati via Winong. Jarak ke Gabus yang harusnya cuma sekitar 5 km menjadi 17 km lebih. Melintasi Wareng lalu ke Botok, lalu ke Winong Pasar, dilanjutkan menuju ke Gabus. Jangan tanya kondisi jalannya, mulus atau tidak? Aspal yang berlubang-lubang dengan genangan air di tengahnya. Wanita hamil tua sebaiknya jangan lewat sini, bisa keguguran.

Alhamdulillah ruas jalan Kayen sudah bisa dilalui sejak sore kemarin sebelumnya lumpuh total karena banjir. Berita di sosmed di saat-saat seperti ini sangat membantu untuk memantau perkembangan situasi.

Banjir ini bukan tanpa sebab. Semua musibah ada sebabnya. Maksiat. Ya, maksiatlah yang menjadikan sebab dari suatu musibah. Ini hanya sedikit kompensasi dari maksiat yang kita lakukan, seandainya setiap maksiat ada mompensasinya mungkin saja kita sudah punah sejak dulu kala.

Minggu, 02 Juni 2019

Catatan di Penghujung Ramadhan 1440 H

Seseorang yang tidak pernah mencintai tidak akan pernah merasa kehilangan sesuatu yang dicintainya. Seseorang yang tidak pernah mencintai tidak akan pernah merasakan beratnya perpisahan.
Mereka yang tidak pernah mencintai dan berharap tak pernah peduli meski dia datang dan pergi berungkali.
Ramadhan 1440H akan segera berlalu dan kita tidak pernah tau apakah di tahun-tahun mendatang masih ada waktu untuk berjumpa lagi ataukah tidak. Ini adalah hari-hari yang berat bagi para pecinta Ramadhan.

Ada di antara manusia yang tidak peduli dengan bulan ini. Baginya tidak ada beda antara bulan ini dengan bulan-bulan lainnya. Tidak ada istimewanya. Tidak ada amalan-amalan khusus. Tidak ada puasa di siangnya, tak ada sholat di malamnya, tidak ada bacaan Qur'an, tidak ada istighfar...Kemaksiatan yang sudah menjadi kesehariannya tetap berjalan. Tidak ada kecintaan dengan bulan ini justru menjadikannya terbebani. Mereka ini golongan orang-orang fasiq yang telah Alloh cabut kelezatan bertaqarrub kepadaNya. Mereka masuk bulan Ramadhan dan keluar darinya tanpa mendapat ampunan. Na'udzu billah min dzalik.

Ada pula orang-orang yang mengetahui kemuliaan Ramadhan dan keagungannya, mengetahui keutamaannya dari seluruh bulan, mengetahui pahala dan ampunan di dalamnya namun tekad untuk meraih kemulian-kemuliaan tersebut timbul tenggelam, kadang redup kadang membara, terkadang semangat terkadang melemah keinginannya. Mereka ini lebih baik dari kelompok pertama, keutamaan yang didapatkannya seukuran tekad yang hidup di hatinya.

Terakhir, orang-orang yang sejak lama menanti hadirnya bulan Ramadhan bak kekasih yang sedang menanti pujaan hatinya. Dia persiapkan dirinya dengan sebaik-baik persiapan agar ketika datang Ramadhan dia bisa menyambutnya dan menghidangkan hidangan terbaik, dengan puasa, sholat malam, sedekah, istighfar, bacaan Qur'an, i'tikaf, menyambut lailatur Qadar dan amal-amal shalih lainnya. Mereka benar-benar memaksimalkan dirinya mengisi Ramadhan. Mereka inilah para wali-wali Alloh yang diharapkan akan mendapatkan kemuliaan, ampunan dan pahala yang besar tatkala Ramadhan berlalu.

Ada sebuah hadits dari Rasululloh shollallohu 'alaihi wa sallam yang membuat merinding orang-orang yang beriman terkait bulan Ramadhan ini:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم لَمَّا صَعِدَ الْمِنْبَرَ قَالَ: "آمِينَ آمِينَ آمِينَ": فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلَى ماَ أَمَّنْتَ؟ قَالَ: "أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُرَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ دَخَلَ عَلَيْهِ شَهْرُ رَمَضَانَ ثُمَّ خَرَجَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ آمِينَ. ثُمَّ قَالَ: رَغِمَأَنْفُ امْرِئٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ، قُلْ: آمِينَ. فَقُلْتُ: آمِينَ"

"Tatkala Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam naik mimbar berkata: "Amiin...Amiin..Amiin". Para sahabat bertanya: Apa yang engkau aminkan wahai Rasululloh?
Beliau bersabda: "Jibril datang kepadaku dan berkata: Wahai Muhammad, celakalah seseorang yang namamu disebutkan di sisinya namun dia tidak bersholawat kepadamu. Katakan 'amiin'. Maka aku pun mengatakan amiin.
Kemudian ia (Jibril) berkata lagi: Celakalah seseorang yang masuk padanya bulan Ramadhan kemudian berakhir namun tidak diampuni dosanya. Katakan amiin. Maka aku pun katakan amiin.
Kemudian ia (Jibril) berkata lagi: Celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya namun tidak bisa memasukkannya ke surga. Katakan amiin. Maka aku pun katakan amiin". (HR Al-Bazzaar, Muslim dan Ibnu Majah)

Semoga di Ramadhan kali ini Alloh -ta'ala- berkenan menerima amal-amal kebaikan yang kita kerjakan dan mengampuni dosa-dosa kita dan kelak menjadi pemberat timbangan amal kebaikan kita dihadapan Alloh yang menjadi sebab kita dimasukkan surga oleh Alloh ta'ala.

Akhir kata saya berdo'a:
تقبل الله منا و منكم، سيامنا وسيامكم و سائر الأعمال في هذا شهر رمضان و غفر الله لي ولكم ، إنه هو الغفور الرحيم.

Penghujung Ramadhan 1440
Mintobasuki, 3 Juni 2019
Abu Unais

Jumat, 14 September 2018

Ada Apa dengan Bimbel TA Mintobasuki?

Assalamu 'alaikum wa rahmatullohi wa barakatuh,

Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar adanya pihak Babinsa yang detang ke Mintobasuki untuk mencari informasi masalah bimbel yang dikelola sdr Surwanto dan kajian malam ahad di musholla Utsman bin Affan, karena dianggap ilegal dan bermasalah.

Sehubungan dengan hal itu maka kami merasa perlu juga untuk memberikan informasi yang berimbang. Harapannya dengan banyak informasi akan menjadikan masalahnya menjadi lebih jelas.

Berikut sedikit informasi dari kami sepanjang yang kami ketahui:

1. BIMBEL Tarbiyatul Abna'i. Statusnya adalah bimbel, bukan TK atau pun PAUD, karena untuk mendirikan TK atau PAUD ada persyaratan yang harus dipenuhi. Karena belum memungkinkan kesitu maka statusnya hanya bimbel. Pagi untuk anak-anak pra sekolah, sorenya untuk les anak-anak SD tetangga sekitar. Perijinan selama ini hanya pemberitahuan secara lisan kepada ketua RW. Perlu diketahui bahwa bimbel semacam ini di desa Mintobasuki ada sekitar 5 bimbel. Hanya saja jam kegiatannya sore hari selepas jam belajar di sekolah.
Untuk aktivitas pagi bisa dilihat di sini:

https://youtu.be/yUDcE_wpVyo

Jadi kalau dibilang tidak sepengetahuan warga, tidaklah benar, karena di depan rumah sdr Surwanto terdapat banner tentang bimbel yang dikelola. Memang tidak ada izin secara tertulis ke desa.
Kalau ini dipermasalahkan, maka bimbel-bimbel lain di Mintobasuki harusnya juga ditertibkan melalui perijinan tertulis. Dan kami siap mengikuti prosedur dari desa.

2. Benarkah bimbel ini hanya untuk kalangan sendiri dan tidak terbuka untuk warga sekitar?
Tahun ajaran 2017-2018 lalu jumlah muridnya ada 9 untuk kelas pagi, 6 anak dari para tetangga warga Mintobasuki sisanya dari luar desa kami. Jadi, tidak benar jika bimbel tersebut hanya untuk kalangan sendiri, bukan untuk umum.
Materinya baca tulis arab dan latin ditambah hafalan Al Qur'an.
Sedangkan kelas sore, semua murid dari warga mintobasuki, terlebih tetangga sekitar. Bisa dicek di warga sekitar kebenaran info ini.

3. Sdr Surwanto atau Umar dan kawan-kawan dikatakan tidak mau berinteraksi dengan warga sekitar. Anggapan ini tidak benar, karena setiap ada kegiatan warga sdr Surwanto selalu aktif, baik kerja bakti, ketika ada hajatan tetangga, ketika ada jengukan warga sakit, ketika ada kematian, sdr Surwanto selalu aktif hadir.
Bahkan, dulu beliau ikut dalam Tim Peduli Mintobasuki yang bergerak dibidang sosial kemasyarakatan, yaitu sebuah wadah bagi para relawan desa Mintobasuki yang aktivitasnya menerima sumbangan dan infaq warga untuk di distribusikan ke warga kurang mampu di Mintobasuki. Kebetulan saat itu saya sendiri yang bertindak sebagai penggagas dan pimpinan di Tim tersebut. Hanya saja kegiatan tersebut saat ini berhenti karena banyak anggotanya yang pindah ke luar daerah, termasuk saya. Aktivitas tersebut bisa dibaca di sini:

https://mintobasuki.wordpress.com/2016/12/18/1569/

https://mintobasuki.wordpress.com/2017/01/24/penyaluran-bantuan-peduli-mintobasuki-tahap-tiga/

Perlu diketahui bahwa blog https://mintobasuki.wordpress.com dan https://masminpati.wordpress.com adalah blog pribadi yang saya kelola.

Namun kalau yang dimaksud warga dengan tidak mau berinteraksi dengan warga adalah ketika warga melakukan kegiatan dan kami tidak ikut karena menurut kami berbenturan dengan keyakinan kami, semisal acara sedekah bumi yang dipusatkan dipunden-punden yang dikeramatkan, lalu meminta kepada nama-nama tertentu selain Alloh, atau kami menolak dengan halus ketika ada warga yg mengundang kami menghadiri tahlilan kematian, maka ini benar adanya. Mohon dipahami bahwa yang berkeyakinan seperti ini bukan cuma kami, tapi ormas-ormas besar lain semacam Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dll pun demikian, dan tidak ada masalah. Sebagaimana mayoritas warga adalah muslim namun jarang ada warga yang mau mengerjakan sholat lima waktu atau puasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana hal tersebut tidak dipermasalahkan, maka kiranya apa yang menjadi keyakinan kami juga tidak dipermasalahkan.

