*** SELAMAT DATANG *** Ini adalah blog pribadi yang dikelola secara independen oleh Netter desa Mintobasuki kec. Gabus kab. Pati. Blog Mintobasuki Gabus Pati bukanlah blog resmi pemerintahan desa Mintobasuki. Blog ini tidak ada hubungan dalam bentuk apa pun dengan organisasi, kelompok dan kepentingan tertentu di desa Mintobasuki. Artikel-artikel yang disajikan adalah tulisan lepas yang berisi uneg-uneg, ide, pemikiran, opini pribadi penulis dan pernik-pernik terkait desa Mintobasuki.

Area Persawahan di sebelah timur Desa Mintobasuki

Lahan pertanian yang cukup luas membentang di bagian timur desa. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi, jagung, kacang-kacangan dan beraneka ragam sayuran.

Kali Tambak untuk sarana irigasi pertanian

Sungai kecil yang membujur di sebelah timur desa yang berhulu di Sungai Silugonggo memiliki arti penting sebagai sarana irigasi.

Pesona desa Mintobasuki

Nuansa alam desa yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang indah menjadikan desa Mintobasuki kian anggun dan menyimpan pesona tersendiri.

Sektor pertanian yang perlu dikembangkan

Mintobasuki memiliki lahan pertanian sekitar 90 Hektar terdiri atas lahan basah dan kering. Oleh karenanya perlu ada upaya yang matang untuk mengembangkan sektor ini. Selain itu, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Mintobasuki sampai saat ini.

Sarana peribadahan yang cukup memadai

Desa Mintobasuki memiliki 5 Musholla dan 1 Masjid Agung Al-Amin yang saat ini dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana penunjang yang cukup memadai ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan warga dalam beribadah.

Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas warga

Sektor pertanian tetap menjadi mata pencaharian dan primadona bagi masyarakat desa Mintobasuki, meski dengan seiring bertambahnya waktu, profesi dan mata pencaharian warga kian heterogen.

Sektor Perikanan di Mintobasuki

Sungai Silugonggo yang bermuara ke laut utara ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Mintobasuki. Hasil tangkapan ikannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga yang berprofesi sebagai nelayan.

Tampilkan postingan dengan label Kependudukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kependudukan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2017

Banjir Mintobasuki 2017

Hujan deras beberapa hari terakhir mengakibatkan sungai Silugonggo tidak mampu menampung debit air sehingga meluap menggenangi areal dikanan kirinya. Desa Mintobasuki, terutama yang berada di sekitar DAS mengalami dampak yang cukup parah. Dua kawasan yang sudah menjadi langganan banjir yaitu Dukuh Kulonan (RW 2) dan Dukuh Loran (RW 01)sudah mulai terendam sejak hari Sabtu (4/2/2017) lalu. Banjir hampir merata menggenangi dua lokasi ini. Tidak hanya persawahan yang terkena dampaknya, namun juga ruas jalan dan perumahan penduduk juga terkena imbasnya.

Banjir mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi para petani. Tanaman padi yang harusnya sudah bisa dipanen bulan ini akhirnya terendam banjir. Namun sebagian warga tani sudah mulai panen sejak semingguan lalu sehingga tidak terlalu menderita kerugian. Sebagian warga juga sudah ada yang mulai membuat bedengan untuk penyemaian padi, namun akhirnya rusak karena banjir.

Banjir juga mengganggu transportasi warga yang akan keluar rumah. Di beberapa ruas jalan, ketinggian air mencapai lebih 60cm, misalnya di RT 01/02. Akibatnya transportasi pun terganggu. Kendaraan seperti motor atau mobil tidak bisa melewati daerah sini. Untuk mobilitas, warga lebih memilih jalan kaki atau menggunakan perahu. Sedangkan kendaraan biasanya dititipkan ke rumah warga yang cukup aman dari jangkauan banjir.

Banjir juga berdampak bagi kesehatan warga. Air banjir yang keruh mengakibatkan gangguan gatal-gatal terutama di kaki. Sebagian warga juga memanfaatkan air banjir untuk kebutuhan MCK padahal kalau ditilik dari segi kesehatan kurang layak karena banyaknya unsur-unsur pengotor yang turut terlarut dan terbawa banjir.

Berikut foto-foto daerah yang terimbas banjir di desa Mintobasuki.















