*** SELAMAT DATANG *** Ini adalah blog pribadi yang dikelola secara independen oleh Netter desa Mintobasuki kec. Gabus kab. Pati. Blog Mintobasuki Gabus Pati bukanlah blog resmi pemerintahan desa Mintobasuki. Blog ini tidak ada hubungan dalam bentuk apa pun dengan organisasi, kelompok dan kepentingan tertentu di desa Mintobasuki. Artikel-artikel yang disajikan adalah tulisan lepas yang berisi uneg-uneg, ide, pemikiran, opini pribadi penulis dan pernik-pernik terkait desa Mintobasuki.

Area Persawahan di sebelah timur Desa Mintobasuki

Lahan pertanian yang cukup luas membentang di bagian timur desa. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi, jagung, kacang-kacangan dan beraneka ragam sayuran.

Kali Tambak untuk sarana irigasi pertanian

Sungai kecil yang membujur di sebelah timur desa yang berhulu di Sungai Silugonggo memiliki arti penting sebagai sarana irigasi.

Pesona desa Mintobasuki

Nuansa alam desa yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang indah menjadikan desa Mintobasuki kian anggun dan menyimpan pesona tersendiri.

Sektor pertanian yang perlu dikembangkan

Mintobasuki memiliki lahan pertanian sekitar 90 Hektar terdiri atas lahan basah dan kering. Oleh karenanya perlu ada upaya yang matang untuk mengembangkan sektor ini. Selain itu, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Mintobasuki sampai saat ini.

Sarana peribadahan yang cukup memadai

Desa Mintobasuki memiliki 5 Musholla dan 1 Masjid Agung Al-Amin yang saat ini dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana penunjang yang cukup memadai ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan warga dalam beribadah.

Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas warga

Sektor pertanian tetap menjadi mata pencaharian dan primadona bagi masyarakat desa Mintobasuki, meski dengan seiring bertambahnya waktu, profesi dan mata pencaharian warga kian heterogen.

Sektor Perikanan di Mintobasuki

Sungai Silugonggo yang bermuara ke laut utara ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Mintobasuki. Hasil tangkapan ikannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga yang berprofesi sebagai nelayan.

Tampilkan postingan dengan label Oase Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2023

Benarkah Pernyataan: Yang Penting Niatnya Baik.


Pernahkan kamu mendengar orang berkata begitu waktu ditegur waktu melakukan amalan yang keliru lalu berkilah: "yang penting kan niatnya baik".
Sebelum kita jawab, penting untuk mengetahui, apa sih sebenarnya niat itu? Niat, secara ringkas maknanya keinginan untuk mengerjakan sesuatu, baik sesuatu itu baik maupun buruk.
Nah, niat ini sangat penting dalam ibadah. Bahkan, ibadah menjadi tidak bernilai apa-apa kalau salah niat lho. Niat haruslah ada sebelum mengerjakan suatu ibadah.
Terkait niat ini ada beberapa hal yang mesti kita ketahui.

Pertama: Niat membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Contoh konkritnya, shalat misalnya. Ketika kita mengerjakan shalat, shalat apa yang kita kerjakan ini, shalat sunnahkah atau shalat wajib. Shalat rawatib ataukah shalat tahiyatul masjid. Semua ini dibedakan dengan niat. Demikian pula ibadah-ibadah yang lain seperti puasa, sedekah, dll. Silahkan di analogikan sendiri ya.

Kedua: Niat membedakan antara adat/kebiasaan dengan ibadah. Misalnya mandi, apakah mandi untuk sekedar membersihkan badan ataukah mandi wajib? Jika mandi untuk membersihkan badan atau biar segar, maka tidak ada nilai ibadahnya. Jika mandi wajib maka dinilai ibadah.
Contoh lain, memakai pakaian menutup aurat. Jika niatnya karena kebiasaan, tidak ada pahalanya. Jika niatnya untuk menutup aurat karena mematuhi perintah Allah dan RasulNya, tentu ini ibadah yang mulia.
Contoh lain, berlapar-lapar. Jika dia niatkan untuk diet, atau karena nggak ada yang dimakan, ini tidak ada nilai ibadahnya. Namun, jika dia niatkan berpuasa, tentu besar pahalanya karena termasuk amal ibadah. Silahkan di analogikan dengan amalan lainnya.

Ketiga: Niat yang benar adalah salah satu syarat diterimanya amal. Maksudnya? Jika melakukan amalan tidak dengan niat yang benar, yaitu ikhlas karena Allah, so pasti sia-sia amalannya. Misalnya biar dilihat orang atau calon mertua. Allah tidak akan menerima amal kecuali yang di dasari niat ikhlas. Pernah baca hadits ini kan:


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya untuk Allah dan rasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya mendapatkan sesuai yang diniatkannya" (HR Bukhari dan Muslim)


Nah, hadits di atas ada rumus sekaligus penerapannya. Rumusnya: Seseorang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Contoh aplikasinya adalah dengan hijrah. Hijrah meninggalkan negeri kufur menuju negeri Islam adalah amalan yang utama. Namun jika salah niat, yang didapatkannya pun nol.
Selain niat, syarat diterimanya amal yang kedua adalah mengikuti contoh yang dipraktekkan Nabi shallallahu'alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Keempat: Niat baik tidak serta merta menjadikan amalan yang buruk menjadi baik. Misalnya, mencuri dengan niat untuk disedekahkan. Atau beribadah dengan amalan yang tidak pernah ada contoh dan asalnya dari syariat. Meski niatnya baik untuk beribadah kepada Allah, tapi karena caranya salah, maka niat yang baik tidak bisa menjadikan amalan buruk tersebut menjadi baik. Ini sebagai jawaban dari orang yang mengatakan yang penting niatnya baik.

Kelima: Niat yang ditujukan kepada Allah tidak perlu diucapkan denga lisan. Allah Maha Tahu apa yang ada di hati kita dan apa yang kita niatkan. Ketika kita beribadah, Allah tahu niat dalam hati kita, untuk Allah semata atau untuk selainNya. Allah menilai apa yang ada di dalam hati kita dan akan memberi balasan sesuai niat kita.
Beda halnya dengan niat yang kita tujukan kepada sesama manusia. Ini mesti diucapkan. Misal kita berniat bayar hutang, ketika menyerahkan uang pelunasan mesti kita sampaikan ke orangnya agar dia paham bahwa uang yang kita serahkan untuk bayar hutang, bukan dikasihkan cuma-cuma. Jika kita cuma menyerahkan uang begitu saja kepada orang yang menghutangi kita tentunya dia tidak tahu maksud kita, untuk bayar hutang atau untuk yang lainnya.
Begitu juga dengan seluruh akad-akad lainnya yang berkaitan dengan muamalah kepada sesama manusia mesti ada ijab qabulnya.
Sekian, semoga ada manfaatnya.

Jumat, 23 Desember 2022

Jagalah Nikmat Hidayah Agar Langgeng


Kita semua sepakat, bahwa hidayah itu sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan kita. Hidayah yang saya maksudkan adalah hidayah Islam, hidayah Iman dan hidayah kepada jalan yang lurus. Bahkan, sehari semalam, minimal 17 kali kita meminta agar diberikan hidayah oleh Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang luruh.

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَ‌ٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ صِرَ‌ٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

"Tunjukilah kami jalan yang lurus; (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat". (Al Fatihah: 6-7)

Kita baca do'a ini ketika berdiri menghadap Allah, baik siang atau pun malam.

Allah lah yang memerintahkan kita membaca do'a ini, tentunya Allah mengetahui kemaslahatan hidayah ini bagi seorang hamba. Karena, tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali di situ ada kebaikan yang banyak, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Saya banyak menyaksikan dalam kehidupan ini, bahwa hidayah ini adalah sebuah karunia agung yang tidak Allah berikan kepada sembarang orang. Hanya orang yang layak menerimanya saja yang akan Allah berikan hidayah. Allah berfirman:

وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَ‌ٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍ

"Dan Allah memberikan hidayah kepada jalan yang lurus bagi siapa yang dikehendakinya" (Al Baqarah: 213)

Hidayah taufiq agar seseorang bisa merasa lapang dadanya dengan syariat Allah adalah murni Allah saja yang bisa memberikannya. Bahkan Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- saja tidak bisa memberikan hidayah taufiq kepada pamannya, Abu Thalib. Padahal beliau adalah sebaik-baik pemberi nasehat sebagaimana yang Allah kukuhkan dalam ayatNya:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus" (Asy Syura': 56)

Namun seberapa pun besar usaha beliau, tetap saja hidayah ada di tangan Allah. Abu Thalib tetap meninggal dalam kekafiran padahal dialah yang banyak membela Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dari makar orang-orang kafir Quraisy ketika beliau berdakwah di Makkah.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan hidayah (taufiq) kepada orang yang engkau cintai akan tetapi Allah memberika hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia (Allah) lebih mengetahui orang-orang yang layak mendapat hidayah" (QS Al Qashash: 56)

Saya jumpai beberapa teman dan kenalan yang telah Allah berikan hidayah dan taufiq kepadanya, namun akhirnya berguguran satu persatu dari jalan hidayah. Tidak kuat menahan panasnya bara api hidayah yang ada digenggamannya. Akhirnya dia lebih memilih mundur ke belakang, melemparkan hidayah tersebut dan kembali pada kehidupan sebelumnya. Dan yang lebih mengenaskan, dia merasa baik-baik saja padahal dia sedang sakit parah. Kembalilah dia kepada perkara-perkara yang diharamkan Allah, mulai meremehkan perintah-perintahNya. Akhirnya dia kembali ke pelukan setan. Na'udzu billah.

Namun, di kasus lain, saya juga menjumpai seseorang yang dulu saya kenal sebagai orang yang jauh dari cahaya hidayah, namun setelah sekian lama berpisah kini dia sudah berubah. Lebih Islami. Ada aura keshalihan dan hidayah dalam dirinya. Dia sudah banyak belajar dalam kehidupan ini sehingga bisa naik kelas.

Hidayah adalah karunia yang berharga, ketika sudah diberikan kepada kita, tinggal kita pandai-pandai menjaganya, merawatnya, dan mensyukurinya. Dengan cara apa? Banyak-banyaklah melakukan ketaatan, jauhilah kemaksiatan-kemaksiatan, dan banyaklah bergaul dengan orang-orang yang juga mendapatkan hidayah. Bergaul dengan orang-orang yang shalih akan memberikan dampak positif dalam kehidupan iman kita. Karena, bergaul dengan mereka akan ada tawashi bil haq wa tawashi bis shabr, 'saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan menetapi kesabaran'.

Semoga Allah senantiasa melanggengkan nikmat hidayah ini bagi kita, dan semoga Allah juga memberikan hidayah bagi segenap kaum muslimin. Amin.


