Area Persawahan di sebelah timur Desa Mintobasuki
Lahan pertanian yang cukup luas membentang di bagian timur desa. Hasil pertanian yang dihasilkan antara lain padi, jagung, kacang-kacangan dan beraneka ragam sayuran.
Kali Tambak untuk sarana irigasi pertanian
Sungai kecil yang membujur di sebelah timur desa yang berhulu di Sungai Silugonggo memiliki arti penting sebagai sarana irigasi.
Pesona desa Mintobasuki
Nuansa alam desa yang nyaman, udara yang segar, pemandangan yang indah menjadikan desa Mintobasuki kian anggun dan menyimpan pesona tersendiri.
Sektor pertanian yang perlu dikembangkan
Mintobasuki memiliki lahan pertanian sekitar 90 Hektar terdiri atas lahan basah dan kering. Oleh karenanya perlu ada upaya yang matang untuk mengembangkan sektor ini. Selain itu, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar warga Mintobasuki sampai saat ini.
Sarana peribadahan yang cukup memadai
Desa Mintobasuki memiliki 5 Musholla dan 1 Masjid Agung Al-Amin yang saat ini dalam tahap pembangunan. Dengan adanya sarana penunjang yang cukup memadai ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan warga dalam beribadah.
Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas warga
Sektor pertanian tetap menjadi mata pencaharian dan primadona bagi masyarakat desa Mintobasuki, meski dengan seiring bertambahnya waktu, profesi dan mata pencaharian warga kian heterogen.
Sektor Perikanan di Mintobasuki
Sungai Silugonggo yang bermuara ke laut utara ternyata memberi berkah tersendiri bagi warga Mintobasuki. Hasil tangkapan ikannya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga yang berprofesi sebagai nelayan.
Selasa, 26 April 2016
Senin, 11 April 2016
Desa Mintobasuki Desa Idaman
Setiap kita sah-sah saja merancang harapan indah itu menurut perspektif masing-masing. Mimpi-mimpi untuk mewujudkan desa yang menjadi idaman bagi penghuninya. Demikian pula harapan kami bahwa desa ini menjadi desa yang ASRI. Desa yang Aman, Sejahtera, Ramah dan Islami.
Aman dan rasa aman adalah sesuatu yang sangat penting dan harus ada untuk mengawali segala aktivitas kita. Tanpa rasa aman sangat sulit untuk bisa mewujudkan harapan-harapan kita. Tentu kita masih ingat histori masa penjajahan dulu dimana rasa aman tercabut dari kehidupan kita dan berganti rasa takut dan khawatir. Ancaman setiap waktu bisa saja datang, tidak hanya menghancurkan harta kita, tidak hanya menumpahkan darah kita tapi juga bisa mencabut nyawa kita. Betapa banyak air mata yang tertumpah, darah yang mengalir dan jiwa yang binasa demi untuk mewujudkan keamanan ini.
Keamanan adalah sesuatu yang mahal, yang mesti kita jaga dan kita syukuri sebelum kita melangkah pada tahapan-tahapan pembangunan selanjutnya.
Sejahtera. Setelah kita memiliki modal keamanan yang kuat, barulah kita bisa mewujudkan pembangunan yang telah kita susun tahap demi tahapnya. Pembangunan mestilah efektif dan efisien, jelas target yang akan diraih untuk mewujudkan kesejahteraan bersama, bukan untuk memuaskan kepentingan elit tertentu. Titik final yang hendak dicapai oleh setiap proses pembangunan di sektor apa pun ujung-ujungnya adalah untuk peningkatan kesejahteraan bersama. Pembangunan tidaklah mesti diukur dari sesuatu yang sifatnya fisik. Peningkatan pendapatan, kesehatan yang lebih baik, perekonomian yang stabil, pendidikan yang layak dan pelayanan yang manusiawi adalah diantara hasil-hasil pencapaian pembangunan.
Inilah harapan kita, mewujudkan kesejahteraan, dari tingkat individu, keluarga hingga masyarakat.
Ramah. Karakter utama warga desa sekaligus ciri khas bangsa kita adalah keramah-tamahan penduduknya. Keramahan yang bisa dimaknai sikap kelembutan terhadap sesama, murah senyum, saling sapa, kepedulian terhadap sesama, menjaga hubungan, memahami perasaan orang lain dan saling tolong menolong adalah karakter bawaan yang diturunkan oleh nenek moyang kita. Dengan sikap terpuji yang masih melekat di setiap pribadi kita ini merupakan modal yang kuat untuk mewujudkan kerukunan, ketentraman, dan kerjasama yang baik antar warga dalam menyelesaikan segala permasalahan yang timbul di desa. Meski, sebagian kita sudah mulai meninggalkan sifat ini karena tergerus oleh derasnya arus informasi yang mengimpor berbagai budaya barat yang lebih eksklusif dan individualis yang mengintervensi budaya kita yang luhur.
Islami. Keramahtamahan bangsa kita inilah yang mempermudah masuknya ajaran Islam Indonesia. Sehingga tidak heran jika dalam waktu yang tidak lama para da'i dari Timur Tengah yang dikirim ke Jawa kala itu mampu mendakwahi masyarakat yang mayoritas masih menganut agama pagan (penyembahan berhala, animisme dan dinamisme) tanpa terjadi konflik yang berarti. Dan Alhamdulillah sampai saat ini kita lahir sebagai seorang muslim dan tinggal di tengah-tengah komunitas kaum muslimin.
Islam adalah way of life, jalan hidup yang akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Kita meyakini bahwa Islam lah satu-satunya agama yang benar di sisi Alloh, agama yang diterima oleh Alloh, dan Alloh tidak akan menerima agama apa pun selain Islam. Ini adalah keyakinan yang mesti kita tancapkan ke dada-dada kita dan kita tanamkan ke dalam sanubari anak cucu kita kelak.
Islam bukan hanya agama yang menjadi media bagi hablum minalloh (hubungan vertikal manusia dengan tuhannya) tapi juga menjadi pedoman bagi terciptanya hablum minannas (hubungan sesama manusia) yang harmonis. Islam membawa nilai-nilai kebenaran yang universal dalam kaitannya hablum minannas ini. Apa pun ajaran islam yang terkait muamalah sesama manusia akan cocok, pas dan selalu sempurna jika diaplikasikan. Bahkan hukum-hukum Islam memiliki jangkauan kedepan yang lebih jauh dalam melihat segala persoalan yang hadir di tengah-tengah manusia dari pada hukum-hukum buatan manusia itu sendiri yang sering kali perlu dilakuan revisi dan review.
Islam akan selalu sesuai di setiap waktu, di setiap tempat dan setiap kondisi. islam memberikan petunjuk dan solusi-solusi yang lebih mencakup dalam segala dimensi yang melampau apa yang dipikirkan manusia itu sendiri dalam melakukan problem solving.
Oleh karenanya, perlu kita bangga dengan Islam kita. Kebanggaan yang bukan kosong belaka akan tetapi dibuktikan dalam tindakan nyata dengan mempelajari dan mentadaburinya, mengamalkan dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan. mengajarkan dan mendidik diri kita, keluarga kita dan anak keturunan kita dengan pendidikan islam, serta bersabar dan tabah dalam menghadapi konsekwensi dan resiko yang mungkin saja timbul dari upaya dakwah tersebut.
Ketika kita sudah berusaha mengamalkan islam dengan baik, insya Alloh- pertolongan Alloh akan turun kepada kita, Jika tidak diberikannya saat ini tentu akan diberikan-Nya kelak jika kita menghadapNya.
Inilah empat point penting yang selalu menjadi harapan indah kami untuk desa ini. Semoga bisa terwujud Mintobasuki menjadi desa ASRI (Aman Sejahtera Ramah dan Islami).
Kamis, 10 Desember 2015
Musim Penghujan Telah Tiba
Musim
penghujan memang kadang dating terlambat, padahal bumi yang kering
sudah berharap siraman airnya yang menyejukkan. Rerumputan yang
mengering, pepohonan yang meranggas dan satwa-satwa yang kehausan seolah
sudah tak sabar menanti tetesan air dari langit. Mereka sudah rindu
aroma tanah kering yang terbasahi derasnya hujan.Desember –orang bilang “Gedhe-gedhene sumber “ (paling besarnya sumber air)- tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada umumnya bulan November sudah mulai sering turun hujan, bahkan beberapa tahun silam sudah terjadi banjir, tetapi di tahun ini hujan baru turun di sepuluh hari pertama di bulan Desember. Mendung hitam yang bergumpal-gumpal di angkasa hanya memberi harapan – harapan saja. Sesekali sirna tersibak hembusan angina entah dibawa pergi ke bumi mana.
Kali ini hujan turun, menebarkan aroma tanah kering yang khas tatkala tersiram air. Memberi harapan-harapan baru bagi seluruh mahluk penghuni bumi. Bahwa sebentar lagi kita akan melihat bumi yang kembali menghijau, rerumputan yang basah oleh tetes-tetes embun di pagi hari dan hamparan-hamparan persawahan yang hijau menghampar bagai permadani. Sebentar lagi kita akan melihat para kadhang tani yang berjibaku dengan cangkul dan lumpur.

Sebagian warga tani di desa kita telah menggarap sawahnya sejak sebulan atau dua bulan yang lalu. Mereka sudah menyemai dan menanami sawah mereka sebelum penghujan tiba, dengan harapan ketika tiba musim penghujan tanaman padi mereka sudah memasuki usia pertengahan. Dengan bergotong royong mereka memperbaiki sarana pengairan sawah. Dengan menggunakan mesin pompa air mereka mengairi lahan, menggarap sawah, menabur benih, mengolah lahan dan menanaminya. Kurang dua bulan lagi mereka sudah bisa panen raya. Sementara sebagian warga yang mengalami keterbatasana pengairan dan hanya mengandalkan pengairan dari air hujan nampaknya harus sabar menanti musim penghujan tiba.
Harapan kita, semoga musim penghujan yang membawa rahmat dan kemakmuran segera tiba. Semoga membawa berkah bagi kita semua.