Selasa, 24 Januari 2017

Penyaluran Bantuan PEDULI MINTOBASUKI Tahap Tiga

PEDULI MINTOBASUKI sebuah program Kegiatan Sosial yang digagas para Netizen desa Mintobasuki untuk memberikan kepedulian kepada warga kurang mampu telah menyalurkan bantuan tahap ke 3 pada 24 Januari 2017. Berikut salinan dari status di Grup Facebook "Mintobasuki Gabus Pati" yang ditulis koordinatornya.





Rekan-rekan Mintobasuki,

Alhamdulillah, kegiatan sosial yg kita gagas bersama via grup medsos yaitu PEDULI MINTOBASUKI sampai saat ini masih berjalan dengan dukungan dari rekan-rekan, baik dukungan materiil maupun moril. Kritik, saran, masukan dan pencerahan agar kegiatan ini bisa tetap eksis dan berjalan efektif sangat kami nantikan dari rekan-rekan semua.

Terhitung sejak Desember 2016 sampai Februari 2017 ini keseluruhan dana yang telah masuk sebanyak: Rp. 2.953.000 dan telah disalurkan Rp 1.353.000, dengan saldo Rp. 1.600.000. Dana yang ada rencananya akan kami salurkan akhir pekan ini.

Saat ini kami membutuhkan informasi dari rekan-rekan di sini jika ada tetangga atau pun famili yang sekiranya kurang mampu dan layak mendapatkan alokasi dana PEDULI MINTOBASUKI, mohon kiranya diinformasikan kepada kami. Data yang masuk akan diseleksi oleh Tim Peduli Mintobasuki terlebih dahulu untuk ditentukan kelayakannya.

Sekedar bahan referensi untuk menentukan warga mampu atau tidak mampu, berikut ini kami copy-kan "14 KRITERIA MISKIN MENURUT STANDAR BPS".

Demikian, dan terima kasih.
==============================

14 KRITERIA MISKIN MENURUT STANDAR BPS

1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang

2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan

3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.

4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.

5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.

6. Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan.

7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah

8. Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu.

9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.

10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari

11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik

12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan

13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD.

14. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga miskin.


========================================

Sahabat Mintobasuki,

Dari harta yang kita kumpulkan, usaha yang kita jalankan, rezeki yang kita dapatkan sesungguhnya ada hak-hak yang harus ditunaikan. Kepada kaum miskin yang kekurangan, orang lemah yang kelaparan, dan anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian tanpa kepedulian kita. Sisihkan sebagian harta yang kita miliki tuk membantu mereka. Sekecil apa pun kontribusi kita, akan sangat besar maknanya bagi mereka. Mari berbagi kebahagiaan, bersama kita peduli Mintobasuki.

Tim Peduli Mintobasuki adalah tim relawan desa Mintobasuki yang independen dan tidak berafiliasi ke pemerintahan desa Mintobasuki dengan misi kemanusian menampung dana dari donatur dan menyalurkannya kepada kaum dhu'afa, anak-anak yatim dan janda-janda miskin yang ada di wilayah desa Mintobasuki. Tim akan melakukan seleksi kepada calon penerima dana untuk memastikan bahwa dana yang kami salurkan tepat sasaran. Dana dialokasikan kepada pihak penerima dalam bentuk kebutuhan pokok agar lebih efektif dan sesuai tujuan.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi:

Supriyadi (Telp/WA: 085282793261) & Lasmin (Telp/WA: 085273553259)

Donasi dapat ditransfer ke: Bank BRI No Rek 593-5010-142 49533 a.n. MAGI (Mohon konfirmasi ke kami)

Untuk informasi kegiatan TPM silahkan bergabung di grup WA kami dengan mengklik tautan berikut:
https://chat.whatsapp.com/78uB51jxtsp5J6UkpP2Mhp

Foto-foto kegiatas PEDULI MINTOBASUKI





Rabu, 11 Januari 2017

Isu Rumah Karaoke Meresahkan Warga Desa Mintobasuki

Hadirnya tempat karaoke di desa Mintobasuki yang berlokasi di Timur Balai Desa Mintobasuki telah menimbulkan keresahan warga.  Warga menginginkan tempat tersebut ditutup karena dikhawatirkan memberikan pengaruh negatif warga dikemudian hari. Banyak obrolan-obrolan warga seputar kasus ini, dari obrolan ringan di warung makan sampai obrolan di dunia maya. Bapak Kepala Desa secara pribadi telah memberi nasehat kepada pemiliknya yaitu berinisial S untuk menutup saja tempat karaoke tersebut karena telah menimbulkan kasak-kusuk warga. Namun karena beliau mewakili pribadi, saran beliau pun diabaikan.