Abu Unais Pati,

Karanganyar, 24 Des 2022.






Sabtu, 01 Juni 2019

Kiat Sukses Hidup Bermasyarakat

Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa hidup bermasyarakat itu penuh dinamika. Manusia akan saling berinteraksi satu dengan yang lainnya; baik untuk mendapatkan kemaslahatan bersama atau pun untuk menolak kemudharatan yang tak diinginkan. Tidak jarang pula karena interaksi-interaksi ini menimbulkan gesekan-gesekan yang mengganggu keharmonisan hubungan bermasyarakat. Oleh karenanya untuk menjaga keharmonisan tersebut dibutuhkan 'seni' khusus agar tetap utuh.

Berikut ini di antara kiat-kiat untuk menjaga dan merawat keharmonisan tersebut:

PERTAMA: بذل الندى yaitu sifat kedermawanan dan pemurah. Secara tabiat, manusia menyukai sifat dermawan dan sebaliknya membenci sifat kikir. Dan dermawan tidak mesti dengan harta, tapi bisa juga dengan tenaga, pikiran, kedudukan, jabatan, bahkan dengan memberikan pinjaman hutang kepada orang yang membutuhkan sekali pun.
Kedermawanan adalah cara paling ampuh untuk merekatkan hubungan yang jauh, memadamkan bara api permusuhan, dan menjadikan kita saling mencintai.
Dalam sebuah hadits Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
تَهَادُوا تَحَابُّوا
"Salinglah kalian berkirim hadiah niscaya kalian akan saling mencintai" (HR Bukhari)

Seseorang yang memiliki tenaga dan pikiran bisa mendermakan tenaga dan pikirannya untuk membantu sesama, bisa dengan mengajarkan ilmu, memberikan bimbingan baik dalam urusan Dien maupun dunia,  memberikan saran dan masukan dan lain-lain selama diperlukan.

Demikian dengan jabatan dan kedudukan yang dimiliki seseorang bisa membantu orang lain dalam bentuk rekomendasi atau tazkiyah selama tidak ada unsur kedzoliman dan penipuan.

Bahkan memberikan pinjaman harta kepada orang yang membutuhkan dan memberikan tangguh pelunasan pinjaman adalah bentuk kedermawanan, selama tidak ada unsur-unsur terlarang secara syar'i.

KEDUA: كف الأذى yaitu menjaga diri untuk tidak mengganggu dan menyakiti orang lain. Gangguan disini bisa dengan fisik maupun nonfisik. Gangguan fisik misalnya menyakiti seseorang dengan tangan dan tindakan anarkhis, apakah anarkhis terhadap fisik seseorang secara langsung maupun kepada harta benda orang lain dengan merampas, merusak, mencurinya, dll.

Sedangkan gangguan nonfisik misalnya dengan kata-kata yang bisa menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain baik dengan umpatan, celaan, ghibah, buli, nyinyir, sindiran, fitnah, hoax dll. Terkait hal ini, Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْلِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang muslim (sejati ) adalah jika kaum muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya". (HR Bukhari & Muslim)
Dalam hadits lain Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
إن دمائكم و أموالكم و أعراضكم عليكم حرام ،كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا في بلدكم هذا
"Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram, sebagaimana keharaman hari kalian ini (hari tasyrik), di bulan kalian ini (Dzulhijjah) dan negeri ini (tanah haram Makkah)". (HR Bukhari & Muslim)

KETIGA: طلاقة الوجه yaitu wajah yang cerah dan berseri-seri ketika berjumpa dengan orang lain. Wajah yang berseri dan murah senyum itu sendiri adalah pancaran bagusnya akhlak seseorang. Sebaliknya, wajah yang selalu cemberut dan masam menunjukkan sikap yang kurang bersahabat, hati yang keras dan akhlak yang kurang baik.

Senyuman yang tulus tatkala berjumpa bisa memasukkan kebahagiaan di hati orang lain, mengesankan persahabatan yang baik dan kepribadian yang simpatik. Ini semua bisa mencairkan hubungan yang dingin dan membeku sekalipun sehingga hubungan kembali hangat dan mencair, menumbuhkan rasa saling cinta dan membuahkan rasa persaudaraan yang kuat.
Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
"Janganlah kalian meremehkan kebaikan sekecil apa pun meski hanya berwajah ceria ketika bertemu saudaramu" (HR Muslim)

Dan sisi positif lain dari wajah yang ceria adalah diperolehnya pahala, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-:
تبسمك في وجه أخيك صدقة
"Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah" (HR Tirmidzi).

Demikian sedikit kiat agar kita bisa sukses hidup bermasyarakat.
Allohu a'lam.

***Abu Unais ***

Rabu, 01 November 2017

Arsip Kajian Musholla Utsman bin Affan Desa Mintobasuki Gabus Pati

Kajian rutin yang dibuka untuk umum bagi warga Mintobasuki pada setiap malam Ahad di Mushalla Utsman bin Affan yang berlokasi di RT 1/2 sudah berlangsung satu tahun lebih. Kajian ini membahas Kitab Shifat Sholat Nabi yang ditulis oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani. Kitab ini sangatlah populer di kalangan para pencari ilmu. Di dalamnya berisi penjelasan tata cara sholat secara rinci berdasarkan hadits-hadits shahih yang telah diverifikasi keabsahannya. Kitab ini telah beberapa kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan telah diterbitkan beberapa penerbit di tanah air. Kitab ini telah berkali-kali naik cetak karena permintaan pembaca yang cukup tinggi yang ingin mempelajari tata cara sholat yang benar menurut tuntunan Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam. Dan untuk mendapatkan kitab terjemahan ini pun relatif mudah, bisa didapatkan di toko-toko buku umum maupun toko-toko buku agama Islam di kota Pati.
Judul asli kitab ini dalam bahasa Arab adalah "Shifatu Ash-Sholatin Nabiy -shollallohu 'alaihi wa sallam- minat Takbir ila Taslim kaannaka Taroohu" (Tata Cara Sholat Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- dari Takbir hingga salam seolah-olah engkau melihatnya). Kitab ini sebenarnya merupakan ringkasan dari kitab induknya yang berjudul "Ashlu Shifat SHolatin Nabiy" yang tebalnya sekitar tiga kali dari kitab yang dibahas ini.
Untuk mengetahui arsip rekaman kajian rutin yang biasa dibawakan oleh Sdr Abu Ilyasin ini bisa mengklik tautan berikut:

https://drive.google.com/folderview?id=0BzM7SlMRYJ3RV293ZkdfZE5xNWM

Arsip ini akan selalu diupdate setiap ada rekaman baru.
Terima kasih.

Rabu, 24 Mei 2017

Menghidupkan Kembali Majelis taklim Mintobasuki


img-20170513-wa0008.jpg
Kajian rutin malam Ahad di Musholla Utsman bin Affan desa Mintobasuki
Diakui maupun tidak, majelis-majelis taklim adalah sarana yang paling efektif untuk mendidik masyarakat guna memperbaiki sisi rohani mereka. Di zaman yang penuh hiruk pikuk seperti sekarang ini, dimana seolah perkembangan tehnologi informasi yang deras tak terbendung memberikan dampak yang beragam bagi masyarakat, baik dampak positif maupun negatif. Banyak kita rasakan pergeseran-pergeseran nilai di tengah masyarakat. Hedonisme, manusia seolah tidak memerlukan Tuhan dalam kehidupannya. Rusaknya akhlak karena krisis kepercayaan terhadap nilai-nilai sakral agama. Materialistik, menganggap bahwa yang real adalah apa yang nampak di depan mata dan bisa diindera sehingga segala upaya dilakukan untuk meraih sesuatu yang dianggap realistik tersebut tanpa memperdulikan lagi batasan-batasan agama maupun nilai-nilai yang diakui di masyarakat. Terjadinya pergaulan bebas dimana orang tua tidak lagi memperdulikan pergaulan lawan jenis anak-anaknya dengan dalih perkembangan zaman. Nilai kesusilaan yang sudah mulai luntur karena setiap hari mereka dijejali berbagai informasi dan tayangan dari budaya barat dan selainnya yang sangat bertentangan dengan budaya ketimuran apalagi tuntunan Islam.

Minggu, 05 Juni 2016

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1437 H

Tak terasa kita telah berada di ujung penantian.
Telah berlalu bulan Sya'ban,
dan datanglah bulan Ramadhan,
Bulan penuh berkah dan ampunan.
Bulan tatkala amalan-amalan shalih dinaikkan,
tuk diberi pahala yang dilipatgandakan.
Bulan dibukanya pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan,
agar manusia khusyu' dalam ketaatan,
tuk gapai keridha'an 

Inilah bulan yang senantiasa dinati-nanti insan beriman.
Bulan yang diwajibkan kita berpuasa penuh satu bulan.
Haus, lapar dan nafsu kita tahan,
dari terbit fajar sampai matahari tenggelam,
tuk meraih derajad ketaqwaan.

Bulan yang didalamnya ada satu malam,
yang lebih mulia dari seribu bulan.
Bulan yang padanya diturunkan Al Qur'an,
kitab suci pelita bagi kehidupan,
petunjuk dalam kegelapan,
menuju terangnya keimanan,
yang membawa kebahagiaan sepanjang zaman.
Kitab yang jadi penyembuh bagi jiwa yang kesakitan,
oleh pekatnya dosa dan kemaksiatan,
menuju indahnya keshalihan.


Jangan lupa wahai kawan,
bulan istimewa jangan kau sia-siakan,
kuatkan jiwa dan singsingkan lengan,
mengisi Ramadhan dengan berbagai amal ketaatan,
kemaksiatan hendaklah engkau jauhkan.
Baca Qur'an jangan kau tinggalkan,
sholat Tarawih jangan kau lewatkan,
wirid dan dzikir jangan kau lalaikan,
istighfar jangan kau lupakan,
shodaqah jangan kau tahan-tahan,
Semoga di akhir Ramadhan engkau raih kemenangan.

Amiiin...


Selasa, 14 April 2015

Pemuda Mintobasuki, Bagaimana Kabarmu…?


Masa muda merupakan masa keemasan bagi perjalanan hidup seseorang. Masa dimana cita-cita dan harapan-harapan tinggi digantungkan. Masa yang penuh semangat, gairah dan energi dalam menjalani kehidupan. Sekaligus masa-masa terbaik untuk mengembangkan segala potensi diri. Ini adalah nikmat Alloh yang layak disyukuri dan digunakan untuk melakukan aktifitas-aktifitas positif yang membawa manfaat di dunia maupun di akhirat kelak. Masa muda tidak akan datang dua kali. Kita akan benar-benar menyesalnya ketika masa tua datang sedangkan masa muda habis disia-siakan. Tidak akan bisa merasakan realita ini kecuali bagi mereka yang saat ini sudah memasuki masa uzur. Namun apa hendak dikata, masa muda tidak akan datang dua kali.