Rabu, 17 Juni 2015
Sebuah Catatan: Mintobasuki Tempo Dulu – Bag 4
Malam
ini surau (langgar) kami begitu ramai bagaikan pasar malam pindah.
Bocah-bocah bersarung dan berpeci hitam tak ketinggalan turut membuat
riuh suasana. Bapak-bapak dan ibu-ibu serta simbah-simbah juga turut
tumpah ruah di situ, padahal hari-hari biasanya mereka tak pernah ke
sini. Bahkan sebagian harus sholat di halaman depan surau karena ruangan
sudah tidak muat.Inilah surau kami yang sederhana. Letaknya di halaman depan rumah mbah Wakidin, bapaknya guru ngaji kami, Pak Sukarman, seorang Muhamadiyyah. Di tempat itu sekarang berdiri Mushalla Utsman bin Affan, dukuh Kulonan RT 01/ RW 02. Surau kami tidaklah besar. Hanya berukuran sekitar 5 x 7 M. Dindingnya dari kepang (anyaman bambu). Tiang-tiangnya juga dari bambu. Atapnya genting biasa yang kadang bocor kala hujan turun. Alasnya dari sak yang dijahit dan dijadikan gelaran, kami yang kadang mencucinya di sungai kalau sudah kelihatan kotor. Dindingnya dicat dengan batu kapur putih agar nampak terang dengan sedikit penerangan. Atapnya berbentuk limasan.Tempat wudhu’nya adalah padasan. Kalau musim kemarau tiba dan sumur kering kami harus mengisi padasan secara bergilir agar kami bisa wudhu’. Ambil airnya dari sungai yang jaraknya sekitar 200m dari surau kami. Kadang seminggu bisa dua kali.
Surau ini adalah tempat istimewa kami, bukan cuma tempat ngaji tapi juga tempat bermain bersama teman-teman sebaya. Masa itu kami belum kenal chanel-chanel TV, juga belum kenal gadget dan smart Phone, apalagi internet. Jadi, semuanya masih alami.
Malam ini sebuah lampu petromak tergantung di tengah ruangan. Biasanya hanya lampu minyak tanah yang menerangi ruangan ini. Ini adalah lampu penerangan terbaik di zamannya. Terang sekali bagi kami lampu ini. Lampu ini hanya dipakai buat penerangan di acara-acara tertentu yang dianggap penting dan istimewa. Kalau tekanan ditangki minyak tanahnya menurun lampu pun meredup dan harus dipompa ulang. Mungkin anak sekarang tak pernah tahu kalau lampu kuno itu dulunya sangat ‘fantastic’. Listrik dari PLN belum masuk. Hanya tiang-tiangnya yang terpancang di pusat desa.
Ya, malam ini adalah malam istimewa, malam 1 Ramadhan. Malam ini kami akan melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Pak Sukarman Imam sekaligus guru ngaji kami. Sehabis Isya’ ada sedikit tausiyah yang beliau sampaikan. Temanya standar, tentang ramadhan dan pernik-perniknya. Baru kemudian sholat tarawih pun dilaksanakan. Sebagai orang Muhammadiyyah, kami pun diimami dengan 11 rekaat saja termasuk witir, tapi lamanya seperti sholat yang 23 rekaat bahkan lebih lama. Lama bukan karena membaca surat al-Baqarah atau Ali Imron, tapi sujud dan rukuknya ini yang lama. Ya, kadang kami juga merasa bosan dengan lamanya sholat. Dari pengeras suara, di musholla-musholla lain terdengar sudah pada tadarusan. Sedangkan kami masih sholat tarawih. Kata teman-temanku di sekolah, sholat di masjid desa sangatlah menyenangkan, sholatnya cepat, jadi nggak capek. Apalagi kalau imamnya pak ini dan pak itu, wow bisa kilat. Aku pun kadang berfikir sebatas naluri kebocahannku, kenapa sholatnya mesti lama seperti ini, kenapa tidak dipercepat seperti di masjid-masjid sana, 23 rekaat paling lama 20 menit. Kan asyik… Namun, seiring berlalunya waktu dan bertambahnya pengetahuanku, memang seperti itulah mestinya sholat yang betul. Ada tumakninahnya. Sekarang sudah tidak akan ditemukan lagi di sini sholat tarawih sebagus itu. Andai ada, aku pasti akan setia menjadi makmumnya. Sholat bukan diukur dari kuantitasnya, tapi dari kualistasnya.
Selepas sholat tarawih, ada satu acara yang selalu kami tunggu-tunggu, ada pembagian makanan di sini. Maklumlah, kami masih bocah. Kadang pisang goreng, roti, lemper, pisang atau apalah. Yang bawa adalah para jamaahnya, secara bergantian tiap malamnya. Karena sering rebutan, kadang kami pun kena marah dari orang-orang tua.
Terkadang kami tidak pulang dan tidur di surau sampai menjelang makan sahur. Atau kadang kami bersama teman-teman lainnya keliling kampung sambil ‘tongtek’an membangunkan orang-orang agar tidak telat masak atau sahur.
Inilah Ramadhan kami, bulan yang sangat kami nanti-nanti. Kami menantikan ramadhan bukan karena kemuliannya akan tetapi karena ada nuansa yang berbeda di bulan suci ini. Maklum, usiaku saat itu mungkin baru sepuluhan tahun.
Inilah sedikit cuplikan Ramadhan di masa lalu…
Jumat, 22 Mei 2015
Sebuah Catatan: Mintobasuki Tempo Dulu – Bag 3
![]() |
| SD Mintobasuki 01 yang tidak terurus karena sudah tidak lagi difungsikan sejak 4 tahun yang lalu. |
Hari ini hari Senin, seperti biasa SD Mintobasuki 01 mengadakan upacara bendera. Murid-murid berbaris menghadap Selatan. Dimulai dari siswa kelas 1 di sebelah paling kiri, Timur. Kemudian kelas 2, kelas 3, kelas 4 dan kelas 6. Kelas 5 menjadi petugas upacara. Ada yang menjadi pemimpin upacara, protokol, pengibar bendera, pembaca do’a, pembawa teks Pancasila dan koor paduan suara. Ada sekitar 130an siswa dari semua kelas. Pemimpin upacaranya Pak Lasiman Hadimarjoko alm, beliau guru dari desa Banjarsari sekaligus kepala sekolah di sini. Staf guru berdiri di sebelah selatan halaman menghadap utara, berhadapan dengan barisan siswa. Guru pengajar kala itu ada Bu Sunami, Bu Mayawati, Bu Siti Muayanah, Bu Kotrini, Pak Supri (Suami Bu Siti Muayyanah)Pak Sularto (guru olah raga), Pak Ikhwan Idris (guru agama) dan Pak Joko Suprapto, guru paling favorit kala itu yang selalu berada dibarisan belakang murid-murid tiap kali upacara bendera untuk mengawasi anak-anak yang ramai. Penjaga sekolahnya Pak Siman (Sekdes desa saat ini).
Inilah hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang selama sebulan. Ada siswa-siswa baru kelas satu yang masih malu-malu dengan guru barunya. Pak Joko Suprapto duduk di depan kelas, membuka absensi dan mulai mengabsen anak-anak baru itu. Jaryanto, Sumardi, Narto, Gunari, Karyanto, Lasmin, Suhardi, Selamet, Sutiyono, Wahyudi, Sutarman, Sri Putriningsih, Sundari, Kusmiati, Leginah, Suwarni, Surati, Sumarsih, Rubiati, Darmi, dan beberapa nama lainnya yang sudah tidak aku ingat lagi. Pak Joko, beliau guru favorit kami saat itu -dan mungkin juga sampai sekarang- , beliau dikenal ramah, jarang sekali marah, bisa membuat anak-anak nyaman belajar, dan yang pasti pinter ndongeng. Kami tak pernah bosan mendengarkan dongeng-dongengnya di sela-sela pelajaran untuk menghilangkan kebosanan. Tak heran bila kelas yang diampu beliau rasanya seperti ‘ketiban pulung’ alias dapat anugerah.
Tapi, ada juga guru yang killer -nggak usah disebutin namanya-. Paling ditakuti anak-anak. Dengar namanya saja anak-anak sudah mengkeret kayak karet. Suasana kelas selalu mencekam, apalagi kalau pelajaran matematika. Maklum, anak-anak yang nakal dan nggak mudengan terkadang membuat tensi naik. Ada anak-anak yang dimarahi sampai pingsan. Bukan cuma sekali. Ada yang orang tuanya nggak terima anaknya dijeweri sampai ‘nglarak’ ke sekolahan sambil marah-marah. Yah…namanya juga anak-anak. Dan guru juga manusia. Kesabaran kadang juga ada habisnya. Terkadang persoalan rumah tangga yang belum terselesaikan bisa mencari pelampiasan jika terbawa ke ruang kelas.
Inilah sekolah kami. Inilah tempat kami belajar dan bermain. Banyak kisah dan cerita yang terukir di sini. Masa-masa tanpa beban, masa dimana beban terberat adalah PR Matematika.
Kala itu, sekolah tanpa bersepatu adalah hal yang biasa. Bahkan yang punya sepatu pun lebih suka nyeker. Mungkin bocah-bocah kampung itu tidak biasa pakai sepatu yang bikin kaki ‘sumuk’ dan berkeringat itu. Ada pula yang pakai sepatu dengan kaus kaki yang dicuci entah berapa bulan sekali, warna putihnya sampai berwarna kecoklatan dilapisi debu.
Kami bagaikan bocah-bocah yang tak terurus. Kebanyakan orang tua kami adalah pekerja perantauan. Dan kami dititipkan ke kakek-nenek. Maklum kalau kurang perawatan dan kurang gizi. Bisa makan pakai tempe tahu atau telur itu sudah istimewa. Kaum marjinal seperti saya dibuatkan sambel goreng yang asinnya minta ampun saja sudah cukup. Bisa dipakai nemenin nasi dua atau tiga hari. Kalau lagi panen jagung, sarapan pagi pun cukup jagung rebus. Atau brabuk (nasi jagung), yang kalau nggak tahan bisa langsung mencret.