Pemilik rumah karaoke S sebelumnya telah membuat surat pernyataan bahwa ia akan menutup usahanya tersebut pertanggal 1 Januari 2017. Surat pernyataan bermaterai tersebut telah diterima desa untuk ditindaklanjuti. Namun sampai saat ini rumah karaoke tersebut masih beroperasi dengan mendatangkan pemandu karaoke.

Banyak warga yang merasa geram, namun mereka masih menahan diri. Salah satu obrolan panas di dunia maya, yaitu di grup facebook Pemuda Mintobasuki, yang sebelumnya dipantik dengan postingan sebuah akun anonim yang menyoal keberadaan rumah karaoke tersebut. Sontak postingan tersebut mendapat tanggapan beragam dari para member grup. Semuanya mengungkapkan kekesalannya dengan lokasi tersebut, namun belum ada usaha nyata sampai saat ini belum ada upaya tindak lanjut. Entah atas pertimbangan apa, akhirnya tread diskusi yang lebih dari 100 komentar tersebut dihapus.

Harapannya, ada langkah nyata antara warga dan perangkat desa untuk mengambil tindakan konkrit untuk isu ini karena telah membuat keresahan warga desa Mintobasuki.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Musim Hujan Datang Awal

Beberapa minggu belakangan ini sudah sering turun hujan. Bahkan terkadang hampir seharian, dari pagi sampai petang. Musim hujan tahun ini datang lebih awal, beda dengan musim hujan tahun kemarin yang agak mundur menurut perhitungan.

Bisa dikatakan tahun ini musim kemarau berlangsung singkat. Dibeberapa daerah lain justru mengalami musim kemarau basah, kemarau dengan intensitas hujan yang masih sering. Bahkan di beberapa daerah mengalami banjir, seperti Jakarta.

Ini adalah moment yang tepat bagi para petani untuk menggarap lahan mereka. Di Dukuh Kulonan misalnya hampir satu tahun ini area persawahan tidak pernah absen dari ditanami padi. Ini merupakan berkah tersendiri, terlebih saat ini harga padi yang cukup bagus dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Namun ada hal lain yang perlu diwaspadai dengan datangnya musim penghujan kali ini. Banjir menjadi bencana yang tetap menghantui warga. Demikian pula perlu adanya kewaspadaan terhadap nyamuk demam berdarah yang biasa menyerang di musim-musim penghujan seperti saat ini.


Jumat, 23 September 2016

Mewujudkan Suasana Kebersamaan

Seorang teman yang dulu sempat aktif di berbagai kegiatan kepemudaan desa bercerita kepada saya bahwa ternyata tidak mudah 'nggendel' (menyatukan) para pemuda untuk diajak mengembangkan potensi kepemudaan di desa. Saat ini teman saya yang tadinya sampai berdarah-darah ikut merintis kegiatan kepemudaan di desa akhirnya mundur.

Untuk menjadi perintis bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak tantangan dan rintangan yang mesti ditembus. Umumnya orang melihat hasil dari sebuah kerja, bukan prosesnya. Orang akan tertarik jika ada buah dari kegiatan yang dijalankan, dalam hal ini aktivitas kepemudaan desa. Dan daya tarik yang paling kuat adalah segi materi. Jadi aktivitas apa pun yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah dalam hal materi pasti tidak akan sepi peminat. Sebaliknya, aktivitas yang sifatnya voluntary (sukarela) tidak banyak pengunjungnya. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki motivasi dan jiwa pengabdian yang kuat saja yang bakal tertarik.

Selain faktor di atas, penyebab sepinya peminat kegiatan kepemudaan desa adalah adanya tingkat pendidikan pemuda desa yang berbeda-beda, tingkat pergaulan yang berbeda-beda, dan kondisi ekonomi yang berbeda-beda sehingga melahirkan kepentingan yang berbeda-beda pula. Orang susah diajak kerjasama biasanya karena faktor latar belakang sosial dan ekonomi ini. Terlebih jika sudah harus memikul beban keluarga dan pekerjaan, umumnya orang akan berfikir nafsi-nafsi.