Sebagaimana nikmat-nikmat yang lain, maka nikmat masa muda juga akan dimintakan pertanggunggjawaban oleh Alloh -ta’ala- kelak di hari kiamat, kemanakah engkau habiskan masa mudamu? Masa muda merupakan sesuatu yang spesial yang Alloh  karuniakan untuk hamba-hamba-Nya oleh karenanya Alloh-pun secara khusus menanyakan kemana masa muda kita habiskan. Ini bukan berarti masa tua tidak diperhitungkan oleh Alloh. Pengkhususan penghisab-an masa muda karena istimewanya.

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ  عِنْدِ  رَبِّهِ  حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَ عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَ عَنْ  مَالِهِ  مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَ فِيْمَا أَنْفَقَهُ وَ مَا ذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ
“Kedua kaki anak Adam tidak akan beranjak pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima perkara; tentang umur pada apa ia habiskan, kepemudaannya pada apa ia hancurkan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan apa yang telah ia kerjakan pada apa yang telah ia ketahui. [HR at-Turmudziy: 2416, Abu Ya’la, ath-Thabraniy, Ibnu ‘Adiy dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan ].

Dalam sebuah hadits shahih yang lain disebutkan tentang tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Alloh -ta’ala- di tengah panasnya padang Mahsyar di hari kiamat di saat tidak ada naungan lain selain naungan dari Alloh -azza wa jalla-, dan satu di antara tujuh tersebut adalah seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Alloh.
Nah, jika engkau merasa sebagai pemuda sejati, apakah engkau punya kriteria berikut ini? Inilah beberapa kriteria pemuda sejati yang layak menyandang predikat sebagai ‘agent of change’ sebenarnya:

1. Syuja’ah (Pemberani)
Ini adalah karakter seorang pemuda sejati. Sifat pemberani, tidak takut mengambil resiko dan siap menghadapi tantangan. Baginya adalah aib jika dalam hatinya ada sikap pengecut dan bernyali ciut. Teladan yang pas untuk menjelaskan karakter ini dari kehidupan kemerlapan tokoh-tokoh Islam banyak bertebaran di buku-buku sirah (sejarah) Islam.

Satu di antaranya adalah Nabi Alloh Ibrahim -alaihissalam- yang dengan keberaniannya dalam menegakkan kalimat tauhid, bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Alloh, maka beliau -alaihissalam- menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya dengan menyisakan satu patung saja yang paling besar. Beliau tahu bahwa konsekwensi dari perbuatannya adalah hukuman mati. Dan benar saja, tatkala raja mengetahui bahwa beliaulah yang telah menghancurkan berhala-berhala sesembahannya hukuman mati pun dijatuhkan. Akan tetapi Alloh menyelamatkan beliau ‘alaihissalam- dari hukum bakar yang beliau terima.

Contoh lain dari sifat pemberani ini adalah kisah keberaniannya Muhammad Al-Fatih rahimahulloh dalam mengobrak abrik pasukan Romawi Timur di  Bizantium yang merupakan pasukan terbaik di dunia yang ada saat itu yang telah berkuasa selama 11 abad lamanya. Dengan strategi dan keberaniannya, akhirnya Alloh -ta’ala- menganugerahi kemenangan kepada kaum muslimin. Kala itu usia Muhammad Al-Fatih barulah menginjak 19 atau 20 tahun. Sebuah usia yang tergolong belia untuk melakukan hal yang spektakuler seperti itu.

2. Dzaki (Cerdas)
Masa muda merupakan masa-masa perkembangan akal dan nalar seseorang. Ibarat pisau, setajam apa pun kalau tidak pernah diasah lama kelamaan akan menjadi tumpul dan berkarat. Demikian pula akal dan penalaran manusia, jika jarang difungsikan dan diasah dengan hal-hal yang bisa mempertajam pemikiran juga akan tumpul. Akal akan mandul dalam berkreasi dan miskin dalam berinisiatif. Seorang pemuda sejati adalah mereka yang aktif dan dinamis dalam mengikuti setiap perkembangan yang ada. Dengan kemampuan penalaran dan kecerdasan yang dimilikinya dia bisa melihat hakikat segala sesuatu yang disodorkan kehadapannya untuk kemudian memilah dan memilih mana yang maslahat untuk dirinya dan mana yang tidak. Dengan kecerdasannya tersebut ia mampu mewarnai masyarakat sekitarnya, tidak hanyut terbawa arus yang ada dan terwarnai dengan lingkungan yang akan membawanya kepada sesuatu yang membahayakannya.

Kisah paling menarik untuk melukiskan tentang kecemerlangan akal seorang pemuda adalah kisah Nabi Ibrahim tatkala berdebat dengan raja yang disembah-sembah rakyatnya kala itu. Tatkala Nabi Ibrahim telah berhasil menghancurkan patung-patung yang disembah kaumnya, dengan kecerdasannya beliau sisakan sebuah patung besar dan dikalungkan kapak padanya. Tatkala Ibrahim ditanya siapa yang telah menghancurkan patung-patung tersebut, beliau ‘alaihissalam- menjawab bahwa yang telah menghancurkan patung-patung tersebut adalah patung yang paling besar yang membawa kapak.

Raja tersebut menyangkal ucapan Nabi Ibrahim -alaihissalam- karena tidak mungkin patung bisa menghancurkan patung yang lain. Nabi Ibrahim pun menimpali, kenapa engkau sembah patung itu kalau berpindah tempat saja ia tidak bisa. Raja pun terdiam seribu bahasa tak mampu menjawab argumentasi Nabi Alloh Ibrahim -alaihissalam-.

Dalam kisah ini juga, tergambar kecerdasan Nabi Ibrahim -alaihissalam- yang kala itu masih menjadi seorang pemuda. Kala itu Ibrahim berkata kepada raja, bahwa hanya Alloh-lah yang menghidupkan dan mematikan. Raja pun menyahut, aku juga bisa menghidupkan dan mematikan. Raja dengan mendatangkan 2 orang, yang dibunuh adalah yang dimatikan dan yang dibiarkan hidup adalah yang ia hidupkan. Nabi Ibrahim tidak membantah ucapan konyol raja tersebut, akan tetapi berpindah kepada argumentasi lain. Beliau berkata, Alloh telah menerbitkan matahari dari arah timur, maka terbitkanlah -wahai raja- matahari dari arah barat. Raja pun terbungkam tanpa bisa berkata-kata apa pun.

Masih banyak bertaburan kisah-kisah yang menceritakan kecerdasan dan keberanian para pengawal-pengawal Islam dari dahulu sampai sekarang. Dengan ilmu dan kecerdasannya itu Islam menjadi bersinar cemerlang karena debu-debu yang mengotorinya ia bersihkan. Tirai yang menghalanginya ia singkap.

Beginilah semestinya karakter seorang pemuda yang digadang-gadang akan menjadi agent of change di Mintobasuki. Pemuda yang selalu aktif berfikir, mengembangkan nalar dan pemikirinnya untuk kemaslahatan bersama, bukan sekedar untuk kepentingan pribadi. Dia punya skill dan keahlian; dan dengan skill-nya tersebut ia mampu berkarya dengan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakatnya.
Seorang pemuda yang handal, tatkala dihadapkan kepada suatu permasalahan akalnya langsung bekerja cepat, mencermatinya, menganalisanya, dan menemukan jalan keluarnya. Kuat dalam berfikir. Cerdas dalam menganalisa. Dan cepat dalam mengambil keputusan.

3. Akhlaqul Karimah (Budi pekerti yang mulia)
Jangan pernah menaruh kepercayaan kepada orang-orang yang buruk akhlak dan perangainya. Orang bilang, memiliki musuh orang bertaqwa itu lebih baik dari pada memiliki teman dekat tapi fasiq. Kenapa? Meskipun musuh kita, tapi kalau dia orang yang bertaqwa akan senantiasa berbuat adil dan tidak akan mendzolimi kita. Sebaliknya, berteman dengan orang fasiq resikonya kalau kita tidak diajak kepada kefasikkannya kemungkinan lain dia akan berbuat fasiq kepada kita. Dua-duanya merugikan kita.

Seorang remaja dan pemuda yang diharapkan kedepannya bisa menjadi ‘agent of change’ membawa perubahan di Mintobasuki hendaklah mereka yang senantiasa terdidik dengan akhlak yang mulia. Akhlak mulia memiliki pengertian yang luas, baik akhlak kepada Kholik (Alloh -ta’ala) maupun makhluk Alloh yang ada di alam ini. Jangan katakan seseorang itu berakhlak baik jika kepada Rabb-nya (Alloh ta’ala) saja dia berani mendurhakainya dengan kemaksiatan-kemaksiatan; laranganNya diterjang dan perintahNya ditinggalkan. Tidak perduli halal dan haram dan jauh dari Dien. Kalau Sang Pencipta langit dan bumi dan seluruh makhluk yang ada saja dia berani berbuat durhaka, apalagi durhaka terhadap makhluk. Tentu lebih bisa lagi.
Khosy-yah (rasa takut kepada Alloh) dan muroqobah (merasa selalu diawasi Alloh) yang ada pada diri seorang pemuda akan menjadikannya senantiasa hati-hati dalam menapaki jalan hidup ini. Karena dia yakin bahwa segala sesuatu yang ia kerjakan di atas muka bumi ini pada akhirnya nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh. Keyakinan semacam ini yang akan mendorong lahirnya akhlak-akhlaq mulia. Jujur, amanah, bertanggung jawab, menjaga lisan dari menyakiti hati orang, menjaga anggota badan dari menyakiti fisik orang lain, sabar, dan sebagainya. Pemuda semacam inilah yang pantas diletakkan amanah di pundaknya untuk menjadi mujaddid (pembaharu) di tengah masyarakat.

4. Tangguh dalam menghadapi rintangan
Sifat yang keempat yang merupakan indikator bahwa seorang pemuda itu layak dijadikan pembaharu adalah tangguh, ulet, militan, tahan banting dan pantang untuk berputus asa. Masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari, akan tetapi masalah adalah sesuatu yang harus dicarikan solusi. Masalah-masalah yang  mendera diri pemuda ibaratnya adalah pupuk pada tanaman yang akan menguatkan akarnya dan mengokohkan batangnya. Dengan adanya musibah, masalah, kesulitan dan rintangan yang dihadapi dalam meraih sebuah harapan, justru akan menjadikan pemuda lebih tangguh dan kuat dalam menapaki kehidupan. Jamu memang pahit, akan tetapi menyehatkan. Untuk bisa tumbuh, sebutir biji harus dikubur di dalam tanah. Pesawat tidak akan bisa terbang kecuali melawan arah angin.