4. Tentang aktivitas taklim di Musholla Utsman bin affan.
Perlu diketahui bahwa aktivitas taklim tersebut tidaklah diperuntukkan khusus untuk kalangan sendiri, siapa pun boleh hadir, namun khusus warga Mintobasuki. Pematerinya adik saya sendiri, Maryoto atau Umair. Taklim tersebut sudah berjalan hampir dua tahun, setiap malam Ahad bakda Maghrib s/d Isya. Jika ada kegiatan warga, taklim diliburkan. Karena ini musholla warga, dan kami pun dulu punya andil dalam pembangunannya, maka kami pun merasa berhak untuk ikut memanfaatkannya, apalagi musholla itu sering sepi kecuali di bulan Ramadhan.

Sebagai bentuk keterbukaan kami, maka aktivitas kajian tersebut pernah kami infokan via facebook, karena saya pikir warga desa kami tidak awam lagi dengan smartphone, sehingga mudah bagi mereka untuk mengakses info tersebut. Bisa dilihat di sini:

https://www.facebook.com/groups/muslimmintobasuki/permalink/899348493523613/

https://www.facebook.com/groups/muslimmintobasuki/permalink/860728460718950/

Beberapa rekaman kajian bisa dilihat disini

https://drive.google.com/folderview?id=1AG_4JRqK6yjOs-11lyI9-xZK18YGDI3g

Arsip lainnya disimpan oleh panitia kajian.

Arsip-arsip tersebut perlu kami share dengan harapan jika ada yang mempermasalahkan aktivitas kami bisa dengan mudah merujuk ke rekaman2 tersebut untuk diteliti. Meskipun nantinya ada pihak2 yang tidak puas dengan penjelasan kami.

Adapun kajian rutin tiap malam, itu adalah ngaji belajar baca Al Qur'an untuk para remaja dan dewasa yang sudah tidak lagi usia TPQ. Siapa pun boleh ikut. Sebelumnya ngaji baca Qur'an tersebut saya yang pegang, tempat di Masjid Al Ikhlas Koripan, setelah saya ke solo, selanjutnya saya limpahkan ke sdr Surwanto.

5. Tudingan bahwa kami mengkafirkan orang selain golongan kami, bisa kami jawab, bahwa aliran/ madzhab manapun menyatakan batalnya sholat dibelakang orang kafir. Sedangkan kami bertahun-tahun, bahkan sejak kecil biasa bermakmum kepada siapa pun, tanpa memandang siapa pun yang jadi Imam, baik dalam sholat 5 waktu, sholat jumat, dan sholat2 lainnya. Dan kami juga ikut mensholatkan jenazah warga yg meninggal selama dia muslim. Bisa ditanyakan ke warga sekitar kami. Jika kami mengkafirkan mereka tentu kami tidak akan sholat bermakmum di belakang mereka dan tidak mau ikut mensholatkan jenazah mereka serta tidak akan makan hewan-hewan yang mereka sembelih, karena sembelihan orang kafir adalah haram. Ini berbeda dengan kenyataan yang ada pada kami.

6. Kami penganut sekte sesat? Adalah hak warga untuk menilai apa pun tentang kami. Hanya saja kami selalu membuka diri untuk berdiskusi. Tak ada yang perlu kami tutup-tutupi. Kami sangat berharap warga mau mengklarifikasi ke kami jika dirasa ada tindak-tanduk kami yang menyimpang, namun hampir 20 tahun berlalu tidak pernah ada yang mengklarifikasi ke kami. Padahal banyak fitnah dan tuduhan ke kami. Sehingga terpaksa saya menulis klarifikasi via internet dengan harapan suatu saat nanti ada warga desa kami yg menemukannya lalu membacanya sehingga paham duduk permasalahannya. Klarifikasi tersebut bisa ditemukan di tulisan saya di sini:

https://mintobasuki.wordpress.com/category/opini/

Kami juga berlepas diri dari paham radikal yang ingin merongrong keutuhan NKRI. Sedikit coretan bisa dilihat di sini:

https://mintobasuki.wordpress.com/2015/05/11/mintobasuki-menolak-paham-isis-syiah-liberal-dan-komunis/#more-1129

7. Sebagai info tambahan, bahwa selama ini kami sering dikaitkan dengan isu terorisme oleh warga karena ada penampilan fisik yg sama. Meski seringkali kami menyangkal, namun stigma itu masih disematkan ke kami.
Perlu kami sampaikan bahwa kami tidak ada sangkut pautnya dengan isu terorisme mana pun. Kami mengutuk keras tindak teror di negeri yang aman ini, apalagi dikaitkan dengan ajaran Islam.

Ciri khas ideologi terorisme adalah menganggap Indonesia negeri kafir, jadi siapa pun yang mendukung NKRI dan tidak sepaham dengan mereka adalah kafir dan menjadi musuh mereka, terlebih aparat keamanan.
Padahal dalam keyakinan kami kita harus patuh kepada pemerintah, tidak mencari-cari aib mereka, tidak menentang, tidak melakukan demonstrasi apalagi pemberontakan, dan sabar jika mereka berlaku dzolim kepada kita.

Pada kenyataannya kami meyakini Indonesia adalah negara Islam karena mayoritas warganya beragama Islam. Bahkan kami membina hubungan baik dengan kawan-kawan dari TNI-POLRI, meski tidak banyak.

Jika Bapak ingin tahu lebih banyak lagi tentang bagaimana aqidah dan pemahaman kami bisa search di internet www.radiorodja.com www.kajian.net atau bisa di search di youtube dengan kata kunci "yufid tv", Bapak bisa menemukan ribuan ceramah dari ustadz2 kami.

Intinya, selama ini kami selalu terbuka kepada siapa pun dan tidak ada yang perlu kami tutupi karena kebenaran tidak perlu ditutup-tutupi. Hanya keburukan yang menjadikan pelakunya takut untuk menampakkannya di depan orang.

Demikian sedikit klarifikasi dari kami, jika ada hal lain yang perlu ditanyakan, kami sangat membuka diri demi kebaikan bersama.

Minggu, 05 Juni 2016

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1437 H

Tak terasa kita telah berada di ujung penantian.
Telah berlalu bulan Sya'ban,
dan datanglah bulan Ramadhan,
Bulan penuh berkah dan ampunan.
Bulan tatkala amalan-amalan shalih dinaikkan,
tuk diberi pahala yang dilipatgandakan.
Bulan dibukanya pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan,
agar manusia khusyu' dalam ketaatan,
tuk gapai keridha'an 

Inilah bulan yang senantiasa dinati-nanti insan beriman.
Bulan yang diwajibkan kita berpuasa penuh satu bulan.
Haus, lapar dan nafsu kita tahan,
dari terbit fajar sampai matahari tenggelam,
tuk meraih derajad ketaqwaan.

Bulan yang didalamnya ada satu malam,
yang lebih mulia dari seribu bulan.
Bulan yang padanya diturunkan Al Qur'an,
kitab suci pelita bagi kehidupan,
petunjuk dalam kegelapan,
menuju terangnya keimanan,
yang membawa kebahagiaan sepanjang zaman.
Kitab yang jadi penyembuh bagi jiwa yang kesakitan,
oleh pekatnya dosa dan kemaksiatan,
menuju indahnya keshalihan.


Jangan lupa wahai kawan,
bulan istimewa jangan kau sia-siakan,
kuatkan jiwa dan singsingkan lengan,
mengisi Ramadhan dengan berbagai amal ketaatan,
kemaksiatan hendaklah engkau jauhkan.
Baca Qur'an jangan kau tinggalkan,
sholat Tarawih jangan kau lewatkan,
wirid dan dzikir jangan kau lalaikan,
istighfar jangan kau lupakan,
shodaqah jangan kau tahan-tahan,
Semoga di akhir Ramadhan engkau raih kemenangan.

Amiiin...


Senin, 19 Oktober 2015

Bantuan Air Bersih di Musim Kemarau


image
Musim kemarau belum juga usai. Panas mentari serasa membakar bumi. Sumber-sumber air kian menipis. Harapannya musim hujan segera datang lebih awal.
Hampir setiap harinya bantuan air bersih tiba di Mintobasuki dengan diangkut mobil tangki. Bantuan datang dari pihak pemerintah, swasta, dan lembaga sosial yang ada. Agar bantuan merata, pihak pemerintahan desa memberi jadwal secara bergilir di empat RW yang ada. Warga memanfaatkan air bantuan untuk konsumsi sehari-hari, baik untuk minum dan memasak. Sedangkan untuk MCK, warga memanfaatkan keberadaan suplai air dari PAMSIMAS yang hampir menjangkau seluruh desa Mintobasuki.

Selasa, 08 September 2015

Catatan Kecil Untuk Mintobasuki Hari Ini


wpid-2015830063629.jpgOrang bijak pernah berkata bahwa yang paling berat dalam kehidupan ini adalah menata hati dalam meraih keikhlasan. Bagi sebagian kita kata-kata ini mungkin tidak bermakna apa-apa, tidak istimewa, dan bukan sesuatu yang perlu dibahas apalagi dicatat dengan tinta emas. Namun, jika kita adalah orang yang senantiasa mengamati gerak-gerik hati dan berbolak-baliknya qolbu, tentu kita akan menemukan makna yang mendalam dalam ungkapan ini.

Yaa, menjaga keikhlasan hati ibarat berjaga-jaganya serdadu di garis depan. Musuh setiap saat bisa saja menyerang dan mengkoyak-koyak pertahanan hati. Menjaga keikhlasan butuh mujahadah dan kesungguhan. Tidaklah seseorang memahami perumpamaan ini kecuali orang-orang yang memang selalu menjaga hatinya untuk tetap istiqomah di atas keikhlasan. Ada pun mereka yang lalai dari keikhlasan akan menganggap remeh masalah ini.

Tahukah kita, apa arti ikhlas? Ikhlas adalah beramal hanya untuk mengharap ridho Alloh semata, bukan untuk mengharap pujian manusia, bukan pula berharap sanjungan-sanjungan, bukan pula ingin mendapat tempat di hati-hati insan. Jika engkau mampu beramal dengan membersihkan niat-niat sampah yang mengotori kesungguhuhanmu untuk hanya berharap ridho Alloh -ta’ala-, engkau adalah seorang yang ikhlas -insya Alloh -ta’ala-.
Inilah definisi ikhlas yang mungkin asing bagi kita karena selama ini kita telah didoktrin bahwa ikhlas adalah ‘beramal  tanpa pamrih’.