Tapi masalah diatas bisa diatasi dengan melibatkan hanya orang-orang yang berkompeten saja. Motor penggerak tidak perlu banyak-banyak, yang penting kuat, militan, dan mau kerja keras. Sedangkan yang lainnya cukup dijadikan penggembira dan pelengkap saja.

Faktor lainnya, banyak teman-teman di sini yang setelah lulus kuliah atau sekolah cari pekerjaan ditempat lain, alias merantau. Akibatnya keanggotaan organisasi kepemudaan pun hilir mudik dan tambal sulam. Tidak ada member tetap, sehingga tidak ada visi misi dan agenda yang tetap. Ini pun sebenarnya masalah, tapi masalah ini bisa dicarikan solusinya dengan aktif melakukan regenerasi. Sehingga ketika terhadi kekosongan, cepat-cepat ada yang mengisi.

Faktor lain, adanya faktor politik yang berkembang di desa yang berpotensi mengkotak-kotakkan warga. Contohnya saja adanya pilkades, yang hawa 'hangat'nya masih terasa sampai sekarang. Ini bisa jadi faktor penghambat karena memang isu semacam ini lazim terjadi di masyarakat dan orang akan sulit sembuh dari luka-luka politik. Pilkades dilihat sebagai peperangan yang kalah merasa terposisikan sebagai golongan masyarakat kelas dua. Sehingga mereka sulit 'digendel' sebelum api yang masih tersimpan di dada padam.

Paling tidak inilah faktor-faktor yang menyebabkan kegiatan kepemudaan yang dirintis tiba-tiba mati suri dan sulit bangkit lagi.

Kamis, 07 April 2016

Petaniku Sayang, Petaniku Malang

Pertanian merupakan sektor terpenting bagi penyediaan kebutuhan pangan masyarakat. Bisa dibayangkan jika sektor ini bermasalah tentu akan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan manusia berupa kelangkaan pangan yang akan mengancam kesejahteraan hidup. Kebutuhan pengan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang tidak mungkin ditunda. Namun sayangnya sektor ini seolah menjadi 'anak tiri' dalam setiap kebijakan pemerintah. Banyak kebijakan untuk peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani namun sampai sekarang masih bisa dibilang jauh panggang dari pada api.

Diantara tujuan kebijakan pemerintah di sektor pertanian adalah untuk meningkatkan pendapatan petani yang akan berimbas pada kesejahteraan petani secara khusus dan masyarakat secara umum. Untuk mencapai tujuan ini pemerintah telah menyusun serangkain program pendukungnya untuk diaplikasikan di lapangan. Mulai dari mengatur kebijakan harga, kebijakan perdagangan, kebijakan subsidi, kebijakan struktural, kebijakan pengaturan, kebijakan fasilitas, dan kebijakan intervensi.

Namun pada prakteknya banyak permasalahan yang timbul dilapangan terkait pelaksanaannya. Misalnya kebijakan subsidi untuk jenis pupuk tertentu yang memang dibutuhkan petani dengan tujuan menekan biaya produksi. Subsidi memang diberikan namun harga pupuk masih bisa dibilang relatif cukup tinggi, selain itu setiap tiba musim tanam hampir bisa dipastikan terjadi kelangkaan pupuk. Entah karena kapasitas produksi dan bahan baku yang yang kurang mencukupi atau karena faktor distribusi yang terhambat.

Kebijakan struktural misalnya dalam penyediaan tenaga penyuluh pertanian juga dirasa kurang memadai untuk bisa memberikan pendampingan bagi para petani untuk meningkatkan produktivitas mereka. Demikian pula perbaikan sarana pertanian dan penyedian tehnologi pertanian juga belum bisa banyak diharapkan dengan bukti masih banyaknya masyarakat kita yang masih menggunakan cara bertani konvensional dengan sistem tadah hujan, demikian pula belum banyak yang tahu dan menerapkan teknik-teknik bertani yang lebih modern. 