Rintangan jika seorang pemuda mampu menghadapinya dengan sabar dan tabah akan menjadikan dirinya meraih kedewasaan dalam menapaki terjalnya jurang-jurang dunia. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa bersabar dan mengharap pertolongan Alloh -ta’ala- dalam menghadapi segala permasalahan yang menimpanya. Kesabaran dalam menghadapi permasalahan inilah yang akan menjadi penguat mental.

Seorang mujaddid mestilah memiliki karakter ini, tidak mudah lemah menghadapi musibah, tidak mudah goyah menghadapi masalah, dan tidak berputus asa dari pertolongan Alloh -ta’ala-. Bacalah kisah-kisah orang terdahulu yang pernah hidup dalam naungan Islam yang mereka dengan kesabaran dan ketangguhan tekadnya menjadikan permasalahan yang dihadapinya terasa kecil dan tak berarti sampai kemudian datang pertolongan Alloh.

Tentu kita ingat tentang ashabul kahfi , para pemuda yang rela menjalani hidup terusir dari kampung halamannya untuk menyelamatkan agamanya. Mereka rela hidup di dalam gua, sampai Alloh kemudian menidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang sebagai bukti keMaha Kuasaan Alloh yang berkehendak sesuai keinginanNya. Kisah hidup mereka yang penuh ketabahan dan keteguhan di atas keimanan telah  diabadikan Alloh dalam Al-Qur’an. Mereka bukanlah sekumpulan pemuda cengeng yang mudah mengeluhkan kesulitan hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang tangguh. Al-Qur’an menceritakan kisah mereka agar kita bisa mengambil ibrah (pelajaran) dan qudwah (teladan) dari perjalanan hidup mereka yang mulia. Kesabaran, ketabahan, dan keteguhan di atas iman akan menjadikan seseorang mendapatkan kemuliaan, di dunia dan diakhirat kelak.

Kawan…
Inilah diantara karakter-karakter pemuda yang layak menjadi ‘agent of change’ di mana pun ia berada. Harapannya, kita semua diberi taufiq oleh Alloh untuk menjadi pemuda yang tidak hanya maju dari sisi intelektualitasnya semata akan tetapi juga pemuda yang punya integritas untuk Diennya, Islam yang kita cintai ini. Amin…
Wassalamu ‘alaikum.

Sabtu, 11 April 2015

Ikhlas Dalam Setiap Amal


Orang awam sering mengartikan ikhlas dengan beramal tanpa mengharapkan pamrih dari orang lain. Artian ini tidaklah salah. Namun ada definisi yang lebih luas untuk menjelaskan ikhlas ini, yaitu beramal semata-mata mengharapkan keridhaan Alloh -ta’ala- dan membersihkannya dari tujuan-tujuan duniawi maupun pengharapan kepada manusia. Seseorang tatkala beramal dengan sesuatu yang disyariatkan hendaklah benar-benar diniatkan murni hanya untuk Alloh dan tidak mencampurinya dengan tujuan-tujuan lain. Ikhlas adalah salah satu syarat mutlak bagi diterimanya sebuah amal. Tanpa keihlasan amalan yang dikerjakan akan sia-sia tanpa mendapat ganjaran apa pun dari Alloh ta’ala bahkan bisa menjerumuskun pelakunya kepada dosa dan kemurkaanNya.
Terkait bercampurnya keikhlasan dengan tujuan-tujuan lain bisa diklasifikasikan menjadi tiga golongan:

Pertama: Seseorang beramal dengan suatu amalan untuk mendekatkan diri kepada Alloh akan tetapi tercampuri dengan harapan mendapat pujian dan sanjungan dari manusia. Amal yang demikian ini tertolak, bahkan pelakunya terjerumus pada syirik kecil, yaitu riya, sebab amalan yang semestinya ia tujukan hanya untuk mengharap keridhaan Alloh ta’ala ia tujukan juga untuk manusia. Riya’ , meski syirik kecil, akan tetapi besar dosanya.


Kedua: Seseorang yang beramal dengan amalan yang disyariatkan tapi niatnya hanya untuk mendapatkan dunia, semisal untuk memperoleh harta, jabatan, kedudukan, wanita dan sebagainya, meski dia tidak mengharap sanjungan dan pujian dari manusia. Amalan seperti ini pun tertolak dan tidak mendapat balasan apa pun di sisi Alloh -ta’ala-.

Ketiga: Seseorang beramal dengan niat mendekatkan diri kepada Alloh, akan tetapi dibarengi juga dengan niatan mendapatkan dunia. Semisal seseorang sholat selain mengharapkan pahala juga berniatagar sehat, puasa  selain untuk mendekatkan diri kepada Alloh juga agar langsing, bersuci selain niat ibadah juga diniatkan untuk menjaga kebersihan. Dalam permasalahan ini ulama menjelaskan, jika niat taqarrub (ibadahnya) lebih besar, maka dia mendapatkan luput baginya pahala yang sempurna. Akan tetapi jika niat keduniaannya yang lebih besar, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya tanpa mendapat pahala apa-apa. Bahkan perbuatannya ini bisa menjerumuskannya kepada perbuatan dosa.

عَنْ أمِيرِ المُؤْمِنِينَ أبي حَفْصِ ” عُمَرَ بْنِ الخَطَاب ” رَضيَ الله عَنْهُ قَال: سَمِعت رسُولَ الله صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُول:
“إنَّمَا الأعْمَالُ بَالْنيَاتِ، وَإنَّمَا لِكل امرئ مَا نَوَى، فمَنْ كَانَتْ هِجْرَتهُ إلَى الله وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتهُ إلَى الله وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرتُهُ لِدُنيا يُصيبُهَا، أو امْرَأة يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُه إلَى مَا هَاجَرَ إليهِ “.

“Dari Amirul Mukminin Abu Hafshoh, Umar ibn Khothob -rodhiyallohu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niat-niatnya. Dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya menuju Alloh dan Rasulnya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rasulnya. Dan barang siapa yang hijrahnya untuk urusan dunia yang ia usahakan, atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan” (HR Bukhari dan Muslim)

Para ulama dahulu sangatlah intent dalam memperhatikan berbolak-baliknya hati mereka karena keikhlasan adalah sesuatu yang berat. Bahkan, ada ulama yang mengatakan bahwa yang paling berat baginya adalah menata hati agar senantiasa istiqomah dalam keikhlasan. Syaitan sangatlah lihai dalam memperdaya hati anak-anak adam, dia selalu punya cara untuk menjerumuskan manusia agar terjebak kepada dosa dan maksiat termasuk meninggalkan keikhlasan. Ketika seseorang merasa sudah bisa ikhlas dan bersih dari riya, maka saat itu riya’ datang lagi dengan bentuk yang lain.
Marilah kita jaga hati agar senantiasa ikhlas dalam beribadah kepada Alloh. Baik dalam ibadah – ibadah mahdhoh (yang telah ditentukan tata cara dan kaifiyatnya) seperti sholat, puasa, haji dsb; maupun yang ghairu mahdhoh (tidak dijelaskan tata caranya) seperti senyum, shodaqoh, mencari nafkah, berbuat baik kepada orang lain, dsb. Salah satu kiat agar ibadah kita bisa ikhlas adalah dengan menyembunyikannya dari pandangan manusia. Menyembunyikan amal ibadah memiliki keutamaan tersendiri di sisi Alloh ta’ala.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS Al-Baqarah: 271)


Seeorang yang ikhlas dalam beribadah akan nampak dalam tingkah lakunya. Baginya, dipuji maupun tidak, tidaklah berpengaruh terhadap amalnya. Tidak penting baginya apakah dirinya diperhitungkan di tengah-tengah manusia ataukah tidak,  karena itu bukanlah tujuannya. Tak menyedihkan hatinya orang-orang yang mengabaikannya. Tak merisaukan jiwanya orang-orang yang mencelanya. Dan tak peduli baginya tempat di hati-hati manusia. Keikhlasan akan mengantarkan pada keistiqomahan dalam beramal karena yang dituju di setiap amalnya adalah ridha Alloh semata.

Sebaliknya, seseorang yang dihatinya selalu diliputi riya dalam beramal akan menjadikan jiwanya tersiksa dan batinnya senantiasa diliputi kesedihan. Jiwanya tersiksa jika dia tidak mendapatkan tempat di hati-hati manusia. Hatinya sedih karena selalu berharap mendapatkan ridha dari manusia. Seandainya harapan-harapannya tak terpenuhi kesedihan dan kegalauan senantiasa melanda batinnya. Semangat jika mendapat sanjungan dan pujian, futur (lemah) jika tidak mendapatkan apa-apa dari manusia. Ini yang menjadikan amalnya tidak bisa langgeng dan konsisten.
Kita senantiasa berlindung kepada Alloh dari amal-amal yang tidak didasari keikhlasan, dan semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk bisa ikhlas mengharap ridha Alloh semata dalam setiap amalan kita.
Allohu a’lam.