Bisa jadi, sebagian kita merasa telah melakukan hal-hal besar dalam hidupnya, telah melakukan ini dan itu, telah berbuat ini dan itu…Akan tetapi kemudian ujian keikhlasan itu datang; kita dilupakan, dipinggirkan, dan dicampakkan begitu saja seperti dicampakkannya baju lusuh yang tiada lagi dipakai. Karya-karya kita, kerja keras kita dan perjuangan kita dinikmati banyak orang tapi nama kita tak sedikit pun dikenang… Sanggupkah kita mempertahankan keikhlasan itu??
Kawan, disinilah keikhlasan itu diuji. Akan nampak hakekat sebenarnya antara emas murni dengan imitasi. Reaksimu adalah apa yang kau sembunyikan selama ini di dadamu, ada atau tidaknya keikhlasan itu. Apakah engkau akan marah, murka, tidak terima, sakit hati, hasad, benci, dan melakukan segala makar agar engkau tidak dilupakan? Ataukah engkau akan legowo, menerima, dan tak ambil peduli apa kata orang karena engkau merasa bahwa apa yang engkau lakukan hanyalah berharap ridho Alloh dan bukan ridho Manusia? Tak peduli apakah engkau akan dibuang atau dicampakkan ke comberan? Tak peduli engkau dipuji atau dicaci. Yang penting penilaian Alloh bukan penilaian manusia…

Yaaa…semoga sedikit coretan kecil ini kembali menggugah hati-hati kita untuk senantiasa beramal ikhlas karena Alloh, bukan cuma ikhlas di mulut tapi ikhlas yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku. Seribu kali kita lafadzkan kata ikhlas di lisan akan runtuh dengan satu sikap kita yang menodainya…

Semoga kita, apa pun posisi kita, apa pun peran kita, senantiasa diberikan keihlasan dalam setiap amal. Demikian pula Bapak-bapak pemangku jabatan di Desa kita tercinta semoga diberi hidayah dan kekuatan untuk ikhlas dalam memikul amanah. Bekerja bersama-sama dengan pemimpin desa (siapa pun yang memimpin; tanpa terpengaruh pihak-pihak tertentu) demi kemajuan bersama…
Amin ya Robbal Alamin…

Senin, 17 Agustus 2015

Arti Kemerdekaan…

Kawan,

Gaung kemerdekaan telah menggema di seantero bumi Pertiwi sejak 70 tahun yang lalu. Tak terkira pengorbanan yang diberikan para pejuang negeri ini agar kita bisa bebas menghirup udara  alam kemerdekaan. Bukan cuma harta yang mereka relakan, bukan cuma darah yang mereka tumpahkan, bahkan nyawa dan jiwa satu-satunya rela mereka pertaruhkan demi mengembalikan kehormatan sebagai manusia yang merdeka di negeri Nusantara tercinta.

Kini, 70 tahun gema prokalamasi telah berlalu. Perjuangan mengusir bandit-bandit penjajah telah usai. Namun, bukan berarti telah usai semua perjuangan…

Proklamasi bukanlah akhir perjuangan, bukan pula puncak perjuangan. Proklamasi hanyalah sebuah dekrit yang merupakan titik awal dari sebuah perjuangan yang maha panjang dalam membangun negeri ini. Sebuah sumpah untuk membangun negeri meneruskan perjuangan para syuhada yang telah ikhlas mengorbankan jiwa-jiwa mereka agar kita bisa meneruskan perjuangan yang lebih berat dan lebih panjang. Tetap teriakkan pekik takbir untuk membangun negeri ini sebagaimana pekik takbir para mujahid dalam membebaskan bumi Pertiwi dari belenggu penjarah.

Bebaskan jiwamu dari penghambaan kepada makhluk kepada penghambaan hanya kepada Khaliq. Niscaya engkau akan menjadi insan-insan yang meraih kemerdekaan yang hakiki, dunia dan akhirat. Bebaskan dirimu dari belenggu-belenggu syaithoniyyah untuk menuju ketaatan kepada Alloh -ta’ala- niscaya engkau akan temukan kemerdekaan lahir dan batin.

Kau tak akan mampu meneruskan perjuangan para mujahid-mujahid negeri ini jika engkau masih dijajah oleh penghambaan kepada selain Alloh. Kau tak kan mampu mengemban amanah para syuhada negeri ini jika jiwamu masih terbelenggu dengan rantai-rantai syithoniyyah.
Jangan kau khianati darah para syuhada yang telah tertumpah di negeri ini dengan sesuatu yang mengotorinya. Jangan engkau khianati perjuangan para syuhada bumi pertiwi dengan ulah-ulah tanganmu yang berlumur dosa.

Salam kemerdekaan,
Allohu Akbar

Jumat, 17 Juli 2015

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H

Bismillah…
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullohi wa barakatuh,
Alhamdulillah, hari raya telah tiba. Pagi ini kita menunaikan sholat Idul Fitri di lingkungan masing-masing sebagai ungkapan syukur kita kepada Alloh ta’ala yang telah mengaruniai kita umur yang panjang sehingga kita mampu menjalani ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan tahun ini. Harapannya kita akan dipertemukan juga dengan Ramadhan di tahun mendatang. Semoga kita juga diberi kekuatan untuk senantiasa istiqomah di atas Agama Alloh, tidak sebatas di bulan Ramadhan akan tetapi di bulan-bulan selainnya di sepanjang tahun.
Kami, selaku admin blog Mintobasuki Gabus Pati menyampaikan:

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُم

Semoga Alloh ta’ala menerima segala amal ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan yang telah lewat.

Tidak lupa pula kami mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1436 H.
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullohi wa barakatuh.
Salam,
Admin

Selasa, 14 Juli 2015

Sekedar Curhat…

Mau Curhat, Bro…
image
Sore tadi aku dan kawan-kawan mengadakan buka puasa bersama dengan mengundang beberapa teman dari luar desa. Nggak banyak Broo, 5 warga Minto termasuk tuan rumah, 5 teman dari luar yang kami undang, dan 3 anak-anak.
Habis maghrib dari Masjid kami dicegat ketua RW Broo, dia bilang : “Kalau besok2 mengadakan perkumpulan lebih dari 10 orang dan tidak ada laporan, bakal aku OBRAK-ABRIK”. Padahal sudah kami jelaskan kalau kami disini buat buka bersama.

Bro, kita lahir di Mintobasuki ini, dari kecil, besar dan dewasa di sini. Sudah lama kita saling kenal. Kami nggak pernah ada catatan hitam di sini yang berhubungan dengan merugikan orang lain. Pastinya, kami kumpul2 bukan buat teler, atau main judi, atau bikin Bom…Kami kumpul Cuma buat buka bersama, habis Maghrib selesai, pulang ke rumah masing2. Kalau ada salahnya, ya peringatkanlah dengan cara elegan dan baik-baik, so pasti orang akan nurut dan manut. Kalau pengen disegani bukan dengan kepalan tangan, mulut kasar, main ancam dan gaya sok-sok-an. Justru bakal jadi tertawaan anak-anak kecil. Ingat Bro, siapa pun gak bakal simpatik dengan orang-orang model gituan. Gaya gitu Cuma ada di jaman penjajahan kolonial, sudah nggak laku di abad milenium ini. Orang macam gitu pasti bakal ditinggalin rame2. Orang disegani karena akhlak baik yang dimiliki, sopan santun dan ramah tamahnya. Bukan yang hobi hantam sana-hantam sini. Masyarakat kita sudah dewasa, sudah bisa diajak berfikir maju, so jangan jadi orang KUPER…
Oke Mas Bro, asal konsisten saja dengan aturanmu, kalau kumpul2 lebih 10 orang harus laporan, tuh di Tengahan banyak orang2 yang main bilyard sampai tengah malam, nggak semuanya dari Mintobasuki dan pastinya nggak laporan ke RW. Dan hampir tiap malam ada. Berani nggak ngancam mau ngobrak-abrik…???

Kalau pemimpin2 di sini masih gayanya kayak gini, kapan Mintobasuki tentrem dan ayem…
Sorry Mas Bro, curhatnya nggak enak. Sebenarnya point utamanya adalah tak perlulah main kenceng2an urat leher buat nyelesein masalah2 kayak gini. Bisa kok dengan cara-cara yang adem, yang baik-baik, tanpa menimbulkan efek samping…Bisa jadi kami nggak laporan karena nggak tahu, soalnya dulu2 juga nggak ada masalah kalau kumpul2 buat buka bersama.
Selamat menikmati ibadah di akhir2 bulan Ramadhan ini Mas bro. Semoga amal ibadah kita di bulan ini diteriam oleh Alloh –ta’ala-.

Maaf kalau curhatan ini bikin nggak enak hati.

Selasa, 09 Juni 2015

Menyambut Tamu Agung: Ramadhan


Zubair bin Awwam MintobasukiBergulirnya waktu tak terasa telah mengantarkan kita pada penghujung bulan Sya’ban 1436 H yang artinya sebentar lagi kita akan kedatangan tamu agung, yaitu bulan Ramadhan. Seolah baru kemarin kita berpuasa Ramadhan dan berhari raya bersama, namun sebentar lagi tamu yang penuh berkah itu akan berkunjung lagi ke tengah-tengah kita.
Bulan Ramadhan, bulan yang sangat dinanti-nantikan orang-orang yang beriman. Di bulan itu pintu-pintu Jannah (surga) di buka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta dibelenggu syaitan-syaitan. Di bulan itu kaum muslimin diwajibkan berpuasa satu bulan penuh, yaitu menahan dari dari makan, minum dan jima’ dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Puasa adalah ibadah orang-orang sholih terdahulu, sebelum Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- di utus, juga menjadi syariat bagi kita, umat akhir jaman. Tujuan dari diperintahkannya berpuasa adalah agar kita menjadi hamba-hamba yang bertaqwa. Alloh -ta’ala- berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)


Di bulan itu juga, kita dianjurkan untuk banyak-banyak beramal shalih karena pahala amal kita akan dilipatgandakan melebihi amal-amalan yang kita lakukan dibulan-bulan lainnya. Kita bisa melakukan berbagai aktivitas ibadah seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak sholat dan dzikir, menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, bersedekah dan berinfaq, memberi makan dan minum orang yang berbuka puasa, i’tikaf, berdakwah dan ta’lim, dan ibadah-ibadah lainnya.