Disamping itu banyaknya permasalahan yang dihadapi petani lainnya semisal kian meningkatnya varietas hama sedangkan dan di sisi lain melambungnya harga obat-obatan pertanian yang nyaris tak terjangkau turut menjadi simalakama. Dan masih segudang permasalahan-permasalahan lain. Perlu adanya keseriusan dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut jika tidak ingin kesejahteraan petani kian terpuruk.

 Pertanian merupakan sektor yang menjadi tumpuan hidup bagi jutaan warga, jadi kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pekerjanya semestinya juga perlu mendapat perhatian dan tdak bisa dipandang sebelah mata.


Rabu, 29 April 2015

Hari ini Pelantikan Kepala Desa Mintobasuki Terpilih


11151017_1017858574915692_3123457930531467124_nHari ini Kepala Desa Mintobasuki terpilih – Bapak Santoso – resmi di lantik. Pelantikan ini bersamaan dengan pelantikan 51 Kades terpilih dari 4 kecamatan, yaitu Kayen, Gabus, Tambakromo dan  Sukolilo. Upacara pelantikan yang dilaksanakan di kantor Kecamatan Kayen pagi tadi berjalan dengan tertib dan lancar. Pemerintahan Kabupaten Pati memang telah menjadwalkan pelantikan secara serentak pada tanggal 28 dan 29 April di seluruh Kabupaten Pati. Pelantikan dilakukan di 4 tempat terpisah sesuai kedekatan wilayah masing-masing kecamatan. Tanggal 28 April kemarin dilakukan pelantikan di pendopo Kemiri dan Kantor kecamatan Tayu. Sedangkan hari ini 29 April dilakukan pelantikan di Kantor Kecamatan Kayen dan Jakenan. Total seluruh kepala desa terpilih yang dilantik sebanyak 219 orang. Pelantikan dilakukan langsung oleh Bapak Bupati Pati, Haryanto, SH, MM dan wakilnya  H Budiyono.



Pelantikan kali ini juga dihadiri oleh Camat masing-masing wilayah, Wakapolres Pati, Kapolsek masing-masing kecamatan , Danramil, SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Pati, BPD, PLT dan ketua panitia Pilkades. Acara dimulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Susunan acaranya dimulai dengan pembukaan , dilanjutkan pengambilan sumpah jabatan Kades terpilih, kemudian pendandatangan dan penyerahan SK , diteruskan sambutan Bupati Pati-Bp Haryanto , lalu istirahat , dan dilanjutkan pengucapan selamat oleh Bupati dan Wakil Bupati , serta penutupan.
Dengan demikian Bapak Santoso resmi menjabat Kepala Desa Mintobasuki untuk periode 6 tahun ke depan. Harapannya ke depan desa Mintobasuki akan menjadi lebih baik, lebih maju dan lebih berkembang, serta mampu meneruskan program pembangunan yang telah dicapai oleh Kepala Desa sebelumnya, Ibu Dwi K. Tentunya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan-tujuan pembangunan tersebut. Kerjasama dan saling membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing demi terwujudnya harapan yang lebih baik di masa-masa mendatang.

Sudah saatnya kita saling merapatkan barisan dan melangkah bersama, menghangatkan kembali keakraban yang sempat membeku, merajut kembali kebersamaan yang sempat terkoyak, menyambung kembali hubungan yang sempat terputus, dan menghapuskan sisa-sisa duri yang masih melekat di hati tuk bersama-sama menuju Mintobasuki ASRI, Aman – Sejahtera – Ramah dan Islami. Aman desanya, Sejahtera penduduknya, Ramah warganya dan Islami masyarakatnya. (yos)

Kamis, 09 April 2015

Memaknai “Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa”


Mari kita simak terlebih dahulu definisi partisipasi masyarakat dalam pembangunan oleh ahlinya agar tidak salah memaknai istilah ini:

Partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada dimasyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi (Isbandi Rukminto Adi.)
Dalam Wibisana (1989:41) partisipasi masyarakat sering diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan dan kebersamaan anggota masyarakat dalam suatu kegiatan tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung, sejak dari gagasan, perumusan kebijaksanaan hingga pelaksanan program. Partisipasi secara langsung berarti anggota masyarakat tersebut ikut memberikan bantuan tenaga dalam kegiatan yang dilaksanakan. Sedangkan partisipasi tidak langsung berupa keuangan, pemikiran dan material yang diperlukan. (Mulyono, Agus. 2008. Studi partisipasi masyarakat pada program desa mandiri pangan di desa Muntuk, Kabupaten Bantul . Tesis magister teknik pembangunan wilayah dan kota universitas diponegorp Semarang: tidak diterbitkan)