Kamis, 26 Februari 2015

Jangan Silau dengan Kehebatan Orang Kafir


yunaniAlloh ta’ala berfirman dalam ayat 196-197 dari surat Ali Imran:
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَاد; مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
ِ
Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya“.
Adakalanya orang kafir diberikan kelebihan dalam urusan-urusan dunia, baik dalam masalah harta, kedudukan, keturunan, kepintaran, keelokan dan sebagainya. Namun itu bukanlah ukuran bahwa mereka dimuliakan dan dicintai Alloh ta’ala, akan tetapi itu hanyalah istidraj (penguluran waktu) agar mereka nanti merasakan pedihnya siksaan Alloh ‘azza wa jalla. Demikian pula ketika kita mengunjungi negeri-negeri kafir atau mendengar keadaan mereka di negeri-negeri mereka akan kemajuan yang mereka raih, peradaban yang merekai capai, tehnologi yang mereka miliki, keteraturan yang mereka terapkan, kepintaran yang ada pada mereka yang kadang membuat kita berdecak kagum janganlah hal itu menyilaukan mata hati kita sehingga apa pun yang datang dari mereka semuanya kita anggap baik, semua sempurna, semua hebat dan layak dijadikan rujukan. Sehingga kita import semua yang ada pada mereka tak perduli halal haram, tak peduli bertabrakan dengan ajaran Islam.
Hal ini penting kita pahami agar kita tidak lantas latah melihat kemegahan dan kelebihan yang mereka miliki. Ingatlah, bahwa kehidupan dunia ini adalah remeh dan hina di sisi Alloh, lebih rendah dan hina dari bangkai seekor anak kambing yang cacat. Camkanlah, bahwa dunia beserta isinya ini tiada nilainya di sisi Alloh meski hanya sebelah sayap seekor nyamuk. Dan andai dunia ini ada nilainya di sisi Alloh, tentu Alloh tidak akan memberikan minum orang-orang kafir meski seteguk.
Jadi jangan heran ketika orang-orang kafir itu diberikan berbagai kenikmatan dan kemewahan dalam kehidupan dunia dengan apa yang mereka usahakan sebab di akhirat kelak mereka tidak mendapat bagian seteguk pun dari air yang bisa menghilangkan dahaga, tak ada secuil makanan pun untuk menghilangkan lapar, dan tak ada tempat bernaung dari siksa yang pedih. Balasan bagi orang-orang kafir kelak tiada lain api neraka yang menyala-nyala, minumannya dari air mendidih dan darah bercampur nanah, makanannya dari buah pohon Zaqqum yang mayangnya meyerupai kepala-kepala syaitan. Pakaiannya dari ter api neraka. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi bengis yang tidak pernah bermaksiat kepada Alloh ta’ala. Hal ini disebabkan karena mereka ingkar dan kufur kepada Alloh dan RasulNya, mereka tidak mengimani adanya hari berbangkit, mereka mengingkari adanya surga dan neraka. Mereka hidup layaknya binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Ketika datang peringatan kepada mereka, mereka pun mendustakannya.
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا ;أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)“. (QS. AL Furqon 43-44)
Bagi mereka tiada kehidupan melainkan hanya kehidupan dunia, sedangkan akhirat adalah negeri dongeng sebelum tidur. Mereka hidup dan mereka mati dan tidak pernah berfikir bahwa mereka akan dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia.
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS Al Baqarah: 212)

إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ
kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi,” (QS Al Mu’minun: 37)

Demikianlah kondisi orang-orang kafir dalam memandang kehidupan dunia yang bertolak belakang dengan cara pandang seorang mukmin. Bagi seorang mukmin dunia hanyalah persinggahan dari sekian persinggahan dalam menempuh perjalanan panjang menuju negeri akhirat. Bahagia atau celakanya kita di negeri akhirat nanti sangat ditentukan oleh amal-amal kita dikehidupan saat ini. Dunia hanyalah ladang untuk beramal dan bukan pelabuhan terakhir yang mesti kita kejar dan kita perjuangkan mati-matian tanpa mengenal rambu-rambu syariat. Bagi seorang muslim, kebahagiaan sejati bukanlah pada kemewahan dan kemegahan dunia yang fana, akan tetapi kebahagiaan sejati adalah mendapatkan kecintaan Alloh dan keridhoaNnya. Apalah artinya kemewahan dunia jika akhirnya membuatnya terjerembab kedalam panasnya jurang api neraka. APalah artinya kesenangan sementara jika harus dibayar dengan siksaan abadi yang pedihnya tiada tara.
Lalu, apakah kemudian kita tidak boleh sama sekali berinteraksi dengan orang-orang kafir tersebut? Tentu saja tidak demikian. Rosululloh -sholallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabatnya -radhiyallohu ‘anhum- adalah manusia-manusia yang paling berilmu dan paling bertaqwa, akan tetapi mereka tetap berinteraksi dan berbuat baik pada orang-orang kafir. Tetap bermuamalah dengan mereka. Menjaga hak-hak mereka. Tidak mendzolimi mereka. Tetap berbuat adil kepada mereka. Dan mendakwahi mereka kepada agama Alloh dengan cara yang ma’ruf. Inilah keindahan syariat kita.
Demikian pula kita tidak dilarang untuk mengambil faedah-faedah yang bermanfaat dari mereka sebatas kebutuhan dalam perkara-perkara dunia yang sifatnya mubah, seperti perdagangan, pertanian, perindustrian, tehnologi dan sebagainya. Dan kita dilarang keras untuk belajar ilmu-ilmu yang bertentangan dengan syariat kita, dilarang meniru budaya-budaya dan kebiasaan-kebiasaan kufur yang merupakan kekhususan mereka, dilarang mengagung-agungkan mereka.  Kita juga dilarang memberikan loyalitas dan kecintaan kepada mereka sebagaimana kecintaan kita kepada saudara kita sesama muslim, sebab al wala’ (loyalitas/kecintaan) hanya ditujukan kepada seorang muslim.
Allohu a’lam …

Selasa, 20 Januari 2015

Untuk Apa Kita Mempelajari Al Qur’an ?


muslim_children_reading_quranjpgSebuah kenikmatan yang tak terhingga ketika kita lahir ke dunia ini mendapati kedua orang tua kita seorang muslim sehingga kita pun menjadi seorang muslim juga, meski hanya sebatas keturunan. Namun, apakah cukup sebatas itu saja ke-Islaman kita, lalu berpangku tangan dan merasa cukup? Tentu tidak, sebab di sana masih ada kenikmatan-kenikmatan lain yang mesti kita kejar. Janganlah merasa cukup hanya dengan sebutan Muslim, atau ber-KTP muslim.
Diantara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan untuk mempelajari Al Qur’an. Wahyu Alloh yang diturunkan kepada Nabi kita, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sebagai mukjizat yang akan selalu terjaga sampai hari kiamat sekaligus -yang terpenting- menjadi petunjuk dan penerang bagi umat manusia sampai hari kiamat. Kita bersyukur karena hidup di negeri yang kebebasan beragama di sini dijunjung tinggi. Kita tidak perlu khawatir ketika menunjukkan simbol-simbol keIslaman dan tak perlu takut-takut mempelajari Islam.
Alhamdulillah, di desa kita telah berdiri beberapa masjid yang cukup nyaman untuk beribadah sekaligus sarana belajar dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam. Begitu juga telah berdiri gedung TPQ beserta sistem pendidikan Al Qur’annya. Diharapkan sarana-sarana tersebut bisa menjadi mesin-mesin pencetak generasi Qur’ani. Sebuah harapan indah di masa-masa yang akan datang akan banyak para hamalatul Qur’an (pembawa Al Qur’an) di negeri ini.
Fase-fase dalam Berinteraksi dengan Al Qur’an?
Sesungguhnya setiap amalan itu sangat ditentukan niatnya. Niat inilah yang akan menjadi mesin pendorong bagi seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang menjadi tujuan dari niatnya. Demikian pula ketika kita mempelajari Al Qur’an atau mengajarkannya kepada anak didik kita, apa niat yang yang ada dalam hati kita. Apakah agar sekedar bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai tajwid dan makhrajnya saja? Atau, agar menjadi Qori’ dan hafidz Qur’an semata? Atau ada tujuan lain yang lebih mulia dari itu semua?
Tidak dipungkiri, mempelajari tata cara membaca Al Qur’an yang baik dan benar sesuai kaidah-kaidah baca adalah sebuah keharusan yang tidak perlu diragukan. Dan alhamdulillah, kita lihat antusiasme masyarakat yang demikian besar agar putra-putri mereka mampu membaca Al Qur’an dengan tartil dan fasih. Dan kita punya sarana untuk mewujudkan harapan para orang tua tersebut dengan difasilitasi lembaga pendidikan Al Qur’an dari desa.
Akan tetapi, untuk mencetak generasi Qur’ani tidaklah cukup dengan fasih membaca Al Qur’an. Perlu ada usaha lebih yang menjadi PR kita bersama. Setelah paham dan fasih melafadzkan huruf-hurufnya kemudian kita masuk ke fase berikutnya yaitu memahami makna-makna dari rangkaian huruf yang kita baca. Seseorang yang membaca Qur’an dengan paham maknanya berbeda dengan seseorang yang sekedar membaca tanpa mengetahui maknanya dari segi penghayatan. Paham dengan apa yang kita baca ini adalah penting agar jiwa tidak kosong dari merenungkan makna-maknanya. Sehingga dengan demikian terpatri dalam jiwanya akan kandungan isi Al Qur’an dan membekas dalam sanubarinya akan tinggi dan mulianya kandungan Al Qur’an. Dari sinilah muncul kecintaan dalam membaca dan mentadaburinya.
Di fase ini, ada elemen penting yang harus ada dan tidak boleh diabaikan, yaitu penguasaan ilmu bahasa Arab. Sebagian ulama mengatakan wajibnya membelajari bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah bahasa Qur’an dan Hadits yang merupakan hukum dasar dalam Syariat Islam. Bagaimana seseorang bisa memahami Islam jika dia tidak paham dengan Al Qur’an dan Hadits yang berbahasa Arab?
Disinilah pentingnya mempelajari bahasa Arab sesuai kebutuhan untuk memahami Al Qur’an dan Hadits. Seorang da’i yang tidak paham bahasa Arab dan hanya mengandalkan buku-buku terjemahan dikhawatirkan akan jatuh dalam kesalahan-kesalahan yang tidak ia sadari. Oleh karenanya, mempelajari bahasa Arab ini perlu kita upayakan sejak awal seiring dengan pembelajaran membaca Al Qur’an.
Perlu adanya upaya untuk memulai proyek ini. Kalau kita bisa mengajari anak didik kita dengan bahasa Inggris, kenapa kita tidak bisa melakukan hal serupa dengan mengajari bahasa Arab?
Setelah Fase memahami makna-maknanya, kita memasuki fase berikutnya yaitu memahami tafsirnya. Mempelajari tafsir Qur’an dari para ulama-ulama terdahulu adalah sebuah keharusan agar kita tidak terjatuh pada kesalahan fatal yaitu mempelajari Qur’an dengan akal kita semata. Ingatlah, bahwa dalam ilmu tafsir itu ada juga ilmu alatnya, perlu memahami ushul tafsirnya, asbabul nuzulnya, korelasinya dengan ayat-ayat yang lain dan hadits-hadits nabawiyah, penguasaan dirayah dan riwayah, ilmu balaghah dll yang jika kita mempelajari semuanya tentu membutuhkan masa yang cukup panjang. Akan tetapi kita tidak harus mempelajari itu semua karena banyak ulama-ulama besar Islam yang telah menginfakkan umur dan hidupnya untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut untuk menyusun kitab tafsir Qur’an yang tak ternilai harganya yang dipersembahkan untuk kaum muslimin. Semisal Tafsir Al Qurthuby, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir At Thobari, Adhwaul Bayan, Taisir Karimirrahman yang selainnya. Kita tinggal membaca dan memahami pemaparan tafsir ayat demi ayat dari kitab-kitab tersebut. Tinggal kesungguhan kita dalam mempelajarinya.
Setelah mempelajari tafsir ayat-ayatnya, masuk kemudian ke fase berikutnya yaitu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. Dan tahapan ini merupakan tahapan terpenting dalam mempelajari Al Qur’anul Karim. Inilah tujuan yang mesti hendak dicapai oleh setiap orang yang mempelajari Al Qur’an. Betapa sangat meruginya kita, ketika tiap hari kita baca Al-Qur’an namun tak membekas sedikitpun dalam tingkah laku kita sehari-hari.
Dan fase terakhir adalah mendakwahkannya, mengajarkannya kepada orang-orang disekitar kita, kepada anak dan istri kita, keluarga kita, karib kerabat, masyarakat kita dan secara umum kepada kaum muslimin. Dan ini adalah tahapan yang terberat.
Tidak ada jalan dakwah yang beralaskan permadani dan bertabur bunga mewangi. Jalan dakwah adalah jalan yang menjadikan Nuh -alaihissalam- disakiti kaumnya, menjadikan Ibrahim -alaihissalam- di lemparkan ke api, menjadikan Ismail -alaihissalam- rela untuk disembelih demi untuk memenuhi panggilan Alloh, menjadikan Zakariya -alaihissalam- harus dibelah badannya, menjadikan Yunus -alaihissalam- dilemparkan ke laut dan masuk di perut ikan, menjadikan Ayyub -alaihissalam- menderita sakit yang berkepanjangan dengan kehilangan anak-anak dan hartanya, menjadikan menjadikan Musa -alaihissalam- dikejar-kejar Fir’aun dan bala tentaranya, menjadikan Isa -alaihissalam- dikejar-kejar Bani Israil untuk di salib, dan jalan dakwah adalah jalan yang menjadikan Rasululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sekian banyak gangguan, rintangan, ancaman, tindak kekerasan, pengusiaran dari kampung halamannya bahkan percobaan pembunuhan. Jalan dakwah adalah jalan menanjak yang penuh kerikil-kerikil tajam dan bebatuan. Jalan dakwah adalah jalan kesabaran yang tiada batas. Jika engkau berkehendak menapaki jalan ini, lapangkanlah dadamu, tegapkanlah langkahmu, kepalkanlah tanganmu dan kuatkanlah tekatmu. Tapi yakinlah, di ujung jalan ini, di puncak sana akan engkau temukan keindahan yang tidak pernah engkau bayangkan dan engkau angankan. Ridho Alloh dan kecintaannya.
Tetaplah mempelajari Al-Qur’an, membacanya dengan tartil, memahami makna-maknanya, mempelajari tafsir-tafsirnya, mengamalkan semampumu dan mendakwahkannya dengan penuh kesabaran. Insya Alloh, suatu saat nanti akan akan engkau lihat suburnya generasi Qur’ani di negeri ini.
Samudera Al Qur’an adalah lautan luas tak bertepi. Jika engkau sudah fasih membacanya, jangan buru-buru engkau merasa cukup karena pada hakekatnya engkau barulah berdiri di atas butiran pasir putih di tepian samudera tersebut. Engkau belum lagi menjejakkan kakimu merasakan sejuknya air samudera itu. Engkau belum lagi berenang-renang di dalamnya. Dan engkau belumlah menyelam di dasarnya dan mendapatkan kilau-kilau mutiaranya.
Pelajarilah Al Qur’an sampai engkau mendapatkan kehidupan yang mulia, agar engkau menjadi mutiara yang berjalan di tengah-tengah manusia.
Allohu a’lam