Baju seragam pun seminggu sekali dicuci di kali. Kumal itu sudah pasti. Seterika belum dikenal, hanya seterika ‘bahan bakar’ arang yang ada. Itu pun kalangan khos yang pakai. Mandi pagi adalah hal yang istimewa, apalagi gosok gigi, cukup cuci muka tak perlu pakai sabun, pakai baju lalu berangkat ke sekolah. Kulit kaki dan tangan bersisik. Kelihatan putih-putih seperti dicoret kapur kalau digaruk. Biar nggak kelihatan terlalu bersisik biasanya diolesi minyak goreng bekas lalu diratakan di lengan dan di kaki. Kelihatan mengkilap. Begitu saja sudah cukup bergaya-gaya. Teman-teman menyebutnya minyak Jenplin alias ‘Jelantah Pindang’. Celakanya, kalau kena debu langsung menempel dan berkerak di kulit. Rambut cukup diolesi minyak kemiri. Lalu disisir.
Beberapa teman sempat gatal-gatal kudisan, bahkan ada yang sekujur tubuh. Menimbulkan bau amis yang bikin mual. Menyisakan bekas-bekas yang tak sedap dipandang meski sudah sembuh. Produk shampo belumlah menjamur seperti saat ini. Hanya ada shampo tanpa merk. Entah apa namanya orang menyebut, aku sudah lupa. Rambut gimbal penuh kutu, bahkan ada yang sampai menimbulkan koreng di kepala.
Yah, itulah masa-masa kecil di sekolah. Selalu indah untuk dikenang meski kadang ‘ngenes’ menjalaninya. Ada kisah-kisah jenaka, meski ada juga cerita sedih dan keprihatinan.
Sejak empat tahun ini SD Mintobasuki 01 sudah tidak lagi difungsikan karena kekurangan siswa. Semua siswa dijadikan satu di SD Mintobasuki 02. Akibatnya bangunannya menjadi kotor dan tak terurus sebagaimana yang ada di foto ini. Banyak tanaman-tanaman liar dan rumput-rumputan yang meninggi di halamannya. Ruangannya sudah banyak rumah laba-laba. Beberapa kaca jendelanya bahkan pecah.

Oke, ini dulu kisah kami waktu di SD Mintobasuki 01. In sya Alloh, ada kisah lain di tempat yang lain.
Kamis, 21 Mei 2015
Sebuah Catatan: Mintobasuki Tempo Dulu – Bag 2
Siang
itu terik matahari benar-benar terasa membakar bumi. Tak ada setangkai
awan pun di langit sana. Hanya ada warna biru tua yang menghampar dari
ufuk ke ufuk. Sang surya seolah sedang memamerkan keperkasaannya kepada
penghuni bumi. Hembusan angin menerbangkan debu-debu jalanan tak tentu
arah. Mengotori dinding-dinding, pintu-pintu dan jendela-jendela.
Pepohonan meranggas kekurangan air seperti kayu lapuk yang sudah mati.
Daun-daun menguning, lalu mengering dan berguguran. Rerumputan pun
kering kecoklatan terpapar panas matahari. Menjadi hari-hari berat bagi
perumput. Petak-petak persawahan menjadi hamparan tanah tanpa tanaman.
Sejauh mata memandang, bumi seolah gersang, kering kerontang. Ya,
kemarau panjang belum juga berakhir.Seorang gadis kecil duduk di teras depan rumah joglo yang menghadap ke selatan itu. Ia sengaja agak menepi, menghindari kerumunan orang-orang dewasa yang sedang antri untuk mendapatkan air. Sebuah ember air telah ia siapkan dari rumah. Sebagaimana mereka, gadis kecil 10an tahun ini pun sedang menunggu antriannya. Rumahnya tidak jauh, hanya di seberang jalan sana, tak lebih 20m dari sini. Inilah tugasnya tiap pulang dari sekolah, ‘ngangsu’ (ambil air) dari tetangga sebelah yang sumurnya masih keluar airnya. Genuk-genuk wadah air yang telah kosong harus dipenuhi hari ini. Untuk masak, minum, mandi, dan kebutuhan lainnya.
Bergantian mereka meng-engkol tuas pompa sumur bor itu. Sejak siang tadi nyaris sumur bor ini tak berhenti berderit-derit. Menghisap air dari perut bumi untuk dimuntahkan di ember-ember dan galon-galon yang berjejer di depannya. Ini adalah sumur satu-satunya yang masih mengeluarkan air di sini. Rata-rata sumur ‘selonthong’ telah mengering karena kemarau panjang tahun ini. Andai pun ada airnya tak seberapa. Bukan hanya warga Koripan sampi saja yang antri, tapi juga warga dari dukuh-dukuh lain di luar Koripan Sampi Mintobasuki.
Pemandangan seperti ini adalah hal biasa saat kemarau panjang melanda dan persediaan air menipis. Untuk mendapatkan air mereka harus rela menempuh perjalanan ke kampung-kampung lain yang masih ada sumber-sumber air. Mereka yang datang kesini berombongan dengan sepeda onthel dan galon terikat karet ban dibelakangnya. Terkadang harus datang ke sini dua atau tiga kali sesuai kebutuhan.
Kala itu sumur bor dengan pompa listrik belum dikenal, paling bagus dengan pompa manual yang sering rusak karena seringnysa dipakai. Kadang sealnya jebol, klepnya rusak atau tuasnya patah. Maklumlah, di musim kemarau seperti ini hampir sumur yang ada airnya selalu menjadi serbuan ‘umat manusia’. Hampir tidak ada tenggangnya. Seharian bisa dipakai non stop.
Di tempat lain yang jaraknya sekitar 2 km dari tempat ini. Tiga bocah kecil tengah mendayung perahu kayunya di sungai Silugonggo. Mereka membawa ember-ember air yang telah disiapkan. Angin utara yang bertiup cukup deras ke arah selatan menjadikan panas terik siang itu agak terkurangi, namun membuat kewalahan mereka karena harus menerobos angin yang berlawanan arah. Perahu itu melaju menuju utara, membelah ombak-ombak kecil air sungai yang sudah berasa asin, menyisakan riak-riak berbuih di belakangnya. Sungai ini sudah tak sejernih seperti beberapa waktu lalu. Warnanya sekarang menjadi coklat tua pertanda kadar garamnya tinggi. Memang seperti inilah sungai Silugonggo jika kemarau panjang tiba.
Perahu itu terus melaju hingga sampai ke persawahan Sebrang Lor, menyusuri aliran sungai yang berjarak sekitar 500an meter. Disebut ‘Sebrang Lor’ karena letaknya yang berada di selah utara (Lor) desa Mintobasuki, dibatasi sungai Silugonggo. Untuk mencapai daerah itu harus menyebrangi sungai dengan perahu atau berenang. Dari situlah tempat ini disebut Sebrang Lor atau Branglor. Daerah ini tidak termasuk wilayah Mintobasuki tapi masuk wilayah desa Mustoko Harja dan desa Dengkek, Pati. Tapi -kala itu- banyak juga warga Mintobasuki Kulonan yang bekerja sebagai petani penggarap di sana.
Sungai Silugonggo punya arti penting bagi penduduk sekitar. Mereka memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dari masak, minum, mandi dan cuci. Namun kemarau panjang telah menjadikan air sungai asin karena air laut masuk ke sungai dari muara. Dan hal ini bisa berlangsung lama, sampai kemarau berakhir dan musim penghujan tiba.
Lalu, mau kemana bocah-bocah itu? Ternyata, mereka tidak sendirian. Di seberang sana banyak juga perahu-perahu yang sudah ditambatkan di tepian sungai. Ada anak-anak sebaya mereka juga ada orang dewasa. Mereka sebenarnya mau mencari air tawar untuk dibawa pulang. Di tepian sungai itu ada belik-belik (sumur-sumur kecil) yang sengaja dibuat untuk menampung rembesan air sawah di atasnya. Sawah-sawah itu tidak pernah kering sepanjang tahun karena sistem irigasi yang memadai. Sisa-sisa air sawah inilah yang mereka manfaatkan untuk keperluan sehari-hari.
Mereka belum pulang sebelum wadah-wadah air yang mereka bawa penuh terisi air. Terkadang air di belik itu habis sebelum ember-ember air yang mereka bawa penuh. Harus menunggu belik-belik itu terisi air lagi. Tapi jika beruntung, air bisa saja melimpah dan mereka bisa mengisi perahu mereka dengan air belik itu. Biasanya sebelum senja mereka sudah sampai rumah. Dan besok siang mereka harus ada di sini lagi, ‘ngangsu’ lagi.
Tentu saja air belik itu sangat tidak layak, selain keruh karena lumpur juga bercampur pupuk-pupuk dan pestisida dari sawah, atau bahkan pengotor-pengotor lainnya. Bisa menimbulkan dampak yang berbahaya bagi kesehatan. Tapi, mereka tidak ada pilihan lain selain memanfaatkan belik-belik air itu.
Inilah sekilas gambaran perjuangan warga Mintobasuki untuk mendapatkan air bersih saat kemarau panjang melanda, sekitar 20an tahun yang lalu. Saat ini kita hidup di jaman yang serba mudah. Meski kemarau panjang, saat ini kita tidak perlu antri air kayak dulu. Sudah ada PAM SIMAS yang mensuplai kebutuhan air sepanjang tahun. Sudah banyak warga yang membuat sumur pompa sendiri, hampir setiap rumah ada. Bahkan, untuk kebutuhan minum sudah ada yang jualan air minum isi ulang keliling. Ada juga warga yang jualan air dari PDAM yang masuk ke kampung-kampung. Alhamdulillah…
Senin, 18 Mei 2015
Sebuah Catatan: Mintobasuki Tempo Dulu – Bag 1
![]() |
| Sungai Silugonggo |
Pada saat peralihan dari pasang ke surut inilah para nelayan banyak memanfaatkannya untuk memasang jaring untuk menangkap ikan karena aliran air relatif lambat bahkan berhenti sama sekali. Nelayan tidak mungkin memasang jaringnya ketika arus sungai mengalir karena jaring-jaring yang mereka pasang bisa terseret arus. Banyak jenis ikan air tawar hasil tangkapan para nelayan, ada lundu, wering, kecel, jepet, nduri, lele, sampai benggel atau tageh, dll. Terkadang mereka jual jika hasilnya banyak, atau buat konsumsi sendiri jika hasilnya sedikit.