Kita juga dianjurkan untuk memperbanyak sholat malam, yaitu sholat tarawih yang waktu pelaksanaannya dari ba’da isya’ sampai masuk waktu subuh. Sangat dianjurkan melakukan sholat tarawih dengan berjamaah bersama Imam. Bahkan, barang siapa yang sholat tarawih bersama Imam sampai selesai maka baginya ditulis pahala seperti sholat semalam suntuk. Semoga para imam sholat di kampung kita diberi taufiq oleh Alloh agar mereka memperbagus sholatnya, terpenuhi syarat rukunnya, yaitu tuma’ninah.

Di bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qodar. Kaum muslimin sangat dianjurkan untuk bisa meraih keutamaan ibadah di malam tersebut karena pahalanya yang besar dan dilipatgandakan oleh Alloh -ta’ala- seperti orang yang beramal seribu bulan. Kita tidak tahu dan tidak diberitahu kapan datangnya malam itu, hanya diberi isyarat di sepertiga akhir Ramadhan di malam-malam ganjilnya. Namun, alangkah baiknya jika kita tetap melakukan ibadah dengan istiqomah dan konsisten di setiap malam-malam Ramadhan, dengan demikian malam seribu bulan itu pun bisa kita dapatkan.

Kita juga diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah, demikian pula kita berkewajiban mengeluarkannya untuk orang-orang yang berada di bawah tanggungan kita, yaitu berupa makanan pokok penduduk setempat yang harus kita keluarkan untuk diberikan kepada kaum fakir miskin sebanyak satu Sho’, atau kalau dikonversi ke ukuran kita sekitar 2,5kg. Waktu pengeluarannya di penghujung Ramadhan sebelum melakukan sholat Idul Fitri. Ada pembahasan panjang tentang kapan awal mengeluarkan zakat fitrah ini, namun yang pasti batas akhirnya sebelum melakukan sholat Idul Fitri. Zakat fitah adalah hak-nya fakir miskin, tidak boleh dialihkan untuk keperluan lainnya, apalagi dijual dan disimpan untuk pembangunan masjid dan sebagainya. Semoga para pengelola zakat fitrah di kampung kita diberikan taufiq agar bisa amanah dalam mengelola zakat fitrah.

Yang terakhir, setelah sebulan penuh kita berada di bulan ramadhan dengan mereguk berbagai nikmat dan manisnya ibadah, sampailah kita di penghujung Ramadhan. Ketika sang surya telah tenggelam dan gema takbir bersahutan, di situlah telah tiba hari kemenangan. Kita merayakannya dengan mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil  seraya memuji kepada Alloh atas segala karunianya yang telah mempertemukan kita dengan tamu istimewa, tamu agung nan penuh berkah. Kita berharap dipertemukannya lagi di tahun-tahun yang akan datang. Kita bersama berduyun-duyun pergi ke tanah lapang sambil tak henti-hentinya menggemakan takbir, tahmid dan tahlil sebagai ungkapan syukur. Dan kita melaksanakan sholat Idul Fitri. Kita saling mendoakan saudara kita dengan mengucapkan taqoballohu minna wa minkum (semoga Alloh menerima amal-amal kita-selama ramadhan).

Ya, semoga kita dipertemukan oleh Alloh untuk bisa bersua dengan bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi. Semoga kita diberi kekuatan dan taufiq untuk bisa memanfaatkannya sebaik-baiknya sehingga ketika kita keluar dari bulan tersebut telah terampuni dosa-dosa kita.
Amin ya Robbal ‘Alamain.

Selasa, 07 April 2015

Cerdas Memaknai Arti “Pembangunan”


Definisi Pembangunan
Image0779Para pakar berbeda-beda dalam mendefinisikan arti pembangungunan. Namun secara umum mereka memaknai pembangunan sebagai perubahan ke arah yang lebih baik dengan upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana. Perubahan di sini meliputi berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, keamanan dan lain-lainnya. Sedangkan maksud sadar dan terencana adalah bahwa pembangunan itu bukanlah hasil dari sebuah kebetulan melainkan terwujud melalui mekanisme yang terkonsep dan terarah.

Titik berat pembangunan biasanya berorientasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Meski ada pula yang menambahkan perbaikan aspek nilai-nilai moral dan etika umat. Barometer kemajuan berbeda-beda untuk setiap daerah. Daerah yang terpencil dan terisolir -misalnya- ukuran kemajuannya bisa saja dinilai dari tersedianya akses jalan yang memadai untuk memperlancar distribusi hasil produksi, aliran listrik yang terjangkau untuk peningkatan produksi, dan perbaikan taraf hidup dengan tercukupinya kebutuhan primer. Berbeda halnya dengan daerah yang sudah mapan ukuran kemajuan bisa saja dinilai dari tercukupinya kebutuhan tersier.

Namun bila kita cermati ulasan para pakar dalam mendefinisikan arti pembangunan di sini hanya menyentuh aspek yang bersifat keduniawian tanpa memperhatikan aspek spiritual. Meski -sebagaimana di atas- ada juga yang memasukkan tata nilai dan moral sebagai barometernya. Sebagai makhluk dan hamba Alloh tentu kita tidak mendefinisikan pencapaian pembangunan hanya pada tataran duniawi saja akan tetapi juga -yang terpenting- pada tataran ukhrawi. Sebab, sebagai seorang muslim kita berkeyakinan bahwa kehidupan tidaklah berakhir di atas dunia ini saja akan tetapi berkelanjutan sampai di negeri akhirat. Kehidupan akhirat itulah yang lebih baik, lebih kekal dan lebih abadi. Dengan demikian, upaya untuk meraih ‘kesejahteraan’ ukhrawi sudah semestinya mendapatkan porsi lebih untuk diperhatikan.

Kembali ke topik pembangunan di atas, bahwa tujuan pembangunan adalah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan dalam arti luas. Setiap pembangunan dalam sebuah komunitas pada umumnya berorientasi ke sana. Ada pun sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan tersebut tentulah berbeda-beda dan sangat kondisional dengan waktu dan tempat. Ini penting kita pahami terlebih dahulu agar kita tidak terjebak memaknai pembangunan dari sudut pandang yang sempit dan parsial.

Mintobasuki Membangun
Selama dasawarsa terakhir kita melihat adanya geliat yang positif di Mintobasuki yang semuanya itu tidak lepas dari peran serta aktif masyarakat yang bersinergi dengan para penyelenggara pemerintahan desa. Infrastruktur desa yang memadai untuk meningkatkan produktivitas warga, tingkat perekonomian yang membaik, kesadaran keberagamaan yang mulai tumbuh, kehidupan sosial yang hangat, tingkat pendidikan warga yang kian meningkat, dll yang semuanya itu bisa menjadi indikator bagi sebuah pencapaian pembangunan desa.

Infrastruktur yang merupakan faktor penopang kemajuan pembangunan desa telah tersedia. Jalan-jalan desa yang hampir 80%-nya telah dikeraskan, baik dengan pengaspalan maupun cor semen sehingga mempermudah mobilisasi warga. Sarana pendidikan yang memadai dengan berdirinya gedung-gedung sekolah dan madrasah TPQ beserta tenaga pengajarnya. Fasilitas pemerintahan desa berupa gedung balai desa dan sarana penunjangnya. Ketersediannya bidan desa untuk memfasilitasi warga yang hamil dan melahirkan. Dibangunnya PAM Simas di RW 2 yang menyediakan supplai air untuk warga Mintobasuki. Dibangunnya masjid-masjid untuk memfasilitasi warga guna melakukan aktifitas keagamaan dan peribadahan. Terhitung ada 6 Musholla dan 1 masjid induk yang telah berdiri. Pembangunan tanggul air di tiga titik kali tambak untuk memfasilitasi petani mendapat pengairan lahan pertanian. Dan mungkin masih ada  infrastruktur lainnya yang lepas dari pengamatan kami. Semua sarana fisik tersebut diharapkan mampu mempercepat laju kemajuan pembangunan desa Mintobasuki.

Sebuah Catatan…
Permasalahan yang perlu dicermati bersama adalah bahwa pembangunan hendaklah berwawasan kependudukan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penduduk merupakan subyek sekaligus obyek pembangunan. Jadi, tidak bisa kita menitikberatkan pembangunan pada infrastruktur semata dengan mengesampingkan sisi peningkatan sumber daya manusia. Harus ada keseimbangan dalam hal ini. Inilah yang disebut pembangunan manusia seutuhnya. Sudah saatnya kita merubah pola pikir kita selama ini yang menitikberatkan pencapaian pembangunan pada aspek fisik materiil semata, namun yang lebih penting adalah pembangunan non fisik yang melekat pada diri manusia itu sendiri. Kita tidak katakan bahwa pembangunan fisik itu tidak penting, akan tetapi perlu adanya penyeimbangan dari aspek sumber daya manusianya.
Tentu kita sering mendengar istilah ‘masyarakat madani’, yang biasa digambarkan sebagai sebuah masyarakat ideal yang mapan di segala segi. Namun tahukah kita dari mana istilah kata madani ini diperoleh? Kata ini diambil dari kata Madinah, yaitu kota dimana Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- membangun peradaban baru di tengah masyarakat yang carut marut dalam suasana jahiliyyah. Peradaban baru itu bernama Islam, agama yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- telah merubah masyarakat yang serba terpuruk dan terbelakang menjadi masyarakat yang gilang gemilang. Kesejahteraan hampir merata. Hukum ditegakkan. Keadilan bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Yang kuat membantu yang lemah. Si kaya membantu si miskin. Kestabilan pemerintahan. Keamanan yang bisa dirasakan setiap orang. Kesyirikan dihancurkan, tauhid ditegakkan, kalimat-kalimat Alloh ditinggikan. Sungguh kota Madinah kala itu mengalami masa gilang gemilang dalam tataran peradaban manusia. Dengan apa mereka jaya? Apakah dengan pembangunan infrastruktur semata? Tentu saja tidak, karena mereka jaya dengan Al-Islam. Islam yang merupakan kunci kejayaan mereka. Mereka benar-benar berusaha membumikan Islam dalam jiwa-jiwa mereka. Kejayaan ini bisa kita baca dari buku-buku literatur Islam yang banyak terdapat di perpustakaan-perpustakaan kaum muslimin.