Sabtu, 11 Agustus 2012

Menyoal Pengelolaan Zakat Fithrah


Sekilas Tentang Zakat Fithrah
doa-zakat-fitrah-zakat-fitriZakat Fitrah adalah shodaqoh wajib yang yang harus dikeluarkan oleh setiap individu muslim, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang tua, merdeka maupun hamba sahaya (budak) dengan sebab datangnya ‘Idul Fithri yang Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan atas umat ini setelah diwajibkannya puasa atas mereka di bulan Ramadhan. Zakat Fithrah menjadi pensuci jiwa mereka sekaligus penguat puasanya. Zakat fithrah yang dikeluarkan sebanyak satu sho’ makanan pokok baik berupa kurma, gandum atau makanan pokok lainnya. Di negeri kita, ukuran volume satu sho’ dikonversikan dalam satuan berat sekitar 2.5 kg untuk beras. Dalil bahwa zakat fithrah yang diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah makanan pokok berdasar atsar Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
فَرََضَ رَسُلُ الله صلى الله عليه وَ سلم زَكاَةَ الفِطْرِ مِنْ رَمضَانَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا من شَعِيرٍ على العَبْدِ و الحُرِّوالذََّكَرِ و الأُنْثَى وَ الصَّغِيْرِ و الكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Rosulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkaan zakat fithrah dari Ramadhan satu sha’ dari kurma atau satu sho’ dari gandum atas setiap hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang tua dari kaum muslimin” (HR. Muslim, shahih Muslim (III/ 68))
Berdasarkan hadits di atas pula, maka pendapat yang membolehkan zakat fithrah dengan mengeluarkan harganya berupa selain makanan pokok baik berupa uang, emas, perak dan lain sebagainya adalah pendapat yang lemah karena sudah tegas dalam hadits di atas zakat fithrah adalah berupa makanan pokok.
Kepada siapakah zakat ini dibagikan? Sebagian ulama berpendapat bahwa yang berhak menerima zakat fithrah adalah 8 golongan yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagaimana zakat-zakat yang lainnya. Akan tetapi yang benar dalam hal ini adalah bahwa zakat fithrah ini dikhususkan hanya kepada fakir miskin dengan dasar hadits:
فَرَضَ رَسُلُ الله صلى الله عليه وَ سلم زَكاَةَ الفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِيْنَ مِنَ الَّغْوِ و الرَّفَثِ و طُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ
Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithrah sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan kejelekan serta makanan bagi orang-orang miskin (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Daruquthni, al-Hakim dan al-Baihaqi, dan di hasankan imam Nawawi dalam al-Majmu’ (VI/126), Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (III/50), dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany dalam Irwa-ul Ghalil (III/333), sebagaimana di rajihkan syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid dalam Shifatu Shoumin Naby Sholallahu ‘alaihi wa sallam)
Kapankah diwajibkannya mengeluarkan zakat fithrah? Waktu diwajibkannya adalah pada waktu terbenamnya matahari malam ‘Idul Fithri dan batas waktu mengeluarkannya adalah hari raya sebelum sholat ‘Idul Fithri. Seandainya dikeluarkan sehari atau dua hari sebelum waktunya juga diperbolehkan jika mengeluarkan pada waktunya ada kesulitan. Wallahu a’lam.
Diantara hal-hal yang utama seputar zakat fithrah ini adalah hendaknya seseorang itu memberikan zakat fithrahnya kepada fakir miskin yang tinggal di daerahnya. Namun, jika zakatnya dikirimkan ke tempat lain juga tidak mengapa.
Diantara hikmah pensyariatan zakat fitrah adalah:
Pertama : sebagai pembersih/pensuci jiwa seorang muslim dari bekas kesia-siaan dan kejelekan yang dia lakukan selama berpuasa di bulan Ramadhan.
Kedua: menjaga kehormatan dan kemuliaan muslim lainnya yang mungkin karena rasa lapar memaksanya meminta-minta kepada orang lain di selain hari raya. Dengan zakat fithrah ini dia akan bisa merasakan juga kebahagiaan dan kegembiraan di hari raya sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang berkecukupan.
Ketiga: zakat fithrah akan memupuk rasa kebersamaan, saling tolong menolong dan bahu membahu antar sesama muslim. Memupuk empati untuk bisa merasakan perasaan sebagian yang lain. Orang yang diberikan keluasan rezeki turut bisa merasakan penderitaan orang miskin sehingga timbul rasa mengasihi si miskin dan memberi kemudahan untuk meringankan beban-beban mereka. Dengan demikian terwujudlah persatuan dan persaudaraan yang kokoh antar sesama muslim dan terkikis kesenjangan antara si kaya dan si miskin.
 Pengelolaan Zakat Fithrah
Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam berbuat birr(kebaikan) dan taqwa, sebaliknya Alloh sangat melarang tolong-menolong dalam urusan dosa dan permusuhan. Diantara bentuk tolong menolong yang disyariatkan adalah tolong menolong dalam pengelolaan zakat dari kaum muslimin untuk didistribusikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Tidak semua orang diberikan keleluasaan waktu dan kesempatan sehingga seorang yang berkewajiban mengeluarkan zakat bisa langsung mendistribusikan zakatnya. Disinilah peran panitia zakat diperlukan, tak terkecuali zakat fithrah. Panitia zakat fithrah berkewajiban mengelola zakat fithrah yang diamanatkan kepadanya sebaik-baiknya kemudian menyalurkannya sesuai yang dituntunkan syariat. Oleh karenanya, pengelola zakat hendaknya adalah orang-orang yang memang memahami ilmunya, profesional, jujur dan amanah. Hal ini penting untuk menjamin bahwa zakat yang dikeluarkan kaum muslimin telah dikelola sebaik-baiknya sesuai syariat.
Ulama berbeda pendapat tentang siapa penerima zakat fithrah sebagaimana yang telah disinggung di atas, yaitu apakah penerima zakat fithrah sama dengan penerima zakat-zakat lainnya semacam zakat harta, zakat pertanian, zakat binatang ternak dan lain sebagainya ataukah hanya khusus untuk fakir miskin. Mereka yang berpendapat bahwa zakat fithrah berbeda dari segi penerimanya dengan zakat lainnya berdalil dengan hadits di atas. Sedangkan Ulama yang berpendapat bahwa zakat fithrah sama dengan zakat-zakat lainnya berdalil dengan keumuman ayat ini.
انّما الصّدقة للفقراء و المسكين و العاملين عليها و المؤلّفة فلوبهم و في الرقاب و الغارمين و في سبيل اللهِ و ابنِ السبيل ، فريضة من
الله ، و اللهُ عليم حكيم
Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk fi sabilillah (untuk jalan Alloh) dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Alloh. Alloh Maha Mengetahui, Maha Bijaksana (At-Taubah : 60)
Sehingga konsekwensinya, zakat fithrah boleh disalurkan untuk delapan golongan tersebut.
Bagaimana dengan masjid, apakah bisa mendapatkan bagian dari zakat ini? Jika dikatakan membangun masjid termasuk sarana fi sabilillah maka boleh mengambil harta zakat untuk membangun masjid, sedangkan yang berpendapat bahwa masjid tidak termasuk dalam fi sabilillah maka tidak boleh mengambil zakat untuk membangun masjid.
Setelah mengetahui masalah ini, kita perlu mencermati dua hal:
Pertama: Salah satu hikmah disyariatkannya zakat fithrah adalah untuk memberi makan kepada kaum miskin sehingga mereka bisa turut berbahagia sebagaimana kaum muslimin pada umumnya. Yang demikian ini secara tegas dijelaskan oleh Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits di atas.
Kedua: perlu dipahami bahwa sarana fi sabilillah bukan cuma masjid, akan tetapi semua sarana yang bisa menunjang dakwah dan perjuangan meninggikan agama Alloh -ta’ala- adalah fi sabilillah, semisal pendirian madrasah-madrasah, pesantren, pengadaan mushaf al-Qur’an, pengadaan sarana-sarana ta’lim, pembangunan sarana umum yang dibutuhkan oleh umat dan lain-lain. Lalu kenapa sarana fi sabilillah yang berhak mendapatkan zakat fitrah dibatasi hanya masjid saja? Disinilah perlu dipertanyakan keabsahan pengalokasian zakat fitrah untuk membangun masjid.
Ketiga: Bukankah kita saat ini sudah memiliki masjid-masjid yang cukup nyaman untuk beribadah kepada Alloh? Jika demikian mengapa kita masih merasa perlu menyimpan sebagian dari zakat tersebut untuk mengisi kas masjid? Apakah tidak sebaiknya kita kembalikan penyaluran zakat fithrah tersebut kepada pihak yang memang paling berhak menerimanya, yaitu fakir miskin?
 Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan koreksi dan renungan untuk kita semua. Allahu a’lam.