Saat kemarau panjang air sungai pun menjadi asin karena pengaruh pasang surut air laut tadi. Padahal kita tahu arti penting sungai Silugonggo bagi warga sekitar yang memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. In sya Alloh akan ada tulisan tersendiri tentang bagaimana ‘perjuangan’ warga Mintobasuki untuk mendapatkan air tawar saat kemarau panjang melanda.
Sejenak, mari kita tengok tepian sungai Silugonggo yang berada di tepi barat desa Mintobasuki. Airnya cukup jernih dan alirannya cukup tenang.
Matahari mulai meninggi di pagi itu ketika tepian sungai Silugonggo riuh dengan suara bocah-bocah yang tengah asik mencari kerang. Liburan Minggu ini mereka punya acara spesial di ‘markas besar ‘. Sudah sejak beberapa hari yang lalu mereka membuat janji untuk hari ini, untuk mencari kerang di sungai, dimasak bareng-bareng dan dinikmati bareng-bareng. Ada belasan anak yang telah berkumpul dengan tugas masing-masing. Mencari kerang di sungai, mempersiapkan ranting-ranting kering untuk kayu bakar, dan menyediakan perlengkapan masak. Canda tawa dan teriakan-teriakan kecil kadang terdengar memecahkan kesunyian tepian sungai yang airnya tenang itu.
Dengan sigap beberapa anak laki-laki yang jago renang terjun ke sungai dengan bertelanjang dada, menyelam sampai ke dasarnya. Mengeruk dasar sungai yang berlumpur dengan serok kecil dari jaring nylon tuk mengambil kerang-kerang itu. Tak selang beberapa lama mereka kembali menyembul ke permukaan dengan nafas terengah-engah. Lalu menepi, menyerahkan hasil ‘tangkapannya’ ke anak-anak perempuan yang menunggu di tepian dengan ember kecil untuk menampungnya. Berulang-ulang mereka menyelam ke dasar untuk mengumpulkan kerang-kerang itu. Mata penyelam-penyelam kecil itu nampak memerah karena iritasi air sungai yang sudah mulai asin karena kemarau panjang tahun ini. Badannya pun sudah nampak ‘lumuten’ karena terlalu lama berendam di air. Setelah dirasa cukup mereka pun meninggalkan tepian sungai itu dan kembali ke markasnya.
Inilah markas besar mereka. Jaraknya sekitar 150an meter dari tepian Silugonggo. Berdiri di pekarangan belakang rumah sang ketua. Markas besar Elang Putih. Elang Putih sebuah nama yang diambilkan dari novel anak yang berjudul “Jago-jago Bandung Selatan”yang pernah ia baca dari perpustakaan sekolah. Sebuah novel yang menceritakan tentang persahabatan dan kebersamaan bocah-bocah Bandung Selatan dengan grup Elang Putihnya. Dikemas dengan bahasa yang lugas, santai dan penuh humor segar. Kisah ini yang menginspirasi mereka.
Markas ini mereka bangun bersama dengan tangan-tangan mungil mereka sendiri. Di bawah rerimbunan pohon-pohon bambu yang lebat dengan hawa udara yang sejuk. Angin yang bertiup semilir menggoyangkan pucuk-pucuk bambu mengeluarkan suara gemerisik nyanyian alam. Sesekali terdengar derit batang-batang bambu yang saling bergesekan diterpa angin. Kicau burung-burung kecil bersahutan di ranting-rantingnya seolah sedang mengawasi belasan bocah yang sedang asyik bermain di bawahnya.
Sebuah gubug kecil, ukuran panjang dan lebarnya sekira 4m x 1,5m, dan tingginya sekira 1,5 m atau kurang dari itu, tiang-tiangnya dari bambu-bambu kecil, demikian pula penguat-penguatnya. Atapnya adalah kelaras (daun pisang yang telah mengering) yang mereka susun rapi. Demikian pula dindingnya juga dari kelaras yang telah dianyam sedemikian rupa. Berhari-hari bocah-bocah kecil itu membangun markas mereka bersama-sama sampai akhirnya jadi tempat berkumpul yang nyaman.
Di sinilah mereka sering berkumpul dan bermain bersama, terlebih jika liburan sekolah tiba. Terkadang mereka juga belajar kelompok di tempat ini sepulang sekolah. Nyaris tidak pernah sepi dari suara bocah-bocah kecil yang sedang asyik bermain. Canda riang dan gelak tawa mereka selalu menjadikan hidup tempat sunyi ini. Tak jarang mereka di teriaki warga karena bermain ‘tongtek’ dari kenthongan bambu dengan suara keras. Tapi dasar bocah, mereka tak pernah jera diomeli simbah-simbah yang merasa terganggu dengan suara ‘musik’ mereka.
Siang itu, saat matahari tepat di ubun-ubun hidangan kerang kuwek pun telah siap. Sebuah tungku kecil dari batu bata yang ditumpuk di depan gubug dengan sisa-sisa api yang masih menyala. Sebuah periuk kecil berisi kerang kuwek yang telah matang dengan hanya dibumbui garam dapur dan motto cap mobil. Aroma sedapnya membuat mereka harus menelan ludah sambil mengantri. Masing-masing telah siap dengan daun pisang di tangan sebagai piringnya. Seorang juru masak membagi-bagi jatah kepada mereka. Terkadang ada yang protes karena merasa pembagian tidak adil.
Ya, hari itu adalah hari yang indah bagi mereka. Liburan yang sangat menyenangkan. Kebersamaan, kekompakan, kerjasama, petualangan dan keakraban yang mewarnai persahabatan mereka.
Masa-masa indah bagi bocah-bocah itu. Bebas dan lepas tanpa beban. Dimana beban berat hanya PR matematika. Berbeda dengan bocah-bocah sekarang yang telah terampas ‘kemerdekaannya’ karena kurikulum yang padat. Pagi berangkat sekolah, pulang sekolah persiapan ngaji di TPQ, habis ngaji persiapan les Privat. Malam hari mengerjakan PR dari sekolah. TV dan tablet jadi teman bermainnya.
Kini anggota Elang Putih telah berpisah, masing-masing melalang buana ke berbagai penjuru sibuk dengan urusannya masing-masing. Semoga senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap urusan kita.
(Dari catatan 90-an)
Rabu, 22 April 2015
Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 6 (Selesai)
![]() |
| Bocah-bocah perantauan |
Berbicara tentang perantauan adalah berbicara tentang hidup di pengasingan. Hidup tanpa sanak saudara dan handai taulan. Hidup di suatu negeri yang penghuninya tak mengenal dirinya begitu pun dia tidak mengenal para penghuninya. Terkadang dia harus rela menjadi orang yang terpinggirkan dalam kancah pergaulan. Tak ada mata yang peduli padanya. Tak ada hati yang menaruh iba untuknya. Tak ada tangan yang terjulur menolongnya. Dan tak ada pundak tempat bersandar baginya. Ya…karena mereka adalah orang asing. Deritanya hanyalah dirasakan sendiri, perihnya hanya dipendam sendiri, dan keluh kesahnya hanya disimpan di hati. Hanya pada Allohlah tempatnya mengadu. Namun ia harus tetap kokoh dan kuat.
Berbicara tentang perantauan adalah berbicara tentang tempaan hidup, kerja keras dan perjuangan yang sarat dengan suka duka tuk menggapai asa. Jika kita mendengar kisah-kisah mereka tentulah ada berjuta inspirasi yang kita dapati. Inspirasi untuk tetap kokoh dan tegar dalam menghadapi berbagai terpaan dan hempasan badai cobaan. Ya, tiada kesuksesan dalam ranah apa pun tanpa diwarnai pengorbanan, kerja keras, kesungguhan, ketekunan, cucuran keringat bahkan uraian air mata. Ini bukanlah omong kosong para pembual. Juga bukan kata-kata retorika para orator. Tapi ini adalah kenyataan. Tidak ada istilah keajaiban untuk bisa meraih kesuksesan. Tak ada keberhasilan bagi mereka yang duduk berpangku tangan.
Berbicara tentang perantauan adalah berbicara tentang pengalaman-pengalaman baru yang tidak pernah ia dapatkan di tanah kelahirannya. Alam telah menjadi kampus kulih untuknya. Perjalanan panjang yang dilaluinya menjadi mata kuliah baginya. Dan semua itu akan menjadi mutiara-mutiara berharga di masa-masa yang akan di laluinya.
Perantau Mintobasuki di tanah seberang.
Mereka tinggalkan kampung kelahirannya dan orang-orang yang ia cintai. Ia harus rela meninggalkan wajah-wajah yang penuh kesedihan dengan kepergiannya. Ia harus pura-pura tersenyum sambil berucap: “Jangan sedih, aku akan kembali”. Kawan, tahukah engkau apa yang ada di dada mereka tatkala mengucapkan kata-kata itu? Dada itu bergemuruh menahan sesaknya kesedihan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mengalaminya.
Kemudian dengan berat hati ia harus melangkah pergi dengan satu harapan bisa berjumpa dengan mereka suatu hari nanti. Ya, berjumpa dengan sesuatu yang berbeda dengan perpisahan hari ini. Berjumpa dengan membawa keceriaan untuk mereka. Pulang dengan membawa harapan indah yang diidamkan.