Inilah yang perlu menjadi catatan dan renungan kita bersama agar kita tidak terjebak pada pemikiran yang dangkal bahwa keberhasilan pembangunan semata-mata diukur dari aspek fisik karena yang lebih sulit dari itu adalah pembangunan aspek non fisik yang ada pada diri manusianya. Manusia yang tidak terbina dan terdidik segi mental dan spiritualnya justru akan menjadi beban dan hambatan bagi pembangunan itu sendiri. Contoh ekstrimnya, jika kita punya dana 2 Milyar untuk membangun masjid, dalam waktu kurang dari 1 tahun masjid itu bisa berdiri. Namun, seumpama kita punya dana semisal itu untuk mengajak masyarakat memakmurkan masjid dengan menegakkan jamaah sholat dengan konsisten dan istiqomah dengan kesadaran pribadinya, apakah bisa terlaksana dalam waktu 1 tahun? Tentu tidak! Bahkan kita butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadarkan masyarakat tentang hakekat sholat dan kewajibannya. Membangun manusia tidaklah semudah membangun bangunan fisik. Jika kita tidak memulai membangun manusianya, justru manusia itulah nantinya yang akan jadi penghambat pembangunan.
Allohu a’lam.

Sekapur Sirih Dari Admin


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullohi wa barakatuh…

Sahabat Netter Mintobasuki yang saya cintai,
Terhitung sejak Februari 2010, Blog Mintobasuki Gabus Pati sudah menapaki tahun ke-5 eksis di dunia maya. Blog kecil ini awalnya saya rintis untuk menuliskan uneg-uneg saya tentang desa tercinta, terlebih saat saya jauh di negeri orang. Saya tidak punya banyak waktu untuk meng-update blog ini, sekedar memanfaatkan waktu luang di selal-sela kesibukan. Disamping itu, kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya selalu jauh dari desa Mintobasuki menjadikan kurangnya informasi untuk bahan tulisan di sini.

Blog ini murni inisiatif sendiri, saya kelola secara pribadi dengan bantuan beberapa teman netter Mintobasuki. Blog ini tidak ada kaitan apa pun dengan Pemerintahan desa Mintobasuki. Meski saat ini Mintobasuki telah memiliki Kepala Desa baru (Bp Santoso)tapi content blog tidaklah berpindah haluan dari sikap netralnya. Semua kami kelola secara independen tanpa intervensi dari pihak-pihak yang punya kepentingan-kepantingan tertentu di Mintobasuki.


Tulisan-tulisan yang terkait persoalan di desa Mintobasuki semaksimal mungkin kami sajikan secara objektif. Jika ada kritik, sanggahan maupun opini, semua itu tidak lepas dari fakta dan data akurat di lapangan yang kami dapatkan. Kami menyadari, informasi yang menyesatkan, tidak proporsional dan tidak profesional serta mengabaikan maslahat orang banyak sangatlah berbahaya dan rentan menimbulkan keresahan, bahkan konflik. Disini, yang menjadi prioritas bukan sekedar otentisitas berita, akan tetapi juga kajian dampak yang mungkin timbul jika informasi tersebut dikonsumsi publik. Pepatah Arab mengatakan “Likulli Maqoomin Maqool, wa likulli maqoolin maqoom” artinya setiap tempat ada pembicaraannya tersendiri, dan setiap pembicaraan ada tempatnya tersendiri. Tidak setiap berita yang kita dengar  mesti kita sampaikan. Atau orang Jawa mengatakan dalam menyampaikan sesuatu harus ’empan papan’, maksudnya harus tahu situasi dan kondisi. Bisa jadi berita yang valid, namun ketika kita sembarangan menyampaikan justru bisa menjadi bencana. Prinsip kehati-hatian ini pula yang menjadi pegangan kami.

Harapan ke depannya, blog ini bisa memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan desa Mintobasuki. Minimal bisa memberikan informasi-informasi positif bagi para warga Mintobasuki , baik yang berdomisili di dalam maupun di luar Mintobasuki. Kami juga membuka tangan lebar bagi siapa pun yang ingin berkontribusi dalam pengembangan blog ini. Akhir kata, kami haturkan terima kasih kepada setiap pembaca yang berkenan meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini.
Wassalamu ‘alaikum,
Admin

Sabtu, 14 Maret 2015

Oleh-Oleh Dari Negeri Ginseng


tumblr_lip503w2qg1qdhclco1_500Sangat disarankan, sebelum membaca tulisan ini untuk membaca dulu tulisan Jangan Silau Dengan Kehebatan Orang Kafir . Mohon dipahami dulu baik-baik baru membaca tulisan ini. Biar kita bisa mensyukuri negeri kita sendiri, negerinya kaum muslimin, Indonesia.
Beberapa bulan yang lalu kebetulan saya berkesempatan berkunjung ke Korea Selatan karena ada urusan pekerjaan dari perusahaan. Sekitar 6 hari lamanya, 14 – 19 April 2014. Sebenarnya, bukanlah kebanggaan bisa pergi ke negeri Gingseng itu, tapi paling tidak ada butiran-butiran mutiara di antara pekatnya debu yang sempat saya kumpulkan untuk dijadikan oleh-oleh yang bisa dibagi-bagikan buat saudara-saudaraku di sini. Sebenarnya ada beberapa saudara kita sekampung yang bekerja mencari nafkah di sana. Akan tetapi karena padatnya jadwal saat itu saya tidak sempat ke mana-mana. Hanya bertemu via chatting di dunia maya.
Pesawat Cathay Pacific yang kami tumpangi mendarat di bandara Incheon International Airport sekitar jam 20.00 malam waktu setempat, atau sekitar pukul 18.00 WIB. Letaknya di distrik Incheon yang berjarak sekitar 70 KM sebelah barat Seoul, ibu kota Korea Selatan. Umumnya, setiap penerbangan dari luar negeri termasuk Indonesia mendaratnya di bandara ini. Setelah melalui pemeriksaan di bagian keimigrasian kami pun meluncur ke Hotel yang berlokasi di Gimpo, dekat dengan Gimpo International Air Port.
Selama di Korea, ada beberapa hal yang menurutku menarik karena hal semacam ini jarang dijumpai di negeri sendiri. Namun sekali lagi, ini bukanlah rekomendasi dari saya atas negeri ini, karena Korea bukanlah negeri yang sempurna apalagi bukan negeri kaum muslimin. Bagaimana pun juga Indonesia Raya tetaplah negeri tercinta sepanjang masa.
1.  Tipe Pekerja Keras
Di bandara, di stasiun, di pemberhentian subway dan di jalan-jalan hampir tidak dijumpai orang yang berjalan santai. Semua seolah sedang dalam kesibukan sehingga jalan pun nampak terburu-buru. Jangan heran kalau kadang kita lihat mereka berjalan setengah berlari. Ini hal yang umum dijumpai di sini.
Seorang Korea, Manager sebuah perusahaan principal kami yang menemani kami selama di Korea hampir tidak pernah duduk-duduk santai. Sebuah laptop selalu menyala di depannya ketika kami bepergian bersama dalam sebuah kereta. Handphone-nya pun seolah berdering setiap waktu. Waktu senggangnya seolah tidak pernah terbuang percuma.
Kerja keras mereka tidaklah sia-sia. Saat ini Korea telah menjadi salah satu negara maju di kawasan Asia. Sektor industri merupakan sektor yang paling dominan di sini selain sektor pertanian yang juga dikembangkan dengan sistem modern. Korea merupakan kompetitor berat bagi Jepang dalam dunia industri otomotif, elektronik, dan mekanik. Pertumbuhan sektor industri inilah yang banyak menyerap tenaga kerja, bukan saja dari warga negaranya sendiri tapi juga warga negara asing, tak terkecuali Indonesia. Namun dalam perkembangan terakhir ada fenomena dimana generasi korea lebih suka bekerja di sektor perbankkan dan administrasi dibandingkan sektor industri.
2. Transportasi Umum jadi Favorit mereka
dsc_0755Beda dengan orang kita yang merasa bangga ketika bisa menaiki kendaraan pribadi yang menjadikan macet jalan-jalan umum, justru orang-orang di sini lebih suka memilih sarana transportasi umum. Transportasi umum seperti Bis dan kereta dibuat senyaman mungkin baik dari segi tempat maupun pelayanan agar para pengguna juga merasa nyaman. Sehingga tidak jarang ditemui para Big Bos yang juga memanfaatkan sarana transportasi umum.
Kereta adalah pilihan favorit mereka, selain on time juga murah, nyaman lagi. Perusahaan kereta api di sana ditangani oleh Korail, semacam KAI kalau di negara kita.  Di Korea ada kereta dalam kota dan kereta antar kota. Untuk transportasi dalam kota ada kereta bawah tanah (Subway) kalau di Jakarta ada Commuter Line. Di Korsel ada dua subway, di Seoul dan di Busan. Jika baru pertama kali naik memang agak membingungkan karena banyak jalur di sini.
Untuk kereta api antar kota dilayani oleh KTX (Korean Train eXpress) yang merupakan satu diantara kereta tercepat di dunia. Kebetulan saya berkesempatan untuk menjajal kedigdayaan kereta ini bersama rombongan. Perjalanan dari Seoul ke Mokpo yang berjarak sekitar 320 km hanya ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Tidak salah kalau KTX menyandang nama besar sebagai sarana transportasi yang tersohor, selain performanya, setiap pengguna juga merasa dilayani secara personal.
Angkutan darat lainnya adalah Bus. Ada intercity bus dan express bus. Untuk intercity bus ada dua pilihan, tipe reguler dan non stop. Tipe reguler, bus biasanya menaikkan dan menurunkan penumpang disetiap kota yang dilewati, mungkin seperti bus AKAP atau AKDP kalau di tempat kita. Cuma bedanya kalau di tempat kita kadang penumpang diperlakukan tidak manusiawi, bus sudah penuh sampai penumpang tidak kebagian tempat duduk masih dijejali penumpang lagi. Sedangkan kalau tipe non stop, bis hanya berhenti di kota yang dituju. Beda halnya dengan express bus yang langsung menuju kota tujuan dan tidak berhenti di setiap kota. Bedanya dengan intercity bus adalah pada jalur tol yang dilalui. Semua bis di sini adalah Patas, ber-AC dingin dan tidak ada penumpang yang berdiri.
3. Perhatian Mereka dalam Menjaga Kebugaran dan Kesehatan