Minggu, 22 Juli 2012

Selamat Datang Bulan Ramadhan


Hari kedua di bulan Ramadhan 1433H. Meski agak terlambat, saya selaku admin blog Mintobasuki Gabus Pati mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada seluruh kaum muslimin khususnya kepada sedulur-sedulur saya yang ada di Mintobasuki. Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan kali ini lebih baik dari pada bulan Ramadhan sebelumnya. Dan semoga kita diberi kekuatan oleh Alloh menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh tanpa halangan, diberi kemudahan menghidupkan malam-malamnya dengan sholat tarawih dan tilawah al-Qur’an al-Karim. Mendulang pahala dan mengharap ampunan di bulan yang penuh berkah.
Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwa Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam pernah naik mimbar dan mengucapkan amin 3 kali. Kemudian para sahabatnya bertanya: apa yang engkau aminkan wahai Rosululloh?
Maka Rosululloh mengatakan bahwa jibril datang kepada beliau dan berdoa tiga hal dan Rosululloh disuruh mengaminkannya. Diantara doa jibril tersebut adalah : celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadhan kemudian keluar darinya dalam keadaan tidak diampuni dosa-dosanya. Jibril berkata: katakan amin, maka Rosululloh mengucapkan amin.
Semoga Ramadhan kali ini membawa nuansa lain bagi kita. Agar, ketika berlalu Ramadhan terhapus dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan di masa-masa yang telah lewat. Sehingga ketika keluar dari Ramadhan kita kembali bersih seperti lembaran kertas putih tanpa noda tanpa tinta.
Amin ya robbal alamin.

Sabtu, 14 Juli 2012

Untukmu Pencari Kebenaran Sejati


jalan bercabangTulisan ini kutujukan untukmu yang ingin mencari jalan kebenaran hakiki. Juga, untukmu yang ingin mencari jalan keselamatan yang sejati. Pahamilah, Alloh adalah Tuhan yang satu, nabi kita satu Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam, kitab al-Qur’an kita satu, Islam agama kita satu dan jalan kebenaran itu cuma satu. Di luar yang satu itu tentulah bukan jalan Islam, bukan jalan kebenaran, juga bukan jalan keselamatan. Akan sangat mustahil jika nabi kita yang satu mengajarkan Islam yang beraneka warna untuk umatnya. Renungkanlah ucapan Nabimu Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam yang diabadikan dan dicatat oleh Abu Dawud, Ahmad bin Hanbal, al-Hakim, ad-Darimi dan al-Lalikai , dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan salah seorang sahabat Nabi – pencatat wahyu Al-Qur’an – bahwa beliau pernah bersabda:
 أََلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ اِفْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ. ثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ .
Artinya:
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahlul Kitab telah berpecah-belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya (umat) agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan hanya satu golongan di dalam surga, yaitu al-jama’ah”.

Imam Tirmidzi dan al-Hakim mencatatkan untuk kita dalam kitab mereka yang bersumberkan dari seorang sahabat Nabi yaitu Abdullah bin Amr bahwa Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan siapa al-jama’ah yang dimaksudkan beliau:
ﻛﻠﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﺍﻼ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻣﺎ ﺍﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺍﺻﺤﺎﺑﻲ
“Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya”.
Pelajaran penting yang dapat kita petik dari ucapan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam di atas antara lain:
PERTAMA, Rosululloh mengkabarkan melalui wahyu Alloh akan adanya perpecahan dalam umat ini. Dan apa yang dikabarkan Nabi pasti benar. Hari ini kita menjadi saksi atas kebenaran ucapan Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Umat Islam tercerai berai menjadi puluhan firqoh (aliran), masing-masing firqoh merasa bangga dengan apa yang ada padanya dan mengajak manusia supaya memasuki firqohnya. Mereka fanatik dengan alirannya dan merasa golongannya yang berada di atas kebenaran.
KEDUA, Perpecahan ini sudah ditakdirkan oleh Alloh, akan tetapi bukan berarti Alloh ridho dengan perpecahan umat Islam, justru Alloh menghendaki persatuan. Bukti ketidakridho’an Alloh adalah bahwa golongan dan aliran tersebut diancam dengan neraka.
KETIGA, Jalan keselamatan itu cuma satu yaitu mereka yang senantiasa istiqomah menapaki jalannya Nabi dan para sahabatnya yang mulia. Rosululloh tidak mengatakan bahwa golongan yang selamat itu namanya ini dan itu, akan tetapi beliau hanya menyebutkan sifat yaitu mereka yang mengikuti cara beragamanya Rosululloh dan jama’ah para sahabatnya. Inilah tolok ukur kebenaran nan sejati. Sehingga, aliran apa pun namanya, ormas Islam apa pun bentuknya (NU, MUHAMMADIYAH, LDII, PERSIS dll) tidak berhak mengklaim bahwa dirinya paling benar sebelum dicocokkan dulu pemahaman mereka dengan pemahanan Rasululloh dan para sahabatnya.
KEEMPAT, dalam hadits ini terkandung isyarat halus bahwa tidak semua yang berdalil dengan al-Qur’an dan ucapan Nabi sholallohu alaihi wa sallam pasti benar, akan tetapi benar atau tidaknya penafsiran al-Qur’an dan Hadits harus merujuk pada metode yang diajarkan Rasululloh dan para sahabatnya.
Para sahabat nabi adalah orang yang paling dekat dengan nabi, kepada mereka al-Qur’an diturunkan, mereka lebih paham sebab-sebab turunnya ayat dan mereka lebih tahu tafsir ayat-ayat al-Qur’an karena dibimbing langsung oleh Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam. Mereka (para sahabat) juga orang yang paling mengerti sabda-sabda Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan maksud-maksud beliau. Oleh karenanya adalah sangat tepat jika Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- memberikan tazkiyah (rekomendasi) agar umat Islam senantiasa meneladani para sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dalam memahami permasalahan Dien(agama) ini. Setiap pemahaman dalam urusan Dien yang menyimpang dari yang dipahami oleh para sahabat tentulah akan membawa kepada kesesatan.
Contoh konkrit dalam masalah ini adalah sebagaimana yang dipahami oleh saudara-saudara kita dari LDII ketika mereka menafsirkan makna ‘al-jama’ah’ dalam hadits diatas mereka tafsirkan dengan jama’ah LDII atau Islam Jama’ah. Sehingga siapa pun yang tidak masuk ke aliran Islam Jama’ah (LDII) divonis sesat bahkan kafir. Padahal yang dimaksudkan ‘al-jama’ah’ pada hadits di atas adalah jama’ahnya para sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Contoh lain adalah pemahaman tentang ayat-ayat tahkim (berhukum dengan hukum Alloh ) yang terdapat di dalam surat al-ma’idah ayat : yaitu barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Alloh maka dia kafir, fasik dan dzolim. Sebagian kaum muslimin yang berpikiran cekak ketika dihadapkan pada ayat ini langsung memvonis kafir kepada pemerintah karena tidak menerapkan hukum Alloh. Bahkan setiap yang ta’at kepada pemerintah pun juga dikafirkan karena dianggap mendukung hukum kafir. Akhirnya aksi anarkis pun merebak, pemboman atas nama jihad pun terjadi, demonstrasi dengan berbagai aksi penghujatan pun marak. Dengan berbagai upaya mereka berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah. Padahal perincian ayat tahkim tersebut tidaklah sesempit yang mereka pahami sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yang mengikuti petunjuk Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Seandainya boleh kita menafsirkan al-Qur’an dan Hadits-hadits nabi dengan akal kita, hawa nafsu kita, perasaan kita, pendapat-pendapat kita, ide-ide kita, dll tentulah akan rusak islam ini.
KELIMA, ukuran kebenaran bukan dengan banyaknya pengikut, akan tetapi kebenaran itu mengikuti Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabatnya, meski jumlah mereka minoritas. Semakin seseorang itu dekat dengan pemahaman Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabatnya maka semakin dekat mereka dengan kebenaran, sebaliknya semakin jauh dan menyimpan seseorang dari ajaran Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dan para shahabatnya maka semakin jauh mereka dari kebenaran, meski jumlah pengikutnya mayoritas.
Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat bagi mereka yang ingin mencari jalan-jalan kebenaran.
Allohu a’lam.