Kawan, perjalanan perantau adalah perjalanan yang penuh siksaan. Berhari-hari dia harus berguncang-guncang di atas kendaraan yang membuat badan serasa remuk redam. Terkadang harus menahan lapar dan dahaga. Terkadang harus bertemu dengan orang-orang yang buruk akhlak dan perangainya. Melintasi lautan menuju tanah seberang, menuju negeri yang akan memberikan harapan baru untuknya dan orang-orang yang ia cintai. Di sanalah ia menjadi orang asing dan terbuang. Ia tidak tahu akan bahagia ataukah celaka di sana. Yang ia punya hanya harapan…
Jauh-jauh dia meninggalkan tanah kelahirannya bukanlah untuk tinggal di tengah kota metropolitan yang terang benderang dengan lampu-lampu jalanan. Akan tetapi ini adalah hutan belantara yang gelap gulita dengaan diterangi lampu temaram. Jauh-jauh ia tinggalkan rumahnya yang nyaman dan berpindah di sebuah gubug tua berdinding papan dan beratap rumbia. Jauh-jauh ia tinggalkan kehangatan bersama keluarga menuju tempat yang dingin dan sepi seorang diri. Di sinilah dia harus memulai hidup baru demi mendapatkan sebongkah mutiara harapan yang ia impikan tatkala meninggalkan negerinya. Tidak ada waktu untuk berleha-leha dan bersantai-santai di sini. Yang ada hanyalah berlari tuk segera mewujudkan mimpi.
Ia torehkan harapan-harapannya dibatang-batang karet itu dan berharap ada keberuntungan yang akan mengalir untuknya. Mengalir memenuhi pundi-pundi mimpinya. Di situlah ia berteduh; di situ kadang ia terlelap dalam pelukan mimpi. Dan terkadang rasa lemah itu datang. Ketika kelemahan itu datang terbayanglah wajah-wajah orang yang ia cintai; seolah menguatkan hatinya. Wajah-wajah yang merindukannya dan wajah-wajah yang ia ridukan. Kelemahan hanya akan menjadikannya kian lama tinggal di tempat ini. Siapa orangnya yang rela berlama-lama di tempat ini, dia harus segera bangkit lagi tuk berlari mengejar mimpi.
Ketika tiba waktunya, ia pun akan meninggalkan tempat itu dan kembali ke kampung halamannya; kembali ke tengah-tengah orang yang dicintai dan mencintainya. Ia akan kembali dengan senyum sebagaimana dulu ia telah meninggalkan mereka dengan tangis dan kesedihan. Ia akan bercerita tentang hari-harinya di perantauan. Ia akan berkisah tentang siang-siangnya yang panjang dan malam-malamnya yang kelam.
Ya, dia telah melewati masa-masa pengasingan di perantauan. Ia telah melewati hari-hari berat penuh tempaan dan perjuangan. Dan kini ia harus kembali ke negeri kelahirannya dengan penuh suka cita. Bagi para perantau perjalanan menuju kampung halaman adalah perjalanan menuju ‘surga’. Telah hilang keletihan; telah sirna kesedihan dan telah pudar hari-hari penantian. Semuanya akan terbayar di hari ini; terbayar dengan perjumpaan dengan orang-orang yang ia cintai.
Jangan kau iri dengan keberhasilan mereka sebelum engkau tahu kesedihan dan kepedihan yang mereka rasakan. Karena mereka tidaklah membeli semua itu dengan harga murah. Ada perjuangan, ada pengorbanan, ada keringat dan dan ada air mata.
Demikianlah sekelumit gambaran para perantau Mintobasuki yang ada di Pulau Sumatra, semoga bisa memberikan inspirasi kepada kita agar lebih termotifasi dalam menggapai asa dan harapan untuk hidup yang lebih baik.
Wassalam…
Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 5
Kebersamaan di Perantauan…
![]() |
| Selepas menunaikan sholat Idul Adha mereka saling bercengkerama |
Nun jauh di sana, di pulau seberang di tanah Sumatra beberapa warga Mintobasuki juga melakukan hal yang sama. Pagi itu mereka menuju Mushalla mereka yang sederhana; yang dindingnya dari papan-papan kayu dan beratapkan seng. Mushalla itu berdiri di tengah rawa yang diapit dua bukit kecil yang rimbun oleh pohon karet. Rawa itu sudah tidak lagi berupa rawa karena sudah diubah para pen-Dompeng menjadi dataran berpasir. Di sebelahnya ada sungai kecil yang airnya selalu mengalir. Tak pernah kering meski musim kemarau. Ikan-ikan kecil berenang-renang di airnya yang jernih tuk mencari makan. Gemercik airnya terdengar sampai di dalam Mushalla. Di belakang Mushalla itu ada sebuah kolam nila milik warga yang sudah tidak terurus.
Mushalla itu berdiri di akhir tahun 2010 yang lalu dengan dana dan tenaga dari warga sini. Meski sederhana namun Mushalla itu cukup berarti bagi warga yang akan melakukan aktivitas ibadah misalnya sholat Jum’at daan sholat Ied semacam ini. Dulu, sebelum mushalla ini berdiri warga yang akan sholat Jum’at atau sholat Id harus pergi ke Masjid Trans atau ke dusun Kotojayo. Terkadang harus jalan kaki menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dengan kondisi semacam ini banyak warga yang akhirnya tidak melakukan sholat Jum’at. Alhamdulillah, dengan adanya Mushalla sederhana ini aktivitas ibadah terfasilitasi.
![]() |
| Bincang-bincang sehabis sholat Jumat |
Pagi itu yang bertindak sebagai khotib sekaligus imam sholat adalah Purwanto (Abu Shofiyyah) asal Lampung menikah dengan warga Mintobasuki dan ber-KTP Mintobasuki. Mereka melaksanakan sholat Idul Adha di halaman Mushalla dengan beralaskan sak plastik. Meski sederhana namun aktivitas ibadah pagi itu berlangsung khidmat. Selesai melaksanakan sholat Id dilanjutkan dengan bincang-bincang sambil menikmati hidangan seadanya yang disediakan. Hari itu mereka tidak pergi ke kebun seperti hari-hari biasanya. Hari ini adalah hari raya kami. Kehangatan dan persaudaraan antar sesama warga perantauan begitu terasa.
Beginilah kebersamaan warga mintobasuki yang ada di perantauan. Rasa persaudaraan itu terpupuk karena adanya perasaan senasib sebagai anak-anak rantau yang jauh dari kampung halaman. Kebiasaan saling mengunjungi dan saling berbagi mewarnai pergaulan mereka sehari-hari. Saling tolong dan saling dukung sudah merupakan kewajiban di antara mereka. Jika di antara mereka ada yang sakit seolah semuanya merasa turut merasakan. Mereka berusaha membantu dengan apa pun yang mereka punya. Begitu pula jika ada di antara mereka yang lagi punya hajat dengan suka rela mereka berbondong-bondong untuk membantu. Bahkan mereka rela meninggalkan pekerjaannya di hari itu demi untuk membantunya. Semisal membuat bedeng baru untuk tempat tinggal, atau ada yang nikahan, atau pun kebutuhan lainnya. Demikian pula jika ada kesusahan yang dialami salah seorang di antara mereka; mereka berusaha mengunjunginya untuk menenangkan hatinya.
![]() |
| Suasana pasar Atas Muara Bungo yang menjadi tempat belanja kebutuhan pokok para pekerja karet. |
Pasar Atas Muarabungo selain sebagai tempat berjual beli kebutuhan sehari-hari juga sebagai tempat saling bertemu dan berkumpul warga Mintobasuki yang ada di seantero Kab Muarabungo ini. Biasanya mereka berbelanja di hari Jum’at karena kebiasaan ‘rikinan’ (baca: terima gaji) juga di hari Jum’at. Bukan hanya warga Mintobasuki yang ada di Darat, Kulim atau Kayu Arao saja yang datang ke sini tapi juga dari tempat-tempat lain. Di sinilah tempat mereka saling tukar pikiran dan menanyakan keadaan antara satu dengan yang lainnya. Sunguh terasa kehangatan dan keakraban di sini. Biasanya mereka baru kembali ke rumah (baca: bedeng) sehabis ashar atau sebelumnya.
Dulu, sebelum motor bisa masuk ke hutan karet, pasar yang menjadi tujuan belanja adalah pasar Jum’at di dusun Danau. Dengan jalan kaki mereka ke sana menerobos semak-semak hutan karet mengambil jalan pintas. Berangkat sehabis subuh dan pulang menjelang maghrib dengan memikul barang-barang kebutuhan harian. Namun kini sudah tidak zamannya lagi, mereka bisa bawa motor ketika belanja. Lebih hemat waktu dan tenaga. Mereka pun bisa memilih ke Danau atau Muarabungo.
Namun, seiring berjalannya waktu, tempat itu kini lebih baik dari masa-masa itu. Hampir tiap bidang Kebun karet sudah ada bedeng-bedeng yang ditempati pekerja. Meski jarak antar bedeng saling berjauhan tapi kondisi ini jauh lebih baik dari pada 30 tahun yang lalu. Saat ini ada belasan warga yang tinggal di kawasan ini, dan banyak di ataranya adalah warga MintobasukiKec Gabus Kab Pati.
Foto-foto keakraban warga di perantauan


Senin, 20 April 2015
Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 4
Demikianlah kondisi mereka saat ‘rikinan’.