Teman saya berkata :”Coba cari ada nggak orang korea yang gemuk?”. Saya baru sadar memang hampir tidak pernah saya ketemukan -sepanjang perjalananke sini- ada orang korea yang terlihat overweight. Tapi bukan berarti tidak ada, lho. Rata-rata berpostur ideal atau bahkan bisa dikata agak kurus, baik laki-laki maupun perempuannya. Orang Korea memang menaruh perhatian besar untuk masalah kesehatan dan perawatan fisik. Terlebih bagi kaum hawa, tampil cantik dan menarik adalah sudah menjadi kebutuhan primer mereka. So, kalau jalan-jalan ke sana sering-seringlah melihat jempol kaki agar mata tidak tersandung-sandung.
Pernah suatu ketika saya harus berlari-lari kecil dari stasiun ke tempat parkir yang jaraknya cukup jauh dengan seorang korea. Sebenarnya bukan sengaja beradu lari tapi karena suatu kami harus cepat-cepat ke parkiran. Waktu itu saya merasa mampu untuk mengimbangi orang ini. Sampai di lokasi nafasku terengah-engah sedangkan si Korea ini masih nampak biasa-biasa saja. Aku sempat diledeki. Di sampaikan kalau dia tiap hari menyempatkan olah raga dan kegemarannya adalah renang. Bos dia pun menganjurkanku untuk menjaga fisik dengan lari karena lari bisa menguatkan kaki dan menyehatkan jantung, begitu katanya.
Untuk urusan makanan mereka pun cukup ketat. Mereka menghindari makanan yang banyak mengandung kolesterol, seperti makanan-makanan yang digoreng. Padahal di sini berjibun makanan yang dimasak dengan minyak goreng berkolesterol. Kalau mau menggoreng pun mereka tidak menggunakan sembarang minyak goreng tapi dengan minyak zaitun yang di sini harganya relatif mahal. Kalau kita jualan nasi goreng atau pisang goreng dan sebangsanya di Korea mungkin kurang laku kali ya…. Saya pernah bertanya ke teman kenapa bau dapur orang Korea selalu aromanya khas. Dan kalau menurut hidung saya yang dari Indo justru kurang sedap dan bikin hilang selera makan. Ternyata mereka memang biasa memasak dengan bumbu pasta fermentasi kedelai, juga ada bawang putih, kecap, jahe. Untuk konsumsi gula dan garam pun mereka batasi, beda dengan kita-kita, kan? Intinya, mereka sangat perhatian dengan apa yang mereka konsumsi karena tahu mencegah itu lebih baik dari pada mengobati.
Bagaimana dengan perokok? Sepanjang yang saya lihat jarang ada orang yang merokok di tempat-tempat umum layaknya di negeri kita yang merupakan surga firdaus jannatin naim-nya para perokok.
Singkatnya, orang Korea punya budaya hidup sehat yang dimulai dari olah fisik, perawatan badan sampai dalam urusan makan dan minum. Sehingga tidak heran meski di usia yang cukup lanjut mereka tetap mampu beraktifitas dengan prima dan secara fisik lebih muda dari usianya. Tapi, nanti saya akan cerita kalau orang korea juga punya kebiasaan jorok. Ya, nanti…
4. Tidak di jumpai Kemacetan di Jalan Raya
Ini yang terkadang membuat saya mikir. Meski Seoul bisa dibilang kota Industri dan perkantoran tapi jarang dijumpai kemacetan panjang layaknya Jakarta. Arus lalu lintas lancar-lancar saja, mungkin malah bisa dibilang cukup lengang kalau dibandingkan Jakarta. Kendaraan pribadi di sana umumnya mobil, jarang bahkan tidak pernah saya jumpai sepeda motor berlalu lalang di jalan raya. Andai ada hanya motor-motor ber cc besar dan itu pun -kata teman Korea ini- untuk antar pesanan dari toko makanan atau yang semisalnya yang melayani jasa antar jemput. Mungkin karena kondisi suhu udaranya yang dingin yang menjadikan kendaraan roda dua tidak banyak digunakan di sini selain karena alasan keselamatan.
5. Kedisiplinan
Selama di Korea kami menginap di Lotte Hotel dekat dengan Gimpo Air Port. Suatu ketika telephon di kamar hotel berdering mengingatkan kami bahwa ada tamu yang sudah menunggu di bawah. Kami memang janji jam 7 pagi di hari itu, tapi hawa dingin membuat kami agak malas keluar pagi.  Maklumlah, kami orang Indonesia yang kalau janji jam 7 paling cepat sampai jam 8. Kedisiplinan mereka yang membuat kami harus bisa menyesuaikan diri.
Suatu ketika kami buru-buru untuk menuju suatu tempat yang letaknya di seberang jalan. Perlu di ketahui, di tempat-tempat tertentu bagi penyeberang jalan ada tempat khusus -sebagaimana di Indo- seperti Zebra Cross dan dilengkapi traffic Light. Ketika lampu menyala merah, tidak ada penyeberang jalan yang nyelonong meski jalanan saat itu lagi sepi dan nyaris tidak ada mobil yang lewat. Bagaimana dengan kita? Andai kita mau langsung nyebrang juga tidak masalah, tapi orang-orang disini disiplin mematuhi aturan yang telah mereka buat.
 6. Infrastruktur
Infrastruktur yang baik akan mempercepat pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Orang Korea paham akan hal ini. Sarana-sarana transportasi dan komunikasi selalu dikembangkan. Korea memiliki Incheon Bridge yang merupakan jembatan terpanjang di dunia yang menghubungkan Incheon International Air Port dan Songdo. Dari Songdo, jembatan sepanjang 12.5 km dan lebar 33.4 m ini dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15 menit. Selain jembatan yang menghubungkan Incheon Bridge, ada juga jembatan Yeongjong Grand Bridge yang menghubungkan daerah pantai Incheon dengan pulau Yeongjong.
Di jalan tol, mobil tidak usah berhenti untuk ambil tiket atau membayar tol, akan tetapi setiap pintu tol dilengkapi sistem sensor sehingga mempercepat waktu dan memangkas antrean kendaraan. Demikian pula di perempatan lampu merah tidak ada pos polisi yang berdiri akan tetapi setiap lampu merah dilengkapi dengan sesor yang akan mendeteksi kendaraan yang melanggar, dan tentu saja akan muncul tagihan denda bagi si pelanggar.
Suatu ketika kami melakukan perjalanan dari Seoul ke Mokpo dengan kereta cepat KTX. Hal yang menarik adalah adanya jalur kereta yang menembus gunung maupun perbukitan. Terowongan-terowongan yang dilalui kereta cukup panjang dan tentunya semua itu tidak lepas dari perencanaan dan desain yang matang. Dan selama perjalanan beberapa kali kereta yang kami tumpangi melalui terowongan-terowongan panjang tersebut. Ini tentu lebih efisien jika dibandingkan harus membuat track yang mengitari bukit.
Untuk menuju Seoul dari Lotte Hotel di Gimpo kami cukup turun lift hotel. Hotel tempat kami menginap di desain sedemikian rupa sehingga terintegrasi dengan Mall (bawah tanah) dan Subway (semacam commuter line bawah tanah). Jadi untuk menuju stasiun terdekat kami cukup turun ke bawah, menuju tempat pengambilan tiket dan menunggu kereta menuju lokasi yang akan dituju. Banyak jalur Subway di sini jadi beberapa kali kami harus tanya-tanya ke petugas. Benar-benar perencanaan kota yang matang.
7. Kota yang Bersih
Waktu luang yang ada kami gunakan untuk berjalan-jalan di pasar tradisional Korea, Namdaemon Market. Kalau di Jakarta mungkin seperti pasar Tanah Abang, atau Johar di Semarang atau Klewer kalau di Solo. Namdaemon adalah pusat pasar wisata di Korea yang menyediakan berbagai souvenir dan fashion dengan harga miring. Menariknya, meski pasar tradisional akan tetapi masyarakat sini sangat menjaga kebersihan. Tidak ada sampah yang tercecer apalagi yang menumpuk di tepi jalan. Air yang menggenang pun tidak dijumpai. Bersih dan kering. Bagaimana dengan pasar tradisional di tempat kita?
Selama menyusuri jalan-jalan di Seoul aku memang sengaja mau mengecek apakah benar kata orang kalau negara maju itu selalu menjaga kebersihan. Dan memang, selama saya di sana, ada benarnya pernyataan tersebut. Aku belum pernah melihat tumpukan sampah di tepi-tepi jalan, sudut-sudut kota yang kotor, coretan-coretan di dinding, atau tempat-tempat yang jorok tak terawat. Seolah semua lekuk kota telah mendapat sentuhan tangan. Semua nampak tertata, teratur dan terencana dengan baik. Bahkan, dinas kebersihan kota telah menyediakan mobil yang bertugas mengepel jalan yang berdebu.
2007-05 Korea07Paradigma Clean and Dry menjadi sesuatu yang membudaya di Korea. Ini yang menyusahkan kami kalau lagi masuk toilet. Toilet yang ada rata-rata tidak menyediakan fasilitas untuk cebok sehabis kencing karena umunya mereka cebok dengan tisu atau kalau kencing mungkin malah tidak cebok sama sekali. Toilet pun dilengkapi dengan perangkat digital. Kadang tidak perlu pencet tombol, begitu anda mundur air akan keluar sendiri. Di Indonesia pun sebenarnya sudah banyak seperti ini. Intinya, mereka benar-benar menjaga kondisi agar tetap clean and dry, selain karena faktor penghematan penggunaan air. Memang, lantai kamar mandi akan selalu bersih dan kering, tapi dari tinjauan syariat justru jorok bagi si penggunanya karena tidak bisa bersuci pakai air. Nah, ini yang saya bilang tadi orang Korea kadang juga punya kebiasaan jorok. Untuk mensiasati hal ini ya basahi aja tissunya pakai wastafel buat bersuci. Tapi yang lebih parah lagi kalau mau wudhu’ dan kebetulan tidak lagi di Hotel. Terpaksa wudhu di wastafel dan cuci kaki di wastafel.
8. Bagaimana Kaum Muslimin di sana?
10013645_622038427888945_7400545738743745495_n
Kaum Muslimin Melakukan Sholat Jumat
Di Korea kaum muslimin adalah minoritas. Rata-rata kaum muslimin yang ada adalah pendatang meski banyak juga dari penduduk lokal. Jumlahnya hanya 0,1% dari total penduduk 50 juta jiwa. Padi hari jum’at saya dan rombongan menyempatkan diri menghadiri sholat Jum’at di Seoul Central Mosque yang berada di Itaewon, Seoul. Kaum muslimin dari berbagai etnis ada di sana. Dari eropa yang berkulit bule sampai Muslim Afrika yang berkulit hitam tumpah ruah di sana. Ada beberapa warga negara Indonesia yang kami jumpai. INi adalah satu-satunya masjid di Seoul yang dibangun oleh pemerintah. Letaknya di perbukitan. Di sekitar masjid ini ada restoran-restoran yang menjual makanan halal yang dikelola oleh orang muslim.
Yang membuat saya terkesan adalah imam dan khotib di sini telah mengamalkan sunnah dalam khotbah dan dalam pelaksanaan sholatnya. Adzan cuma sekali. Tidak ada salam-salaman setelah sholat. Dan tidak ada dzikir jamaah. Khotbah pertama disampaikan dalam bahasa Inggris, sedangkan khotbah kedua dalam bahasa Korea.
Nah, ini dulu oleh-olehnya. Tapi perlu diingat, tulisan ini bukan pujian untuk Korea, hanya gambaran sepintas dari negeri ginseng itu. Berikut ini saya sampaikan catatan hitamnya juga:
Hal yang perlu diketahui juga adalah bahwa negeri ini bukanlah negara mayoritas muslim jadi akan sangat langka ditemui simbol-simbol Islam di sini. Mayoritas keyakinan penduduk sini adalah Atheis 45%,  agama Budha (23%), Kristen (18%) dan Katolik (10%) secara berturut-turut. Jadi jangan berharap anda bisa ketemu tempat sholat dengan mudah sebagaimana di Indonesia. Orang sini juga biasa mengkonsumsi daging babi dengan berbagai turunannya, jadi berhati-hatilah ketika membeli makanan di restoran-restoran dan supr market. Paling aman adalah makan dengan sea food atau sayur saja.
Meski tadi saya sampaikan mereka orang yang perduli akan kesehatan tapi di lain sisi mereka juga terbiasa merusak diri mereka sendiri dengan sesuatu yang membahayakan kesehatan. Misalnya saja, selain mengkonsumsi daging babi, mereka juga mengkonsumsi minuman-minuman keras dan semacamnya yang dalam syariat kita jelas terlarang.
Free Sex adalah hal yang lumrah di sini. Pergaulan bebas muda-mudi adalah hal yang biasa. Bahkan hidup serumah tanpa ikatan pernikahan adalah kasus yang biasa. Korea juga memberikan kontribusi besar bagi maraknya industri pornografi lewat content film-film dewasa, selain Jepang dan China.
Demikian sepintas pengalaman yang menurut saya cukup unik dari negeri Gingseng ini. Mungkin rekan-rekan yang telah lama di sini akan lebih paham akan kondisi yang sebenarnya. Terima kasih telah meluangkan waktu membaca tulisan ini.