Kamis, 05 Juli 2012

Empat Kewajiban Seorang Muslim


tanya_jawab_ringan_seputar_tauhid_by_beginwiths-d798tmaSungguh sebuah nikmat dan anugerah yang agung ketika kita mendapati diri kita terlahir sebagai seorang muslim, diasuh dalam keluarga muslim dan tinggal dalam lingkungan muslim. Semoga ini tanda kebaikan yang dilimpahkan Alloh kepada kita. Sudah selayaknya kita mensyukurinya karena jika tidak, bisa jadi Alloh akan mencabut nikmat itu dari kita dan jadilah kita menjadi orang yang merugi di dunia ini lebih-lebih di akhirat kelak. Salah satu wujud syukur kita adalah dengan senantiasa mempelajari Agama ini dari sumber-sumbernya yang murni untuk kemudian kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan tidak cukup ini saja, kita pun berkewajiban mendakwahkannya dan sabar di atasnya.
PERTAMA, Ilmu.
Seorang muslim wajib baginya untuk menuntut ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i dan bukan ilmu-ilmu selainnya semisal ilmu-ilmu dunia yang mempelajarinya adalah mubah. Jika mempelajarinya untuk kebaikan maka bernilai pahala dan jika untuk sesuatu yang haram maka haram pula hukumnya.
Ilmu syar’i yang wajib dipelajari di sini berporos pada 3 hal, pertama, ilmu tentang Alloh yang meliputi tentang Rububiyyah (Alloh sebagai pencipta, pengatur dan pemelihara alam semesta), Uluhiyyah (Alloh sebagai satu-satunya Ilah/Tuhan yang berhak diibadahi) dan Asma ya shifat ( nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang tinggi). Kedua, ilmu tentang Dien/agama Islam. Ketiga, ilmu tentang Nabi Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah Islam. Dan memahami ketiganya dengan dalil-dalilnya yang shahih, sebab tidaklah dikatakan ilmu jika tanpa dalil.
KEDUA, Mengamalkan ilmu.
Kewajiban seorang berilmu adalah adalah mengamalkan ilmunya. Dikatakan zakatnya ilmu adalah mengamalkannya. Kata ulama: ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Ilmu dan amal adalah 2 pokok yang tidak boleh berpisah salah satunya. Seorang yang beramal tapi tidak didasari ilmu maka dia akan jatuh pada kesesatan sebagaimana yang dialami kaum Nasrani. Sebaliknya, ilmu tanpa mau mengamalkannya akan menyeret si empunya menuai murka Alloh sebagaimana orang-orang Yahudi.
KETIGA, Mendakwahkannya.
Seorang yang berilmu wajib baginya untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Mengajak pada perkara-perkara yang mengarah pada kebaikan dan melarang dari hal-hal yang menuju pada kemunkaran sesuai kemampuan yang dia miliki. Berdakwah adalah jalan yang ditempuh para nabi dan para rosul. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
KEEMPAT, Bersabar dalam mendakwahkannya.
Sudah menjadi sunatulloh bahwa pengikut kebatilan akan senantiasa memusuhi pengikut kebenaran, kapanpun dan dimanapun. Jalan dakwah bukanlah jalan mulus bertabur bunga, akan tetapi jalan penuh duri dan rintangan. Cemoohan, ejekan, hinaan bahkan caci maki adalah hal yang lumrah mewarnai perjalanan dakwah. Tak ada orang yang sabar di atasnya melainkan orang-orang yang beruntung. Para nabi dan rosul adalah suri teladan kita dalam masalah ini. Sabar dan senantiasa menggarap pertolongan Alloh adalah kunci keberhasilan dakwah mereka.

Senin, 18 Juni 2012

Sosok Pemimpin Idaman

Umar bin khottob, kita pasti kenal nama ini. Beliau termasuk satu di antara 10 shahabat Nabi sholallohu alaihi wa sallam yang dijamin Alloh masuk surga. Beliau terkenal dengan keberanian dan ketegasannya dalam membela Islam. Di sisi lain beliau juga seorang yang terkenal dengan ketaqwaan dan tawadhu’annya. Beliau menjabat khalifah (selevel presiden untuk saat ini) menggantikan Abu Bakar as-shidiq. Meski demikian beliau adalah seorang yang sangat sederhana dan sangat memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Berikut sekilas potret kehidupan beliau yang diberitakan Aslam, salah seorang shahabat beliau.
Aslam bercerita, “Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar kami melihat ada api yang dinyalakan.
Umar berkata, “Wahai Aslam, di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka.” Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sama ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis.
Umar berkata, “Assalamu alaiki wahai pemilik api. ” Wanita itu menjawab, “Wa alaika as-sallam.”
Umar berkata, “Kami boleh mendekat?”
Dia menjawab, “Silahkan.”
Umar segera mendekat dan bertanya “Ada apa gerangan dengan kalian?”
Wanita itu menjawab “Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan”.
Umar kembali bertanya “Kenapa anak-anak itu menangis?”
Wanita itu menjawab, “Karena lapar”.
Umar kembali bertanya, “Apa yang engkau masak di atas api itu?”
Dia menjawab, “Air, agar aku dapat memenangkan mereka hingga tertidur. Dan Alloh kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar”
Maka Umar menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, “Wahai Aslam, naikkan karung ini ke atas pundakku”.
Aslam berkata “Biar aku saja yang membawanya untukmu”.
Umar menjawab, ” Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari kiamat?”
Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wanita itu. Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu beliau memasukkan daging ke dalamnya. Umar berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar menurunkan periuk dari atas api dan berkata, “Berikan aku piring kajian”. Setelah piring diletakkan segera Umar menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, “Makanlah!” Maka anak-anak itu pun makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar.
Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar berkata kepadaku, ” Wahai Aslam, sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur”. ( HR. Ahmad dalam Fadhail as-shahabah no.382.)
Diketik ulang dari buku ‘PERJALANAN HIDUP EMPAT KHALIFAH RASUL YANG AGUNG’.

Senin, 15 Februari 2010

Sebuah Klarifikasi: Ada Aliran Sesat di Mintobasuki? – Bag 10 Selesai

Penutup
Sebenarnya masih banyak lagi isu-isu yang beredar di Mintobasuki berkenaan dengan keberadaan kami. Diantaranya adalah bahwa kami pengikut LDII, atau juga anggota teroris, bahwa kami juga dituduh suka mabuk-mabukan, ada juga yang mengatakan wanita-wanita kami suka berganti-ganti pasangan (mungkin maksudnya mut’ah ala Syi’ah), bahwa kami menggunakan sihir untuk memikat anak-anak kecil agar mau ngaji, ada yang mengatakan bahwa kami selalu mengadakan pengajian menjelang tengah malam, dan lain-lain yang tidak kami ketahui yang semuanya itu hanya berita yang dibuat-buat dan tidak benar. Tentunya kami tidak bisa menanggapi semuanya karena keterbatasan ilmu dan waktu yang kami miliki. Paling tidak apa yang telah kami paparkan dalam tulisan-tulisan ini sudah mewakili untuk mengklarifikasi realita sebenarnya.
Melalui tulisan ini kami juga minta maaf kepada seluruh warga Mintobasuki yang saya cintai karena keberadaan kami telah membuat resah dan gerah masyarakat. Seandainya ada komunikasi yang baik antara kami dan masyarakat tentulah tidak akan timbul prasangka-prasangka yang dialamatkan ke kami tersebut. Harapannya, siapa pun yang membaca tulisan ini hendaklah bersedia menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya agar tidak timbul fitnah yang berlarut-larut.
Di bagian penutup ini kami sampaikan, marilah kita sama-sama menumbuhkan semangat dan motivasi dalam belajar dan memahami Dien (Islam) kita ini. Ketidaktahuan dan kebodohan kita terhadap ilmu-ilmu agama menjadikan kita terombang-ambing, tidak memiliki pegangan yang kuat ketika melihat segala perubahan yang ada di sekitar kita. Tanpa ilmu Dien yang sahih kita tidak memiliki takaran yang tepat untuk menentukan mana yan benar dan mana yang salah, mana yang haq mana yang batil, mana yang halal mana yang haram. Semakin luas ilmu yang kita miliki tentu semakin luas pula kita melihat segala permasalahan yang ada terkait masalah Dien. Janganlah kita bak katak dalam tempurung yang merasa cukup dengan apa yang ada di depan mata kita tanpa mau berusaha mengkaji dan mempelajari ilmu-ilmu lainnya.
Ilmu yang sahih adalah ilmu yang bersumberkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun tentu saja kita akan sesat jika keduanya diserahkan kepada kita untuk memahami sendiri. Semua aliran sesat yang ada di muka bumi ini semuanya mengaku ajarannya berlandaskan kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, bahkan para teroris pun ketika mereka melakukan pengeboman juga mengeluarkan ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- sebagai pembenaran. Oleh karenanya, kita tidak cukup hanya dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits saja lalu ditelan mentah-mentah, kita butuh kaidah ke-3 yaitu :pemahaman yang benar.
Pemahaman yang benar dalam memahami keduanya adalah pemahaman para sahabat Nabi yang mulia -radhiyallohu ‘anhum-. Mereka adalah murid-murid terbaik Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- yang senantiasa menyertai beliau, berjihad bersama beliau dan menjadi tameng hidup bagi beliau. Para shahabat belajar ilmu Dien langsung dari dari sumbernya yaitu Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-. Pada masa mereka al-Qur’an diturunkan, mereka tahu dalam kedaan apa suatu ayat diturunkan, apa sebab ayat tersebut diturunkan dan mereka paham apa tafsirnya karena dijelaskan langsung oleh Nabi -shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Seandainya mereka melakukan kesalahan Alloh dan Rosulnya langsung menegur sehingga secara umum kondisi mereka adalah maksum, akan tetapi inidividu-individu mereka tidaklah maksum. Alloh telah ridha dengan mereka dan mereka pun telah ridha kepada Alloh. Alloh telah janjikan jannah (surga intuk mereka).
Alloh ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah 100)
Pujian Alloh atas mereka bukanlah karena kehebatan, harta, kepintaran dan lain-lainnya yang bersifat keduniaan, akan tetapi pujian Alloh dalam ayat di atas adalah karena lurusnya cara beragama mereka. Silahkan dibaca tulisan ini dan tulisan ini sebagai tambahan referensi.
Lalu bagaimana cara kita mengikuti mereka padahal jarak kita terbentang belasan abad? Inilah yang menjadi tantangan bagi kita untuk mempelajari Dien. Selama kita mau mengkaji sirah (perjalanan hidup) mereka dengan bimbingan para utadz dan ulama yang kredibel tentu kita akan menemukan gambaran konkrit bagaimana kehidupan mereka dalam segala aspeknya terlebih dalam masalah Dien. Perlu kesungguhan untuk menggali ilmunya, tidak cukup belajar satu atau dua hari, satu atau dua minggu, akan tetapi terus menerus dan kontinyu sampai kita bisa menemukan gambaran yang jelas tentang bagaimana kehidupan beragama mereka, dan bagaimana mereka menjadikan Islam sebagai keseluruhan aktivitas kehidupan mereka baik dalam berumah tangga, bermasyarakat, dan bernegara dengan segala aspek yang melingkupinya baik ekonomi, politik, pertahanan keamanan dan sebagainya.
Demikian klarifikasi dari kami, semoga bisa memberikan sedikit pencerahan untuk kita semua.
Wasollallohu ‘ala nabiyyina muhammad ‘wa ‘ala alihi wa sohbihi…

 
*MUTIARA HADITS NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WA SALLAM* Abu Sa'id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya."(HR BUKHARI) Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah' dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 - di dalam riwayat yang mu'alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, 'Tidak ada Tuhan melainkan Allah', sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom."(HR BUKHARI)