Para pekerja sadap karet berada dalam kondisi yang dilematis; terlebih dalam sistem pembagian hasil. Secara umum skema bagi hasil antara pekerja dan bos adalah 2 : 1. Artinya kalau harga karet laku 3.000.000 rupiah maka yang 2.000.000 untuk pekerja dan yang 1.000.000 untuk Bos. Sekilas terlihat menggiurkan karena para pekerja hanya bermodalkan dengkul dan pisau sadap sedangkan si Juragan modalnya besar -kebun karet-. Namun yang jadi permasalahan adalah anak buah harus menjual getahnya ke Bos dengan harga dibawah standar, bahkan bisa 30% di bawah harga pasar yang berlaku, bahkan kadang bisa lebih. Misalnya saja harga lelang 15.000/kg Bos karet menetapkan harga anak buahnya berkisar antara 10.000 sampai 12.000 saja. Dari harga penjualan ini masih dikurangi berat kotor biasanya 5%-15% tergantung kandungan kadar air dan serpihan tatal yang terbawa, dikurangi juga dengan biaya operasional semisal beli ZPT / perangsang getah dan dikurangi juga ongkos transportasi dari kebun ke dusun. Dari hasil inilah baru dibagi tiga. Dua bagian untuk pekerja dan satu bagian untuk Bos. Di sini si Bos punya dua keuntungan, keuntungan mendapat 1 bagian dari bagi hasil dengan anak buahnya; dan keuntungan menjual getah dari anak buahnya di pasar lelang dengan harga yang lebih kompetitif. Kalau mau dihitung fair dengan menggunakan patokan harga karet di pasar lelang atau pabrik, bisa jadi bos dapat 2 bagian sedangkan anak buah dapat satu bagian. Ya, bisa saja di daerah lain sistem bagi hasilnya tidak seperti ini, tapi inilah yang berlaku di sini. Namun, apa pun sistemnya, biasanya anak buah hanya dijadikan sapi perah bagi para majikan-majikan itu.
Bos-bos karet di sini punya perkumpulan semacam asosiasi sendiri untuk menetapkan harga getah anak buahnya. Andai ada perbedaan antar Bos dalam menetapkan harga karet anak buah biasanya tidak terlalu mencolok. Tidak sampai lebih dari kisaran seribuan rupiah. Bagaimana pun juga anak buah hanya bisa pasrah dengan keputusan Bos. Mereka tak punya posisi tawar yang kuat. Andai tidak setuju dengan harga yang diberikan, anak buah cuma punya dua pilihan: masih mau kerja atau keluar. Mereka tak punya pilihan lain. Tentu ini sebuah pilihan yang sulit. Anak buah harus puas dengan hasil yang ia peroleh.
Berbeda halnya dengan warga Mintobasuki yang di sini punya kebun karet sendiri. Mereka bebas mau menjual hasil kebunnya kemana pun dia mau tanpa perlu terikat dengan siapa pun dengan harga yang lebih bersaing. Ada dua pasar lelang dengan jadwal hari yang berbeda, di dusun Kotojayo dan di Trans desa Sungai Buluh. Harga kedua tempat ini sama-sama bersaing sehingga penjual punya keleluasaan untuk memilih. Namun tidak banyak warga Mintobasuki yang punya kebun karet sendiri, rata-rata adalah buruh sadap.
Anjloknya harga karet dua tahun terakhir ini dan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok merupakan beban berat bagi para buruh sadap karet. Hasil yang diperoleh tak sebanding untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ditambah lagi kondisi musim yang tidak mendukung dimana curah hujan masih cukup tinggi yang menghalangi mereka untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Tahun ini benar-benar menjadi tahun suram bagi mereka. Di pasar lelang harta getah berkisar antara 8.000 sampai 10.000 per kilogram dan itu pun kabarnya terus menurun. Bisa dibayangkan ‘dirikin’ berapa para buruh sadap itu sama Bos-nya, tentunya di bawah kisaran tersebut. Jauh sekali dengan harga karet di tahun 2012 lalu yang masih di kisaran 16.000an per kilogram. Tak jelas apa penyebabnya namun kondisi ini telah melemahkan semangat para perantau untuk tetap bertahan dengan pekerjaannya yang sekarang.
Dampak lesunya harga karet menjadikan mereka banting stir untuk mencari sumber-sumber penghidupan lain. Sebagian mereka tejun menjadi penambang emas liar alias ‘nDompeng’, sebagian lagi pulang ke kampung halaman memulai usaha kecil-kecilan seadanya. Ada yang berjualan di kampung, bertani dan beternak. Apapun dilakukan asal ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun ada juga yang tetap gigih bertahan di sana terutama mereka yang memang memiliki kebun sendiri. Mereka tetap berharap kondisi tak menguntungkan ini cepat berlalu.
Kapankah kelesuan ini akan teratasi kita tidak tahu. Akan tetapi melihat kondisi politik dan ekonomi yang semprawut saat ini saya pribadi pesimis harga karet akan bisa normal seperti dua atau tiga tahun yang lalu. Penurunan harga karet ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh para petani karet di Indonesia akan tetapi juga di negara-negara lain seperti Malaysia dan Vietnam. Banyak warga Mintobasuki yang bekerja di perkebunan karet Malaysia mengeluhkan hal serupa. Kita tunggu saja hari-hari ke depan. Kita semua tetap berharap kondisi ini akan segera pulih.
Sahabat Netter yang saya cintai, inilah sekilas gambaran kondisi saudara-saudara kita yang ada di perantauan Muarabungo. Bisa jadi kondisi perantau di tempat-tempat lain memiliki cerita yang berbeda pula. Di tulisan mendatang -insya Alloh- saya akan memaparkan bagaiman kehidupan sosial dan kemasyarakatan di sana.
Bersambung…
Minggu, 19 April 2015
Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 3
Mari kita menyadap karet…
![]() |
| Perkebunan karet yang masih berusia muda dan belum bisa disadap |
Bedeng tua dari bilah papan itu sudah sepi ditinggal penghuninya sejak lepas subuh tadi. Mereka sudah sibuk berlari-lari kecil dari satu batang ke batang karet berikutnya. Menorehkan pisau sadapnya, menyayat kulit-kulit bergetah itu. Cairan putih pun mengucur ke sayak-sayak tempurung kelapa. Sebilah golok terselip di pinggangnya. Wadah obat nyamuk tak lupa terikat di punggungnya. Sepatu kebun dan tutup kepala menjadi pakaian dinas hariannya. Terkadang harus mengoleskan racun pestisida ke kaki untuk menghalangi ulah pacet-pacet penghisap darah. Tak jarang pacet-pacet itu naik sampai ke kepala untuk cari minum darah segar, terlebih jika habis hujan dan suasana hutan lembab seolah mereka ingin pesta pora darah manusia.
Biasanya siang hari mereka istirahat sebentar untuk makan dan sholat, setelah cukup melepas penat mereka melanjutkan lagi pekerjaannya sampai habis ashar. Sehari bisa menyelesaikan 400-600 batang, tergantung keahlian masing-masing pekerja. Selain itu kondisi umur pohon karet juga berpengaruh terhadap kecepatan penyadapan. Sadapan kulit pohon karet muda lebih mudah dari pada karet tua sebab kulit karet muda masih virgin belum ada bekas kulit pulihan, beda dengan karet tua yang sudah berupa kulit pulihan yang kadang tidak sempurna sehingga timbul benjolan sana sini. Sayatan mengikuti kontur yang tidak rata ini yang memperlama pekerjaan.
![]() |
| Bedeng dari papan kayu yang menjadi tempat tinggal para pekerja |
Hasil getah sadapan tidak langsung diambil hari itu juga. Getah-getah beku baru dikumpulkan satu atau dua minggu sekali tergantung kebutuhan. Namun ada juga di daerah tertentu seperti Lubuk Linggau getah dikumpulkan harian karena banyak kasus pencurian di sana. Tentu hal itu sangat melelahkan. Syukurlah kasus pencurian getah di sini tidaklah seperti di Linggau. Bukannya tidak ada kasus seperti itu, tetap ada tapi tidak separah di sana.
Jika tiba waktunya ‘mbangkit’ getah-getah beku yang bercampur dengan getah encer hasil sadapan hari itu dikumpulkan dalam sebuah wadah bak kayu untuk direkatkan dengan ditambah asam cuka untuk mempercepat pembekuan getah encer sehingga berbentuk kepingan balok. Biasanya satu keping beratnya kurang lebih 100 kg, tergantung si pembuatnya mau dibuat berepa kiloan. Kepingan getah ini yang siap dijual ke pasar lelang atau toke (bos karet). Terkadang si pembeli yang datang langsung ke kebon atau kadang juga si penjual yang harus membawanya ke pasar lelang atau pembeli lainnya. Getah di jual kiloan. Terkadang ada juga penjual yang memperberat timbangan dengan mencampurkan tatal-tatal bekas sadapan kulit karet. Bahkan yang lebih ekstrim lagi dengan memperbanyak air sewaktu mbangkit lalu dijual sebagai getah basah. Cara ini bisa menambah bobot lebih dari 20an kilo dari bobot normal dengan sarat langsung dijual karena kalau harus nunggu sehari atau dua hari kadar airnya akan berkurang dan bobot getah menyusut. Tapi perhitungan harganya juga beda. Getah kering dan bersih dari tatal harganya lebih tinggi dari pada getah basah dan bertatal.
Bagi mereka yang punya kebon sendiri bebas mau jual hasilnya ke siapa dengan harga yang lebih bagus. Tentu beda halnya dengan buruh sadap karet yang mau tak mau harus ia jual ke juragannya. Tentu sudah bisa ditebak, harga jual tak mungkin bisa bersaing karena tidak punya posisi tawar kuat. In sya Alloh di tulisan berikutnya akan saya ceritakan lebih lanjut tentang bagaimana sistem bagi hasil antara pekerja dan juragan di sini.

Banyak atau sedikitnya hasil getah sadapan dipengaruhi beberapa faktor. Varietas karet alam yang hidup di hutan bercampur pohon-pohon liar biasanya hanya menghasilkan sedikit getah dibandingkan varietas karet unggul yang dikelola secara profesional. Namun varietas unggul biasanya umurnya lebih pendek jika dilakukan penyadapan intensif bila dibanding dengan karet alam yang bisa bertahan sampai lebih 30an tahun dengan intensitas penyadapan yang sama. Selain itu kondisi musim juga mempengaruhi. Musim kemarau biasanya hasilnya lebih sedikit dibanding sadapan dimana curah hujan cukup memadai. Musim gugur daun juga berpengaruh terhadap hasil sadapan dibanding musim semi. Keahlian dan skill pekerja, demikian pula intensitas pemberian ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) yang asal-asalan juga berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh.