Minggu, 01 Maret 2015

Di Tepian Silugonggo


Untitled
Sungai Silugonggo dilihat dari google Maps. Lokasi di RW 2 Desa Mintobasuki Gabus-Pati.
Berikut ini foto-foto sungai Silugonggo di akhir Februari 2015. Debit air masih normal. Di musim penghujan air sungai terlihat keruh kecoklatan disebabkan lumpur yang ikut hanyut karena derasnya arus air.  Kondisi ini kurang menguntungkan para nelayan karena aktifitasnya terganggu. Para nelayan membutuhkan arus sungai yang tenang untuk pasang jaring perangkap ikan. Namun untuk para pemancing kondisi ini tidak terlalu bermasalah.
Dibeberapa tempat sudah nampak pendangkalan yang parah. Pendangkalan ini disebabkan karena banjir dari hulu yang membawa lumpur dengan volume yang cukup besar. Daerah sekitar DAS juga rentan longsor pasca pengerukan sekitar 2 tahun yang lalu dan belum ada tanaman pelindung yang bisa mengurangi pengikisan tepian sungai dari derasnya arus air. Belum lagi ditambah sampah-sampah dan pepohonan yang ikut tumbang dan terseret arus akhirnya mengendap menambah proses pendangkalan.
wpid-2015222100319.jpg
Kondisi seperti ini sangat rentan terjadi banjir seperti tahun yang lalu jika curah hujan cukup tinggi. Untunglah tahun ini curah hujan di Pati tidak terlalu tinggi sehingga tidak perlu khawatir dengan banjir.
wpid-2015222100332.jpg  wpid-2015222100324.jpg

Senin, 19 Januari 2015

Ing Ngarso Sung Tulodho


leaderMenjadi seorang pemimpin adalah sebuah amanat yang suatu saat nanti akan dimintakan pertanggungjawabannya di hadapan Alloh. Banyak orang yang tidak sadar, bahkan ketika dia menduduki suatu jabatan atau kepemimpinan dia tidak menunaikan amanahnya sebagai seorang pemimpin. Menyalahgunakan posisinya untuk melanggengkan ambisinya, meraih popularitas, mengeruk keuntungan dan kekayaan, berbuat sewenang-wenang terhadap bawahannya,  otoriter dan lain sebagainya. Bagi orang model semacam ini, kepemimpinan baginya adalah sebuah kenikmatan yang harus dipertahankan dan tidak boleh lepas ke tangan orang lain bahkan kalau perlu harus diwariskan ke anak cucu.
Di lain sisi ada juga orang yang melihat kepemimpinan adalah sebuah amanah dan tanggungjawab yang mesti ia jaga dan diberikan hak-hak amanah tersebut. Dan dia yakin, suatu saat nanti di hari pembalasan ia akan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang ia pimpin. Maka kita lihat model pemimpin kedua ini dia akan berhati-hati dalam mengemban amanah kepemimpinan. Bersikap adil, welas asih kepada bawahannya, bertanggung jawab, amanah, dan dia bisa menjadi guru dan contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Kepemimpinan dan Keteladanan
Pemimpin yang baik akan memberi keteladanan yang baik pula bagi bawahannya. Sebaik baik pemimpin sekaligus teladan adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Kita lihat bagaimana gaya kepemimpinan beliau yang merupakan implementasi dari ayat-ayat Al Qur’an menjadikan beliau begitu dicintai umatnya, disegani kawan maupun lawan, dihormati dari kalangan budak sampai raja-raja, dan segala gerak-gerik beliau dijadikan contoh dan teladan bagi umatnya sampai hari kiamat. Berapa banyak persoalan komplek ditengah-tengah umat yang mampu beliau selesaikan dengan manisnya karena kearifan beliau. Memang itu adalah sebuah kenikmatan yang diberikan Alloh kepada beliau -shollallohu ‘alaihi wa sallam- selaku utusanNya dan tidak diberikan kepada seorang pun setelah beliau, akan tetapi bukan berarti kita tidak bisa mencontoh beliau, bahkan kita wajib mencontoh dan mengikuti beliau.
Seorang pemimpin yang sinkron antara ucapan dan perbuatannya akan menjadikannya dihormati dan disegani bawahannya, menjadikan setiap ucapannya berbobot karena keluar dari dalam hatinya. Dia tidak cuma memerintahkan ini dan itu akan tetapi dia juga yang pertama kali mengerjakannya. Pemimpin semacam ini menjadikan setiap ucapannya berwibawa, apa yang nampak sama dengan yang tidak nampak, apa yang ada di dalam sama dengan yang diluar. Tidak hipokrit, tidak pula munafik.
Keteladanan seorang pemimpin adalah elemen penting bagi terciptanya hubungan yang harmonis antara pemimpin dan yang dipimpin. Keharmonisan ini merupakan modal awal yang baik untuk dijadikan pijakan dalam membangun kehidupan bermasyarakat pada fase-fase berikutnya.
Betapa saat ini kita masyarakat sedang mengalami krisis keteladanan. Mereka membutuhkan figur yang memang layak untuk dijadikan panutan. Di tengah masyarakat, pemimpin adalah figur yang selalu jadi sorotan orang banyak. Baik buruknya akhlak dan perilakunya akan selalu jadi catatan tersendiri. Perkataannya di dengar, perintahnya ditaati, dan tingkah lakunya diamati. Di sinilah peran strategis seorang pemimpin dalam memberikan keteladanan.
Keteladanan yang baik akan menjadikan baik pula bagi orang yang dipimpinnya. Demikian pula, buruknya keteladanan menjadikan buruk pula bagi orang yang dipimpinnya.

Kamis, 05 Juli 2012

Mudik, Tradisi atau kebiasaan

Pertengahan bulan Sya’ban, sebentar lagi Ramadhan. Seperti sudah menjadi tradisi bagi perantau untuk mudik ke kampung halaman. Bersua dengan keluarga, sanak famili dan handai taulan tercinta. Bercerita tentang hari-hari panjang di negeri perantauan. Melepas lelah setelah sekian lama bergelut dengan kesibukan-kesibukan. Dan, tentunya menikmati syahdunya beribadah dan bertaqorrub di bulan suci yang selalu di nanti.
Mudik, kebutuhan atau sekedar tradisi? Setidaknya ada 3 alasan kenapa perantau menyempatkan untuk mudik ke kampung halamannya.
PERTAMA, Bulan Ramadhan bulan ibadah.
Sebuah kenikmatan bagi seorang muslim yang dipanjangkan umurnya sehingga bisa menjumpai Ramadhan demi Ramadhan. Bulan penuh berkah. Bulan ibadah. Sangat sayang melewatkan momen yang demikian istimewa ini. Berpuasa di siang harinya, qiyamul lail (sholat malam/sholat tarawih) di malam harinya. Memperbanyak tilawah al-Quran dan dzikir. Berharap ampunan agar tatkala berlalu Ramadhan kita bersih dari dosa-dosa seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, seperti kertas putih tanpa coretan.
Meninggalkan sejenak kesibukan dunia untuk mendekatkan diri pada Alloh dengan mengkhususkan bulan penuh kemuliaan ini.
KEDUA, Silaturrahim, melepas kerinduan dengan keluarga tercinta.
Inilah yang biasanya menjadi tujuan utama. Sekian lama berpisah. Dering telepon tidaklah cukup untuk mengobati kerinduan hati yang terpisah oleh jauhnya jarak. Perjumpaan adalah sesuatu yang istimewa. Berjumpa, bercengkerama, dan bercerita. Melihat tingkah jenaka si kecil. Menatap binar-binar bahagia di wajah orang-orang yang sekian lama di tinggalkan.
Yah, yang bisa merasakan nikmat dan indahnya kebersamaan bersama keluarga adalah mereka yang pernah merasakan pahitnya berpisah keluarga.
KETIGA, Melepas lelah setelah sekian lama memeras tenaga di tanah perantauan.
Istirahat adalah sesuatu yang penting setelah sekian lama berkutat dengan kesibukan yang menjemukan. Dengan istirahat badan kembali segar, pikiran menjadi fresh, dan semangat kerja tumbuh lagi. Dengan demikian produktivitas bisa naik. Apalagi untuk pekerjaan-pekerjaan yang menguras tenaga, istirahat adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Jika sudah tiba waktunya kerja lagi badan lebih siap dan fit.
Oke, para netter tercinta, selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan. Bersua keluarga tercinta…