Dari dua definisi di atas paling tidak kita punya gambaran yang cukup untuk memahami makna ‘partisipasi masyarakat dalam pembangunan’ , wa bil khusus pembangunan di desa Mintobasuki Gabus Pati tercinta ini. Kenapa saya angkat bahasan ini? Saya rasa ini penting agar kita bisa memahami makna ‘partisipasi’ dalam artian luas dan komprehensif. Adanya pandangan sempit tentang makna ‘partisipasi’, bahwa partisipasi haruslah terjun langsung dalam menganalisa, mengambil keputusan, dan mengatasi masalah yang ada; ini yang perlu diluruskan.

Sebagaimana penjelasan di atas, partisipasi dalam sebuah misi pembangunan terbagi atas dua bagian, langsung dan tidak langsung. Partisipasi langsung dengan memberikan pemikiran dan tenaga terhadap permasalahan yang dihadapi. Ini adalah tugas para penyelenggara pemerintahan desa dan/atau individu atau tim berkompeten yang ditunjuk. Sedangkan partisipasi tidak langsung bisa diberikan dalam bentuk memberikan pemikiran, dukungan, keuangan dan material yang dibutuhkan, yang hal ini bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Partisipasi masyarakat pada hakikatnya adalah proses pemberdayaan masyarakat untuk diikutseratakan dalam proyek-proyek pembangunan. Hal ini mengingat karena masyarakat merupakan subyek sekaligus obyek dari pembangunan itu sendiri.  Tingkat partisipasi masyarakat dalam sebuah proyek pembangunan tentu berbeda-beda menyesuaikan tingkat kemampuan masing-masing individu, baik dari segi pemikiran, tenaga, maupun pendanaan. Oleh karenanya adalah sebuah kekeliruan jika kita menuntut seluruh individu dalam masyarakat untuk terjun langsung dalam proyek-proyek tersebut tanpa melihat kemampuan yang ada pada mereka. Adakalanya individu dalam masyarakat tersebut layak menjadi subyek (pelaku) dalam sebuah proses pembangunan namun di lain pihak ada pula individu yang selayaknya dijadikan objek dalam sebuah proses pembangunan. Dengan demikian, setiap individu bisa menjalankan perannya masing-masing sesuai kemampuan yang mereka miliki.  Salah menempatkan posisi menjadikan program yang direncanakan tidak bisa berjalan mulus.

Dengan demikian, kita tidak perlu sinis terhadap mereka yang saat ini belum bisa terjun langsung ambil bagian dalam menyelesaikan tahap-tahap pembangunan. Dukungan moril dan dana dari mereka sudah cukup membuktikan partisipasi dalam penyelenggaraan pembangunan. Setiap kita bekerja sebaik-baiknya sesuai profesinya. Memaksakan seseorang yang tidak berkompeten dalam bidangnya dalam proyek-proyek tertentu justru akan menjadi beban dan hambatan pembangunan itu sendiri.
Secara umum, partisipasi dalam pembangunan terbagi atas tiga hal; Pertama: Partisipasi dalam tahap perencanaan, yaitu partisipasi dalam memberikan usulan terhadap perencanaan sebuah proyek, pembentukan tim kerja, dan semisalnya. Kedua: Partisipasi dalam pelaksanaan, yaitu pelibatan seseorang dalam proyek pembangunan dengan tenaga maupun dana yang dimiliki. Ketiga: Partisipasi dalam pemanfaatan, yaitu partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan dan memelihara proyek-proyek pembangunan. Dengan demikian, setiap individu bisa berpartisipasi dalam sebuah proyek pembangunan sesuai dengan kompetensinya masing-masing, sehingga tidak perlu ada istilah superior dan inferior terkait keikutsertaan individu dalam pembangunan. Setiap individu dalam masyarakat hendaklah saling dukung satu sama lain dalam mewujudkan harapan dan cita-cita bersama.

Silahkan posisikan diri kita masing-masing dalam berpartisipasi membangun Mintobasuki.