Pada musim hujan dimana curah hujan cukup tinggi, para pekerja menghindari penyadapan intensif. Udara yang lembab di musim itu menjadikan jamur batang kerap menyerang bekas sadapan baru. Akibatnya kulit membusuk dan sulit untuk bisa pulih lagi, bahkan terkadang tidak bisa disadap lagi karena jamur menyerang sampai bagian kayu. Pada kasus yang sudah parah batang karet bisa membusuk dan akhirnya bisa mati.
Kerja di sini memang lebih banyak menggunakan otot dari pada otak, tapi dengan otot semata tanpa tahu teknik dan ilmunya juga tidak akan banyak hasil. Butuh pengalaman dan butuh terbiasa agar bisa beradaptasi dengan pekerjaan ini. Dua orang yang bekerja di lahan yang sama dengan intensitas penyadapan yang sama belum tentu hasilnya sama. Di sinilah pentingnya mempelajari ‘seni’ penyadapan yang benar tidak asal menggarukkan pisau ke kulit batang karet. Penyadapan terlalu dalam akan merusak kambium akibatnya kulit sulit untuk bisa pulih. Sedangkan penyadapan terlalu tipis getah tak mau keluar. Nah, butuh ilmu juga, kan?
Inilah sekelumit gambaran aktivitas harian saudara-saudara kita yang tinggal di perantauan bekerja sebagai buruh sadap karet. Usaha apa pun asal halal tentu akan menghasilkan keberkahan dalam kehidupan. Yang terpenting adalah tetap berikhtiar dengan cara-cara yang halal, bekerja dengan sungguh-sungguh, ulet, disiplin dan bertanggung jawab. Ada pun hasil, Alloh yang akan membagi dan menentukan untuk kita.
Di tulisan mendatang in sya Alloh akan saya kupas bagaimana kondisi sosial masyarakat Mintobasuki yang ada di sini.
Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 2
Welcome to the Junggle, Man! Pertama-tama saya akan ajak anda untuk melihat kondisi lingkungan fisik di sini yang benar-benar beda dengan kondisi desa kita, Mintobasuki Asri.
![]() |
| Salah satu ruas jalan masuk ke kampung Darat dari dusun Kotojayo |
Masih ada satu akses jalan lagi untuk menjangkau kampung Darat ini. Kalau tadi dari arah selatan, yang ini dari arah utara. Tepatnya dari pemukiman transmigrasi Sungai Buluh, Rimbo Tengah. Orang sini cukup menyebutnya Trans saja. Pemukiman ini banyak ditempati orang-orang jawa yang bertransmigrasi era Orde Baru. Kampung Darat bisa diakses dari Trans melalui jalan kecil sekitar 4 KM ke arah selatan dengan menembus hutan karet. Setelah melewati perkebunan Sawit, jalan masuk hanya berupa jalanan setapak melintasi perkebunan karet warga dan hanya bisa dilewati motor roda dua atau jalan kaki. Jika hujan turun, jalan ini penuh lumpur dan licin. Untuk menuju Kota Muarabungo warga juga lewat sini dengan jarak tempuh sekitar 45an menit lewat Trans. Dari Trans ini akses ke kota sudah lancar karena melewati jalan utama Muarabungo-Kuamang Kuning.
![]() |
| Salah satu jalan tanjakan di kampung Darat yang telah di cor. |
Dengan kondisi fisik alam yang demian ekstrim tentu bisa kita bayangkan jika ada warga yang sakit dan secepatnya butuh perawatan medis. Dulu, untuk mengantar orang sakit haruslah dengan jalan kaki menuju dusun terdekat yang ada fasilitas pelayanan medis. Atau jika si sakit kondisinya benar-benar parah baru dipikul bersama-sama dengan bergantian untuk pergi ke dokter atau rumah sakit. Setelah motor bisa masuk wilayah sini penanganan si sakit pun lebih mudah, bisa langsung di antar ke dokter terdekat atau ke rumah sakit yang ada di kota Muarabungo.
Infrastruktur yang demikian parah ini menjadikan warga Kampung Darat yang mayoritasnya adalah warga Mintobasuki berinisiatif memperbaiki akses masuk yang ada. Sedikit demi sedikit jalan setapak diperbaiki. Sampai kemudian kendaraan roda dua bisa menjangkau bedeng-bedeng tempat tinggal mereka. Ini merupakan titik awal yang baik karena bisa memperlancar mobilitas warga. Akhirnya banyak warga yang kemudian membeli motor untuk menunjang aktifitas mereka sehari-hari, semisal pergi ke dusun, belanja ke pasar, berangkat kerja atau pun untuk saling mengunjungi sesama mereka.
Banyak hal yang berubah ketika sarana tranportasi bisa menjangkau daerah ini. Kalau dulu untuk ke pasar harus sebulan sekali, saat ini kapan pun mereka bisa pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan harian. Alternatif belanja pun tidak hanya di pasar Danau, yang nota benenya pasar mingguan, tapi mereka juga bisa pergi belanja ke pasar kota Muarabungo. Di sana kebutuhan sehari-hari lebih lengkap dan harganya pun bisa lebih bersaing. Bukan hanya kebutuhan konsumsi saja yang ada di pasar Bungo, tapi juga kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti pakaian, perlengkapan kerja, perabotan rumah tangga, bahkan gadget dan semisalnya. Di sini ada dua pasar yang terkenal, Pasar atas dan pasar bawah. Umumnya untuk membeli kebutuhan pokok dan sayuran Pasar Atas yang jadi alternatif pertama.
Kembali ke kampung Darat…Sebenarnya ada satu lokasi lagi yang menjadi tempat tinggal warga Mintobasuki di sini yaitu Kulim. Lokasinya terpisah jauh dari Darat sekitar 5 KM arah ke Timur. Kondisi lingkungan fisiknya pun sama dengan Darat. Kelebihannya adalah untuk menjangkau jalan besar Muarabungo-Kuamang Kuning lebih dekat, sekitar 1 Km saja dengan akses yang memadai. Dari Darat menuju ke Kulim harus melewati rawa-rawa yang cukup luas yang sekarang sudah berubah menjadi dataran dengan hamparan pasir putih dan semak belukar serta kolam-kolam air. Dari mana asal muasalnya pasir putih dan kolam-kolam ini?
Penambang emas liar ketika masuk wilayah ini mereka mengeruk tanah sampai kedalaman tertentu untuk mendapatkan butir-butir emas dengan menembakkan air berkekuatan besar melalui mesin-mesin diesel. Orang disini menyebut aktivitas penambangan emas liar ini dengan nDompeng. Entah mengapa disebut demikian, mungkin karena umumnya mesin diesel yang mereka gunakan adalah merk Don Feng produk dari China sehingga untuk mempermudah penyebutannya diganti Dompeng. Dan kemudian nama ini dipakai untuk aktivitas mereka. Hasil yang ditinggalkannya adalah kolam-kolam lebar dan pasir-pasir putih yang menghampar. Hampir semua rawa-rawa di sini telah dijamah tangan-tangan para pen-Dompeng. Bahkan ketika lahan ‘perawan’ sudah habis, lahan bekas dompengannya pun di keruk lagi, berharap masih ada sisa-sisa yang tertinggal. Satu tim biasanya terdiri antara 5 sampai 7 orang.
Perbaikan Jalan Masuk Darat

Warga menyadari bahwa semakin baik infrastruktur akan semakin mempermudah aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kegiatan ekonomi. Langkah yang ditempuh adalah dengan melakukan perbaikan jalan masuk yang ada dengan dilakukan pengecoran. Warga bergotong royong membangun pengecoran jalan di titik-titik yang dianggap rawan saat musim hujan, terlebih di lokasi-lokasi tanjakan. Tidak kurang dari dua belas titik lokasi berbahaya yang telah dilakukan pengerasan yang didanai secara suka rela oleh warga sekitar. Untuk mendapatkan bahan baku semen mereka membeli dari toko bangunan di Trans, sedangkan pasirnya cukup dari rawa-rawa bekas penambangan liar. Hasilnya memang cukup memuaskan. Berkendara saat musim hujan pun tak lagi menjadi masalah.
Perbaikan ini tidak sekaligus, tapi dilakukan secara bertahap sejak tahun 2010. Mereka biasa saling bermusyawarah untuk menentukan segala kebutuhan untuk perbaikan, lokasi mana yang akan di-cor, kebutuhan material dan tenaga kerja, bahkan sampai kebutuhan konsumsi nantinya. Namun karena kurangnya perawatan, setelah beberapa tahun berlalu beberapa titik telah mengalami kerusakan yang parah sehingga butuh perbaikan.
Demikianlah sekilas gambaran kondisi lingkungan fisik yang ditempati warga Mintobasuki. Di tulisan mendatang insya Alloh akan kita telusuri aktifitas harian mereka…
Sabtu, 18 April 2015
Sebuah Catatan: Warga Mintobasuki di Perantauan – Bag 1
![]() |
| Masjid Al Mubarak-Muarabungo-Jambi |
Belum ada data statistik resmi berapa prosentase warga desa kita yang bekerja merantau ke daerah lain, akan tetapi perkiraan kasar adalah sekitar 36% dari total penduduk usia produktif. Data ini kami peroleh dari data Pilkades kemarin dimana jumlah DPT (daftar Pemilih Tetap) warga Mintobasuki adalah 1710 orang sedangkan yang telah menggunakan hak pilihnya sejumlah 1071 orang termasuk pemilih dengan suara tidak sah. Dengan demikian ada sejumlah 639 warga Mintobasuki yang tidak menggunakan hak pilihnya. Kita asumsikan saja bahwa angka ini adalah jumlah warga Mintobasuki yang berada di perantauan. Namun jumlah ini juga perlu ditinjau ulang karena pada Pilkades kemarin banyak juga warga diperantauan yang menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk ikut berpartisipasi dalam pencoblosan. Bisa jadi jumlah warga yang ada diperantauan melebihi prosentase tersebut.