Senin, 30 April 2012

Taman Pendidikan al-Qur’an, Basis Tarbiyah Generasi Qur’ani

Taman Pendidikan al-Qur’an adalah sebuah media yang potensial untuk membentuk generasi-generasi Islami yang Qur’ani. Dari sinilah mestinya sejak dini ditanamkan pendidikan akhlak alkarimah (budi pekerti luhur) dan pemahaman dasar-dasar Islam yang benar serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pada suatu saat nanti akan lahirlah generasi-generasi shalih, berkepribadian mulia, dan berakhlak Islami sehingga terciptalah sebuah masyarakat madani, sebagaimana yang selalu kita cita-citakan. Ini bukanlah utopia belaka tapi sebuah harapan yang bisa menjadi nyata.
Perlu dipahami, tujuan utama belajar al-Qur’an bukanlah sekedar memperbagus bacaan, memperindah tajwid dan menyempurnakan makhraj, akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana setelah kita fasih membaca al-Qur’an kita pun mengerti makna-maknanya, memahami tafsir-tafsirnya untuk kemudibn kita bisa mentadaburinya. Dari sinilah akan tumbuh kecintaan di sanubari kita pada al-Qur’an. Dan, dari kecintaan akan lahirlah amaliah-amaliah yang berlandaskan ruh qur’ani. Jadi, sekali lagi, membaca al-Qur’an dengan kaidah-kaidah qira-at adalah sebuah kemestian, dan yang penting setelah itu adalah memahami dan menginterpretasikan ayat demi ayat dalam kehidupan nyata. Akan kurang bijaksana jika hanya fokus pada poin pertama (membaca dengan benar) dan mengesampingkan poin kedua (mengejawantahkan dalam kehidupan). Oleh karenanya, perlu ditanamkan juga dalam proses belajar di TPQ ini tentang syariat Islam, adab-adab, akhlak-akhlak dll. Tidak kalah penting dari itu, mengajari anak mendirikan sholat sejak dini, berpuasa di bulan Ramadhan, bersedekah, dan amalan-amalan yang diperintahkan syariat lainnya. Jangan sampai kita memiliki generasi yang hanya pandai membaca al-Qur’an tapi kosong dari amal-amal Islami.
Kita perlu bersyukur dengan antusiasme orang tua yang menginginkan putra putrinya bisa membaca al-Qur’an. Makin banyaknya santriwan dan santriwati yang belajar di TPQ Mintobasuki adalah buktinya. Ini adalah sebuah kesempatan emas yang tidak boleh kita sia-siakan begitu saja. Perlu ada manajemen yang sungguh-sungguh dan terencana.
Perlu ada visi dan misi yang jelas terkait proyek besar ini sehingga target-target yang akan dicapai menjadi jelas, tidak bias. Kita butuh tangan-tangan terampil dan punya kapabilitas mumpuni. Tidak kalah penting dari itu, perlu adanya komitmen bersama dari semua elemen masyarakat karena perbaikan suatu generasi tidak bisa dibebankan pada lembaga atau institusi tertentu. Tanpa dukungan bersama, mewujudkan generasi yang qur’ani hanya hayalan belaka.
Semoga harapan akan generasi qur”ani menjadi nyata.

Jumat, 27 April 2012

Pemuda Antara Asa dan Realita

Generasi muda adalah aset bagi sebuah komunitas. Mereka punya semangat dan motivasi. Mereka punya idealisme dan cita-cita. Jika dibina dengan baik, mereka akan menjadi mesin penggerak kemajuan yang luar biasa bagi sebuah komunitas masyarakat.
Generasi muda umumnya selalu dinamis dan memiliki mobilitas yang tinggi. Dinamis dalam artian selalu terbuka dengan tren-tren baru. Mereka tidak ‘mandek’ dalam mengikuti alur kemajuan. Rasa ingin tahu yang tinggi menjadikan seorang pemuda tidak takut untuk mengeksplorasi dan mencoba hal-hal baru. Mereka lebih mudah beradaptasi dengan kemajuan.
Generasi muda lebih berani menghadapi tantangan. Mereka memiliki obsesi besar dalam meraih meraih idealisme. Obsesi inilah yang menjadikannya tidak mudah putus asa. Mereka punya semangat untuk mewujudnya asa dan idealismenya. Demikianlah umumnya seorang pemuda.

Dengan karakter-karakter semacam itu, generasi muda sangat tepat diposisikan sebagai motor-motor penggerak kemajuan bagi sebuah masyarakat. Dalam sebuah misi pembangunan yang berkesinambungan kita membutuhkan agen-agen perubahan yang handal, selalu dinamis, memiliki etos yang tinggi, berani menghadapi berbagai perubahan yang cepat, tidak mudah kendor serta memiliki mobilitas. Jadi, mengesampingkan peran generasi muda dalam sebuah pembangunan adalah kekeliruan yang fatal.

Karena generasi muda adalah modal pembangunan, kita perlu punya sarana-sarana untuk ‘memelihara’ dan ‘mengembangkan’ potensi yang sangat besar ini. Harus ada wadah pembinaan untuk mereka. Ini mutlak diperlukan. Mengapa? Karena infiltrasi budaya-budaya negatif dari berbagai arah demikian gencarnya. Jika ancaman ini tidak disikapi dengan serius dampaknya sudah bisa dipastikan, kerusakan yang akan mengancam generasi kita. Dan pada gilirannya mereka justru akan menjadi generasi-generasi perusak pembangunan dan bukan generasi-generasi penerus pembangunan.

Lalu wadah-wadah apa yang kita butuhkan untuk membentengi mereka dari budaya-budaya negatif? Sebenarnya ini adalah PR kita bersama. Tanggung jawab pendidikan tidak hanya menjadi beban tenaga pendidik di sekolah-sekolah formal, tapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Kita membutuhkan kantung-kantung pembinaan spiritual keagamaan. Saat ini memang sudah ada tapi tidak efektif. Kita juga butuh wadah-wadah untuk kegiatan-kegiatan yang bernilai positif untuk penyaluran minat dan bakat, lebih bagus lagi bernilai ekonomis. Ini sebuah wacana yang untuk implementasinya membutuhkan perencanaan yang matang. Tapi saya yakin ini adalah seruatu yang mungkin untuk diwujudkan.

Kamis, 26 April 2012

Warga Mintobasuki di Perantauan

Minimnya lapangan kerja, rendahnya pendidikan dan kurangnya keahlian menjadikan warga Mintobasuki enggan untuk tetap tinggal di kampung halamannya. Bertani yang merupakan mata pencaharian utama warga nampaknya juga kurang menjanjikan untuk dijadikan tumpuan hidup sehari-hari. Banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau kerap menjadi penyebab gagal panen setiap tahunnya. Faktor-faktor itulah yang menjadi pendorong warga untuk mencari penghidupan yang lebih baik di tempat lain. Merantau menjadi pilihan terakhir.
Sumatra adalah pulau yang paling banyak dikunjungi perantau asal Mintobasuki. Mereka tersebar di beberapa wilayah, antara lain Lubuk Linggau, Lubuk Besar, Sarolangun, Bangko, Muara Bungo, Padang, Pekan Baru dan lain-lain.
Mayoritas mereka di perantauan bekerja sebagai buruh sadap karet. Karet memang menjadi komoditas primadona warga setempat selain kelapa sawit, kopi dan coklat. Para perantau ini bekerja di perkebunan milik warga pribumi dengan upah bagi hasil. Tiap daerah memiliki aturan yang berbeda dalam menentukan besarnya bagi hasil. Ada yang bagi dua (fifty-fifty antara pekerja dan pemilik), bagi 3(2 bagian pekerja,sisanya pemilik) atau bagi 5(2 pemilik dan 3 bagian pekerja). Tapi yang umum adalah bagi 3.


Sejak kapan warga Mintobasuki mulai merantau ke Sumatra sebagai buruh sadap karet belum diketahui secara pasti. Namun diperkirakan sejak sekitar 40 tahun yang lalu. Hal ini dapat diketahui dari pengakuan warga yang sudah bekerja di Sumatra sejak 1974, bahkan ada yang sebelum itu. Mereka tinggal di kamp-kamp yang telah disediakan oleh pemilik perkebunan. Di sini mereka membaur dengan para perantau dari daerah-daerah lain. Kesederhanaan, kebersamaan, gotong royong dan saling tolong menolong menjadi ciri khas para perantau ini.

Bagaimana dengan pendapatan warga? Tentunya sangat variatif, tergantung hasil kerja masing-masing. Ada sebagian perantau yang sukses bahkan memiliki perkebunan karet sendiri. Namun ada juga yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Prospek kedepan bagi para perantau ini cukup bagus dengan semakin luasnya pembukaan perkebunan karet baru baik oleh warga secara perseorangan maupun perusahaan. Artinya lapangan kerja tetap terbuka lebar bagi para perantau.

Sabtu, 21 Januari 2012

Program Persalinan Gratis dengan Jampersal

Jampersal (Jaminan Persalinan) adalah program pelayanan gratis dari pemerintah kepada ibu hamil, melahirkan dan nifas termasuk pelayanan KB. Program ini dicanangkan mulai tahun 2011 dan dananya diambilkan dari APBN.Program ini berlaku menyeluruh bagi peserta Jamkesmas maupun tidak. Cukup dengan menunjukkan KTP untuk bisa mendapatkan layanan ini.

Diharapkan program jampersal ini bisa menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang disebabkan oleh proses persalinan yang tidak ditangani dengan baik karena terkendala masalah finansial. Berdasarkan data yang ada, hampir 90% kematian ibu disebabkan oleh proses persalinan. Dengan Jampersal ini diharapkan bisa menjembatani masyarakat ekonomi lemah untuk tetap bisa mendapatkan pelayanan persalinan yang baik dan profesional tanpa perlu cemas memikirkan berapa pun besarnya biaya.
Peserta Jampersal bisa mendapatkan layanan ini di puskesmas/poliklinik, polindes (bidan desa) dan swasta.

Instansi-instansi tersebut bisa mengajukan klaim kepada pemerintah setelah proses pelayanan persalinan selesai. Klaim untuk kelahiran normal sebesar Rp 420.000 dan dinaikkan pada tahun 2012 ini menjadi Rp 550.000 sampai Rp 570.000 meliputi pemeriksaan selama kehamilan,persalinan dan nifas.
Jadi ibu yang melahirkan tidak perlua kuatir memikirkan biaya persalinan karena semuanya sudah di tanggung pemerintah.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)