Rabu, 11 Maret 2015

Berita Panas: Pilkades Mintobasuki 2015


wpid-2015307092122.jpgwpid-fb_img_14259442079272635.jpgPilihan Kepala Desa kurang 15 hari lagi. Suasana hangat pun kian kian tambah hangat. Sejak dua minggu yang lalu masing-masing calon sudah mensosialisasikan diri dengan memasang foto-foto di sudut-sudut desa, tepi-tepi jalan dan tempat-tempat keramaian. Para sabet dan pendukung kian getol bergerilya menggaet suara sebanyak-banyaknya. Saat ini di Mintobasuki yang menduduki rating tertinggi dari sekian topik perbincangan adalah masalah pilkades. Kumpul-kumpul sana sini ini yang selalu jadi topik paling hit dan paling hot.
Ada baiknya kita mengetahui sedikit biografi dari masing-masing calon.
wpid-fb_img_14259442080622425
Calon No Urut 1:
Nama : Bp Santoso
Tempat tanggal lahir : Pati, 2 Oktober 1954
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Ds Mintobasuki RT 2 RW 4 Kec Gabus, Pati.
wpid-wp-1426078288458
Calon No Urut 2:
Nama : Dwi Kadariyatun
Tempat/Tanggal Lahir : Kulon Progo, 24 September 1970
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Desa Mintobasuki RT 5 RW 3, Kec Gabus Pati.

Senin, 23 Februari 2015

Lima Minggu Menuju Pilkades


1959251_1539017286351652_900812900571392724_nPilkades (Pilihan Kepala Desa) yang dijadwalkan pada tanggal 28 Maret 2015 yang akan datang sudah disambut dengan demikian antusias oleh masing-masing calon dan pendukungnya. Masing-masing kandidat berusaha menarik simpati warga sebanyak-banyaknya agar memenangkan pencoblosan mendatang. Masing-masing calon memiliki trik dan cara untuk memenangkan pemilihan. Terkadang para calon maupun sabet (pendukung) mendatangi rumah – rumah warga untuk meminta dukungan.
Suhu politik desa Mintobasuki pun mulai menghangat. Para pendukung kedua calon bekerja keras untuk melakukan sosialisasi program-program dan rencana kedepan jika calon yang diusungnya memenangkan Pilkades. Mereka mencoba meyakinkan para calon pemilih bahwa kandidat yang diusungnya yang merupakan figur terbaik dan akan membawa perubahan kedepan yang lebih baik bagi warga Mintobasuki.
Dengan adanya 2 calon kandidat yang masing-masing sama kuatnya, diperkirakan hanya ada beda tipis dalam perolehan suara nanti. Bapak Santoso warga dukuh Koripan, pernah menjabat kepala desa Mintobasuki sekitar periode 1992 – 1999 kini ikut serta dalam Pilkades tahun ini. Sedangkan lawannya adalah Ibu Dwi Kadariyatun yang saat ini akan habis masa jabatannya sebagai Kades Mintobasuki periode 2008-2015 sebagai pesaingnya.
Ada yang berbeda antara Pilkades tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu tidak lagi menggunakan gambar tanaman untuk pencoblosan tetapi langsung foto dari para kandidat. Demikian pula mengenai jumlah kandidat, minimal 2 orang dan maksimal 5 orang. Demikian pula mengenai masa kampanye, Tim Pilkades memberikan waktu tiga hari, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya satu hari. Adapun gambar-gambar yang dipasang di sudut-sudut desa dan tempat-tempat umum bukanlah bentuk kampanye akan tetapi sosialisasi agar dikenal warga yang akan menjadi calon pemilih. Pilkades tahun ini dilakukan secara serentak di Kab pati sebagaimana keputusan Pemkab. Adapun masa jabatan Kades yang telah habis sebelum tahun 2015, maka posisi Kades digantikan oleh Penjabat Kades selama 6 bulan kedepan yang salah satu tugasnya adalah memfasilitasi terselenggaranya Pilkades 2015. Dan jika dalam masa 6 bulan tersebut Pilkades belum juga terselenggara, maka masa jabatannya diperpanjang 6 bulan lagi. Dan selebihnya dari masa tersebut, penjabat Kades akan digantikan oleh PNS.
Harapannya, siapa pun yang akan memenangkan pemilihan kepala desa nanti mesti kita dukung. Hilangkan segala bentuk kebencian antar sesama warga.

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)