Tulisan kali ini hanya akan menyoroti warga Mintobasuki yang merantau di pulau Sumatra sebagai buruh sadap karet. Sebenarnya banyak juga warga desa kita yang sukses merantau di kota-kota besar seperti Jakarta, Tangerang dan sebagainya, bahkan ada pula yang merantau ke luar negeri seperti di Malaysia dan Korea. Namun, karena penulis hanya punya pengalaman berinteraksi dengan warga perantauan Mintobasuki di pulau Sumatra maka ini dulu yang kita bahas. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran singkat pembaca untuk mengetahui bagaimana keseharian dan aktivitas mereka di sana.
Sekilas Kabupaten Muara Bungo – Jambi
Kenapa saya mengangkat Kabupaten Muarabungo? Ya, karena saya pernah tinggal di sini jadi sedikit banyak saya punya gambaran tentang daerah ini.
Muarabungo adalah salah satu kabupaten di Propinsi Jambi dari sebelas kabupaten yang ada dan merupakan pemekaran Kabupaten Bungo Tebo pada tanggal 12 Oktober 1999 silam. Saat ini Bungo dan Tebo menjadi dua kabupaten yang terpisah. Luas kabupaten ini sekitar 4.659 km2 dengan rata -rata kepadatan penduduk 65 jiwa/km2 berdasarkan hasil perhitungan tahun 2010. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Merangin. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kerinci dan Sumatra Barat. Sebelah utara berbatasan dengan Prop Sumatra Barat. Sebelah barat berbatasan dengan Kab Tebo.
Muarabungo kaya dengan hasil alamnya, baik dari sektor perkebunan maupun pertambangan. Perkebunan yang menjadi komoditas utamanya adalah kelapa sawit dan karet. Perkebunan kelapa sawit biasanya dikembangkan oleh mereka yang memiliki modal besar baik perorangan maupun badan usaha. Berbeda halnya dengan perkebunan karet yang bisa dikelola oleh masyarakat meski dengan modal kecil karena memang biaya perawatan dan operasionalnya yang minim. Namun sayangnya kebanyakan perkebunan karet di sini tidak dikelola secara profesional sehingga hasil yang diperoleh pun kurang maksimal. Sedangkan hasil tambangnya adalah batu bara dan emas yang hampir merata di seluruh wilayah.
Muarabungo juga memiliki bandar udara yang berlokasi di desa Sungai Buluh kec Rimbo Tengah. Bandara ini mulai diresmikan pada 12 Juni 2012 yang lalu. Proses pembangunan molor sekitar 3 tahun dari taget yang direncanakan, karena seharusnya sudah bisa beroperasi mulai tahun 2009 yang lalu. Dengan bandara baru ini diharapkan mampu menunjang aktivitas transportasi wilayah Muarabungo dan sekitarnya.
Mengunjungi Desa Kotojayo, Kec Pelepat
![]() |
| Agroforest, tanaman karet yang bercampur dengan pepohonan hutan |
Perlu diketahui bahwa warga Mintobasuki yang merantau sebagai pekerja perkebunan bukan cuma di Kotojayo, Pelepat saja bahkan banyak juga ditempat-tempat lain. Mereka tersebar diberbagai Kabupaten di Jambi ini bahkan kabarnya yang terbanyak adalah di kabupaten Merangin dengan kota Bangkonya. Namun karena minimnya informasi di sana saya hanya akan ‘berkisah’ warga Mintobasuki yang ada di wilayah sini.
Nah, bagaimana aktivitas mereka di sana, insya Alloh akan hadir di tulisan selanjutnya.
Kamis, 09 April 2015
Den Baguse Ngarso “Mbangun Deso”
Kembali ke acara “mBangun Deso” yang pernah jadi favorit saya dan tentunya juga sobat sekalian. Acara yang dikemas sedemikian apik dalam format sinetron komedi pendek berdurasi 30 menit, tanpa iklan, yang mengangkat tema permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat desa sehari-hari. ALur ceritanya sederhana, tak berbelit-belit sehingga pemirsa dari segala usia pun bisa mencernanya. Pesan-pesan yang disampaikan pun mudah ditangkap. Tanpa ada unsur menggurui. Tokoh-tokoh yang diperankan pun kental sekali dengan karakter-karakter wong nDeso.
Den Baguse Ngarso (diperankan oleh Drs Susilo Nugraha) mewakili karakter wong ndeso yang mriyayeni (sok bangsawan), tingkahnya nyebahi (menyebalkan), cemlolo, keminter (sok pandai), ngayelke (menjengkelkan), semugeh (sok kaya), gumedhe (sombong), keras kepala, gila hormat, kalau bicara cemplekit (bikin orang sakit hati), ngeyelan, ceplas-ceplos seolah tanpa mikir. Namun disisi lain dia juga punya mental pengecut bernyali ciut. Semua karakter-karakter negatif itu dikemas sedemikian rupa sehingga hilang kesan angkernya malah yang ada kesan jenaka. Tak jarang aktingnya dengan karakter-karakter tersebut malah mengundang gelak tawa. Nah…Apakah dalam diri anda ada karakter Den Baguse Ngarso, si Priyayi Luhur kang dowo Ususe?
Pak Bina (diperankan oleh Heru Kesawamurti) memerankan karakter seorang yang bijaksana, berwibawa, berwawasan kekinian, logis dalam berfikir, menjadi panutan, menjadi hakim dalam permasalahan-permasalahan yang di hadapi orang-orang sekitarnya.
Kuriman (Sepnu Heriyanto) dengan tampang khas orang deso, rambut agak gondrong. Mewakili wong deso yang mudah emosi, gampang ngamukan, ngeyelan, dan bicaranya kadang atos (kasar).
Tokoh lainnya yaitu kang Sronto (Sudiharjo) yang memerankan karakter wong ndeso yang bisanya pasrah, nrimo ing pandum, nggak neko-neko, tidak mudah emosi, tak punya inisiatif. Diperlakukan apa pun manut, asal bisa hidup. Dan Yu Sronto (Muji Rahayu) memerankan aktivis desa yang kadang hilang kontrol.
Karakter masing-masing tokoh memang sudah diseting sedemikian rupa yang menggambarkan watak-watak khas orang desa. Tema yang dipilih pun mengangkat kondisi riil masyarakat desa. Setiap episode memiliki alur yang sama, yaitu adanya sebuah kasus tertentu, lalu timbul konflik, kemudian diselesaikan oleh para penyuluh. Meski alurnya sederhana, tapi ceritanya tetap enak diikuti karena permasalahan yang diangkat pun bervariasi.
Saat ini kita miskin acara-acara televisi yang bertema pendidikan dan penyuluhan semacam ini. Kita tidak katakan acara ‘mbangun deso’ ini ideal, tapi paling tidak ada unsur-unsur positif yang disajikan kepada pemirsa. Tayangan-tayangan yang ada saat ini lebih banyak unsur hiburan semata untuk memuaskan penontonnya. Bahkan tidak jarang tayangan-tayangan yang ada mengandung unsur yang bisa merusak moral masyarakat. Sebut saja sinetron-sinetron yang ada saat ini yang lebih banyak menampilkan perilaku negatif, alkohol, freesex, pacaran, perkelahian, kebencian, hedonisme, dll yang sangat berpotensi merusak tatanan nilai di masyarakat. Sayangnya, KPI kurang ada ada kepedulian untuk melakukan kontrol terhadap siaran-siaran yang berdampak buruk tersebut.
Demikan, selamat malam…
Rabu, 25 Maret 2015
Panorama Alam Desa Mintobasuki
Indahnya
alam raya tak pernah membuat bosan mata memandang. Berjalan-jalan di
tepian hamparan luas persawahan yang menghijau bak permadani. Langit
biru membentang dengan gumpalan awan-awan putih berarak di angkasa
laksana panglima perang dan pasukan berkudanya. Di ufuk barat nan jauh
di sana nampak samar-samar deretan pegunungan tertutup kabut. Gugusan
rumpun-rumpun bambu yang menghijau berderet dari utara ke selatan seolah
menjadi pagar negeri. Alam yang sempurna… membuat hati berdesir,
mengagumi keindahan ciptaan-Nya.Menikmati suara kicau burung di dahan-dahan pohon, yang berpindah dengan lincah dari satu ranting ke ranting berikutnya. Bekejar-kejaran menembus semak-semak dan dedaunan. Kemudian melesat jauh tuk terbang ke alam luas. Semilir angin pagi menerpa pucuk-pucuk dedaunan, mengusap wajah para petani yang sibuk berjibaku dengan cangkul dan lumpur. Sehelai daun kering jatuh dari rantingnya, melayang, kemudian terhempas di tepian jalan.
Gemercik suara aliran air di sela-sela batang padi. Mengalun dan mengalir tuk kemudian bermuara di kali kecil di tepian sawah. Kabut tipis yang kian pudar dikejauhan sana. Menyisakan tetes-tetes embun di pucuk-pucuk daun padi. Berkilauan bak jutaan mutiara, memantulkan cahaya merah redup mentari di kaki langit timur. Dan sebutir embun jatuh kemudian hanyut bersama aliran air yang mengalir.
Simbok-simbok pedagang sayur yang membawa barang dagangannya menuju pasar dengan sepeda onthelnya. Bercengkerama satu sama lain. Bercerita tentang hari ini dan kemarin. Melintasi jalan beraspal yang membelah persawahan. Mereka kian menjauh, sementara aku masih berdiri bersandar di pagar jembatan yang mengalir sungai kecil di bawahnya.
Gubug-gubug tua yang jadi tempat berteduh para petani. Sangkar-sangkar burung Titus Alba yang masih terpancang di tengah sana. Sungai kecil yang membelah desa dan bermuara ke Silugonggo. Perkebunan tebu yang membentang. Persawahan yang menghampar. Anak-anak sekolah yang berseragam putih merah dengan sepeda onthelnya. Tertawa dan bercanda dengan sebayanya. Wajah-wajah polos dengan senyum-senyum lepas tanpa beban.
Semuanya ada di Mintobasuki, gabus, Pati…



































